
Mantingan sampai di kediamannya. Bersiap-siap dengan menyoren pedang di pinggangnya. Dengan atau tanpa Pasukan Topeng Putih, ia akan tetap berangkat. Meladeni pendekar yang menantangnya tengah malam kemarin.
Saat ini kemeriahan masih berlangsung. Bahkan di luar kediamannya pun masih ramai oleh lalu-lalang para murid. Perayaan tidak hanya diadakan di lapangan besar dengan pohon kelapa megah itu saja, perayaan dilaksanakan hampir di seluruh perguruan. Hanya saja, pusatnya memang di lapangan berpohon kelapa besar itu.
Mantingan memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum membuka pintunya hendak keluar. Di sana tetiba saja muncul sosok pendekar bertopeng putih di hadapannya. Mantingan cukup terkejut, namun segera menenangkan diri.
“Saudara dipanggil Ketua di kediamannya,” kata pendekar bertopeng putih itu.
Mantingan mengangguk pelan, lalu menjawab, “Aku akan kesana jika memang Ketua berkata seperti itu, tapi untuk apakah?”
“Ketua mengundang Saudara menyantap hidangan di sana.” Pendekar bertopeng putih itu menjawab.
Mantingan mengangguk sekali lagi, undangan Rama harus dihargai. “Apakah Saudara bersedia mengantarkanku sampai di sana? Aku tidak mengetahui letak kediamannya ....”
“Itu juga tugas sahaya. Marilah.”
Mantingan mengikuti pendekar bertopeng itu berjalan di jalanan yang cukup ramai. Murid-murid agaknya jarang melihat keberadaan Pasukan Topeng Putih, hingga mereka tampak terkesima saat melihat pendekar bertopeng itu berjalan di dekat mereka.
Iseng-iseng Mantingan bertanya pada pendekar di depannya itu. “Apakah Saudara tidak ikut perayaan?”
Untuk pertama kalinya Mantingan dengar suara tawa dari salah seorang Pasukan Topeng Putih. “Kami memiliki cara sendiri untuk merayakannya, Saudara. Dengan kami bertugas menjaga perguruan selama perayaan dilangsungkan, itu sudah menjadi perayaan penuh kebanggaan bagi kami.”
__ADS_1
Mantingan tertawa pelan. Dalam benaknya, ia ingin sekali memberi berperan banyak untuk perguruan seperti apa yang dilakukan oleh Pasukan Topeng Putih. Tapi apalah daya dirinya, memiliki tujuan lain yang cukup membebankan dirinya sendiri. Tidak mungkin Mantingan menetap di perguruan, sedang tujuannya adalah berkelana sampai Kembangmas ditemukan.
Dirinya sekarang ini terlihat seperti murid yang tidak berbakti.
Setelah beberapa belokan dan perjalanan yang lumayan lama, Pendekar Topeng Putih itu mengabarkan bahwa mereka berada tepat di depan kediaman Rama.
Mantingan memandangi rumah Rama dengan takjub. Bukan kemewahan yang membuatnya takjub, melainkan kesederhanaan rumah Rama itulah yang membuat Mantingan takjub.
Rumahnya tidak begitu besar. Tidak memiliki tingkat. Pagarnya tidak diberi jeruji tajam. Halaman yang juga tidak terlalu besar, namun memiliki tanaman-tanaman indah di dalamnya. Teras rumah itu cukup terang oleh lentera-lentera berwarna putih, terdapat sebuah dipan panjang di sana. Orang yang melihatnya sekilas—termasuk Mantingan—tidak akan menyanya bahwa rumah itu adalah rumah ketua dari sebuah perguruan besar.
Mantingan tidak dapat melihat ke dalam melalui jendela yang tertutup tirai, tetapi ia bisa melihat ruangan di dalam rumah yang cukup terang. Mantingan juga mendengar suara Rama dan beberapa orang lainnya yang tengah bercakap-cakap ringan. Mendengar dan melihat itu membuat Mantingan merasa tidak enak untuk masuk dan mengganggu kesenangan keluarga Rama.
Namun, pendekar yang mengantar Mantingan itu berkata untuk tidak sungkan masuk ke dalam. Dia menambahkan, Rama sangat mengharapkan kehadirannya.
Mantingan menarik napas panjang-panjang, mengangkat tangan dan bersiap mengetuk pintu. Tetapi pintu telah lebih dahulu terbuka, membuat Mantingan sangat terkejut dan langsung gugup. Yang membukanya adalah Rama, orang tua itu menyambut Mantingan dengan sangat hangat.
“Anak Man, untuk apa malu-malu seperti itu? Aku sudah menanti kehadiranmu, jangan sungkan, marilah masuk.”
“Ketua, aku tidak ingin mengacaukan kegembiraanmu bersama keluarga ....”
“Pakai dipikirkan segala. Tidak ada yang mengganggu siapa pun. Keluargaku juga menanti kehadiran engkau. Anak Man, kau harus mengisi perutmu sebelum pergi bertarung. Bisa saja ini akan jadi makan malam terakhirmu.”
__ADS_1
Yang Rama katakan itu menyeramkan walau ada benarnya juga. Dalam suatu pertarungan hanya ada satu pihak yang dimenangkan, sedang pihak lainnya ditangkap atau dibunuh. Mantingan tidak tahu apakah nanti ia masih bisa kembali ke sini setelah menerima tantangan bertarung. Karena dalam sebuah pertarungan, kelengahan dalam waktu satu kejapan mata saja bisa menjadi penghantar kematian.
Mantingan sungguh tidak merasa tersinggung dengan perkataan Rama itu. Memang dalam dunia persilatan, perkataan seperti itu seharusnya tidak jadi menyakitkan.
“Ketua, sepertinya aku akan merepotkanmu malam ini.” Mantingan berucap sambil tersenyum lebar, itu adalah pertanda bahwa dirinya menerima tawaran Rama.
Rama mengajak Mantingan masuk ke dalam rumahnya. Di dalam ruang tamu telah dihiasi oleh lentera-lentera yang mengeluarkan sinar putih lembut, serta beberapa hiasan-hiasan buatan tangan lainnya, tetapi bukan di situ Mantingan akan dijamu. Mereka semakin masuk ke dalam, tepatnya di ruang tengah mereka berhenti.
Di sana telah terdapat meja panjang berisi hidangan-hidangan yang sepantasnya. Dalam arti sepantasnya di sini adalah tidak berlebihan tidak juga kurang, dan layak sebagai jamuan. Di meja panjang itu telah duduk dua orang wanita, yang satu adalah wanita muda dan yang satu lagi adalah gadis kecil.
Mantingan awalnya berpikir bahwa dua wanita itu adalah kakak-beradik, dan merupakan anak Rama. Akan tetapi Mantingan dikejutkan saat Rama mengenalkan wanita muda itu sebagai istrinya, dan gadis kecil sebagai anaknya.
Melihat ekspresi keterkejutan dari Mantingan, Rama tertawa. “Anak Man, inilah akibat aku tidak menyadari bahwa kehidupan berkeluarga sebenarnya sangat baik, ketimbang hidup sendirian penuh kesunyian. Aku sarankan padamu untuk segeralah menikah, agar tidak menyesal seperti aku ini.”
Mantingan hanya bisa tersenyum canggung mendengar itu. Dirinya tidak menjawab. Memang dirinya sendiri tidak mengetahui apakah keputusannya nanti, berkeluarga ataukah tidak. Tetapi sebagai seorang pengembara, Mantingan merasa tidak perlu buru-buru mengambil istri.
Mantingan dipersilakan duduk di salah satu kursi. Mereka melangsungkan jamuan untuk Mantingan. Untuk kali ini, Mantingan tidak mengambil banyak makanan. Dirinya akan bertarung nanti malam, bukan hal bijak memakan banyak makanan sampai kenyang.
Setelah jamuan itu selesai, Rama melanjutkannya dengan bercakap-cakap hal ringan. Di sana Mantingan diminta untuk menceritakan pengembaraannya. Mantingan bersedia melakukan itu. Dengan pengecualian tidak menceritakan bagian dirinya dan Kenanga. Mantingan hanya menceritakan bagian-bagian seru dalam pengembaraannya, itu selesai dengan cepat, sebab memang tidak banyak hal yang seru dalam pengembaraannya.
Di akhir cerita, istri Rama bertanya padanya, “Kemanakah engkau akan berlabuh, Mantingan?”
__ADS_1
Mantingan tersenyum kaku mendengar hal itu. “Sampai menemukan sesuatu yang kucari, sesuatu yang sudah menjadi pengharapan, di sanalah aku berlabuh. Tetapi jika tidak kunjung jua menemukannya, tempat di mana aku terbaring tak bernyawa adalah tempatku berlabuh.”