
MANTINGAN tidak mengurangi apalagi menghentikan gerak lajunya. Meskipun pemandangan jauh di depan sana sebenarnya telah cukup untuk membuatnya ketakutan, tetapi Mantingan sama sekali tidak gentar.
Ribuan—atau bahkan mungkin sampai puluhan ribu—panah berapi meluncur ke arahnya. Mantingan tidak yakin apakah dirinya mampu untuk menghindari itu semua di tengah lautan seperti ini, akan tetapi kekhawatirannya pada Bidadari Sungai Utara telah mengalahkan rasa takutnya sama sekali.
Banyaknya panah berapi itu tentu saja bukan tidak muncul dari tempat mana pun, melainkan dari kapal-kapal musuh yang bersembunyi di balik kegelapan malam. Ketika panah-panah itu dinyalakan sesaat sebelum dilesatkan ke udara, Mantingan dapat melihat kapal-kapal itu di sebelah selatan sana.
Pihak musuh yang menyerangnya pun telah melakukan perhitungan matang sehingga puluhan ribu panah tersebut mampu mengarah ke Mantingan yang meskipun sedang melesat dalam kecepatan tinggi itu.
Namun kini, Mantingan menurunkan sedikit kecepatannya sebab ia harus berhadapan dengan panah-panah tersebut. Pedangnya berputar-putar cepat tepat di atas kepalanya menyerupai baling-baling, menghalau seluruh panah yang hendak menghunjam tubuhnya habis-habisan bagai tiada sesuatu sasaran yang lebih empuk di lautan itu selain dirinya.
Tidak semuanya dapat ditangkis oleh Pedang Kiai Kedai, tetap saja ada satu-dua panah yang lolos dari putaran pedang itu. Sebab betapa pun, Mantingan masih harus bergerak secepat mungkin sedang dirinya terus menangkis. Panah-panah tidak hanya datang dari arah atas saja, melainkan juga dari arah depannya, yang dilesatkan dengan alat khusus berupa busur besar sehingga mampu menjangkau hingga jarak yang terjauh meski panah yang diangkutnya justru lebih besar dari biasanya.
Namun, beruntunglah tidak ada satupun panah yang berhasil melukai Mantingan. Meskipun ada beberapa panah yang lolos, tetapi itu bukan berarti bahwa panah-panah tersebut sungguh mengarah pada tubuh Mantingan.
Gelombang serangan pertama telah habis bertepatan dengan panah terakhir yang tenggelam di lautan. Mantingan lekas memacu kecepatannya sebab benar-benar diketahuinya bahwa gelombang serangan kedua akan segera datang, yang pula mengartikan bahwa kecepatannya harus berkurang ketika hal itu terjadi!
Benar saja, panah-panah berapi kembali dilesatkan. Bagaikan ribuan kunang-kunang yang terbang berombong-rombongan; melesat di atas langit secepat rajawali. Akan tetapi, kali ini panah-panah itu tidak satupun yang mengarah pada Mantingan, sehingga pula tiada satupun yang benar-benar membahayakannya.
Mantingan tahu benar, bahwa musuh bukannya salah membuat perhitungan harus dilesatkan ke arah manakah dan dalam sudut kemiringan berapakah agar panah-panah itu mampu melesat ke arahnya, tetapi tindakan seperti ini memang sengaja dilakukan sebab jarak antara Mantingan dengan armada kapal mereka telah benar-benar dekat sehingga mengirim panah dalam perhitungan yang tepat dapat dianggap suatu hal yang membahayakan armada mereka sendiri. Panah-panah itu dilesatkan agar Mantingan tidak mundur.
Tidak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk tiba di wilayah armada musuh. Meskipun langit malam benar-benar gelap, dan tidak ada satupun kapal yang menunjukkan cahaya. Namun dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan mengetahui bahwa ada sekitar lebih dari dua ratus kapal perang musuh membentuk suatu barisan segitiga yang bergerak menuju armada gabungan Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih.
Panah-panah kembali dilesatkan ke arahnya. Kali ini tidak diluncurkan terlebih dahulu ke atas langit dengan harapan dapat melambung tinggi hingga akhirnya mengenai Mantingan setelah terjun ke bawah, melainkan langsung dilesatkan ke arahnya tanpa perhitungan yang benar-benar matang.
__ADS_1
Panah-panah itu berseliweran di sekitar Mantingan. Hanya ada beberapa saja yang benar-benar mengarah dan membahayakannya, tetapi itu semua berhasil ditangkis dengan begitu mudahnya.
Dalam keadaan gelap gulita pun, musuh-musuhnya tidak mampu mengetahui keberadaan Mantingan dengan jelas. Mereka hanya mampu mengandalkan ilmu pendengaran tajam yang tidak seberapa. Sehingga ketika didengarnya suara kelebatan, maka langsunglah mereka menembakkan panah ke arah kelebatan itu.
Lebih-lebih lagi, Mantingan bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat dari kilat, tentu bukan hal yang mudah bagi seorang ahli panah sekalipun untuk dapat menembaknya secara tepat.
Mantingan terus bergerak cepat. Melewati puluhan kapal musuh di kedua sisinya. Panah-panah berapi masih berseliweran, bahkan pula dengan panah-panah yang tidak berapi namun dibubui racun mematikan.
Dirinya terus mengejar sosok pendekar yang telah membawanya sampai ke sini. Dirinya yakin betul, bahwa orang itu membawa Bidadari Sungai Utara!
Sayangnya, keyakinan yang dicampur dengan kebuncahan dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat akal sehat tertutup.
Mantingan sama sekali tidak menyadari bahwa sosok pendekar itu telah membawanya ke tengah-tengah armada musuh. Dirinya pun tidak memikirkan alasan mengapa pendekar itu tidak memutuskan bersembunyi pada salah satu kapal di barisan luar ketimbang harus membiarkan dirinya dikejar oleh Mantingan, yang sama saja dikejar-kejar kematian!
IKAN Terbang menelisik lebih jauh. Jika penglihatannya tidak salah, maka baru saja matanya menangkap titik-titik cahaya berwarna merah jauh di sebelah selatan lautan.
“Daku sering melihat pemandangan seperti ini,” kata Ikan Terbang kemudian pada salah satu bawahannya. “Itu adalah panah-panah berapi. Tetapi sama sekali tidak mengarah ke armada kita. Bagaimana menurutmu?”
Bawahannya di sebelahnya menganggukkan kepala. “Dugaanku juga sedemikian, Ikan Terbang.”
“Tidakkah panah-panah itu dimaksudkan untuk menyerang armada kita?”
Kali ini bawahannya itu menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Agaknya serangan itu tidak dimaksudkan untuk kita sama sekali. Melainkan untuk Pahlawan Man yang memang bergerak ke selatan ....”
__ADS_1
Ikan Terbang terdiam saja. Sama sekali tidak tampak bahwa dirinya terkejut. Dia hanya berkata, “Musuh sudah di depan mata.”
“Apakah engkau ingin diriku menyiapkan Kelewang Samodra untuk menghadapi pertempuran, wahai Ikan Terbang?” Bertanya bawahannya itu.
“Untuk menghadapi musuh yang mana?”
Orang itu berdeham beberapa kali sebelum menjawab dengan sabar, “Musuh yang telah di depan mata kita, Ikan Terbang. Di sebelah selatan.”
“Panah-panah api itu jauh sekali kelihatannya. Musuh-musuh kita yang di sebelah selatan masih jauh. Salah jika engkau berkata bahwa mereka di depan mata.”
Bawahannya memilih diam dan menunggu. Dia memang tahu bahwa tabiat Ikan Terbang sedikit berbeda dengan pendekar-pendekar ahli lainnya. Bahkan Ikan Terbang sempat mendapat julukan “Pelaut Gila dari Sagandu” akibat sikap serta keberaniannya yang tergolong aneh serta gila.
“Yang kusebut sebagai musuh di depan mata adalah musuh yang benar-benar dekat dengan kita.” Ikan Terbang kemudian menatap bawahannya itu tajam-tajam. “Jagat, siapkan Pasukan Topeng Putih untuk menggeledah seluruh kapal di armada ini. Semuanya, tanpa terkecuali!”
Kini mulai mengertilah orang yang dipanggil Jagat itu tentang ‘musuh di depan mata’ yang disiratkan oleh Ikan Terbang.
“Kapal Yang Mulia tidak masuk dalam pengecualian?”
“Tidak sama sekali. Geledah kapal itu juga. Kita tidak bisa menjamin bahwa di kapal itu terbebas dari penyusup. Pastikan keselamatan Yang Mulia pula.”
Jagat menganggukkan kepalanya. “Daku mengerti dan daku laksanakan, Ikan Terbang.”
__ADS_1