
MANTINGAN mendapatkan seluruh pisau terbang itu dari pendekar-pendekar berpenampilan seperti pelancong yang berhasil dikalahkan Bidadari Sungai Utara di lantai dasar kedai waktu itu.
Dan ketika dirinya melempar pisau-pisau tersebut, seluruhnya telah dipertimbangkan dan diperhitungkan dalam waktu yang teramat singkat, hanya sesaat setelah Mantingan mengetahui letak empat pendekar musuhnya itu.
Dengan pisau terbang yang saling bertubrukan hingga mengubah arah lesatannya sama sekali, maka musuh yang telah melepas sedikit kesiagaannya tidak akan menduga bahwa pisau-pisau itu telah berbelok ke arahnya dengan kecepatan yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari sebelumnya.
Jurus ini merupakan jurus yang Mantingan pelajari dari Kiai Guru Kedai yang bernama Jurus Pisau Camar Tiada Terkira. Dinamakan demikian karena memang pisau-pisau yang dilempar akan bergerak seperti burung camar yang berkelok-kelok tidak terduga.
Empat pendekar musuhnya yang berjarak dalam sebelas tombak itu telah terkapar, tidak lagi bergerak dan tidak lagi bernyawa.
Saat ini, Mantingan masih memiliki lima pisau terbang yang sama di dalam jubahnya, dan lima lainnya di dalam pundi-pundinya. Berarti, secara keseluruhan, ia memiliki sepuluh batang pisau terbang.
Dengan jumlah pisau terbang yang sedikit ditambah pula dengan pendekar-pendekar musuh yang telah mengetahui siasatnya, Mantingan merasa tidak akan lagi menggunakan pisau terbang untuk pertarungan selanjutnya.
Maka sebagai gantinya, tangan Mantingan menggenggam gagang Pedang Kiai Kedai kuat-kuat. Kedua kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh. Penggunaan atas Ilmu Mendengar Tetesan Embun ditingkatkan lagi, betapa denting logam yang semulanya didengarnya dari kejauhan itu telah menghilang, digantikan dengan desiran-desiran tipis yang bergerak ke arahnya.
Kali ini angin berembus semakin kuat. Jubahnya berkibar-kibar. Mantingan tahu, bahwa di saat angin sedang kencang seperti ini, musuh-musuhnya akan membuat pergerakan maju.
Dan memang benar, Mantingan mendengar suara kelebatan angin yang sangat tipis dan halus. Begitu halusnya hingga hampir-hampir tidak dapat terdengar. Musuh berusaha menyamarkan suara kelebatan yang mereka buat di balik deru angin malam yang sedang berembus kuat saat ini. Mereka jelas telah mengetahui bahwa Mantingan memiliki ilmu pendengaran yang sangat tinggi.
Tetapi betapa pun, Mantingan menguasai ilmu pendengaran yang boleh dikata paling tinggi di antara semua ilmu pendengaran yang ada di rimba dan telaga persilatan. Sekecil apa pun suaranya, selama itu masih berada dalam jarak jangkauan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, maka Mantingan akan tetap mendengarnya dengan jelas. Tidak mudah bagi lawan-lawannya untuk menyamarkan suara mereka dengan suara angin.
__ADS_1
Ketika angin mereda, suara kelebatan-kelebatan halus itu berhenti pula. Para pendekar musuh bersembunyi di balik batang pepohonan besar, dedaunan dan rerantingan rindang, semak belukar tebal, serta batu besar.
Namun, selama mereka masih berjarak sebelas tombak dari tempat Mantingan memasang kuda-kuda, maka tiada tempat bagi mereka untuk bersembunyi.
Mantingan menarik sedikit gagang Pedang Kiai Kedai, sebelum dientakkan kuat-kuat kembali ke dalam sarungnya. Itu menciptakan sebuah gelombang suara logam beradu yang berpendar ke mana-mana, membuat Mantingan dapat dengan lebih jelas mengetahui letak pasti musuh-musuhnya.
Dalam jarak sebelas tombak, terdapat sepuluh musuh yang bersembunyi, menahan napas, dan menahan detak jantung pula. Mereka bersenjatakan dua kelewang yang terikat di punggung.
Yang membuat Mantingan terkejut adalah cara mereka berbusana. Atau tepatnya adalah cara mereka tidak berbusana. Sungguhan. Sepuluh musuhnya itu tidak mengenakan sehelai pun pakaian. Berbeda dengan empat pendekar pertama yang Mantingan hadapi yang masih mengenakan baju dan celana. Jika mereka, tidak sama sekali.
Mantingan tentunya dengan mudah mengetahui alasan mengapa mereka memutuskan untuk tidak berbusana saat menghadapi lawannya: agar tidak tercipta suara pergesekan angin yang terlalu besar. Itulah sebabnya mengapa Mantingan hanya mendengar kelebatan halus saja dari mereka-mereka yang datang.
Mantingan dapat menebak pula bahwa mereka datang dari satu perguruan, atau setidaknya satu kelompok yang sama, dan perguruan atau kelompok itu unggul dalam hal kesenyapan dan pembunuhan diam-diam.
Mantingan mengira bahwa orang-orang ini merupakan pendekar bayaran yang dikirim untuk menghabisinya.
Siapa pun yang mengirim mereka, pastilah memilik sumber daya besar sebab yang dikirimnya bukanlah dua-tiga pendekar saja. Mantingan memperkirakan berdasarkan jumlah suara tarikan napas yang diketahui setelah menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, ada puluhan hingga ratusan pendekar yang dikirimkan ke tempat ini dengan tugas pembunuhan.
Telah jelas bahwa si pengirim mengetahui kemampuan dan kekuatan Mantingan sehingga mengirimkan lebih banyak pendekar untuknya. Dan tentulah tujuan terselubungnya bukan untuk membunuh Mantingan, melainkan untuk mendapatkan Bidadari Sungai Utara hidup-hidup!
Mantingan mempererat genggamannya pada gagang Pedang Kiai Kedai. Ia mengetahui bahwa pendekar-pendekar yang sedang dihadapinya bukanlah kumpulan pendekar ringan. Mereka semuanya adalah pembunuh terlatih. Tetapi apa pun dan betapa pun yang terjadi, Mantingan akan melindungi Bidadari Sungai Utara dengan raga dan jiwanya. Itulah janjinya!
__ADS_1
Mantingan berkelebat cepat ke arah atas. Sepuluh pendekar yang berada dalam jangkauan sebelas tombak itu segera memasang kewaspadaan meski tidak mengetahui mengapa Mantingan tidak langsung menyerang mereka saja dan malah bergerak ke atas.
Namun kelihatan bahwa kaki Mantingan menepak dahan pepohonan setelah berjungkir balik. Sepuluh pendekar itu segera mencabut pedang dari sangkar. Tetapi Mantingan tidak bergerak ke arah satupun dari mereka, melainkan ke dahan pohon lainnya.
Kaki Mantingan kembali menepak. Tubuhnya berkelebat jauh lebih cepat lagi. Sepuluh pendekar musuh menarik sebilah pedang yang tersisa, telapak tangan mereka mulai berkeringat dingin. Nyatanya, Mantingan tidak pula bergerak ke arah seorang pun dari mereka.
Mantingan lagi-lagi menepak dahan pohon. Kecepatannya meningkat berkali-kali lipat. Kesepuluh pembunuh bayaran itu mulai merasakan ketakutan.
Tetapi mereka tidak takut akan kematian. Selama hidup mereka sebagai pembunuh bayaran, tidak sekalipun terlintas rasa takut akan kematian. Mereka sama sekali tidak takut, toh beginilah jalan persilatan.
Bukan. Mereka bukan takut pada kematian. Mereka takut pada suatu hal yang amat sangat sulit dikatakan maupun dilukiskan. Ketakutan yang mereka sendiri tidak mengetahui sebabnya meskipun telah diketahui bahwa perasaan itu berasal dari Mantingan.
Di bawah rasa takut seperti itu, mereka tidak sadar telah kehilangan lebih dari separuh kekuatannya.
Kaki Mantingan kembali menepak. Pedang Kiai Kedai keluar dari sangkarnya. Membabat habis batang leher musuh dengan kecepatan yang tiada terbantahkan. Tubuhnya melayang lagi, menepak lagi, membabat batang leher lagi, melayang lagi, menepak lagi, membabat batang leher lagi.
Begitulah seterusnya hingga kesepuluh pendekar musuh itu tiada daya untuk melayang dan berakhir tumbang tanpa kepala di tempat persembunyian mereka masing-masing.
Mantingan kembali ke tempatnya semula dan dengan penuh kehormatan kembali menyarungkan Pedang Kiai Kedai.
Musuh-musuh yang masih pula bersembunyi di luar jangkauan sebelas tombak meremang bulu kudunya. Mereka tiada menyangka sama sekali melihat kesepuluh kawannya tiada berdaya menghadapi serbuan Mantingan. Namun begitu, mereka masih cukup rasa untuk memakluminya, sebab pendekar-pendekar itu tahu betul alasannya!
__ADS_1