
Bukanlah tanpa pertimbangan yang betul-betul masak. Mantingan merasa bahwa masa pelatihannya lebih baik dicukupkan, sebab dirinya telah membaca habis seluruh kitab yang ada di Gaung Seribu Tetes Air. Hampir semua ilmu yang tersimpan di dalam kitab-kitab itu telah berhasil dikuasainya, terkecuali ilmu halimunan dan beberapa ilmu sihir lainnya.
Isi dari Kitab Halimunan hanyalah penggalan-penggalan ayat yang ada di dalam Kitab Teratai, sehingga untuk dapat menguasai ilmu halimunan tersebut, Mantingan harus mempelajari Kitab Teratai dengan sendirinya. Setidak-tidaknya, ia mengetahui ayat mana saja di dalam kitab itu yang dibutuhkan untuk dapat menguasai ilmu halimunan.
***
CEPAT atau lambat, Mantingan memang akan meninggalkan Gaung Seribu Tetes Air. Ia tidak akan selamanya tinggal di tempat itu, sebab betapa pun Kembangmas masih juga belum didapatkan. Menghilangnya Tapa Balian adalah saat yang paling tepat baginya untuk keluar dari Gaung Seribu Tetes Air.
“Tidak akan kulupakan segala hal yang telah dikau berikan kepadaku, Perempuan Tak Bernama.” Mantingan bersoja sedalam-dalamnya di tengah lapangan berlatih. Meninggalkan Gaung Seribu Tetes Air menciptakan suatu perasaan haru tak terkirakan dalam dirinya, betapa pun ia telah cukup lama tinggal di tempat ini.
Setelah beberapa saat terus menunduk, Mantingan akhirnya menegakkan tubuh dan berjalan keluar dari Gaung Seribu Tetes Air.
***
TENTU saja Mantingan tidak membawa semua barangnya. Bahkan lebih banyak barang yang ditinggalkannya ketimbang yang dibawanya. Pemuda itu hanya membawa barang-barang yang sekiranya diperlukan dalam pengembaraan, yakni bundelan, pundi-pundinya, dua pedangnya, sedikit perbekalan makanan, serta Golek Jiwa-nya.
Barang-barang yang pernah diberikan oleh Tapa Balian pun tidak semuanya dibawa. Hanya persenjataan berukuran kecil seperti jarum dan pisau terbang saja. Sedangkan penempaan serta alat-alat latihan sudah barang tentu tidak Mantingan turut sertakan. Biarlah barang-barang itu tersimpan di sana, sehingga mungkin saja dapat digunakan oleh pendekar-pendekar lain yang berhasil menemukan dan masuk ke dalam Gaung Seribu Tetes Air.
Mantingan menatap mulut goa yang merupakan jalur menuju Gaung Seribu Tetes Air itu untuk yang terakhir kalinya dengan segudang makna, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.
Masa pelatihannya telah usai, maka Mantingan harus kembali ke dunia persilatan. Betapa pun, Kembangmas harus didapatkan!
***
“Ini sudah masuk musim hujan, awak yakin ingin beli kuda?”
BEGITULAH yang pertama kali diucapkan oleh pemilik peternakan ketika Mantingan ingin membeli salah satu kudanya. Alasan Mantingan memilih untuk membeli kuda ketimbang berkelebat adalah jelas, bahwa dirinya hendak menghindari segala pertarungan dengan pendekar-pendekar di rimba persilatan sebelum berhasil mendapatkan kejelasan tentang keadaan Tapa Balian.
“Ketimbang berjalan kaki di tanah yang berlumpur, lebih baik sahaya menunggang kuda saja.” Mantingan menjawab sambil tersenyum.
“Ada yang lebih baik ketimbang menunggang kuda.” Pemilik peternakan itu berhenti memerah sapi sebelum akhirnya bangkit berdiri sambil memandangi Mantingan dari atas hingga bawah. “Awak orang Javadvipa?”
Mantingan mengangguk. “Benar, sahaya datang dari Javadvipa.”
__ADS_1
Untuk alasan yang sama sekali tidak Mantingan ketahui secara pasti, orang itu menatapnya dengan penuh selidik. “Untuk apakah awak datang ke Suvarnadvipa?”
“Untuk sekadar mengembara.”
“Untuk itulah pula awak datang ke peternakan ini?”
Sekali lagi Mantingan menganggukkan kepalanya.
“Ikutilah diriku, biar kutunjukkan sesuatu yang lebih berharga ketimbang kuda.” Orang itu kemudian berjalan ringan ke arah pintu keluar kandang sapinya, Mantingan mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“Maafkanlah diriku yang mencurigai awak,” kata orang itu tepat setelah melangkah keluar dari kandang sapi, menginjak tanah berumput yang cukup becek. “Akhir-akhir, amat sangat banyak penjahat kambuhan dari Javadvipa yang melarikan diri ke Suvarnadvipa, takut pada tangan besi Punawarman. Mereka adalah pemberontak yang kalah perang. Merepotkan saja.”
Pemilik peternakan itu terus berjalan menuju kandang-kandang terbuka tempat di mana sapi, kambing, kerbau, dan kuda sedang merumput.
“Mereka membawa banyak kesengsaraan di kedatuan ini. Kemarin peternakan sahabatku habis dirampas, bahkan dibakar pula. Anak dan istrinya jadi korban. Anaknya yang jantan mati karena memberi perlawanan, sedangkan istrinya diculik entah ke mana.”
Mantingan tidak tahu harus menanggapi apa, tetapi hal yang seperti diceritakan oleh orang itu sebenarnya sering terjadi di Javadvipa ketika kekacauan sedang marak-maraknya, bahkan jauh lebih buruk dari cerita tersebut.
Peternak itu berhenti di depan kandang terbuka yang berisi kerbau-kerbau. Tangannya menggapai pintu gerbang, tetapi tidak sampai membukanya. Sebaliknya, orang itu menatap Mantingan.
Mantingan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Entah mengapa, dirinya merasa bahwa peternak itulah yang justru menjelma menjadi penyamun.
“Daku memiliki puluhan keping emas.” Mantingan berkata jujur meski sebenarnyalah ia membawa uang sampai ratusan keping emas, yang ditambah lagi dengan puluhan bongkah Batu bernilai puluhan ribu keping emas di dalam bundelannya. Namun, apakah salahnya jika dirinya mengatakan hanya memiliki puluhan keping emas?
Pemilik peternakan itu tersenyum penuh arti sebelum melepas simpul tali yang melilit pintu kandang dengan pagar kandang. Dia meminta Mantingan untuk masuk bersamanya.
Ada beberapa kerbau yang semuanya sedang merumput di sekitar Mantingan. Sepuluh kerbau berwarna kelabu, lima lainnya berwarna hitam legam, sedang dua kerbau yang tersisa berwarna cokelat.
“Kerbau-kerbau ini telah kami latih hingga jinak terhadap manusia,” ujar peternak itu menjelaskan tentang kerbau-kerbaunya kepada Mantingan, “sehingga awak bisa menunggangi mereka selayaknya menunggangi kuda. Tenaga kerbau jauh lebih besar ketimbang tenaga kuda, dan tentu saja mereka lebih bersahabat dengan lumpur dan becekan. Dengan membeli salah satu dari kerbau-kerbau ini, awak bisa mengembara ke mana pun tanpa mengkhawatirkan apa pun.”
Mantingan melihat senyum lebar yang tercetak di bibir peternak itu, ia segera dapat membaca niat terselubung darinya.
“Jika memang itulah yang terbaik, sahaya menjadi sangat tertarik untuk membelinya. Berapakah harga untuk satu ekornya?”
__ADS_1
“Lima puluh keping emas. Apakah awak memilikinya?”
Bukannya menjawab, Mantingan justru balik bertanya, “Sedangkan untuk satu ekor kuda, berapakah harganya?”
“Hanya delapan belas keping emas.”
“Sedangkan sapi-sapi itu?”
Dengan percaya diri, peternak itu menjawab, “Lima belas keping emas.”
“Kambing-kambing itu? Berapa harganya?”
“Sepuluh keping emas saja,” jawabnya dengan cepat.
“Kerbau-kerbau ini?”
“Dua puluh lima keping emas.”
Mantingan tersenyum lebar, sedangkan peternak itu terdiam beberapa kejap mata sebelum akhirnya menyadari kesalahannya.
“Daku telah salah bicara, kerbau-kerbau ini berharga lima puluh keping emas.” Orang itu mengibaskan tangannya beberapa kali dengan senyum gugup di wajahnya. “Lima puluh, ya, lima puluh! Bukan dua lima!”
Mantingan hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum mengeluarkan seikat keping emas di dalam pundi-pundinya. Segera saja ia melemparkannya kepada si peternak yang sedang memerasnya itu. Mata Mantingan memandang ke sekeliling sebelum berhenti pada salah satu kerbau yang berwarna kelabu di sudut kandang.
“Sahaya pilih kerbau yang satu itu.” Mantingan menunjuk.
Si peternak memudarkan senyuman lebar yang tak sengaja tercipta setelah berhasil mendapatkan lima puluh keping emas, sebelum menengok ke arah kerbau yang ditunjuk Mantingan.
___
catatan:
Seni Bela Diri Sejati tersedia di NovelToon, update setiap malam Minggu. Tambahkan ke favorit sekarang!
__ADS_1