
Mantingan turun dari kudanya, berdiri memandangi kedai di depannya yang masih saja seperti dulu.
“Di manakah Paman Kedai?” Tanpa sadar Mantingan berucap.
“Lebih baik kita masuk saja.” Ketua Rama menoleh ke belakangnya. “Kalian tetap di sini, untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.”
Salah satu dari mereka menjawab pelan, “Laksanakan.”
Menghilang dan berpencarlah sepuluh pendekar bertopeng itu.
Mantingan dan Ketua Rama masuk ke dalam kedai, karena memang kedai itu tidak memiliki pintu. Seperti dahulu saat pertama kali Mantingan masuk ke dalam kedai ini, suara jangkrik dan binatang malam sudah tidak terdengar lagi.
“Kiai Kedai, ini Rama!”
Mantingan mengernyitkan dahi. Benarkah Ketua Rama memanggil paman kedai seolah memanggil kakaknya seperti itu?
Tiada yang menjawab, Ketua Rama memanggil sekali lagi, “Kiai Kedai, di manakah engkau?”
Bukannya sahutan yang membalas panggilan itu, melainkan denting pedang yang pecah. Arahnya dari luar. Lekas saja Rama dan Mantingan bergerak cepat menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi.
Apakah benar Mantingan dan yang lainnya dibuntuti?
Sesampainya di luar, Mantingan dapat melihat kilatan-kilatan cahaya di beberapa tempat di udara. Kilatan bunga api itu disertai denting pedang. Telah terjadi pertarungan tak kasat mata di udara! Sudah dapat dipastikan kecepatan pertarungan itu sangat tinggi, hingga pertarungan menjadi tak kasat mata. Hanya terlihat kelebatan-kelebatan bayangan putih, lalu bunga api, dan suara deting pedang.
Mantingan meraba gagang pedang di pinggangnya, siap bertahan jika musuh menyerang. Walau Mantingan tahu betul, ia tak akan bisa menang menghadapi musuh dengan kecepatan seperti itu. Tetapi mati tanpa perlawanan bukanlah kehendak Mantingan.
Puncak pertarungan itu terjadi saat kilatan cahaya mendadak muncul bersamaan di beragam tempat. Itu sebelum tubuh-tubuh pendekar bertopeng jatuh dari udara. Sepuluh pendekar itu masih hidup, tetapi agaknya tak sanggup bangkit untuk sementara. Mereka terlihat meringis.
Lalu seorang pria tua muncul di tengah mereka sambil menggosok tangannya. Ia tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya yang sudah tidak utuh lagi. Mantingan dapat mengenal orang itu, dialah Paman Kedai alias Kiai Kedai
“Rupanya Pasukan Topeng Putih semakin meningkat kekuatannya,” katanya sambil terkekeh. “Hei, Rama! Selamat datang di kedai tuaku ini. Aih, aku tidak menyambutmu dengan baik. Selamat datang kembali, Mantingan!”
“Kiai Kedai! Sesungguhnya engkau telah menyambutku dengan sangat baik. Kiai telah melayani prajurit-prajuritku bertarung, hingga mereka pastinya mendapatkan pelajaran berharga dari Kiai!”
__ADS_1
“Hahahaha! Kalau begitu, apakah kau mau coba bertandin denganku juga?”
Ketua Rama lekas-lekas menggeleng. “Tidak, Kiai ....”
“Apakah kau takut padaku?”
“Tidak, Kiai, hanya saja kita bisa melakukannya lain waktu.”
“Oh, kalau begitu, biar Anak Mantingan saja.” Paman Kedai menyiapkan kuda-kudanya. “Hayo! Gempur aku!”
Mantingan melihat pendekar-pendekar Topeng Putih yang terkapar di tanah itu, lekas ia menggeleng juga.
“Lho, kau takut pula padaku?”
“Tidak, Paman, tetapi ....”
“Kalau tidak takut, ayo gempur aku!” Paman Kedai semakin melebarkan senyumnya. “Atau aku yang gempur kamu?”
“Tidak-tidak, jangan Paman!” Mantingan mundur beberapa langkah, berniat bersembunyi di dalam kedai.
“Saya takut Paman.”
Paman Kedai menarik kuda-kudanya kembali dan tersenyum. “Kalau kau katakan dari tadi, takkan daku buat kau ketakutan. Sekarang marilah masuk minum teh di kedaiku, Pasukan Topeng Putih juga diperkenankan jika bisa bangun.”
Paman Kedai tertawa pelan dan berjalan masuk ke dalam kedainya, kembali Mantingan dan Ketua Rama.
“Kalian mau minum di kamar atau di sini?” tanya Paman Kedai.
“Aku pikir di kamar sajalah, Kiai. Aku ingin menikmati hutan dari sana.”
Paman Kedai mengangguk. “Memang sebaiknya seperti itu, dan Anak Mantingan pula ingin di kamar juga. Ingin tidur, bukan?”
Mantingan menggeleng, walau sebenarnya ia sedikit mengantuk. Paman Kedai sepertinya memang memiliki kemampuan membaca pikiran orang.
__ADS_1
Paman Kedai meninggalkan mereka di ruang tengah, sedangkan Mantingan dan Ketua Rama bergerak ke dalam ruang tidur.
Tirai bambu di sana masihlah tertutup, Ketua Rama tanpa ragu membukanya. Membiarkan kabut pagi yang dingin masuk.
Mantingan duduk menghadap ke jendela besar terbuka itu, lalu Rama duduk tak jauh di sampingnya.
“Ketua, apakah pendekar-pendekar itu tidak mengapa ditinggal di luar?”
Yang Mantingan maksud dengan pendekar-pendekar di luar sudah barang tentu
“Ah, mereka malah lebih suka tiduran di tanah seperti itu ketimbang masuk ke dalam.” Ketua Rama tersenyum canggung. “Anakmas, mohonlah maklum jika Kiai Kedai seperti itu. Memang sedari dulu dia seperti ini, tidak bisa diubah lagi. Jadi semasa Anakmas nanti jadi muridnya, janganlah melawan dia lantaran kesal.”
“Ketua, siapa sebenarnya Kiai Kedai ini? Apakah hubungannya dengan Perguruan Angin Putih? Dan mengapakah aku dikirim ke sini? Ketua, kurasa aku berhak tahu itu.”
Ketua Rama tertawa pelan. “Dialah Kedai. Memang tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Dialah teman saya sedari dulu. Kiai Kedai membantu kami melindungi Perguruan Angin Putih di masa-masa kebangkitannya. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan, tetapi dia selalu muncul saat kami membutuhkannya. Dan Anakmas akan tahu dari Kiai Kedai sendiri mengapa Anakmas dikirim ke sini.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Apakah Paman Kedai juga muncul saat Perguruan Angin Putih hendak ditumpas kerajaan?”
Raut wajah Ketua Rama berubah jadi tidak enak. “Anakmas, saya tidak sanggup menjelaskannya. Biarlah nanti Paman Kedai yang menjelaskannya sendiri pada Anakmas saat saya sudah tidak di sini.”
Mantingan mengangguk, tidak menanyakan lebih jauh lagi jika itu pada akhirnya membuat Ketua Rama tersinggung.
Paman Kedai datang membawa nampan yang menataki teko, tiga cangkir, serta wadah bagi gula. Dari teko itu, asap teh menguap. Teh hangat seperti ini akan sangat cocok melawan kabut pagi tipis yang lumayan dingin itu. Paman kedai meletakkan nampan itu di dekat mereka, sedangkan ia duduk di antara Mantingan dan Rama.
“Yang muda menuangkan untuk yang tua,” katanya.
Mantingan menghela napas panjang sebelum bergerak menuju nampan itu. Dengan bersila dirinya meletakkan masing-masing sepotong kecil gula merah ke tiga gelas, sebelum menuangkan teh panas yang pahit itu. Mantingan kemudian memberikannya pada Paman Kedai, kemudian Ketua Rama, dan terakhir adalah dirinya sendiri.
“Pelajaran pertama, berlaku hormat pada orang tua ....” Paman Kedai terkekeh lalu menyeruput teh panasnya. "... walau rasanya tidak enak."
Ketua Rama terbatuk beberapa kali. “Tehnya terlalu manis.”
Mantingan menahan napasnya. Ingin sekali ia berkata pada mereka untuk menyajikan tehnya sendiri saja, tetapi Mantingan masih tidak bodoh dan berkata hal itu.
__ADS_1
Ketua Rama meletakkan cangkirnya, mulai bicara serius pada orang yang tidak serius. “Kiai, aku ingin Anakmas ini dididik olehmu.”