
DERAP langkah musuh membuat tanah bergetar. Suara teriakan tempur yang bersahut-sahut membuat orang-orang biasa gentar dan memilih mundur. Tetapi tidak dengan Mantingan dan pasukan kota. Jantung mereka terpacu oleh semangat. Rasanya mereka tidak sabar bertemu musuhnya dan menyelesaikan semua persoalan. Entah apakah mereka yang menyempurnakan musuh atau musuh yang menyempurnakan mereka.
Barisan pamanah musuh mengirim panah-panah berapi. Tampak seperti bintang jatuh di atas langit saat panah-panah itu berada di titik tertingginya. Perwira yang berada di atas menara pengawas segera memberi peringatan untuk pasukan kota di bawahnya.
"Perisai, angkat!"
Mereka mengangkat perisai lebar. Sebagian prajurit melindungi dirinya sendiri, sebagian lainnya ditugaskan berbagi perisai dengan para pemanah.
Guyuran hujan panah berapi menerpa. Tiga belas prajurit di atas tembok kota mengangkat perisainya. Sedang Mantingan terlihat tidak bergerak sama sekali saat panah-panah lewat begitu saja di tubuhnya.
Masih dengan cara yang sama dengan yang ia lakukan untuk menghadapi Chitra Agni, Mantingan bergerak dengan kecepatan luar biasa sehingga tubuhnya terlihat diam di tempat.
Hujan panah berapi itu berhasil membunuh beberapa prajurit kota yang kurang beruntung. Api-api dari panah itu membakar sebagian bangunan dan perisai-perisai prajurit. Tak jarang pula ada prajurit yang berlarian dengan api melahap badannya, segera dibantu oleh kawannya yang membawa selimut basah.
“Siapkan panah!”
Para pemanah keluar dari bawah perisai dan segera merentangkan busur mereka. Siap menembak setelah perintah dikeluarkan.
“TEMBAK!”
Desing-desing dari panah yang melesat itu terdengar cukup kentara di telinga Mantingan. Panah-panah berlesatan di kiri-kanan dan atasnya, tanpa satupun yang menyasar tubuhnya.
Panah-panah itu menyatu dengan kegelapan malam sebelum musuh bisa menyadarinya. Hujan panah mengguyur tentara-tentara musuh yang sedang bergerak menuju tembok kota. Sebagian sempat mengangkat perisai atau menepis menggubakan pedangnya, sebagian kecil lainnya terlambat menyadari dan mati tertembus panah.
“Panah!” Perwira mengangkat tangannya. “Tembak!”
Sekali lagi serangan panah. Kali ini musuh agaknya telah memperkirakan panah yang datang sehingga tidak banyak dari mereka yang terbunuh. Setelahnya, serangan panah sepertinya tidak dapat dilancarkan lagi, sebab musuh terlalu dekat dengan tembok kota.
“Serbu-serbu!”
“Panjat temboknya! Ambil tangga! Ambil tangga!”
__ADS_1
“Hancurkan pintu kota!”
Mantingan dapat mendengar teriakan-teriakan pasukan musuh setelah mereka benar-benar sampai di depan tembok. Kerumunan tentara itu menggotong tangga-tangga panjang yang akan digunakan untuk memanjati tembok. Beberapa menembakkan panah, dan yang lainnya berusaha menghancurkan tembok kota dengan alat seperti pemukul gong.
Prajurit-prajurit di belakang tembok saling bahu-membahu menahan gerbang kota agar tidak jebol. Sedangkan para pemanah siap menembakkan panahnya ke tembok kota bagian atas.
Mantingan mengeluarkan lembar lontar pengaturnya sebelum menggurat beberapa aksara di sana dengan tenang.
Seluruh Lontar Sihir aktif secara bersamaan.
Tentara musuh yang berusaha menjebol gerbang terhempas kembali ke belakang.
Pemanjat-pemanjat tembok tiba-tiba merasa bobot tubuhnya bertambah lima kali lipat hingga akhirnya terjatuh ke tanah.
“Buang kembali tangga-tangga mereka!” Mantingan memberi arahan pada 13 prajurit di atas tembok, mereka mengerti dan segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan Mantingan.
Tangga-tangga panjang yang berdiri di sisi tembok itu didorong kembali hingga jatuh menimpa tentara musuh di bawah. Sedangkan sulit bagi mereka untuk kembali memasang tangga dikarenakan Lontar Sihir Mantingan akan menarik mereka kembali ke bawah.
“Panah arahkan agak condong ke atas! Jangan ikut menyerang kecuali pemanah ahli! Serang yang ada di luar tembok!” Perwira kembali memberi perintah. “Tembak sekarang!”
Panah-panah melesat ke atas, sebelum melayang jatuh dan menancap ke tubuh tentara musuh yang tidak siap. Jadilah posisi penyerang berubah menjadi yang diserang.
“Tembak! Tembak! TEMBAK!!!”
Tanpa ampun tiga perintah diberikan sekaligus dalam waktu berdekatan. Panah-panah menghajar musuh habis-habisan. Perisai-perisai lawan mulai berlubang dan tidak dapat melindung penggunanya lagi. Sungguh situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi pihak musuh.
“Mundur semua! MUNDUR! Tarik pelantak tumbuk!”
Di sisi lain perwira tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melemahkan musuh lebih jauh lagi. "Tetap serang!"
Alat berbentuk seperti pemukul gong yang ternyata bernama pelantak tumbuk itu ditarik kembali ke belakang.
__ADS_1
Berpuluh-puluh tentara musuh ditambah belasan pendekar turut menyumbang tenaga menarik pelantak tumbuk menjauhi tembok kota.
Bersamaan dengan itu tentara-tentara musuh pula menarik diri, sedangkan barisan pemanah mereka disiapkan untuk memberi waktu kawan-kawannya mundur.
Serangan panah berapi dari musuh kembali menghujani prajurit-prajurit di belakang tembok. Pemanah-pemanah terpaksa menghentikan serangan dan bersembunyi di balik perisai jika tidak mau tersambar panah berapi.
Benar saja itu memberi waktu yang sangat berharga bagi tentara musuh untuk lari mundur, sehingga saat itu tidak ada satupun dari mereka yang berada di jangkauan pemanah pasukan kota.
Pertempuran singkat itu mereda.
Mantingan menghela napas panjang setelah memandangi jasad-jasad musuh yang saling menumpuk di luar tembok, yang lebih menyakitkan lagi adalah jasad-jasad pasukan kawan yang terbaring di belakang tembok.
Berbeda dengan Mantingan, perwira justru menghela napas lega. Baginya, korban di pihak pasukan kota jauh lebih sedikit daripada korban di peperangan lalu. Berkat keberadaan Mantingan dan Lontar-Lontar Sihir-nya, jumlah korban di pihak kawan bisa dipangkas.
***
Setelah musuh dipastikan mundur kembali ke perkemahannya, Mantingan dan perwira bertemu di bawah.
Dengan sedikit khawatir perwira berkata, “Mereka tidak mungkin hanya menyerang sekali.”
Mantingan mengangguk setuju. “Dan sepertinya mereka telah mengetahui keunggulan kita.”
Kekalahan tentara musuh adalah disebabkan oleh ketidaktahuan mereka tentang keberadaan Lontar Sihir yang dipasang. Mereka benar-benar tidak menduga dan tidak siap menghadapinya. Tetapi pada serangan berikutnya, dapat dipastikan mereka memasukkan Lontar Sihir ke dalam perhitungan tempurnya.
“Kita harus tetap siaga menghadapi berbagai kemungkinan serangan musuh. Yang paling aku takutkan adalah serangan panah tanpa menggunakan api. Jika kita kurang waspada, maka prajurit-prajurit yang sedang beristirahat bisa terkena imbasnya.”
Mantingan mengangguk sebelum melihat ke sekitarnya, tampak prajurit-prajurit berlarian kesana-kemari membawa ember-ember air untuk memadamkan api. Lima prajurit berdiri di atas menara untuk mengawasi pergerakan musuh.
“Jika mereka tidak kunjung menyerang dalam kurun waktu tiga hari, maka kita yang harus menyerang mereka.”
Mantingan kali ini tidak setuju dengan perwira itu. “Bukankah itu malah akan menambah jumlah korban di pihak kita, Perwira? Dan jika kita gagal, justru warga yang terkena imbasnya.”
__ADS_1
“Ya, aku tahu kau tidak suka membunuh, Mantingan. Tapi dengarkan aku, dalam kurun waktu tiga sampai lima hari, mereka bisa menyiapkan atau bahkan mendatangkan kekuatan baru. Jika itu terjadi, maka kita akan menghadapi marabahaya yang lebih besar.”