Sang Musafir

Sang Musafir
Kisah Kiai Kedai dengan Tapa Balian


__ADS_3

MENDENGAR nama Kiai Kedai disebut oleh Tapa Balian tentu saja merupakan suatu hal yang tidak pernah disangka-sangka oleh Mantingan. Mengapakah bisa ada orang Suvarnadvipa yang begitu mengenal gurunya hingga ke sifat-sifatnya? Dan sekalipun mengenalnya, mengapa pula menyebutkannya di depan Mantingan yang betapa pun merupakan muridnya itu?


“Dari raut wajahmu, Anak, sepertinya dikau juga sudah mengenal Kiai Kedai.” Tapa Balian memecahkan keterkejutan Mantingan dengan suaranya yang penuh selidik.


Mantingan lekas saja menjawab sebelum pria tua itu menaruh kecurigaan terlalu besar padanya, “Benar, Bapak. Kiai Kedai cukup terkenal di Javadvipa.”


“Jadi, orang sepuh pecinta teh itu terkenal ya?” Tapa Balian bergumam kecil.


Mantingan tidak mengetahui harus menjawab apa, sehingga dirinya memilih untuk diam. Lagi pula dalam kedudukannya yang sedang berpura-pura tidak mengenal Kiai Kedai, amat sangat tidak baik jikalau Mantingan terlalu banyak berbicara tentangnya.


“Sekiranya sebelas tahun yang lalu, Kiai Kedai mengunjungi Lembah Balian. Dia datang untuk memesan jarum-jarum terbang. Namun, Kiai Kedai tidak mau beli jarum-jarum yang sudah pernah kubuat sebelumnya, dia menginginkan rancangan yang sama sekali baru.”


Mantingan mengerutkan dahinya. Kenyataan bahwa gurunya memesan senjata pada Tapa Balian masih saja cukup mengejutkannya.


“Cerita tentang kami berdua sungguh menarik, tetapi cukup panjang dan lebar jika diceritakan. Jika dikau tidak berminat mendengarkannya, kita bisa beralih ke pembahasan lain.” Tapa Balian berkata enteng, yang seketika membuat Mantingan merasa kesempatan emasnya untuk mendengar kisah Kiai Guru Kedai akan segera hilang jikalau tidak ditangkap secepat-cepatnya!


Namun, betapa pun Mantingan harus menunjukkan sikap tenang. Seolah kisah itu tidak wajib didengarkannya, tetapi dirinya hanya sekadar tertarik untuk mendengarkannya. Maka berkatalah ia, “Sepertinya akan sangat menarik, Bapak. Di Javadvipa, sangat sulit bagiku menyisakan waktu untuk mendengar kisah tentang sepak terjang Kiai Kedai. Jikalau Bapak tidak keberatan, maka daku sangat ingin mendengarnya.”


“Ah, baiklah! Daku justru senang menceritakannya kepadamu, sebab amat jarang diriku mendapat teman seperbincangan.”


Tapa Balian memperbaiki bentuk duduknya sebelum melanjutkan cerita.

__ADS_1


“Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, Kiai Kedai memesan jarum terbang yang sama sekali baru bentuknya. Dia menghendaki jarum terbang yang dapat melumpuhkan orang tanpa perlu menggunakan racun.


“Tentu saja sebagai seorang pandai besi paling tersohor di Kedatuan Tulang Bawang, permintaan itu bagaikan sebuah tantangan bertarung, kuyakin orang pecinta teh dari Javadvipa itu menganggapnya sedemikian pula.


“Sampai jarum itu selesai dibuat, daku memintanya untuk tinggal di rumah ini. Kamar yang kuberikan kepadamu itu adalah kamarnya dahulu. Beruntungnya, dia menyanggupi permintaanku, meski seharusnya permintaan ini amat sangat memberatkannya.”


“Mengapakah harus memberatkannya, Bapak?” Mantingan bertanya manakala Tapa Balian mengambil jeda untuk menegak tuak.


“Dia sedang melakukan pengembaraan,” jawab Tapa Balian selepas mengesat sisa tuak di bibirnya. “Tinggal di sini sama saja menunda pengembaraan. Sedang usianya mungkin saja tidak tersisa terlalu banyak lagi.”


Mantingan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tentu sebagai pendekar pengembara, dirinya cukup mengerti bahwa tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama adalah hal yang cukup merugikan. Sedangkan itu, Tapa Balian lanjut bercerita.


“Kiai Kedai adalah tamu paling menyenangkan yang pernah kulayani. Justru yang kurasa, dia tidak bertindak sebagai tamu, melainkan bagian dari rumahku yang sungguh akan menjadi sebuah kesesalan jikalau sampai terpisahkan. Dia tidak pernah minta dilayani, justru membantu segala urusan yang ada di rumah dan penempaanku. Dia tidak sungkan menyiram tanaman, menyapu halaman, membersihkan genting, bahkan pernah penempaanku yang amat kotor itu menjadi bersih mengilap karenanya.


“Hingga tiga purnama berlalu begitu saja, jarum yang dipesannya telah selesai kubuat. Asalkan jarum tersebut menancap pada titik-titik tertentu, yaitu 36 titik yang menyebabkan kelumpuhan senyampang, 18 titik yang menyebabkan kelumpuhan kekal, dan sembilan titik yang langsung mengantar pada kematian. Ini semacam ilmu totok, akan tetapi dapat dilakukan dari jarak yang teramat jauh, dan tidak benar-benar harus tepat mengenai titik-titik tersebut.


“Pada hari yang sama setelah senjata itu selesai dibuat, Kiai Kedai pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ketika itulah daku merasakan suatu kesepian yang teramat sangat. Namun, beruntunglah cucuku Delima tinggal di sini setahun selepas kepergian Kiai Kedai.” Tapa Balian mengembuskan napas panjang. “Satu-satunya keinginanku sebelum dijemput ajal adalah bertemu kembali dengannya. Berbincang-bincang ketika langit mulai keremangan. Daku minum tuak manis; dia minum teh pahit. Lalu untuk yang terakhir kalinya, daku akan mengangkatnya sebagai saudaraku.”


Mantingan melihat sebuah penyesalan yang teramat dalam di wajah Tapa Balian. Tanpa dikata sekalipun, ia telah mengetahui bahwa Tapa Balian menyesal karena telah membiarkan Kiai Kedai pergi begitu saja. Apakah jadinya jikalau pria tua itu tahu bahwa Mantingan adalah murid dari Kiai Kedai, yang tanpa sengaja bertemu hingga berbincang-bincang dengannya di tempat yang sama?


“Mengapa Bapak tidak pergi saja ke Javadvipa?” Mantingan mengajukan pertanyaan setelah beberapa lama terdiam; langit mulai menjingga akibat matahari yang perlahan tenggelam di batas cakrawala.

__ADS_1


“Keinginanku memanglah selalu begitu, Anak. Tetapi sungguh diriku tidak memiliki keberanian. Darah pengembara tidak mengalir di dalam tubuhku. Dan lagi pula, usiaku ini sudah mulai meremang, seremang senjakala saat ini. Jika daku memutuskan untuk pergi ke sana, daku khawatir tidak dapat mempertahankan nyawa sampai bertemu dengan Kiai Kedai.”


Mantingan menarik napas panjang. Betapa pun gesitnya Tapa Balian sebagai seorang pendekar, tetap saja tidak menepis kenyataan bahwa usianya telah memasuki senja. Nyawanya dapat meninggalkan raga kapan saja dan tidak diduga-duga.


“Lupakanlah soal orang bernama aneh itu,” kata Tapa Balian pada akhirnya. “Daku hendak bertanya, mungkin ini agak menyinggung dikau. Kulihat bahwa dikau menyoren dua pedang. Satu pedang bergagang hitam dan bersarung hitam pula; sedang satu pedang lainnya bergagang kayu tanpa sarungnya. Saat ini, dikau hanya mempunyai satu tangan, tetapi mengapa membawa dua pedang?”


Mantingan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Pedang yang berwarna hitam adalah pedang lamaku yang baru-baru ini bilahnya patah menjadi dua dalam sebuah pertarungan. Sedangkan yang bergagang kayu ini adalah pemberian seseorang, yang memang tidak memiliki sarung saat diberikan kepadaku.”


“Sejak kapankah tanganmu terpotong, Anak Man?”


Menghadapi pertanyaan yang begitu terbuka seperti itu, Mantingan sama sekali tidak merasa tersinggung. “Hampir bersamaan dengan patahnya pedangku yang hitam ini, Bapak.”


“Itu berarti belum lama, bukan?”


Mantingan mengangguk pelan, tetapi masih pula belum mengerti alasan mengapa Tapa Balian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.


____


catatan:


Bonus episode malam Minggu: 1/2

__ADS_1


Tadi ada yang request crazy up di malam Minggu untuk menemani para pendekar yang jomlo. Saya belum bisa crazy up, karena saya belum gila. Tetapi terimalah ini sebagai seteguk-dua teguk air untuk sedikit menunyaskan dahaga.



__ADS_2