Sang Musafir

Sang Musafir
Pergi dari Pasar Layar Malaya


__ADS_3

"Paman, aku tahu jumlah uang yang diberikan untuk menangkap Bidadari Sungai Utara sangatlah besar. Maka dari itu, aku akan memberikan Paman satu Batu, tetapi Paman harus menjaga rahasia ini rapat-rapat.” Mantingan berkata menggunakan Ilmu Bisikan Angin pada Paman Bala. Tangannya bergerak membuka tali bundelannya.


Tentu saja Paman Bala segera menahan gerakan Mantingan. “Engkau sudah banyak berjasa padaku, manusia seperti apa aku jika berani menerima uang darimu.”


“Paman, sebongkah batu adalah uang yang banyak, apakah Paman yakin?”


“Pahlawan, jika aku bekerjasama denganmu, maka kupastikan kita akan menghasilkan belasan bahkan puluhan bongkah Batu.”


Mantingan tersenyum dan menghentikan gerakannya. Menghargai Paman Bala. Walau ia sendiri jelas mengetahui, menjual banyak Lontar Sihir Cahaya sekalipun tidak akan menghasilkan keuntungan sebesar belasan atau bahkan puluhan Batu.


Jika satu Batu senilai seribu keping emas, dan selembar Lontar Sihir Cahaya senilai delapan keping emas, maka Mantingan harus memantrai 125 Lontar Sihir. Siapakah yang ingin beli Lontar Sihir sebanyak itu?


Namun harus Mantingan akui, keuntungan yang akan didapatkannya akan sangat besar jika berhasil menjual 125 Lontar Sihir Cahaya.


Mantingan menyelesaikan hidangannya saat pelayan datang bersama pesanannya. Daging rusa bakar bersama bumbu-bumbunya yang dimasukkan ke dalam dua bumbung buluh. Karena pembayaran telah selesai semua, Mantingan berniat untuk melanjutkan perjalanan.


Hal itu diutarakan pada Paman Bala. “Paman, sepertinya hanya sampai di sini pertemuan kita kali ini. Sudah waktunya aku pergi. Aku harap, suatu saat nanti kita bisa kembali bertemu dalam suasana yang lebih damai.”


Paman Bala sebenarnya ingin Mantingan menginap di rumahnya barang semalam dan menjamunya sekali lagi, namun ia sendiri mengerti bahwa Bidadari Sungai Utara membutuhkan kehadiran Mantingan. Maka Paman Bala hanya bisa mengubur dalam-dalam keinginannya dan mempersilakan Mantingan pergi.


“Harap Pahlawan berhati-hati selama di perjalanan. Kekinian, sungai telaga persilatan sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Jika ada sesuatu yang diperlukan, jangan ragu untuk datang kepadaku. Tetapi jangan ke tempat ini lagi jika ingin menemuiku, karena kemungkinan terbesarnya aku akan pindah ke pasar persilatan lainnya.”


Mantingan menganggukkan kepala. “Lebih baik memang seperti itu, Paman. Setelah ini, aku harap hubungan kita akan terus berjalan baik.”


Mantingan memasangkan bundelan-bundelannya ke punggung. Kini ia harus mengangkut dua bundelan sekaligus. Satu bundelan barang belanjaan, dan satu lagi bundelan tempat barang-barang pribadi.

__ADS_1


Paman Bala dan putrinya turut berdiri. Mereka saling menjura pada Mantingan, pemuda itu balas menjura. Putri Paman Bala yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam pada Mantingan serta meminta Mantingan terus berhati-hati selama di perjalanan—walau dia tidak pernah tahu ke mana kaki Mantingan akan melangkah. Setelah itu, tanpa berbasa-basi lagi, Mantingan melangkah pergi.


Paman Bala memandangi punggung Mantingan sampai pemuda itu menghilang di tikungan jalan. Betapa pria paruh baya itu terkagum-kagum pada kedewasaan dan ketenangan sikap Mantingan. Anak muda seperti Mantingan harus menempuh jarak jauh, membawa dua bundelan yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, sekaligus menjaga orang penting dari negeri seberang.


Andai saja waktu dapat diputar ulang, tidak akan Paman Bala bermalas-malasan semasa hidupnya. Berpetualang. Menebar kebaikan di setiap langkah kakinya. Mencari makna dari sebuah perjalanan.


***


MANTINGAN. Seorang pemuda yang memang telah memutuskan perkara besar di usia yang terlalu dini untuk berpisah dengan orang tua. Kini setelah langkah kaki membawanya sangat-sangat jauh dari rumahnya, Mantingan mulai merindukan rumah dan orangtuanya. Mantingan bukan anak durhaka, walau dulu ia pernah bersikap durhaka dengan pergi meninggalkan rumah tanpa izin. Ada rasa penyesalan tersendiri yang masih melekat dalam dirinya.


Bagaimanakah jika ia pulang sebentar ke kampung halaman setelah berhasil mengantar Bidadari Sungai Utara sampai laut? Lalu kembali melanjutkan perjalanan mencari Kembangmas dan menemukan orang yang membutuhkan pertolongannya seperti Bidadari Sungai Utara. Dan tentu saja, Mantingan tidak akan menemui Kenanga sebelum tugasnya tergenapi.


Malam itu. Saat burung hantu satu per satu bangun dan mengeluarkan suara indahnya. Saat rembulan samar-samar menggantung di langit. Saat itulah Mantingan sampai di tempat tenda Bidadari Sungai Utara.


Tirai tenda tertutup. Ada cahaya samar yang terlihat di dalam tenda. Saat Mantingan menggunakan ilmu pendengaran tajam, ia dapat mendengar suara gumaman Bidadari Sungai Utara. Gadis itu sedang membaca kitab. Yang pasti, bukan sedang makan dendeng.


“Saudari gurun pasir, aku kembali.”


Gumaman berhenti. Terdengar suara gersak hingga suara ikatan tirai tenda yang dilepas. Mantingan dapat mendengarnya dengan jelas.


Kepala Bidadari Sungai Utara menyembul dari balik tirai. Sekilas Mantingan ingat kejadian siang tadi, segera ia lupakan. Rambut hitam Bidadari Sungai Utara teruntai ke bawah. Matanya menatap tajam, memastikan yang ditatapnya itu benar-benar Mantingan.


“Mantingan!” sorak Bidadari Sungai Utara sebelum suaranya mulai berubah. “Tunggu sebentar ... kalau tadi aku tidak salah dengar, mengapa kau memanggilku bidadari gurun pasir?”


Mantingan tertawa pelan sambil melepas dua bundelan yang membebani punggungnya. Merenggangkan dua tangannya ke depan. “Kau lebih cocok dengan sebutan itu.”

__ADS_1


“Kau bermaksud meledekku?”


Mantingan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia membuka ikatan bundelannya, mengeluarkan dua bumbung bambu dari dalamnya. Dengan penasaran Bidadari Sungai Utara keluar dari tenda.


“Aku merasa kau membawa sesuatu yang bagus untukku.”


Sebagai jawaban, Mantingan hanya menjulurkan dua bumbung bambu berukuran setengah depa itu kepada Bidadari Sungai Utara.


Kembali Bidadari Sungai Utara bertanya, “Apakah ini?”


“Daging bakar manis seperti katamu pagi tadi.”


Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan tajam-tajam. “Sungguh?”


“Kalau kau tidak mau, akan aku habiskan sendirian.” Mantingan menarik kembali dua bumbung bambu, tetapi Bidadari Sungai Utara mencengkeram tangan Mantingan kuat-kuat, seolah dia terjatuh dari pohon dan tangan Mantingan itulah batang kayu pegangannya.


“Kalau kau memakannya sendirian, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu tidur nyenyak malam ini.”


“Lepaskan tanganku. Ini sangat tidak baik.” Mantingan menepis tangan Bidadari Sungai Utara. “Ini memang untukmu. Ambillah.”


Bidadari Sungai Utara dengan girang menerimanya. Sampai meloncat-loncat kecil. Mantingan tersenyum lebar. Senang pula melihat Bidadari Sungai Utara begitu senang.


“Maaf, aku pergi terlalu lama. Seharusnya siang tadi aku sudah kembali, tetapi ada suatu hal yang menundaku.”


Bidadari Sungai Utara memang senang mendapatkan dua bumbung daging bakar, namun itu tidak serta merta membuatnya lupa pada penderitaannya menunggu Mantingan dari pagi hingga malam hari.

__ADS_1


“Memang. Bagus juga kau sadar. Dan aku memaafkanmu.”


Mantingan hanya bisa tersenyum kecut.


__ADS_2