
“Jangan bercanda, tentu saja aku sangat-sangat tidak mau.”
BIDADARI Sungai Utara tertawa gugup setelah menyadari kekeliruannya.
“Saudari, lebih baik engkau segera masuk ke dalam tenda. Nyamuk malam di tengah hutan seperti ini jauh lebih sakit ketimbang nyamuk lainnya.”
“Bolehkah aku membuka jubah dan cadar yang aku pakai? Pakaian-pakaian ini pasti akan sangat menggangguku tidur.”
Mantingan mengangkat alisnya sebelum tersenyum. “Ya, tentu saja. Mengapa perlu izin?”
“Mengapa perlu izin? Tentu saja aku melakukan itu untuk memastikan dirimu masih bisa menahan diri. Senyum yang kau tunjukkan itu sangat mengerikan.”
Senyum Mantingan memudar. “Tidak selama engkau cepat-cepat masuk dan menutup tenda.”
Setelah Mantingan berkata seperti itu, tidak ada alasan lagi bagi Bidadari Sungai Utara untuk tidak segera masuk ke dalam tenda. Ucapan yang ingin ia kemukakan hanya tertahan sampai di kerongkongannya saja. Itulah ucapan terima kasih Bidadari Angin Putih setelah Mantingan menjaganya seharian penuh.
***
Malam hari seperti ini sungguh mengingatkan Mantingan pada perkemahannya di jantung hutan kala itu. Yang pada akhirnya harus ditinggalkan pula.
Memang tidak baik berada terus di wilayah nyaman, begitu kata Kiai Guru Kedai bahkan kata orangtuanya. Tapi sesekali seperti ini bukan masalah sebenarnya.
Mantingan menancapkan obor buluh yang baru saja ia buat ke tanah. Cahaya yang dihasilkan cukup menerangi sekitar, walau remang, tetapi tidak terlalu besar hingga menarik perhatian.
Mantingan mengalirkan sedikit tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Demi mencegah nyamuk menggigit tubuhnya. Serangga-serangga itu akan lekas terbang menjauh setelah sebentar saja hinggap pada tubuh Mantingan, jika sudah dialirkan tenaga dalam begitu.
Pendekar tingkat ahli sekalipun akan sulit meraih pikiran tenang jika nyamuk terus menggigit. Tidak terkecuali Mantingan. Ia berniat melanjutkan kisahnya di atas lontar, dengan menulis, yang berarti ia membutuhkan ketenangan dan bukannya nyamuk.
__ADS_1
Maka mulailah pemuda itu menggurat aksara di atas lontar, yang jika aksara-aksara itu disambung akan membentuk kata berbahasa Sanskerta, yang jika digabungkan lagi akan membentuk kalimat demi kalimat, lalu disambungkan dalam sekeropak kitab akan menjadi sebuah cerita penuh suka-duka.
Malam itu sangat dingin. Udara seakan-akan basah. Daun-daun berembun. Saat angin bersemilir, walau itu pelan, maka terciptalah kabut—yang semakin menambah dinginnya malam. Terlebih saat angin bersemilir lumayan kuat, bulu kudu Mantingan berdiri saking dinginnya.
Mantingan memang sengaja tidak pakai jubah pemberian Kenanga yang ajaib. Jika ia terus bergantungan pada jubah tersebut, kapan Mantingan merasakan udara yang sesungguhnya? Sama seperti hidup, jika ingin dianggap sebagai sebuah kehidupan, di sana ada pahit dan manis yang harus dilewati. Tidak peduli sekalipun manusia hanya ingin manisnya saja, pahitnya pun akan ia rasakan.
Tanpa sadar ia menulis itu di atas lontarnya. Biarlah begitu, Mantingan berkata dalam benaknya. Bukankah memang seperti itu kenyataannya?
Mantingan menulis tanpa hitung waktu. Begitu ia terbenam, maka waktu dirasa singkat saja, hingga tidak kerasa pula saat matahari mulai menanjak naik. Mantingan menghentikan gerak jarinya dan menyimpan kembali peralatan tulisnya di dalam bundelan. Mantingan berdiri dan meregangkan punggung sebelum berjalan mendekat ke tenda.
Mantingan memanggil Bidadari Sungai Utara beberapa kali untuk membangunkannya. Tirai tenda terbuka, menampilkan Bidadari Sungai Utara dengan tampang baru bangun tidur. Ia melihat ke sekitar dan menguap sekali.
“Mengapa buru-buru sekali? Angin muson timur masih lama, jangan terlalu bersemangat meneruskan perjalananan ke Champa, dan aku masih mengantuk.”
“Tidak baik berlama-lama di dalam hutan seperti ini, Saudari Sungai Utara.”
Bidadari rawa itu menatap Mantingan dengan tatapan menggoda, dari nada bicaranya juga diucapkan dengan maksud menggoda. “Aku akan bangun setelah kau memanggilku ‘Bidadari Sungai Utara’. Mengapakah kau tidak pernah memanggilku seperti itu?”
Bidadari Sungai Utara seperti sadar dari lamunannya. Ia terdiam sejenak dengan tampang seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Saat itulah ia tertawa canggung dan menggaruk rambutnya yang masih acak-acakan.
“Maaf, aku masih setengah sadar tadi. Apa yang aku katakan tidak perlu dianggap serius, kau bisa memanggilku dengan sebutan apa saja.”
Mantingan hanya membalasnya dengan tawaan kecil. “Kalau begitu, ada baiknya Saudari segera bangun. Setelah itu kita akan sarapan seadanya sebelum berangkat. Aku juga ingin melipat tendanya.”
“Oh ya, tentu saja. Apakah aku harus pakai cadar?”
“Tidak perlu jika itu mengganggumu.”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara tersenyum lalu keluar dari dalam tenda Mantingan sambil membawa bundelannya. Ia merapikan pakaian dan rambutnya sedikit lalu kembali menoleh pada Mantingan.
“Mau aku bantu?”
***
Masih pada pagi itu.
Mereka sarapan dendeng rebus. Tenda baru selesai dilipat, setelah Bidadari Sungai Utara berhasil membuat kusut tali-talinya saat ia berniat membantu. Berulang kali gadis itu meminta maaf, tidak peduli seberapa sering Mantingan memaafkannya.
Tetapi saat ia mengunyah makanan, Bidadari Sungai Utara itu seakan lupa bahwa tadi ia minta maaf berulang-ulang kali.
“Dendeng ini sepertinya kurang garam, tambahkan sedikit lada tambah enak. Bukankah di tanaman lada melimpah di tanahmu ini? Mengapa kau tidak memanfaatkannya?”
Mantingan mengangkat bahunya. “Singkatnya saja, aku lupa membeli garam dan lada ketika di pasar.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk mengerti. Namun ada satu hal yang tidak ia mengerti, apakah sikap Mantingan memang selalu acuh tidak acuh seperti itu? Atau hanya padanya sajalah pemuda itu bersikap dingin. Jujur Bidadari Sungai Utara tidak suka pada laki-laki yang bersikap dingin.
“Apakah sikapmu memang selalu begini pada semua orang, atau padaku saja?”
Mantingan berhenti mengunyah. Ia memandangi mata gadis yang bertanya padanya itu, untuk beberapa saat ia termangu.
“Entahlah, Saudari yang berasal dari Champa. Aku kehilangan beberapa orang yang membuat pikiranku tidak bekerja seperti biasanya. Mungkin aku butuh waktu untuk memulihkan diri sampai benar-benar pulih.”
Raut wajah Bidadari Sungai Utara berubah. Seakan-akan memahami Mantingan, dan sama sedihnya dengan Mantingan. Padahal ia tidak pernah mengetahui kisahnya. Tetapi siapakah yang tidak bisa melihat kejernihan mata Mantingan, yang selalu menunjukkan isi hatinya?
“Maafkan aku, Mantingan. Aku tidak mengira sebelumnya, dan malah berprasangka buruk padamu.”
__ADS_1
Mantingan menggeleng pelan, tidak menunjukkan perasaan tersinggung sedikitpun. “Justru Saudari yang harus memaafkanku, sikapku sama sekali tidak mengenakan padamu. Seperti kemarin saat aku menolakmu berulangkali, aku terlalu kasar padamu.”
“Tidak apa, Mantingan. Sangat-sangat tidak masalah bagiku. Aku tahu, rasa kehilangan seseorang atau sesuatu yang tak bisa dimiliki kembali sangatlah tidak mudah untuk dipulihkan, maka sikapmu padaku seperti apa pun akan aku anggap sebagai sikap yang luar biasa.”