Sang Musafir

Sang Musafir
Penyembuhan Bagi Mereka yang Terluka


__ADS_3

PENDEKAR-PENDEKAR dari Penginapan Tanah memilih untuk meledakkan diri ketimbang harus membeberkan keterangan tentang kelompok rahasia mereka. Mantingan menaruh kagum atas kesetiaan mereka yang sampai akhir.


Mantingan sedikit mengerti tentang mengapa mereka rela meledakkan diri demi kelompoknya itu. Kesetiaan mereka bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang atau kenikmatan hidup. Ketika seseorang berada di ambang kematian, mereka tidak akan berpikir dua kali untuk menyerahkan seluruh harta jika itu bisa menyelamatkan nyawanya. Tetapi mereka justru memilih mati, inilah pengorbanan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.


Pendekar-pendekar yang hidup dalam jaringan bawah tanah memiliki keyakinan kuat bahwa ajaran kelompoknyalah yang paling benar. Keyakinan itu jauh lebih besar dan jauh-jauh lebih kuat daripada keyakinan pendekar-pendekar di telaga persilatan ataupun rimba persilatan. Sehingga mereka rela berkorban harta dan jiwa demi mewujudkan tujuan dari kelompoknya.


Pendekar atas permukaan—yang bergerak di dalam telaga persilatan atau rimba persilatan—tidak terlalu terikat pada alirannya. Bahkan pendekar beraliran hitam tidak memiliki keterikatan pada perguruannya setelah masa pelatihan selesai.


Berbeda dengan pendekar atas permukaan, pendekar jaringan bawah tanah memiliki keterikatan yang teramat dalam. Ikatan itu tidak boleh dilepas. Barang siapa yang melepasnya, maka dapat dipastikan bahwa jaringan itu akan mencarinya sampai lubang cacing sekalipun untuk kemudian menghabisi nyawanya.


Meski terdengar menyeramkan, tidak banyak pendekar yang memutuskan tali ikatan tersebut setelah bergabung dengan jaringan bawah tanah. Sebab menurut beberapa pengakuan, seseorang yang memutus tali ikatan itu akan mendapatkan penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Mantingan mendarat tepat di sisi Jakawarman setelah melayang-layang di udara selama beberapa saat. Dilihatnya pria muda itu dari atas sampai bawah. Jakawarman menunjukkan senyum lebarnya pada Mantingan. Pakaian serba putihnya telah berubah warna menjadi merah akibat darah. Sebagian besar warna merah itu bukanlah darahnya, melainkan darah musuh. Namun, tidak bisa menampikkan bahwa Jakawarman juga mendapatkan beberapa luka kecil.


“Jaka, dikau terluka.”


Jakawarman tertawa. “Ini bukan luka yang mampu menjatuhkan seorang Jakawarman.”


“Jika luka-lukamu terus mengeluarkan darah, maka ia akan tetap menjatuhkanmu.” Mantingan menaruh telapak tangannya di pundak Jakawarman. “Biarkan daku memberimu sedikit penyembuhan.”


Jakawarman hendak menolak karena merasa hal itu hanya akan menyia-nyiakan tenaga Mantingan, tetapi ia menahan segera ucapannya setelah merasakan kehangatan dan kenyamanan menjalar masuk ke seluruh tubuhnya. Jakawarman tidak dapat menolak perasaan seperti ini.


Yang Mantingan sedang lakukan adalah mengalirkan tenaga prana guna menghentikan pendarahan pada luka Jakawarman dan pula mempercepat penyembuhannya. Sebab tenaga prana bersifat panas, maka sudah sangat wajar jika Jakawarman merasakan kehangatan ketika tenaga itu mengalir ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Mantingan menarik tangannya setelah seluruh luka Jakawarman berhenti mengalirkan darah. “Dikau akan segera pulih jika tidak banyak bergerak ... eh, tunggu?”


Mantingan terkejut setelah menemukan bahwa dirinya tengah dipandangi oleh banyak orang. Bukan tanpa sebab, yang memandanginya adalah mereka-mereka yang mengalami luka. Baik itu luka kecil maupun luka besar. Melihat Mantingan berhasil menghentikan pendarahan Jakawarman begitu cepatnya, mereka ingin pula mendapatkan penyembuhan dari Mantingan.


Sebab betapapun kecilnya luka tersebut, jika tidak berhenti mengeluarkan darah, maka akan tetap berujung pada kematian. Mantingan bagaikan sinar pengharapan bagi mereka.


Pemuda itu menarik napasnya panjang-panjang sebelum mengatakan sesuatu pada Jakawarman, “Datangilah Bidadari Sungai Utara. Minta kepadanya untuk hadir dan memberi penyembuhan di sini.”


“Perintah Pahlawan Man kumengerti dan kujalankan.” Jakawarman menunduk sebelum berkelebat pergi.


Setelah itu, Mantingan meminta para pendekar yang terluka untuk membentuk barisan memanjang. Pendekar yang mengalami luka berat akan mendapat penyembuhan lebih awal daripada pendekar yang mengalami luka ringan.


Telapak tangan Mantingan basah oleh keringat dingin. Ia jelas merasa gugup. Betapapun, pemuda itu hanya pernah mendapat sedikit pengajaran tentang tenaga prana dari Bidadari Sungai Utara, tetapi kini dirinya bertindak selayaknya tabib ahli di gelanggang pertempuran.


Satu demi satu pendekar mendapatkan kesembuhan ringan berkat tenaga prana dari tangan Mantingan. Namun bukanlah berarti bahwa Mantingan berhasil menutup luka-luka mereka. Ia hanya sekadar menghentikan pendarahannya saja, sedangkan untuk menutup luka diperlukan pengobatan berat, dapat dilakukan oleh para yang masih sehat dengan menaburi puyer dan membebatnya.


Bidadari Sungai Utara datang tak lama kemudian. Gadis itu tidak banyak berbasa-basi, lekas berbagi tugas dengan Mantingan.


“Hanya dikau dan daku saja yang menguasai ilmu penyembuhan menggunakan tenaga prana di tempat ini. Daku ingin kita membagi tugas ....”


Bidadari Sungai Utara meminta Mantingan untuk tetap di tempat dan menghentikan pendarahan dari pendekar yang terluka, sedangkan dirinya akan berada tepat di belakangnya untuk memberikan pengobatan tingkat berat. Maka bekerjalah dua muda-mudi itu.


***

__ADS_1


SETELAH PENGOBATAN telah selesai dilaksanakan, sisa pendekar yang masih bugar mulai membangun tenda untuk prajurit yang terluka. Bersamaan dengan itu, mereka juga mengadakan kremasi masal untuk pendekar kawan maupun pendekar musuh yang gugur.


Mantingan memandangi puluhan pancaka dari para prajurit yang gugur itu dengan tatapan nanar. Betapa ia menyesali keputusannya yang tidak langsung bergabung ke dalam pertempuran. Jika saja ia bergabung sejak awal, maka jumlah korban di pihak kawan mungkin saja dapat dikurangi.


Cakrawarman menghampiri pemuda itu dan menepuk bahunya. Sontak saja Mantingan yang tengah melamun itu menjadi terkejut. “Dikau terlalu lengah untuk seukuran pendekar sakti,” kata pria kekar itu sambil memasang senyuman.


Mantingan lekas menjura sebelum memasang senyum pahit. “Jika diminta untuk memilih, daku sama sekali tidak ingin menjadi pendekar.”


“Jika prajurit-prajuritku mendengar ucapan ini, maka mereka akan kecewa besar pada diri engkau. Seandainya engkau tahu bahwa mereka berkehendak menjadi pendekar seperti dirimu.”


Mantingan hanya bisa membalasnya dengan senyuman canggung.


“Bagi prajurit Laskar Kerbau Taruma, kematian dalam sebuah pertempuran adalah sesuatu yang membanggakan. Dikau tiada perlu menaruh rasa duka karena mereka mati. Diriku sendiri justru merasa bangga.” Cakrawarman tertawa lepas. “Tahukah dikau bahwa prajurit Laskar Kerbau Taruma terkenal selalu menghadapi musuh yang berat? Jikalau tiada seorangpun dari prajuritku yang gugur, maka itu dapat berarti bahwa kami menghadapi lawan yang ringan. Mereka akan jauh lebih bangga jikalau gugur dalam bertugas ketimbang menang melawan musuh yang ringan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya, bukan hanya kematian para prajurit saja yang membuat ia menjadi merenung sendirian bagai bujangan penuh nestapa. Melainkan juga mengenai Rara yang sama sekali tidak diduga akan menghalanginya bertempur. Kini Rara tidak lagi hadir di alam pikirnya, entah Mengapa Mantingan merasa ada sebuah kekosongan di dalam benaknya.


Mungkin, Rara benar-benar pergi sekarang. Mantingan tersenyum kecut.


____


catatan:


Karena sudah malam, saya update 1 episode dulu.

__ADS_1



__ADS_2