Sang Musafir

Sang Musafir
Berlatih Kewaspadaan


__ADS_3

MANTINGAN MASIH terus mempelajari Kitab Lalat hingga dirasa tengah malam telah tiba. Ditandai oleh suara kokok ayam yang tersiar saat langit masih gelap. Bertepatan dengan selesainya bacaan Mantingan. Pemuda itu melirik Bidadari Sungai Utara yang masih terduduk di belakang meja, membaca Kitab Tapak Angin Darah.


Mantingan memutuskan untuk memanggilnya. “Apakah Saudari sudah selesai membaca?”


Bidadari Sungai Utara segera menoleh. “Ya. Aku sudah membaca bagian pertama dan keduanya. Sedangkan bagian ketiga, kurasa tidak bisa dipelajari malam ini juga.”


Mantingan menganggukkan kepalanya ringan. “Kalau begitu, bisakah kita memulai pelatihannya?”


Bidadari Sungai Utara mengangguk. Dirinya mengemas kembali Kitab Tapak Angin Darah ke dalam keropaknya. Berdiri. Mantingan turut berdiri. Dan datanglah suasana canggung mengacaukan semuanya.


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Berlatih.”


“Berlatih apa?”


“Berdasarkan kitab yang kubaca, kita bisa memulainya dengan tidur.” Mantingan tersenyum canggung, ia tahu bahwa kata-katanya akan membingungkan Bidadari Sungai Utara.


“Tidur? Apa maksud Saudara? Apakah Saudara berubah pikiran? Diriku bisa membunuh Saudara saat ini juga.”


Mantingan segera menggeleng. “Tidur bukan berarti macam-macam. Pikiranmu saja yang mudah sekali berkeliaran ke mana-mana. Salah satu dari kita harus tertidur, sedangkan salah satu lainnya harus tetap terjaga. Orang yang menjaga akan membuat suatu gerakan teramat cepat di dekat perut orang yang tertidur. Saat itulah orang yang tertidur harus terbangun. Namun sebelum itu, harus dipastikan bahwa orang itu benar-benar telah tidur. Jika tidak, maka pelatihan dianggap tidak sah. Daku sendiri belum mengantuk, bagaimana denganmu?”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara segera menjawab, “Diriku siap. Saat ini daku sudah mulai mengantuk.”


“Kalau begitu, silakan tidur di atas kasur itu.” Setelah berkata, Mantingan berdeham beberapa kali.


Bidadari Sungai Utara memerah wajahnya. Tentu ia berpikir bahwa perbuatannya sangat tidak pantas. Namun setelah dipikir-pikir lagi, Bidadari Sungai Utara tidak mau menolaknya. Bukankah ini dilakukan sebagai latihan? Lagipula, gadis itu yakin bahwa Mantingan tidak akan berbuat apa-apa selama dirinya tidur.


Sebelum itu, Bidadari Sungai Utara melepas pakaian tambahan yang ia kenakan sebagai penghangat. Menyisakan pakaian yang biasanya ia pakai saat tertidur. Bidadari Sungai Utara melirik mata Mantingan, menemukan bahwa pemuda itu berekspresi datar. Tanpa *****. Tanpa gairah. Bahkan Mantingan masih sempat tersenyum ketika gadis itu menoleh padanya.


Bidadari Sungai Utara tidak berbasa-basi lagi, langsung merebah di atas ranjang Mantingan. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian kepala. Sekali lagi gadis itu melirik Mantingan, sebelum akhirnya memejamkan mata. Bagaikan berada di kamarnya sendiri.


Mantingan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Namun biar bagaimanapun, Bidadari Sungai Utara telah menunjukkan rasa percaya terhadap dirinya. Mantingan merasa terhormat ketika melihat gadis itu tertidur tenang di hadapannya.


Tentu Mantingan tidak berdiri saja melihati Bidadari Sungai Utara yang berkemul. Tiada guna ia melakukan itu. Maka jadilah Mantingan duduk di belakang meja. Membaca kitab. Ia pikir lebih baik seperti itu.


ENTAH SUDAH berapa lama Mantingan membiarkan Bidadari Sungai Utara tertidur pulas sedangkan dirinya masih saja membaca kitab. Dilihat melalui jeruji jendelanya, hari masih gelap. Mantingan kemudian beralih pandang menuju Bidadari Sungai Utara.


Gadis itu beberapa kali berganti gaya tidur. Kali ini, dia tidur menyamping. Tubuhnya masih tertutupi selimut. Tampak nyaman dan damai. Membuat Mantingan yakin, gadis itu telah lama terlelap.


Pelan-pelan, Mantingan beranjak dari kursinya. Seketika menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk dapat berjalan tanpa suara. Mantingan pula menggunakan Ilmu Pengendali Angin. Gerak tubuhnya sama sekali tidak terbaca.


Dengan cepat, Mantingan sampai di samping kasurnya. Napasnya benar-benar diatur sedemikian rupa. Sehingga Bidadari Sungai Utara tidak akan bisa tahu keberadaannya hanya karena suara.

__ADS_1


Namun kini, ia menjadi ragu untuk membangunkan Bidadari Sungai Utara. Bagaimanapun yang terlihat, gadis itu tidur dalam selimut kedamaian. Bagai seorang bidadari surgaloka di peraduannya. Begitu pulasnya.Seakan tidak ada yang lebih pulas ketimbang itu. Sungguh Mantingan tidak tega. Tidak tega jika harus menghancurkan kepulasan itu.


Tetapi biar bagaimanapun juga, latihan harus tetap diutamakan. Mantingan ingat tujuan Bidadari Sungai Utara tidur adalah untuk latihan. Ia akan merusak rencana jika tidak membuat gerakan cepat terhadap gadis itu.


Maka dengan sangat-sangat-sangat berat hati, Mantingan membentuk suatu serangan tapak yang melintas tepat di atas tubuh Bidadari Sungai Utara. Gerakan yang sedemikian cepat itu ia lancarkan tanpa Ilmu Pengendali Angin, sehingga terdengar jelas pula suara desau angin.


Entah bagaimana, kepulasan dan kedamaian dalam diri Bidadari Sungai Utara lenyap seketika. Mulanya gadis itu hanya membuka matanya. Membeliak. Tetapi lalu membuat gerakan sigap. Mengangkat tubuhnya hingga melayang. Di atas udara, dia mengirim serangan tapak bertubi-tubi ke arah Mantingan.


Serangan tapak yang meskipun tidak diduga, masih bisa ditangkis dan dielakkan oleh Mantingan. Sehingga tidak sedikitpun pemuda itu terluka. Tubuh Bidadari Sungai Utara jatuh di atas kasur. Mantingan pikir berhenti sampai di situ, tetapi nyatanya tidak. Bidadari Sungai Utara berguling ke samping. Tubuhnya keluar dari kasur, langsung berdiri. Dari dalam pakaiannya, ia melemparkan beberapa buah pisau terbang. Langsung menjurus ke tubuh Mantingan.


Pemuda yang menghadapi serangan tak terduga itu lekas melompat ke udara. Bersalto di udara beberapa kali sebelum turun kembali papan kayu. Tak berhenti sampai di sana, Bidadari Sungai Utara menyergap maju. Bertangan kosong. Bertubi-tubi dia melancarkan serangan. Semuanya berhasil ditangkis Mantingan. Bahkan kini, ia mencekal kedua tangan Bidadari Sungai Utara. Gadis itu tak bisa bergerak walau sudah berusaha.


“Saudari, apa yang kaulakukan?!” Mantingan berkata di sela-sela tangkisannya.


Setelah suara itu terdengar, tiada lagi serangan. Berhenti. Bidadari Sungai Utara benar-benar berhenti. Gadis itu mematung. Tangannya masih tercekal, membentuk sikap bertarung, tetapi tak bergerak barang sejengkal pun. Seolah-olah hanya mata gadis itu yang bergerak. Menatap Mantingan.


Saat gadis itu menatapnya, Mantingan ditampakkan kesedihan yang tersimpan dalam mata gadis itu. Tidak perlu pikir panjang bagi Mantingan untuk mengetahui sebabnya. Inilah rasa trauma masa lalu yang masih hinggap dalam diri Bidadari Sungai Utara sampai saat ini. Trauma perang yang sulit sekali dihapuskan.


Mantingan melepas pegangannya di tangan Bidadari Sungai Utara, beralih ke dua pundak gadis itu. Dengan tatap meyakinkan, Mantingan berkata, “Saudari baik-baik saja?”


“A-aku baik-baik saja. Ha-hanya teringat masa lalu.” Bidadari Sungai Utara langsung menjawab, namun terbata-bata ia mengucapkannya.

__ADS_1


Mantingan menghela napas panjang. Mengangguk pelan. “Dengar ucapanku. Semua akan baik-baik saja. Orang-orang jahat itu telah pergi ditelan dunia, tidak akan menemukan keberadaan Saudari untuk selamanya. Sekarang tenangkan diri. Surutkan kewaspadaan.” Mantingan membantu gadis itu untuk duduk di atas kasur. “Tidurlah kembali. Lupakan kenangan-kenangan buruk itu, sejenak saja.”


__ADS_2