
“Kesepakatan apa?” Chitra Anggini berbalik badan. Kini menatap Mantingan dengan sedikit kernyit di keningnya. Tatapan bersungguh-sungguh.
“Kesepakatannya: kita harus selalu bertindak seolah senantiasa dipantau. Kapan pun dan di mana pun. Bukankah dengan begitu, kita memperkecil kemungkinan terbocornya rencana penyelamatan Bapak Balian?”
Chitra Anggini terdiam beberapa. Tampak berpikir kecil. Lantas menganggukkan kepalanya. “Daku telah sering melakukan hal semacam itu.”
Mantingan tersenyum lebar. Tentu saja Chitra Anggini telah sering melakukan hal semacam itu. Dia adalah pendekar yang bergerak dalam jaringan bawah tanah. Dan betapa pun, setiap pendekar yang ada di jaringan bawah tanah memiliki rasa kewaspadaan yang jauh lebih tinggi ketimbang pendekar atas permukaan. Mereka mengibaratkan bahwa selalu ada yang memantau diri mereka kapan pun dan di mana pun adanya. Tidak pernah terputus barang sekejap mata pun.
Melakukan hal semacam itu jelas saja tidak sedikit mengorbankan rasa kenyamanan. Teramat banyak, malah. Betapakah tidak jikalau taraf kewaspadaan yang dipasang telah mencapai titik tertinggi dengan pikiran yang selalu merasa tidak aman kapan pun dan di manapun?
Akan tetapi, bukankah itu adalah harga yang pantas untuk sebuah tugas penyelamatan yang bukan saja akan menyelamatkan Tapa Balian melainkan pula sungai telaga persilatan dari kekacauan dahsyat yang sangat mungkin menjadi tidak terkendali sebab Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam kembali mengharu-biru di tangan pendekar yang salah?
Keheningan di kamar itu terbuncah ketika kembali terdengar suara ketukan di pintu. Ketika Mantingan berbalik badan untuk berkata kepada sang pengetuk pintu agar masuk saja sebab pintu sama sekali tidak dikunci, di sanalah ia menyadari betapa batang besi pengunci telah terpasang di kedua gagang kedua belah pintu tersebut.
Diliriknya Chitra Anggini; perempuan itu menyeringai lebar.
...****************...
JALANAN kotaraja dipenuhi keramaian menyesakkan. Lautan manusia berdesak-desaka, meski jalanan sangatlah lebar hingga mampu menampung sepuluh pedati jika dijajarkan. Kerumunan itu tidak dapat terhindarkan. Jumlahnya telah sampai pada taraf tak dapat diperkirakan lagi. Seribu manusia? Dua ribu manusia? Sepuluh ribu manusia? Satu juta manusia? Entahlah!
Keramaian itulah yang membuat pedati Mantingan merayap selambat ayam yang berjalan sambil mengais-ais. Tidak dapat melaju lebih cepat lagi. Di depan, belakang, kiri, dan kanannya adalah kerumunan orang. Tidak ada jalan lagi.
Kebisingan menyalak dengan luar biasa hebatnya. Memanglah dengan keramaian sebesar ini, teramat mustahil jika tidak disertai kebisingan yang besar pula!
Mantingan mengusap wajahnya yang berkeringat. Gelisah. Setelah sekian lama menghadapi kesepian teramat mencekam di Gaung Seribu Tetes Kematian tanpa kehadiran seorangpun manusia untuk menemaninya, Mantingan sungguh tidak terbiasa dengan keramaian semacam ini. Untuk alasan yang remang-remang, ia merasa gelisah.
“Jika jalanan biasa saja sudah seramai ini, bagaimanakah kiranya keadaan di pasar nanti?” Chitra Anggini yang duduk tepat di sebelah Mantingan hanya dapat memandangi lautan manusia di sekitarnya dengan jengah. “Di tengah keramaian seperti ini jangankanlah pencopetan, bahkan penyerangan yang berasal dari telaga persilatan pun dapat saja terjadi.”
__ADS_1
Mantingan mengangkat kepala yang semulanya tertunduk. Memberi tatapan tajam tepat di sepasang mata Chitra Anggini. “Bisakah kau membuatku tetap tenang?”
Perempuan itu mendengus. “Sudah sedari tadi kau tampak tidak tenang, Mantingan. Mengapakah baru menyalahkanku sekarang?”
Mantingan kembali mengusap wajahnya sambil menggeleng pelan. “Aku tidak tahan dengan semua kerumunan ini, Chitra. Kaupergilah ke pasar bersama Munding, beli apa pun yang kalian suka.”
Mantingan mengeluarkan seikat uang dari dalam pundi-pundinya sebelum memberikan itu kepada Chitra Anggini. Jumlahnya adalah seratus keping emas.
Dengan dahi berkernyit, Chitra Anggini menerima seikat keping emas itu. Ketika dirinya hendak bertanya, Mantingan segera memotongnya dengan tidak sabaran.
“Perubahan rencana lagi. Aku akan mencari penginapan, dan kau akan menjual pedati dan beras di pasar.” Mantingan mengeluarkan beberapa lembar Lontar Sihir. “Kau masih ingat lontar-lontar ini, bukan?”
Chitra Anggini mencermati lontar-lontar itu sebelum menganggukkan kepala. “Itu semua adalah Lontar Sihir yang jika dipatahkan akan segera mengirim tanda bahaya kepadamu, bukan?”
“Benar. Simpan ini semua.” Mantingan menarik telapak tangan Chitra Anggini, meletakkan semua lontar tersebut dalam genggaman perempuan itu. “Jika segala urusanmu telah selesai, maka patahkanlah satu lontar dan tetaplah di tempatmu hingga aku datang menjemput. Jika terjadi sesuatu yang sekiranya dapat mengancam, maka patahkanlah dua lontar sekaligus lalu patahkanlah yang lainnya untuk menandai jejakmu, aku akan secepat berada di sana secepat yang kudapat.”
“Lalu bagaimana caranya jika aku hendak menemukanmu?” tanya perempuan itu.
“Kurasa, tidak ada cara.”
Maka begitulah setelah memberikan jawaban singkat, Mantingan melompat turun dari pedati. Segera melebur dengan lautan manusia di jalanan itu. Chitra Anggini menghela napas panjang sambil tersenyum tipis.
“Setidaknya Mantingan berkata bahwa uang-uang ini bisa kubelanjakan semauku.” Senyumnya semakin mengembang. “Cepatlah sedikit, Munding. Setelah menjual pedati dan beras-beras ini, aku akan membelikanmu makanan lezat. Dan baru selepas itulah aku membeli sekendi tuak menyegarkan!”
Sedangkan itu, di tengah kerumunan manusia yang bagai tiada dapat lebih padat lagi, Mantingan berjalan cepat.
Pemuda itu memang tidak berkelebat atau melenting dari satu atap bangunan ke atap bangunan lain sekalipun hal itu memang diinginkannya untuk menghindari kerumunan yang semakin membuat kepalanya pening dengan kecarut-marutannya.
__ADS_1
Diakuinya bahwa Kotaraja Koying merupakan kota besar yang sangat maju. Namun karena kemajuannya itulah, orang-orang dari penjuru negeri atau dari negeri seberang berdatangan. Mereka bagaikan sekerumunan besar laron, dan kotaraja adalah lentera yang terang-benderang.
Benarlah pula apa yang dikatakan Chitra Anggini ketika perempuan itu menceritakan berbagai hal yang ada di kotaraja ini: tingkat kebahagiaan penduduknya teramat rendah.
Siapakah kiranya yang akan berbahagia jika setiap harinya mesti berhadapan dengan kerumunan menyesakkan dan kebisingan memekakkan dengan ditambah pula ancaman perampokan yang meresahkan?
Mantingan semakin masuk ke dalam kota. Langkahnya semakin cepat, sebab keramaian pula telah banyak berkurang tanpa disadari. Kebisingan mereda. Begitu pula dengan debar jantung Mantingan yang berangsur tenang.
Ketika menemukan kedai terbuka di pinggir jalan, Mantingan segera memasukinya tanpa berpikir panjang lagi. Sebelum memulai segalanya dengan kehati-hatian, ia harus menenangkan diri terlebih dahulu!
Kedai yang Mantingan kunjungi kali ini tiadalah berada di dalam bangunan, melainkan berada di atas sepetak lahan kecil di pinggir jalan. Terpal kain terbentang lebar, mengatapi kedai tersebut, angin sepoi-sepoi membuatnya bergelombang.
Tersedia beberapa meja dan kursi di kedai itu. Beberapa telah terisi. Kebanyakan pengunjungnya memiliki tampang orang Suvarnabhumi, tetapi ada satu pengunjung yang bertampang asing. Berperawakan tinggi dan jankung. Berhidung mancung. Dengan berewok lebat di bagian rahang dan dagunya, hampir membentuk cambang. Bagian atas kepalanya dililit dengan kain panjang, yang Mantingan ketahui bernama sorban. Pria yang sekiranya berusia tiga puluhan itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau, begitu panjangnya jubah itu hingga menyentuh mata kaki. Di bibirnya, terselip sebuah pipa cangklong berasap-asap, mungkinkah dia mengisap cangklong sebab hidangan yang dipesannya belum datang atau memang cangklong itu sendiri merupakan pesanannya?
Pria itu sempat melirik Mantingan, tetapi hanya barang selintas. Kembali memandang jalanan sambil terus mengisap batang cangklong.
Melihat cangklong itu, sedikit banyak Mantingan kembali mengingat Pendekar Sanca Merah. Perempuan itu juga menghisap cangklong, entah dengan suka atau terpaksa, sebab Ilmu Sanca Merah yang dikuasainya memerlukan asap sebagai perantara Benang Sihir untuk mengendalikan Golek Jiwa.
Betapa bagi Mantingan, perempuan tangguh itu adalah pendekar sejati. Ketika kematian menjemputnya, tiadalah Pendekar Sanca Merah menyimpan dendam terhadapnya. Dia justru berterimakasih karena Mantingan telah mengalahkannya, yang sama saja dengan membunuhnya, yang sama saja menyempurnakan jalan persilatannya. Bahkan, pendekar perempuan itu mewariskan Kitab Sanca Merah yang berisi Ilmu Sanca Merah kepadanya sesaat sebelum napasnya berhenti.
Ilmu Sanca Merah banyak berguna bagi Mantingan untuk mengendalikan lengan tiruannya. Dengan ilmu itu, ia bisa merasakan sentuhan dengan lengan tiruannya, yang dengan kata lain indera perabaannya dapat bekerja di lengan kayu itu.
Melupakan Pendekar Sanca Merah, Mantingan segera berjalan menuju meja di sudut kedai. Seperti biasanya. Hanya di sanalah ia dapat memantau seluruh kedai tanpa menarik banyak perhatian.
___
catatan:
__ADS_1
Maaf, dikarenakan salah perhitungan, saya terpaksa melakukan ini.