
Mantingan cukup puas meskipun dirinya sama sekali tidak senang sebab betapa pun nyawa banyak orang baru saja melayang di tangannya. Jurus yang tiada dapat digunakan selama masa berlatih di Gaung Seribu Tetes Air itu pada akhirnya menunjukkan kegunaannya. Mantingan merasa beruntung, sebab dirinya pernah memutuskan untuk terus berlatih Kitab Savrinadeya meski tanpa hasil apa pun.
Setelah selesai membunuh pendekar-pendekar itu, Mantingan mencari sasaran lain. Ia memendarkan pandang ke sekitar, berharap segera menemukan pendekar musuh yang sekiranya mesti didahulukan untuk dibunuh. Pada saat itulah sorot matanya bertemu dengan mata Pendekar Kelewang Berdarah yang tampaknya sama-sama mencari lawan untuk dibunuh terlebih dahulu. Maka pandangan mata itulah yang kemudian diartikan sebagai tantangan bertarung terhadap satu sama lain!
***
MANTINGAN melesat menuju Pendekar Kelewang Berdarah yang masih berdiri tanpa bergerak barang sedikitpun itu. Awalnya Mantingan mengira bahwa orang itu akan memilih bertahan menghadapi gempurannya ketimbang mesti maju menyerang juga, tetapi nyatanyalah dugaannya itu salah.
Dalam jarak sekitar sepuluh langkah dari Pendekar Kelewang Berdarah, Mantingan mendengar sekelebat angin yang bergerak teramat sangat cepat ke arahnya yang berasal dari samping kanan. Lekas saja Mantingan menjejak tanah di depannya untuk mengurangi kecepatan lajunya sebisa mungkin, sebab dirinya benar-benar harus menangkis serangan yang datang secara tiba-tiba itu, maka sama saja berarti bahwa ia harus membatalkan serangannya terhadap Pendekar Kelewang Berdarah, sehingga laju geraknya harus dihentikan atau setidaknya dikurangi sebanyak mungkin agar tidak segera sampai di hadapan Pendekar Kelewang Berdarah yang telah pasti akan menyerangnya dengan telak!
Mantingan segera menerapkan Sikap Menghadang dari Pendirian Manusia dengan membujurkan pedangnya di depan dada. Dua kali dirinya menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan lawan yang rupa-rupanya membawa dua belati panjang. Mantingan menyeret sebelah kakinya ke belakang, sehingga kini tubuhnya menyamping, membiarkan pendekar yang menyerangnya itu tetap melaju dengan semestinya, tetapi dengan Mantingan yang telah benar-benar berada di sebelahnya sambil mengangkat Pedang Savrinadeya tinggi-tinggi. Begitulah pada saat tebasan yang ketiga, dirinya mengakhiri riwayat lawan.
Mantingan baru hendak kembali melesat ke arah Pendekar Kelewang Berdarah, ketika telinganya kembali menangkap sekelebat angin dari arah belakang!
__ADS_1
Maka segera Mantingan mengulang tiga tebasannya; yakni dua tebasan untuk menangkis serangan lawannya yang bersenjatakan sepasang belati panjang, dan satu tebasan untuk mengakhiri hidup lawannya.
Baru sesaat setelah Mantingan menghentikan gerakan pedangnya, yang bahkan tubuh lawannya belum sampai jatuh ke tanah, suara kelebatan kembali terdengar. Kini datang dari tiga arah sekaligus!
Mantingan menangkis dan menebas sambil bergerak mundur. Ketiga penyerang itu berhasil dilumpuhkannya—yang selalu berarti dengan terpisahnya raga dari badan— tanpa kesulitan yang berarti, tetapi dirinya tidak akan pernah mampu mencapai Pendekar Kelewang Berdarah dengan semua serangan yang datang beruntun seperti ini, terlebih-lebih pendekar-pendekar yang datang menyerangnya itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi sehingga tentunyalah amat sangat mampu menahan laju Mantingan.
Sedangkan itu, Pendekar Kelewang Berdarah kembali memulai serangannya dengan mengincar perempuan-perempuan yang tengah terdesak. Mantingan menggeram keras. Seperti itukah cara pendekar jantan berlaku?!
Dalam keterdesakannya, Mantingan memahami suatu hakikat dalam jaringan dunia persilatan bawah tanah, bahwa hampir segala sesuatu di dalamnya bersifat kepentingan tanpa pelibatan perasaan. Jika suatu jaringan bawah tanah memiliki kepentingan, maka mereka akan berusaha mati-matian untuk menyelesaikannya, tanpa peduli apatah cara yang mereka gunakan termasuk baik atau buruk. Bagi mereka, tiada yang lebih penting ketimbang kepentingan jaringannya. Itulah yang membuat pendekar-pendekar dunia persilatan bawah tanah seringkali disebut sebagai manusia yang bukan manusia; makhluk berbentuk manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Seorang pendekar akan jauh lebih percaya bahwa ayam jantan dapat menghasilkan telur bebek, ketimbang percaya bahwa istana kerajaan terbebas dari pengaruh jaringan bawah tanah.
“Hampir segala kepentingan di dalam istana tidak terlepas dari campur tangan jaringan bawah tanah.” Begitulah Kiai Guru Kedai berkata saat dirinya masih singgah di Desa Lonceng Angin. “Tetapi Punawarman dengan tangan besinya telah berusaha keras untuk melepaskan seluruh pengaruh jaringan bawah tanah dari kerajaannya dan bukan hanya sebatas istananya saja. Maka tidak perlu heran lagi jikalau jaringan bawah tanah memiliki peran besar dalam memperbesar api pemberontakan di Tarumanagara.”
__ADS_1
Namun, perkara kekuasaan dengan segala kerumitan yang tak teruraikan itu tidak dapat Mantingan pikirkan saat itu pula, sebab betapa pun dirinya masih digempur oleh puluhan pendekar berkemampuan tinggi!
Mantingan segera menggunakan Jurus Angin Melekang Gunung, tetapi betapa pendekar-pendekar yang tengah dihadapinya itu teramat sangat gesit untuk dapat segera melenting dan menghindari terjangan angin setajam pedang mestika itu. Jurus Angin Melekang Gunung yang Mantingan kirimkan kali ini hanya dapat membunuh sekiranya lima pendekar saja, sedang sasarannya adalah sepuluh pendekar.
Mantingan terus bergerak mundur. Serangan demi serangan datang kepadanya, tampak membabi buta dengan segala kecarut-marutannya, yang sebenar-benarnyalah sangat teratur dan penuh perhitungan. Mantingan menjadi sangat kesal. Jika pertarungan memang benar-benar mesti terjadi, maka Mantingan selalu menginginkan pertarungan satu melawan satu, yang dilaksanakan dengan penuh kehormatan sebagai sesama pendekar, tetapi pada kenyataannyalah ia selalu diserang beramai-ramai di setiap pertarungan. Bukan saja itu menyebabkan dirinya merasa kewalahan, melainkan pula merasa sesal. Betapa pun dengan begitu banyaknya musuh yang datang menyerang, Mantingan pula mesti membunuh mereka semua dalam waktu yang sesingkat mungkin, sehingga seringkali menggunakan cara-cara yang teramat mengerikan dan mengenaskan.
Kini para penyerangnya tidak hanya menyerang dengan menggunakan sepasang belati maupun kelewangnya, melainkan pula jarum dan pisau beracun. Sungguh meskipun sama sekali tampak bahwa pisau dan jarum itu berlesatan dengan serabutan tanpa sasaran, tetapi sebenarnyalah memiliki arah yang amat sangat terukur. Sehingga sekalipun jarum maupun pisau yang jumlah sungguh tiada lagi dapat terkirakan itu tidak mengenai Mantingan sebagai sasarannya, maka benda-benda itu tidak akan sampai mengenai kawan-kawannya.
Mantingan semakin terdesak dengan serangan-serangan seperti itu. Sungguh benar perkiraannya bahwa pendekar-pendekar yang ada di Suvarnadvipa sama sekali tidak dapat diremehkan apalagi dipandang sebelah mata.
Dengan melawan mereka, Mantingan seolah mengalami tingkatan baru dalam jalan kependekarannya. Andaikan kata saat ini dirinya sedang menghadapi pendekar-pendekar yang berasal dari Javadvipa, sungguh dirinya dapat merobohkan mereka hanya dalam sekejap mata saja. Namun, saat ini dirinya berada di Suvarnadvipa dengan orang-orang yang sedari kecil telah mempercayai akan keberadaan dunia persilatan sebagai wujud yang nyata dan bukan hanya sekadar dongeng yang diceritakan oleh juru cerita dari satu desa ke desa lainnya, sehingga mereka dapat mengambil keputusan untuk menyelami dunia persilatan jauh lebih dini ketimbang orang-orang Javadvipa yang masih saja menganggap bahwa dunia persilatan hanya dongeng yang tidak lebih dan tidak kurang.
Perlahan, jantung Mantingan berdebur penuh gairah. Meskipun pada awalnya ia sama sekali terpaksa menempuh jalur persilatan yang teramat sangat kental dengan pertarungan-pertarungan menuntut nyawa, tetapi kini ia mulai menikmatinya perlahan-lahan. Termasuk pada saat dirinya memasuki tingkatan baru dalam jalan kependekarannya, yakni menghadapi lawan-lawan berat di Suvarnadvipa!
__ADS_1
Namun, itu bukan berarti bahwa Mantingan mulai menyukai pembunuhan. Betapa ia membenci dan akan selamanya membenci pembunuhan yang tidak seharusnya dilakukan. Baginya, para pendekar di dunia persilatan masih melakukan hal yang konyol, yakni dengan bertarung hingga mati dengan alasan mencapai keparipurnaan.