Sang Musafir

Sang Musafir
Keadaan Pasar


__ADS_3

"Gagasan yang tidak buruk.” Rara kembali tertawa kecil. “Dirimu tidak bisa hanya memandangi bangunan itu dari tempat ini saja. Setidak-tidaknya, kamu harus berkeliling.”


“Akan aku lakukan.” Mantingan berhenti sejenak. “Tetapi bisakah kau memberiku saran?”


“Katakan saja.”


“Apakah Bidadari Sungai Utara harus diajak juga?”


“Jika kamu ingin mengajarinya siasat menyusup dan mengintai, maka ajaklah dia. Tetapi kalau kamu ingin keberhasilan tugas ini, maka janganlah ajak dia.”


“Lebih baik aku mengajaknya saja.”


“Itu bagus. Bergegaslah.”


***


MANTINGAN BERJALAN selangkah. Namun, sesaat kemudian ia berhenti. Menghadap bayangan Rara yang samar. “Kamu tidak pergi lagi, bukan?”


“Tugasku belum selesai.”


Mantingan tersenyum sebelum melanjutkan langkah kakinya. Menuju tempat Bidadari Sungai Utara. Bukan hal yang menyulitkan untuk menemukan keberadaan gadis itu.


Bidadari Sungai Utara menelan seluruh kecemasan dan ketakutannya. “Apa saja yang engkau lihat, Saudara?”


“Sebuah bangunan besar. Kemungkinan besarnya, itu adalah markas mereka. Saudari akan lihat sendiri.” Sambil berkata, Mantingan mengambil kembali seutas tali yang digunakan untuk menuntun Bidadari Sungai Utara.


Jantung Bidadari Sungai Utara bergemuruh seketika. Tidak menduga-duga sebelumnya. “Apakah daku perlu melihat bangunan itu juga?”


“Ya.”


“Bukankah Saudara sudah melihatnya?”


“Diriku baru melihat dari satu sisi. Dan untuk melihat sisi bangunan yang lain, daku merasa perlu mengajak engkau.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara menegup kecemasannya dalam-dalam. Berusaha tidak takut. Bagaimanapun juga, ia tidak mau rasa takut mengalahkannya.


“Baiklah.” Terdengar suara meyakinkan dari gadis itu.


Segeralah mereka kembali berjalan. Kali ini dengan seluruh kewaspadaan yang mereka miliki.


Dari tempat semula, Mantingan berputar ke arah selatan. Itu dilakukan berdasarkan pertimbangannya. Pintu masuk sebuah bangunan biasanya terletak di menghadap ke utara. Beberapa menghadap ke selatan. Dan sangat jarang yang menghadap ke timur apalagi barat.


Setelah mendekati bangunan, Bidadari Sungai Utara sebenarnya tidak lagi membutuhkan seutas tali untuk menuntunnya. Walau cahaya dari bangunan besar itu samar-samar belaka, akan tetapi cukup untuk mengungkap jalan di depan gadis itu. Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara tidak melepas tali tersebut. Mungkin saja dirinya merasa lebih aman bersama tali itu.


Benar dugaan Mantingan. Sisi selatan bangunan merupakan pintu masuk. Itu sama saja mengartikan, bahwa sisi utara merupakan pintu utama markas musuh. Sebab sisi utara jauh lebih terang ketimbang sisi manapun.


“Ada sebuah menara di halaman bangunan,” kata Mantingan menunjuk. “Engkau lihat sendiri, menara itu kosong dari penjagaan. Mereka sedang berpesta-pesta di dalam bangunan. Jika pesta mereka telah usai, keadaan mungkin saja berbeda.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk pada Mantingan, tetapi pandangannya menjurus pada menara tersebut. “Mengapakah kita tidak menyerang sekarang juga?”


“Awalnya, aku juga berpikir sedemikian. Tetapi aku disadarkan, ada banyak anggota musuh di dalam desa. Jika kita menyerang lalu kemudian diketahui orang-orang mereka di desa, maka keselamatan penduduk berada dalam bahaya.”


“Bagaimana bisa perampok-perampok di desa itu bisa mengetahui jika seandainya kita menyerang?”


Sekali lagi, Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Artinya, ini terlalu berisiko.”


“Benar. Cukuplah kita memantau dari sini.” Mantingan bergumam pelan.


Selain menara penjaga, Mantingan juga menemukan sebuah bangunan kecil di samping bangunan utama. Jika dilihat dari bentuknya, maka bangunan itu mirip dengan kandang sapi. Tetapi perampok manakah yang memelihara sapi di markasnya saat sedang membajak sebuah desa? Mantingan tahu betul bahwa bangunan itu adalah kandang kuda.


Keberadaan kandang kuda di markas musuh dapat diartikan sebagai kabar baik. Pendekar-pendekar jarang pakai kuda di dalam pertempuran. Terlebih jika harus membawa kudanya keluar-masuk hutan. Hanya prajurit-prajurit biasa saja yang menggunakan kuda dalam pertempuran.


“Lebih baik kita pulang sekarang juga.”


“Adakah sesuatu yang mendesakmu, Mantingan? Daku merasa kita belum cukup lama di sini.”


“Memang seharusnyalah kita tidak boleh lama-lama di sini, Saudari. Kedudukan kita saat ini tidaklah terlalu bagus. Kita terlalu terbuka, musuh bisa langsung melihat kita dari segala arah.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara kemudian mengangguk mengerti.


***


MANTINGAN DAN Bidadari Sungai Utara berhasil keluar dari hutan. Akan tetapi setelah melihat keberadaan para peronda di berjalan-jalan di pematang sawah, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara memutar arah. Mereka melewati kawasan penuh semak belukar di selatan desa.


Sebelum benar-benar pulang ke kediaman Mantingan, mereka menyempatkan diri untuk membeli hadiah yang pernah mereka janjikan kepada Kana dan Kina.


Suasana pasar tidak terlalu ramai. Benar-benar tidak seperti biasanya. Berbanding terbalik dengan banyaknya toko yang buka. Penduduk jelas mengetahui telah terjadi pembajakan di desa mereka. Pajak yang berlipat ganda jelas memberatkan hampir seluruh penduduk desa. Akibatnya, banyak dari mereka yang tidak pergi ke pasar pada malam hari untuk berhemat. Padahal pada waktu-waktu biasa, banyak penduduk yang merayakan malam dengan pergi ke pasar.


Tentu saja penjual-penjual memilih membuka gerainya. Meskipun tahu tidak akan laku. Setidaknya untuk menutupi biaya pajak yang semakin memberatkan.


Maka di jalanan pasar itu, hanya ada Bidadari Sungai Utara dan Mantingan saja—sebagai pengunjung. Keduanya diteriaki banyak pedagang yang menawarkan dagangannya.


“Kain sutera untuk perempuan yang cantik nan jelita, sahaya berikan potongan harga yang besar!”


“Daging rusa bakar manis, potongan harga besar hanya untuk hari ini!”


“Manisan-manisan! Harga murah, rasa lezat, perut kenyang!”


Dari sekian banyaknya pedagang yang menawar, pedagang manisan sajalah yang mereka hampiri untuk pertama kalinya. Bidadari Sungai Utara membeli banyak manisan.


“Satu manisan berharga lima keping perunggu sahaja,” kata pedagang itu tersenyum.


“Lima perunggu? Ini terlalu murah ....” Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan.


Pedagang itu menghela napas panjang sebelum berkata lemah, “Sebenarnyalah hanya berharga tiga keping perunggu. Tetapi setelah pajak naik karena hal ‘itu’, maka sahaya terpaksa menaikkan harganya. Mohon ampunan maafnya, Nyai.”


Bidadari Sungai Utara mengangkat alisnya. Begitu pula Mantingan. Heran mengetahui harga untuk sepotong manisan. Sedemikian murah!


“Berapa semuanya, Paman?” Kali ini Mantingan yang berbicara.


“Semua manisan yang kujual ini, bukan?”

__ADS_1


“Ya. Semuanya. Berapakah?”


Pedagang itu meminta Mantingan menunggu sebentar sedangkan dirinya mulai menghitung keseluruhan manisan.


__ADS_2