
“Apakah Saudara telah memeriksa Bidadari Sungai Utara ada atau tidak di kamarnya?” tanya Ikan Terbang sesaat setelahnya.
MANTINGAN menggelengkan kepala. “Tidak, tetapi sebelumnya dia telah berjanji untuk tetap berada di kamarku sampai diriku terbangun.”
Ikan Terbang berdeham beberapa kali. Mantingan membiarkan saja bayangan nahkoda itu terbang liar ke mana-mana, ia tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya.
“Jika Bidadari Sungai Utara memang telah berjanji begitu, maka urusannya amat sangat gawat.” Ikan Terbang kembali dengan air mukanya yang bersungguh-sungguh. “Kemungkinan besar, mereka yang menculiknya sudah pergi dari tempat ini. Daku akan menyiapkan panah api untuk menerangi lautan. Semoga saja kita tidak terlambat.”
Ikan Terbang berkelebat dengan cepat ke arah buritan kapal, Mantingan segera mengikutinya sebab ada yang ingin ia katakan.
“Daku memiliki Lontar Sihir yang bisa bercahaya terang, gunakan saja itu.” Mantingan berkata dengan dibantu bisikan angin, sebab tidak mungkin baginya untuk dapat bercakap-cakap sewaktu masih berkelebat.
Keduanya memendaratkan kaki tiba di ujung buritan kapal ketika Ikan Terbang tiba-tiba menceletuk, “Ah, benar! Daku hampir melupakan bahwa dikau adalah pencipta Lontar Sihir Cahaya. Bisakah lontar-lontar itu kami gunakan saat ini?”
Mantingan hanya menganggukkan kepala sebelum berkelebat pergi. Lontar-lontarnya ada di dalam kamar. Dirinya merasa tidak sempat untuk membalas. Nyawa Bidadari Sungai Utara boleh jadi sedang terancam.
Angin laut yang dingin membuat Mantingan menjadi sadar, betapa genting dan gawat darurat situasi saat ini!
Jika Bidadari Sungai Utara diculik lalu dilarikan jauh-jauh oleh penculiknya, maka boleh jadi gadis itu tiada akan pernah ditemukan lagi!
Sungguh tidak sepatutnya Mantingan bersikap terlalu tenang.
Mantingan berkelebat ke arah lautan, kemudian menapak pada gelombang air untuk melesat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela yang sudah terbuka sedari tadi.
Mantingan mengambil sebuah pundi-pundi besar berisi ratusan lontar Sihir Cahaya di atas meja kamarnya, sebelum kembali berkelebat keluar melalui jendelanya.
Kali ini, pemuda itu tidak merasa memiliki cukup waktu untuk menghampiri Ikan Terbang dan memberikan Lontar Sihir Cahaya itu secara langsung kepadanya. Sebab jika ia telat sedikit saja dalam upaya menemukan Bidadari Sungai Utara, maka seperti yang tadi telah dipikirkannya, bahwa berkemungkinan besar bahwa gadis itu akan menghilang buat selama-lamanya!
__ADS_1
Mantingan sungguh tidak ingin hal itu terjadi ketika ia sudah hampir berhasil menggenapi janjinya mengantar gadis itu ke Champa, janganlah sampai gagal saat sudah hampir berjaya.
Ia mengambil beberapa belas Lontar Sihir Cahaya dari dalam kantung pundi-pundinya sebelum melemparkan sisanya ke arah Ikan Terbang yang berdiri di ujung buritan kapal. Ikan Terbang pasti akan mengerti dan tidak akan tersinggung dengan tindakan Mantingan itu.
Mantingan kemudian bergerak cepat ke arah daratan, yakni yang tidak salah dan tidak bukan adalah arah selatan, dengan harapan mampu menemukan Bidadari Sungai Utara di sana.
Jikalau musuh yang menculik Bidadari Sungai Utara berasal dari para pemberontak, bahwa tentunya untuk melarikan Bidadari Sungai Utara jauh-jauh dari armada gabungan Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih, mereka harus bergerak cepat ke arah daratan yang mana itu berarti di arah selatan.
Namun jikalau musuh datang dari pihak Tarumanagara itu sendiri, dan pendekar yang datang untuk menyerangnya itu bukanlah penyusup yang menyamar menjadi prajurit biasa melainkan sebenar-benarnya prajurit Tarumanegara yang tidak berkhianat, maka mereka justru akan menyembunyikan Bidadari Sungai Utara di dalam salah satu kapal mereka.
Tetapi untuk kemungkinan-kemungkinan yang tiada dapat dipastikan itu, Mantingan menyerahkannya kepada Ikan Terbang dan segenap armada Perguruan Angin Putih.
Tentunya Ikan Terbang telah memikirkan kemungkinan bahwa Tarumanagara telah berkhianat. Pendekar parobaya yang meski tampak sama sekali tidak berwibawa itu, tetapi sebenarnyalah sangat bijak. Mantingan melihat kebijakan itu di dalam sorot matanya yang terdalam.
Mantingan terus bergerak sambil menapak-napakkan kaki di atas gelombang laut yang tiada berhenti naik dan turun sampai kapan pun jua. Dijepitnya sebuah Lontar Sihir Cahaya di antara kedua jari tangannya, dialirkan tenaga dalam, sebelum akhirnya dilesatkannya ke udara.
Laut dalam seketika terang-benderang. Seolah matahari mampir sejenak menjenguk gulitanya malam.
Memanfaatkan keadaan yang terang-benderang itu, Mantingan segera memendarkan pandang dengan merapal Ilmu Mata Elang. Digunakannya pula Ilmu Mendengar Tetesan Embun, yang mampu menangkap segala macam suara riak air dalam jangkauan hingga beratus-ratus tombak.
Tidak dilihatnya sesuatu apa pun yang mencurigakan. Hanya lautan mahaluas yang seolah tiada berujung, yang tampak amat menyeramkan jika menyadari bahwa dirinya berada di tengah-tengahnya.
Mantingan melesat sampai beberapa jauh lagi sebelum kembali melesatkan Lontar Sihir Cahaya yang telah diisi tenaga dalam ke langit. Sekali lagi laut dan langit terang benderang ketika lontar itu meledak. Kali ini Mantingan menangkap sesuatu dengan matanya. Sebuah titik kecil yang tampak bergerak-gerak di sebelah selatan. Ketika sinar terang dari Lontar Sihir Cahaya meredup dan langit kembali diliput kegelapan, titik kecil itu menghilang di bawah kegelapan.
Mantingan semakin menambah kecepatannya. Kali ini dirinya bergerak lebih cepat sedaripada petir. Dihunuskan pedangnya ke depan untuk membelah angin lembab yang dapat melukai tubuh seorang pendekar sekalipun.
Sembari melesat dengan kecepatan yang lebih dari kata cepat itu, Mantingan beberapa kali melesatkan Lontar Sihir Cahaya ke langit. Arah lemparnya menjadi sedikit lebih ke depan.
__ADS_1
Titik putih itu perlahan-lahan membesar di bawah terpaan sinar Lontar Sihir Cahaya. Namun, tidak secara serta merta langsung membesar begitu saja. Bukti bahwasanya benda itu juga bergerak cepat dan bukannya diam saja, tetapi tidaklah sampai secepat Mantingan.
Pemuda itu begitu yakin mampu menyusul titik kecil tersebut, yang berkemungkinan besar merupakan sesosok pendekar. Akan tetapi, sebuah pemandangan yang tersaji di depannya begitu menggetarkan benak pemuda itu!
***
“Dia terkecoh.”
SEORANG pria tua ringkih berkata dengan suara seraknya sambil mengelus janggut panjangnya yang telah memutih sewarna dengan rambutnya. Mata sipitnya memandangi lautan gelap di sebelah selatan.
“Benar, Tuanku.” Pria lain yang tampak bercambang membalasnya. “Kali ini, kupastikan dirinya tidak akan lolos dari kematian.”
Si pria tua terkekeh pelan. “Arya, dikau telah melakukan tugas dengan sangat baik selama ini. Jika kita telah berhasil menguasai Javadvipa, kujanjikan dikau akan mendapatkan jabatan yang memuaskan.”
“Jangan berkata seperti itu Tuanku, sesungguhnyalah sahaya sungguh tidak pantas menerima pujianmu. Sahaya tak berhasil melaksanakan rencana pertama kita ....”
“Lupakan soal itu, Arya. Pihak kita sama sekali tidak dirugikan dari kekalahan di pelabuhan itu. Engkau telah cukup pintar dengan memanfaatkan Kelompok Pedang Intan untuk mengatasi masalah berat seperti itu.”
Orang bercambang itu tersenyum samar. Penuh dengan arti ketika dia menatap punggung pria tua di depannya itu.
“Tanda bahaya telah dibunyikan, kita harus bersikap seolah masih menjadi bagian dari armada Taruma. Dikau beristirahatlah, Arya, dikau telah banyak berjasa bagi kita semua. Berbincanglah dengan Bidadari Sungai Utara, tetapi janganlah engkau sentuh dirinya.”
“Tuanku, sahaya ....”
“Engkau akan mendapat bagianmu esok hari, Arya, setelah perang ini usai dan sebelum dirinya dipancung.”
Pemuda yang disebut Arya itu hanya bisa menggertak giginya dan menuruti perintah. Betapa pun, dirinya tidak cukup kuat untuk menghadapi si pria tua. Meskipun tidak sesuai dengan harapannya, dia merasa puas masih dapat menikmati Bidadari Sungai Utara sebelum gadis itu dibunuh sebagai bahan untuk mengadu domba antara Tarumanagara dengan Champa!
__ADS_1