
NAMUN TATKALA suara kelebatan itu kembali terdengar, Mantingan tidak bisa untuk tidak berwaspada.
“Saudari, ada yang mengikuti kita.”
Bidadari Sungai Utara tetap berjalan walau telah mendengar itu, dia menoleh ke belakang untuk sesaat. “Saudara, lebih baik engkau berlari sampai rumahmu. Daku akan mengecoh mereka.”
Sudah barang tentu perintah itu ditolak Mantingan dengan pertimbangan yang matang. “Dakulah yang telah menyebabkan masalah ini, tidak baik melibatkan Saudari terlalu jauh.”
“Nyawa Saudara bisa terancam jika tetap bersamaku.”
“Dan ingatlah bahwa nyawa Saudari juga terancam jika menghadapi mereka sendirian. Mengertilah keadaan diri Saudari sekarang ini.”
“Mantingan, aku tidak bercanda.” Kini Bidadari Sungai Utara tampak cemas. “Pergilah, biar aku hadapi mereka.”
Mantingan melangkah lebih cepat, mendahului Bidadari Sungai Utara. Gadis itu menghela napas panjang, mengira Mantingan benar-benar akan pergi meninggalkannya. Namun siapa sangka, saat Bidadari Sungai Utara sedang mempersiapkan diri menyambut musuh, dia justru melihat Mantingan berdiri di depan toko senjata.
“Saudara, apa yang kaulakukan?”
“Seperti yang Saudari lihat, aku sedang membeli senjata.” Mantingan menjawab tanpa menoleh, matanya terus menatap kelewang panjang di tangannya.
“Sudah kusuruh Saudara untuk pulang, bukan?”
Kini Mantingan menatap langsung ke arah mata Bidadari Sungai Utara. “Apakah aku tidak boleh memiliki sikap keras kepala sama seperti Saudari?” Kemudian Mantingan beralih kepada si penjual senjata. “Berapa harga untuk kelewang ini, Bapak?”
“Saudara, jangan gila!”
__ADS_1
Mantingan menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu sebelum membalas Bidadari Sungai Utara. “Aku tidak gila. Jika diriku gila, maka aku akan menghadapi musuh tanpa senjata. Namun, Saudari bisa lihat aku sedang membeli apa. Kelewang ini bagus sekali, panjangnya sedepa—”
“Apa yang Saudara lakukan adalah tindakan bunuh diri yang sia-sia!” Sebenarnyalah Bidadari Sungai Utara berbisik, namun penuh penekanan.
Mantingan menarik napas panjang sebelum dengan terpaksa meminjam sedikit tenaga dalam untuk merapal Ilmu Bisikan Angin. “Bidadari Sungai Utara, perlu kauketahui bahwa dirimu saat ini masih menjadi buronan. Jika Saudari sampai tertangkap nantinya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Namun jika diriku ikut bersamamu, maka mungkin saja kita akan saling membantu dalam menghadapi serangan musuh.”
Bidadari Sungai Utara mengembuskan napas panjang. “Dan perlu diingat pula bahwa Saudara tidak boleh menggunakan terlalu banyak tenaga dalam.”
“Akan kuusahakan.”
Sekali lagi, Bidadari Sungai Utara hendak membantah. Namun agaknya, penyerangan barus aja dimulai. Mantingan tiba-tiba saja mengayunkan pedangnya ke atas dengan gerakan cepat, tidak secepat gerakan seorang pendekar, namun sangat tepat untuk dapat menangkis pisau terbang yang menyasar kepalanya.
Bidadari Sungai Utara pula mendapat serangan yang sama, akan tetapi ia memilih menghindar ketimbang menangkisnya. Sehingga pisau terbang itu menancap dalam ke tanah.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berjalan mundur hingga punggung keduanya saling bertemu. Dalam menghadapi kepungan, bentuk bertarung seperti inilah yang akan menguntungkan. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara dapat melihat ke segala penjuru, dan dapat pula melindungi satu sama lain.
Baik Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara saling menghunuskan kelewangnya. Memasang kewaspadaan tingkat tertinggi. Terlebih pada Mantingan yang tidak boleh menggunakan tenaga dalam, ia memilih untuk bersiaga penuh. Sedikit saja kelengahan akan membawa kematian.
Mantingan yakin pengalaman bertarungnya akan sangat membantu. Meskipun ia tidak tahu berapa jumlah musuh yang sekarang dihadapi, tetapi Mantingan percaya diri bisa menghadapinya jika mereka tidak menyerang bersama-sama.
“Apa yang harus kita lakukan?” Bidadari Sungai Utara membisik pelan.
Mantingan segera membalas, “Kita berjalan perlahan-lahan ke tempat yang lebih sempit.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk meski tidak dilihat Mantingan. “Aku akan menjaga bagian belakang, Saudara ambil bagian depan.”
__ADS_1
Mantingan sedikit menggeser posisinya, ia dapat merasakan Bidadari Sungai Utara juga melakukan hal yang sama. Ia mengambil selangkah demi selangkah.
Kali ini dilihatnya tak ada orang sama sekali. Para pedagang dan pengunjung pasar di sekitar Mantingan telah bubar, pergi menjauhinya. Menyisakan lentera dan obor yang semarak. Maka Mantingan sebenarnya dapat berlari dengan bebas tanpa halangan di jalanan pasar, namun ia tahu bahwa hal itu hanya akan mengantar nyawanya menuju alam baka.
Mantingan melihat dua bangunan besar di sisi kanannya. Terdapat sedikit celah di antara kedua bangunan itu. Cukup untuk satu-dua orang. Karena itu adalah tempat yang pas untuk menghadapi pengepungan, Mantingan segera mengabarkan pada Bidadari Sungai Utara yang melekat di punggungnya.
“Saudari, di sebelah kanan kita.”
“Ya, aku melihatnya.”
“Kita harus berlari secepat mungkin ke sana. Jangan sampai musuh mengetahui rencana kita.”
“Kapankah?”
“SEKARANG!”
Punggung Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling melepaskan diri. Secepat mungkin mereka berlari ke dalam celah sempit itu. Di belakangnya, Mantingan dapat mendengar suara desing besi menghantam angin. Namun kali ini ia tidak dapat menangkis maupun sekadar menghindar. Hanyalah peruntungan yang dapat ia andalkan.
Sampailah mereka berdua masuk ke dalam celah itu. Bagi Mantingan, ia merasa seperti baru saja mengarungi lapangan luas. Diliriknya keluar, ia mendapati beberapa pisau yang menancap pada dinding bangunan. Salah satunya menancap tak jauh dari tempat Mantingan berjalan tadi, menembus kedalaman tanah.
“Perhatikan bagian atas, Saudari! Aku akan menjaga sebelah sini.”
Hanya ada dua jalan bagi musuh untuk menyerang Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Terletak pada bagian atas yang langsung menghadap langit malam, dan jalan masuk yang tadi dilalui oleh Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Selain dua jalan itu, maka tidak ada jalan lain. Tidak mungkin bagi mereka untuk menjebol tembok bangunan yang tebal lagi kuat.
Hening beberapa lama. Hanya terdengar suara jangkrik bernyanyi, dan sedikit suara nyiur angin. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara juga tidak mengeluarkan suara selain hela napas yang teramat-amat pelan.
__ADS_1
Serangan musuh belum juga datang. Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Mantingan berpikir bahwasanya musuh menyadari kedudukannya yang tidak menguntungkan, memilih untuk membatalkan serangan ketimbang harus mengalami kekalahan telak. Namun, itu hanyalah perkiraan saja. Yang mungkin saja terjadi, dan mungkin saja tidak terjadi.
Mantingan menghunuskan kelewangnya ke depan. Jari-jemarinya menggenggam gagang pedang dengan kuat. Ia mengatur pernapasan dan mengumpulkan keberanian agar maju ke depan untuk memeriksa keadaan. Dan sebelum itu, Mantingan harus menyiagakan diri sesiaga mungkin untuk menangkis serangan kejutan.