Sang Musafir

Sang Musafir
Bidadari Sungai Utara Mabuk


__ADS_3

MANTINGAN BERDEHAM sekali. Ia pun setuju, serangan yang dilakukan pendekar itu dapat dikatakan terlalu berlebihan.


Namun, Bidadari Sungai Utara tampaknya tidak terlalu peduli akan kondisi tubuh lawannya yang telah remuk redam. Matanya kembali beralih menuju lawan terakhirnya di kedai itu.


“Bidadari Sungai Utara,” pendekar yang ditatap itu mendesis panjang ketika menyebut nama gadis itu, masih pula dengan nada keperempuanan, “kuakui, dirimu cukup hebat. Hihihihi!” Tiba-tiba saja dia tertawa lebar. “Tetapi dirimu tidak cukup kuat untuk membuatku takut akan kematian! HIHIHIHIHIHI!”


Bidadari Sungai Utara tidak menjawab. Dengan dingin, dia menyelesaikan hidup pendekar itu ketika sedang tertawa keras. Tiba-tiba saja tubuhnya telah tampak di hadapan pendekar itu, dengan Pedang Merpati Haus Darah yang tertanam tepat di jantungnya.


Setelah memuntahkan beberapa teguk darah, tubuh pendekar itu tumbang ke bawah. Di lantai kedai itu, dia bersimbah darah yang mengalir dari lukanya serta tidak lagi mampu bergerak.


Seorang pendekar yang tersisa tidak memiliki pilihan lain selain menyerang setelah melihat seluruh kawannya tewas di tempat ini. Namun amat disayangkan, dia tidak dapat memberikan banyak perlawanan sebab Bidadari Sungai Utara telah lebih dahulu menyempurnakannya.


Bidadari Sungai Utara menyabetkan pedangnya ke udara untuk membersihkan darah dari mata bilahnya. Barulah ketika itulah dia menyarungkannya dengan penuh kehormatan.


Mata gadis itu tiba-tiba saja melirik Mantingan. Mantingan sampai terkejut dibuatnya. Tatapan Bidadari Sungai Utara masih setajam mata elang, masih menyimpan nafsu membunuh yang besar. Mantingan mengerti apa yang sedang dihadapi gadis malang itu, ia pun bergegas mendekatinya dengan sekali kelebatan.


“Jangan dekati daku, Saudara.” Bidadari Sungai Utara mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya. “Jangan, setidaknya sampai tanganku tidak lagi kotor.”


Mantingan menatapnya iba. “Saudari, tiada barang setetes pun darah musuh yang menodaimu. Sungguh.”


Mantingan tidak bermain-main dengan perkataannya. Memang tidak ada setetes pun darah musuh yang mengenai pakaian maupun tubuh Bidadari Sungai Utara. Gadis itu bersih.


Tetapi Bidadari Sungai Utara tetap menolak. “Engkau tahu, Saudara. Daku sangat tidak terbiasa membunuh orang banyak, sekalipun yang kubunuh adalah musuh yang mengancam keselamatan jiwaku. Jadi, jangan dekati diriku sampai daku merasa lebih baikan.”


Bidadari Sungai Utara menghilang setelah dirinya berkata seperti itu. Mantingan hanya bisa mengembuskan napas panjang, menatap jendela terbuka yang menyajikan pemandangan malam di luar sana.


Sejurus kemudian, Mantingan melirik ke ujung tangga karena ia merasa ada seseorang di sana. Benar saja, Kana berdiri mematung di tempat itu. Wajahnya tegang setelah melihat keganasan Bidadari Sungai Utara dengan mata kepalanya sendiri. Dapatkah itu dipercaya.


Mantingan menarik napas dingin. Jangankan Kana, Mantingan pun merasa sulit percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


“Semuanya perlu dibereskan,” kata bapak pemilik kedai, “sebelum pelanggan-pelangganku yang lain melihat semua ini.”

__ADS_1


***


MALAM sekali Bidadari Sungai Utara baru kembali ke dalam kedai. Awalnya gadis itu berniat langsung pergi ke kamarnya, tetapi tertahan setelah mendengar Mantingan memanggilnya di salah satu meja makan kedai.


Bidadari Sungai Utara tidak memiliki alasan untuk menolak. Sesuai dengan janjinya tadi, Mantingan boleh berbicara kepadanya setelah dia merasa lebih baikan. Maka gadis itu segera beranjak menuju meja yang Mantingan tempati.


Setelah Bidadari Sungai Utara duduk di salah bangkunya, Mantingan menyodorkan secangkir teh hangat ke arahnya, kemudian menatap gadis itu dengan tatapan yang lembut.


“Sudah merasa lebih baik?”


Bidadari Sungai Utara hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


Mantingan tersenyum. “Engkau telah melakukan sesuatu yang membuatku bangga kepadamu, Sasmita.”


Bidadari Sungai Utara melirik pemuda itu sebentar sebelum menggelengkan kepalanya penuh sesal. “Hal itu sama sekali tidak pantas dibanggakan.”


Kembali Mantingan bertanya, “Mengapakah?”


“Bukankah memang seharusnya kau melakukan itu?”


Kembali Bidadari Sungai Utara menggeleng. “Aku bisa melumpuhkan mereka.”


“Mereka adalah pendekar-pendekar jaringan rahasia. Sekalipun kau melumpuhkannya, mereka memiliki seribu cara untuk membunuh diri sendiri agar keterangan kelompoknya tidak diketahui orang luar.”


Gadis itu mengerti. Ketika seorang pendekar aliran rahasia telah terlibat dalam pertarungan, tertangkap bukanlah suatu pilihan.


Namun, Bidadari Sungai Utara terdiam. Dirinya memang tidak dapat membantah perkataan Mantingan yang satu itu.


“Secangkir teh akan banyak membantumu, Saudari.” Mantingan bermaksud untuk mengingatkan Bidadari Sungai Utara pada secangkir teh di hadapannya.


Gadis itu cepat-cepat menggeleng dan justru memanggil bapak pemilik kedai. “Bapak! Tolong bawakan sekendi tuak ke meja ini.”

__ADS_1


Mantingan membeliakkan mata. Sungguhkah? Benarkah yang didengar itu? Apakah wajar jika dirinya hampir-hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Bidadari Sungai Utara? Ketika bapak pemilik kedai membawakan sebuah kendi ke meja itu, mata Mantingan masih membeliak.


Bidadari Sungai Utara mengangkat cangkir berisi teh miliknya ke arah cangkir Mantingan yang telah hampir kosong—tentunya setelah menunggu Bidadari Sungai Utara begitu lamanya. Gadis itu menuangkan seluruh tehnya ke cangkir Mantingan dan menggunakan cangkirnya untuk minum tuak.


Mantingan benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang sedang dilihatnya.


“Kuyakin dirimu bisa menjagaku jika aku mabuk, Mantingan,” kata Bidadari Sungai Utara seusai menghabiskan tuak di cangkirnya dalam sekali teguk. Kini dia mengisi cangkir itu dengan tuak di kendi itu lagi. “Ini sudah menjadi kebiasaanku di Champa saat aku sedang merasa tidak nyaman. Jadi jangan halangi aku sekarang.”


Satu cangkir tuak kembali dihabiskan gadis itu dalam sekali teguk. Mantingan sungguh tidak dapat mencegahnya. Cangkir ketiga, wajah Bidadari Sungai Utara mulai memerah.


“Kusarankan, jangan terlalu banyak. Lebih dari itu, kau telah berbuat jahat pada tubuhmu sendiri.”


“Berbuat jahat pada tubuhku sendiri?” Bidadari Sungai Utara membalas dengan nada aneh. “Tubuhku justru senang. Udara malam sangatlah dingin, dan tuak ini membuat tubuh jadi hangat. Apanya yang jahat? Kecuali, jika kau ingin menemaniku tidur malam ini.”


Mantingan membuyarkan pikiran buruknya. “Sasmita, kau mulai melantur. Hentikan minumanmu.”


“Mana bisa!” Bidadari Sungai Utara membentak tiba-tiba. “Bapak, ambilkan satu kendi lagi!”


Dasar bapak pemilik kedai, meskipun tahu bahwa hal itu tidak baik, tetapi tetap saja membawakan sekendi tuak ke meja itu.


“Aku heran sekali pada dirimu, Mantingan. Kupikir, semua kebaikanmu hanyalah kebusukan yang pura-pura kautampilkan agar mampu mendekatiku. Tetapi setelah waktu telah lama terlampaui, kita terus bersama, dan kau sama sekali tidak berniat buruk padaku. Bahkan sekarang pun, dirimu ... sama sekali ....”


Bidadari Sungai Utara tersuntuk-suntuk. Kini gadis itu bukan setengah mabuk saja, melainkan benar-benar telah mabuk sepenuhnya!


“Kau harus tidur sekarang juga.”


“Mana bisa!” Lagi-lagi gadis itu membentak. “Meski mabuk begini, diriku harus berwaspada penuh! Diriku tahu bahwa sepuluh pendekar itu telah pergi dari kedai ini. Mereka pasti ingin menyerangku dari luar kedai!”


“Kau benar-benar mabuk, Sasmita. Mereka keluar kedai untuk mengawasi jalanan. Dan bagi mereka, akan jauh lebih mudah menyerang dari dalam ketimbang dari luar.”


__ADS_1


__ADS_2