Sang Musafir

Sang Musafir
Kelebatan Penguntit


__ADS_3

UDARA di luar penginapan memang tidak terlalu baik. Tepat setelah menginjakkan kakinya ke jalanan, Mantingan sontak merasakan hawa dingin yang teramat mencekam.


“Ini nafsu pembunuh yang tidak terarah ....” Mantingan bergumam pelan.


Memanglah benar bahwa hawa dingin yang teramat mencekam itu berasal dari nafsu pembunuh. Namun, nafsu pembunuh tersebut benar-benar tidak terarah. Seolah saja sengaja dilepaskan ke segala penjuru untuk menakut-nakuti siapa pun.


“Ongh ....”


Munding Caraka melenguh dengan sangat lirih. Mantingan menoleh, menemukan kerbau besar itu sedang meringkuk di halaman penginapan. Dari matanya, Munding tampak teramat waspada tetapi sekaligus takut. Telah pasti kerbau itu juga merasakan hawa pembunuh yang Mantingan rasakan ketika ini, tetapi karena dirinya adalah hewan maka dampaknya akan jauh lebih berbeda.


“Tidak mengapa, Munding.” Mantingan tersenyum hangat sambil berjalan mendekati kerbau itu. “Bukankah dikau memiliki kekuatan yang sangat luar biasa untuk mengalahkan siapa pun? Tidak perlu takut!”


“Ongng!” Munding membalas, masih pula dengan suara lirih.


“Tidak perlu dikau merisaukan diriku. Risaukan saja Chitra Anggini. Perempuan itu memang memiliki kekuatan yang besar, tetapi sikapnya teramat ceroboh. Dia bisa saja celaka di tangan pendekar yang jauh lebih lemah darinya, jadi kau harus benar-benar menjaganya.” Mantingan dengan lembut mengusap kepala Munding.


Kerbau itu balas melenguh pelan. Sedikit mendengkur.


“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik di sini, aku akan kembali secepatnya.” Selepas berkata seperti itu, Mantingan segera beranjak pergi dari hadapan Munding.


Tentang pembicaraannya dengan kerbau peliharaannya itu, Mantingan tidak benar-benar yakin apakah dirinya benar-benar menangkap maksud Munding dan sebaliknya. Melakukan pembicaraan dengan seekor kerbau memang bukan pasal mudah. Ini jauh lebih sulit ketimbang bercakap dalam pandangan mata.


Betapa pun Munding adalah siluman, dirinya tetaplah seekor binatang. Dan betapa pun cerdasnya Mantingan, dirinya tetaplah seorang manusia.


Manusia dan hewan memiliki bahasa masing-masing untuk menyampaikan gagasan yang terkadang tidak dapat dimengerti antara keduanya. Bila bahasa sekaligus gagasan telah berbeda, maka sulitlah sebuah percakapan menemui keberhasilan.


Bukankah bahasa tidak lagi diperlukan bila gagasan telah tersampaikan dan bahasa tidak lagi berguna bila tidak ada gagasan yang perlu disampaikan?

__ADS_1


Namun entah mengapa, dalam hal percakapannya dengan Munding, ia merasa telah betul-betul saling memahami.


Mungkinkah hal tersebut dapat terjadi sebab Mantingan dan Munding telah saling menyayangi sebagaimana Mantingan dan Bidadari Sungai Utara dapat melangsungkan percakapan tatap mata tanpa kepayahan sebab diam-diam saling mencintai?


Lantas jika sedemikian adanya, mengapakah ia dapat melangsungkan percakapan tatap mata dengan Chitra Anggini yang meski tidak terlalu lancar?


Mantingan mengenyahkan segala perenungan yang terjadi di dalam kepalanya. Perenungan-perenungan itu dapat membuatnya melamun, padahal sedikit kelengahan saja telah mampu mengantar nyawa seorang pendekar ke alam baka.


Mantingan segera memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk dapat melihat segala apa yang tak dapat dilihat oleh matanya. Hari telah beranjak malam. Keremangan senja seringkali menipu mata. Dengan ilmu pendengaran tingkat tinggi yang dimilikinya itu, maka tiadalah dirinya dapat dikalahkan dengan serangan pengecoh mata.


Kawanan burung gagak berseliweran di atas bangunan-bangunan yang sebenarnya tidak lagi pantas disebut sebagai bangunan. Entah apakah burung-burung itu hendak pulang dengan perut kenyang, atau datang dengan perut lapar. Betapa mirisnya Pemukiman Kumuh Kotaraja!


Matahari kian tergelincir. Kembali ke peraduannya. Langit menggelap. Antara ada dengan yang tiada hampir tidak dapat dibedakan. Saat itulah Mantingan mendengar suara kelebatan-kelebatan, yang betapa pun halus dan tipisnya tetap dapat ditangkap oleh Ilmu Mendengar Tetesan Embun!


Mantingan terus berjalan. Mengambil sikap seolah tidak pernah mendengar suara kelebatan-kelebatan halus itu. Jika dirinya menyamar sebagai seorang pendekar berkemampuan biasa-biasa saja, maka sudah tentu kelebatan-kelebatan itu tidak dapat didengarnya. Lagi pula, bukankah masih belum dipastikan bahwa pendekar-pendekar itu memiliki niat untuk menyerangnya?


Namun ternyata, suara kelebatan-kelebatan itu terus mengikutinya dari kejauhan, bahkan kini bertambah banyak. Mantingan menghitung sekiranya terdapat sepuluh sosok yang sedang menguntitnya. Jika mereka adalah pendekar-pendekar yang memiliki kesaktian tingkat tinggi, maka jumlah itu tidaklah sedikit sama sekali.


Hingga tiba-tiba saja terdengar suara bersiut dari arah belakang punggung Mantingan, membuat pemuda itu menegang sepenuhnya!


Suara siutan itu pastilah berasal dari jarum-jarum terbang berukuran sangat tipis yang dilesatkan dengan sangat cepat hingga menembus berkali-kali lipat kecepatan suara.


Jika saja Mantingan tidak memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang dapat menangkap suara sekecil dan selambat apa pun, maka siutan itu baru akan terdengar setelah jarum-jarumnya mencapai sasaran.


Mantingan segera berkelebat ke atas, sebab arah serangan jarum-jarum itu menutupi seluruh ruang geraknya di bawah. Namun, sepertinya musuh memang menginginkannya terbang ke atas.


Tepat ketika Mantingan berhenti di udara sebab telah kehabisan daya angkat, ratusan bahkan ribuan jarum beracun dilesatkan sekaligus ke arahnya.

__ADS_1


Mantingan terkejut bukan alang-kepalang. Ia sangat yakin bahwa pendekar-pendekar yang menyerangnya hanya berjumlah sepuluh, tetapi mengapakah jarum-jarum yang mereka lesatkan dapat mencapai jumlah ribuan?


Apakah setiap orangnya melempar lebih dari seratus jarum dalam waktu sekedip mata? Mustahil betul!


Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal tidak perlu, Mantingan lekas menarik Pedang Savrinadeya di punggungnya. Cukuplah dengan mengerahkan sedikit tenaga dalam pada pedang tersebut, maka lilitan kain tebal yang membungkusnya akan terbelah dengan sangat sempurna. Maka begitulah bilah Pedang Savrinadeya kembali berkilauan dipantul keremangan senjakala, bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat daripada cepat untuk menangkis ribuan jarum beracun yang menyasar Mantingan.


Kilatan-kilatan cahaya tercipta. Bunga api terpercik. Ratusan kali banyaknya. Tubuh Mantingan hilang bagai ditelan udara hampa, berganti dengan bayangan hitam yang bergulung-gulung di udara.


Serangan itu berakhir dengan sangat cepat, tetapi tidak satupun ada yang tepat sasaran. Mantingan kembali menjejak tanah setelah turun dengan sangat cepat sebab ilmu memberatkan tubuh yang dikuasainya. Begitu tanah terinjak oleh kedua kakinya, maka suara berdebum memecah kesunyian!


Remang-remang terdengar suara erangan. Entah itu dari pinggir jalanan atau dari dalam bangunan-bangunan di sekitar. Tentulah ribuan jarum tadi bukan tidak akan mengenai siapa pun.


Mantingan hanya dapat menggeram. Menahan luapan amarahnya. Tiada berdaya, sebab tidak mampu membantu orang-orang yang terkena jarum beracun mematikan itu. Percuma saja bila tidak mendapatkan penawarnya dalam waktu singkat.


“Apa gerangan menyerang diriku?!” Mantingan berteriak lantang. Luapan amarahnya disalurkan menuju suaranya.


Tidak terdengar balasan semacam apa pun. Hanya keheningan, dan tiada lain selain keheningan itu sendiri. Mantingan bagai berteriak pada udara kosong.


Namun tak lama berselang daripada itu, suara kelebatan-kelebatan kembali terdengar. Tidak lagi halus terdengar, begitu kasar dan sebat. Bahkan kini tidak sekadar suaranya saja yang muncul, melainkan pula beserta bayang-bayangnya!


___


catatan:


Episode bulan ini: 9/40


__ADS_1


__ADS_2