Sang Musafir

Sang Musafir
Mungkin Ini Menjadi Pagi Terakhir


__ADS_3

TETAPI, apakah memang benar-benar mesti diketahuinya tentang hal yang dikecewakan Chitra Anggini? Bukankah dalam pelaksanaan tugas yang sedemikian penting ini, yaitu menyelamatkan Sepasang Pedang Rembulan yang dapat kembali mengharu-biru dunia persilatan, juga Tapa Balian yang diduga mengetahui mantra penyegel sepasang pusaka itu, teramatlah tidak pantas melibatkan perasaan semacam apa pun?


Bilamana nyawa orang banyak dipertaruhkan, sudah semestinya Mantingan dan Chitra Anggini tidak berlarut-larut dalam kekecewaan atau bahkan yang paling buruk adalah percintaan, sebab betapa juga hal tersebut dapat merusak sebagian atau bahkan keseluruhan dari rencana mereka.


Akan tetapi, bila Mantingan pun mendapati kesulitan berarti untuk mengendalikan gejolak perasaannya sendiri, lantas bagaimanakah dirinya dapat mengendalikan gejolak perasaan perempuan itu?


Sungguh merupakan hal rumit yang semakin merumitkan segala keadaan, tetapi agaknya memang sedemikian yang diinginkan oleh Kembangmas untuk membuktikan apakah Mantingan benar-benar pantas mendapatkannya atau tidak.


Ketika alunan bebunyian berhenti, ketika itu pula Mantingan dan Chitra Anggini seolah kembali mendapatkan raga mereka masing-masing. Wajah keduanya memerah sempurna ketika menyadari mereka saling berpelukan.


Mantingan memandang ke sekitar dan mendapati begitu banyak pasangan pendekar yang tidak langsung melepaskan pelukannya, bahkan beberapa di antara mereka yang bercumbu tanpa sungkan-sungkan. Sedang hanya sedikit di antara mereka yang melepas pelukan, sekadar untuk dapat menatap satu sama lain dengan kasih sayang. Hanya Mantingan dan Chitra Anggini yang tidak melakukan hal mesra semacam apa pun.


***


SETELAH satu hari lagi berselang, pagi ini mungkin akan menjadi pagi terakhir mereka berada di istana, atau mungkin pula menjadi pagi terakhir mereka di alam dunia, sebab biar bagaimana juga mereka akan menyusup ke istana malam nanti. Hanya ada dua jalan bagi mereka; keluar dengan keberhasilan, atau mati di tempat.

__ADS_1


Kemarin Chitra Anggini telah pergi ke pasar pendekar di kotaraja untuk membeli segala persenjataan, yang lantas kemudian diberikannya pada jaringan Puan Kekelaman di Kedai Seribu Cangkir agar dapat diselundupkan diam-diam ke dalam istana. Persenjataan-persenjataan itu sudah termasuk ratusan jarum terbang, puluhan pisau bertali, dan belati panjang yang dapat melayangkan nyawa lawan hanya dengan sekali tikam.


Dalam hal penyusupan, dengan ruang yang terbatas, pedang panjang seringkali tidak banyak berguna atau justru merepotkan. Untuk hal itulah, Chitra Anggini lebih banyak membeli senjata-senjata pendek. Namun, jika penyusupan itu sampai diketahui pihak lawan yang kemudian berujung pada pengepungan ribuan prajurit, pedang panjang akan menjadi senjata yang paling dibutuhkan, jadi keduanya akan tetap membawa pedang.


“Kau pegang pedang ini,” kata Mantingan sambil menyerahkan Pedang Kiai Kedai pada Chitra Anggini.


“Kau bisa menggunakan dua pedang sekaligus, bukan?” Perempuan itu tidak langsung menerimanya, sebab dirinya merasa bahwa pedang itu akan lebih berguna jika berada di tangan ahli seperti Mantingan. Lagi pula, Chitra Anggini tidak terlalu mahir memainkan pedang.


“Untuk berjaga-jaga jika persenjataanmu habis. Aku mendapat kabar bahwa istana tidak banyak menanam pepohonan, terutama pada gudang penyimpanan pusaka mereka.” Mantingan tetap mengulurkan pedang itu. “Ambil saja.”


Chitra Anggini pada akhirnya menerima Pedang Kiai Kedai, tetapi tidak sampai lama kemudian dirinya kembali bertanya, “Ini pemberian Dara, bukan?”


“Bidadari Sungai Utara yang menceritakannya kepadaku,” jawabnya sambil menyimpan pedang itu, tetapi sungguh sungkan menjawab pandangan mata Mantingan. “Ada begitu banyak wanita yang memuja kamu, padahal sungguh aku sama sekali tidak melihat ketampanan di wajahmu itu.”


Mantingan tersenyum pahit. Mestikah Chitra Anggini kembali berlaku sedemikian sedangkan semestinya mereka mempersiapkan kejiwaan untuk menghadapi lawan sebesar Istana Koying?

__ADS_1


Untuk sekadar menyenangkan hati perempuan itu, Mantingan menjawab, “Dengan kejelitaan itu, seharusnya telah teramat banyak lelaki yang menyukaimu, Chitra.”


Namun jawabannya sungguh tak terduga, “Tetapi mengapa kau tidak begitu adanya?”


Mantingan terbatuk berkali-kali akibat tersedak napasnya. Hampir-hampir tidak mempercayai telinganya sendiri. “Jika aku tidak menyukaimu, maka aku tidak akan mau menganggapmu sebagai teman.”


“Sekadar itu?” Kini, tanpa sungkan-sungkan, Chitra Anggini menatap mata pemuda itu lamat-lamat. “Mungkin apa yang kaukatakan tadi itu banyak benarnya. Selama malang-melintang di dunia persilatan, sudah beberapa kali aku menjumpai lawan yang jatuh cinta padaku hanya dengan sekali tatap, sehingga mereka merelakan dirinya kubunuh tanpa perlawanan sama sekali. Kuanggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Tetapi satu-satunya ketidakwajaran terletak pada dirimu, yang tidak sedikitpun bergeming meski telah kucumbui dikau bersamaan dengan semilir sirep pemancing kehendak.”


Mantingan terdiam, tetapi tak seberapa lama kemudian ia telah menemukan jawaban yang tepat untuk membalas perkataan perempuan itu, “Mestikah kita membahas ini?”


Tiada jawaban yang lebih tepat selain dengan membalik pertanyaan.


“Mesti.” Chitra Anggini mulai melangkah maju. “Sebab tengah malam nanti, nyawa kita tidak lagi dapat ditentukan nasibnya. Beranikanlah dirimu untuk membahas segala sesuatu yang memang sudah semestinya dibahas.”


Mantingan mengembuskan napas panjang, langsung terpapas oleh angin yang bersemilir dari jendela kamar yang setengah terbuka. Napas penuh sesal itu akan terus dibawa mengembara tanpa henti oleh angin, hingga barangkali tiba di Champa sana, ke telinga Bidadari Sungai Utara untuk sekadar menceritakan betapa peliknya pemuda itu saat ini.

__ADS_1


“Aku tidak dapat membalas apa pun darimu, Chitra. Hanyalah kepada Sasmita kupersembahkan perasaan itu.” Mantingan berkata dengan sedemikian beratnya, begitu berat, teramat berat, terlalu berat, sehingga seolah telah ada yang sengaja menumpuk ribuan gunung di pundaknya.


Berbarengan dengan selesainya ucapan itu, keduanya terdiam sempurna.


__ADS_2