
MANTINGAN menganggukkan kepalanya pelan tanpa menatap Bidadari Sungai Utara. “Tidak mungkin bagiku untuk pergi bersama kalian ke negeri Champa yang indah itu, Sasmita.”
“Aku tidak memintamu untuk pergi bersama kami malam ini juga, Mantingan. Aku hanya memintamu untuk pergi ke Champa, kapan pun yang kamu mau. Selama itu, kami akan selalu menunggumu.”
Kembali Mantingan menggeleng. “Tidak. Pahamilah bahwa dunia persilatan tidak memungkinkanku untuk melakukan itu, Sasmita. Lagi pula, Kembangmas masih belum kutemukan.”
Mantingan kemudian berlalu meninggalkan Bidadari Sungai Utara yang betapa pun pada akhirnya tetaplah tersedu-sedan itu.
***
KANA dan Kina terdiam cukup lama setelah Mantingan mengungkapkan apa yang telah seharusnya ia ungkapkan pada mereka. Kini keduanya tampak kehilangan gairah hidup sama sekali, membuat Mantingan yang melihatnya pun terasa teriris perasaannya.
“Kalian tidak perlu bersedih,” kata pemuda itu sambil tersenyum hangat. “Apalah pentingnya diriku ini bagi kalian. Kebersamaan kita hanya berlangsung beberapa bulan saja, sedangkan kalian berdua telah bertahun-tahun saling bersama. Jika kita memang harus berpisah, tetapi selama kalian berdua tidak terpisah, maka tidak ada yang boleh bersedih.”
Kana menggelengkan kepalanya. “Setelah kami kehilangan orangtua, kami sama sekali tidak memiliki harapan untuk mendapatkan hidup layak. Sebelum kami berdua bertemu dengan Kakanda, kami terus berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan, hanya untuk meneruskan hidup yang tiada tentu arah lagi. Jika ada tempat kosong, di situlah kami menumpang hidup. Dari satu tempat, kami dienyahkan ke tempat lain. Dan dari tempat lain, kami dienyahkan ke tempat yang lebih lain lagi. Kami sungguh merasa terasingkan di tanah sendiri.
“Keadaan seperti itu membuat daku sama sekali tidak memiliki harapan, lebih-lebih saat Kina jatuh sakit tanpa kuketahui sebabnya. Daku merasa benar-benar gagal. Namun ketika kami berdua bertemu Kakanda, nasib buruk kami berjungkir balik menjadi nasib yang amat sangat baik.”
“Kina telah menganggap Kakak Man sebagai pengganti ayahanda Kina.” Kina menimpali dengan suara lemah. Semakin teriris saja perasaan Mantingan ketika mendengarnya. “Tetapi sekarang, Kina tidak lagi menganggap Kakak seperti itu. Tidak mungkin seorang ayah membiarkan putrinya pergi begitu saja tanpa berusaha mencari atau menyusulnya.”
“Dan daku sudah menganggap Kak Sasmita sebagai ibu pengganti. Kalian berdua adalah orangtua pengganti bagi kami. Melihat kalian, daku merasa seperti melihat ayah dan ibu hidup kembali. Tetapi pada kenyataannya, kalian tidak dapat terus bersama, bukan? Begitulah jalan persilatan yang sering Kakanda katakan saat melatihku.”
__ADS_1
Mantingan mengembuskan napas panjang sambil menatap dua bocah yang duduk bersila di depannya, sebelum akhirnya membalas dengan selembut mungkin, “Nasib kalian sudah cukup baik sekarang, bukan? Nanti di Champa, nasib kalian akan lebih baik lagi. Kalian akan bertemu dengan kekasih hati Kak Sasmita, dan dialah yang akan menjadi ayah pengganti bagi kalian, bukannya diriku.”
“Tiada barang seorangpun yang mampu menyamai Kakanda.”
“Kina setuju. Tidak ada seorangpun yang bisa menyaingi Kakanda Man.”
Mantingan begitu terharu ketika didengarnya perkataan dua anak itu. Betapa ia merasa dirinya sangat berarti bagi mereka, tetapi pada akhirnya berpisah pula.
“Bagiku, kalian berdua juga tiada duanya. Tetapi betapa pun, nasib tidaklah selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Jika sudah sedari awal jalan hidup kita memang berbeda, maka sebuah keniscayaan bahwa cepat atau lambat kita akan berpisah.”
Kana dan Kina pun memahami bahwa yang membuat Mantingan tidak dapat mengikuti mereka ke Champa disebabkan karena dirinya adalah seorang pendekar yang senantiasa hidup di jalan persilatan, jauh dari jalan hidup orang awam.
“Jalan hidup kita mungkin saja akan sama, Kakanda,” kata Kana dengan sedikit mengeraskan suaranya. “Mungkin di masa depan, kita dapat kembali bersua. Daku berjanji akan kembali ke Javadvipa, tanah airku, untuk mengembara dan menemukan Kakanda. Tetapi, dapatkah Kakanda juga berjanji padaku untuk tidak mati terbunuh sampai waktu itu tiba?”
Mantingan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Di dalam dunia persilatan, ada baiknya seorang pendekar tidak berutang uang ataupun sekadar berutang janji kepada siapa pun, sebab kematian bagi seorang pendekar sungguh tidak dapat diperkirakan. Mantingan tidak ingin lagi memberi janji yang berkemungkinan besar akan menjadi janji palsu belaka, sebab telah begitu jauh dirinya menyelam ke dalam dunia persilatan. Amat sangat mustahil baginya untuk keluar dari sana.
Inilah jalan hidup yang telah Mantingan pilih, yang tujuan awalnya tidak akan pernah ia lupakan, yaitu untuk memudahkannya dalam pencarian Kembangmas serta untuk melindungi orang-orang yang disayanginya.
Hampir dapat dipastikan, bahwa setelah membawakan Kembangmas kepada Kenanga, Mantingan akan mengundurkan diri dari dunia persilatan. Menyamar menjadi manusia awam yang menikmati keindahan ladang-ladang subur tanpa perlu berwaspada akan segala ancaman sedikitpun, bukankah itu sudah sangat menyenangkan baginya?
Tetapi kemudian, bayangan indah di dalam kepalanya itu perlahan pudar seiring dengan mencuatnya ingatan akan perkataan Kiai Guru Kedai:
__ADS_1
“Amat sangat tidak mudah, atau bahkan dapat kukatakan mustahil bagi seorang pendekar yang telah lebih dari kata lama berkecimpung di dunia persilatan untuk melepaskan diri dari padanya.”
Mantingan tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang.
“Ingatlah apa yang pernah kukatakan kepadamu, Kana. Kita telah berjodoh, tetapi memang bukan untuk waktu yang lama. Jika kita harus berpisah pada akhirnya, maka lakukanlah dengan tidak bersedih hati.”
Kana dan Kina menundukkan kepala, menatap lantai papan kayu dengan pandangan kosong. Mereka tahu bahwa pergi dari Javadvipa merupakan pilihan yang terbaik untuk mereka semua.
Jika mereka tetap memaksa untuk tinggal di Javadvipa, maka itu akan sangat merepotkan bagi Mantingan yang hendak melanjutkan pengembaraannya.
Lagi pula selain tidak ingin berpisah dari Mantingan, mereka juga tidak ingin berpisah dari Bidadari Sungai Utara. Sedangkan gadis itu tidak bisa tinggal di Javadvipa lebih lama lagi.
Jadi, pilihan yang terbaik bagi mereka saat ini hanyalah mengikuti Bidadari Sungai Utara ke negeri Champa yang keadaannya jauh lebih baik ketimbang Javadvipa.
“Kalian berdua bersiaplah,” kata Mantingan pada akhirnya. Menyadari bahwa dua anak di depannya akan segera pergi meninggalkannya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air matanya, maka segeralah ia menyelesaikan urusan dengan mereka sebelum terjadi sesuatu yang amat sangat tidak jantan. “Daku akan menyalin Kitab Teratai untuk kalian berdua pelajari di Champa. Saat daku kembali nanti, kuharap persiapan kalian sudah selesai. Ingatlah, pelayaran akan dilaksanakan malam ini juga.”
Mantingan segera bangkit berdiri. Namun sebelum melangkah pergi, berkatalah ia, “Kita akan berpisah di tengah lautan. Aku akan mengantar kalian sampai di sana. Kujanjikan, perpisahan kita akan memberi kesan indah seperti apa yang kalian harapkan.”
Selepas mengatakan itu, Mantingan melangkah pergi meninggalkan kedua anak itu.
__ADS_1