Sang Musafir

Sang Musafir
Pernyataan Dara yang Bagai Petir Meledak di Kepala


__ADS_3

MANTINGAN dan Chitra Anggini bergerak keluar dari perhelatan itu bersama dengan ratusan tamu lainnya. Mereka tampak diam-diam saja di tengah keramaian seperti itu, tetapi sebenarnyalah telah berlangsung percakapan dalam tatap mata.


Mantingan berkata: lupakan soal pengintai itu, kita harus pergi secepat mungkin menuju perlelangan Dara.


Chitra Anggini mengerutkan dahi, sebelum membalas dalam tatapan mata pula: bagaimana dengan rencana penyusupan?


Mantingan menggeleng: aku masih belum memiliki rencana semacam apa pun. Bila sampai terburu-buru, maka kita berdua akan berakhir dengan teramat sangat buruk. Tetapi saat ini telah kurasakan sesuatu yang pasti, ada yang tidak baik-baik saja dengan Dara.


Chitra Anggini hanya dapat mengangguk paham meski jelas belaka sorot matanya menampilkan ketidaksenangan yang sedemikian rupa.


Mantingan tidak mengetahui apa yang membuat gadis itu tampak tidak senang, dan dirinya pula tidak memiliki cukup banyak perhatian untuk memikirkannya.


Mereka masih terus berjalan bersamaan dengan kerumunan pendekar lainnya setelah keluar dari lapisan terakhir tembok istana. Hampir semua pendekar yang mengikuti Perhelatan Cinta Kotaraja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dengan tidak mengikuti pelelangan Dara, sebab mereka akan mendapatkan potongan harga yang cukup besar untuk barang semacam apa pun. Dan betapa telah terkenal luas bahwa Dara selalu melelang barang-barang langka yang berkualitas. Maka siapakah lagi yang tidak akan tergiur?


Mungkin, Mantingan adalah satu-satunya orang yang tidak menaruh minat sedikitpun pada lelang itu. Bahkan pendekar-pendekar yang memutuskan untuk tidak mengikuti lelang tersebut pun masih memiliki sedikit banyak minat yang hanya saja ditahan oleh rasa gengsi. Seluruh perhatian Mantingan saat ini hanya tertuju pada Dara, dan tiada lain selain Dara itu sendiri.


Pembacaan pertanda miliknya mengatakan sesuatu yang teramat buruk tentang gadis itu!


***


PERLELANGAN Dara digelar pada sebuah penginapan besar bertingkat tiga. Halaman penginapan itu teramat luas dan indah, dengan sebuah taman dan kolam pancuran yang selalu menyebarkan hawa dingin ke segala penjuru.


Tenda-tenda yang terbuat dari kain sutra putih berdiri di setiap sudut halaman. Di sanalah terdapat kudapan-kudapan yang bisa didapatkan secara cuma-cuma. Sebanyak apa pun mengambil, tidaklah perlu membayar barang sepeser pun


Disebabkan perlelangan baru akan dimulai setelah kiranya sepeminuman teh lagi, maka sebagian besar tamu lelang memilih untuk bersantai di halaman penginapan sambil menikmati kudapan-kudapan yang disediakan di sana. Lebih-lebih lagi bila kemudian mereka mengetahui bahwa tersedia pelayan-pelayan jelita yang sanggup melayani hampir semua permintaan tamu.


Namun, hal itu sungguh tidak menarik minat Mantingan. Dirinya terus bergerak dengan langkah kaki lebar-lebar. Kali ini hanya seorang diri, sebab Chitra Anggini tidak dapat menahan rasa laparnya sama sekali.

__ADS_1


Ketika Mantingan baru hendak memasuki gedung, seorang penjaga berkelebat menghalanginya.


“Maafkanlah bila harus kuhentikan langkah Tuan,” kata penjaga itu dengan hormat tetapi pula tegas. “Haruslah kutanyakan, siapakah nama Tuan?”


“Apa kepentinganmu setelah mengetahui namaku, wahai Penjaga?” Mantingan bertanya dengan setenang mungkin, meski sebenarnyalah rasa tidak sabaran telah menggebu-gebu.


“Ciri-ciri Tuan mirip dengan orang yang sedang dicari oleh Nyai Dara.”


Tanpa basa-basi, Mantingan segera menjawab, “Daku adalah Man. Dakulah yang mungkin sedang dicari olehnya, sebab daku sedang mencarinya pula.”


“Ikuti daku, Tuan Pendekar. Nyai Dara sudah lama menunggu kedatangan Tuan.” Penjaga itu lekas berbalik badan dan berjalan cepat.


***


DI belakang meja pada sebuah ruangan yang penuh dengan tumpukan keropak lontar, terlihatlah Dara yang sedang duduk termenung. Matanya berkantung. Sembab. Pandangan matanya kosong, bagai telah kehilangan semua harapan.


“Maafkan daku, Mantingan, maafkan daku!” Dara membuncah. Tak kurang dari sekedip mata kemudian, perempuan itu menangis.


“Ada apa, Dara?” Mantingan pun turut membuncah dibuatnya. Ia sungguh tidak dapat mengetahui atau bahkan sekadar menebak dengan ilmu membaca pertanda tentang apa yang membuat Dara menangis.


“Daku telah mengkhianati dirimu ... daku telah mendustakanmu, Mantingan!” Dara setengah berteriak.


“Mengkhianati apa? Mendustakan apa?”


Dara mengangkat wajahnya. Tampak sangat menyedihkan. Air matanya itu ....


“Daku harus menikahi orang selain dirimu, Mantingan. Daku harus menikahi orang selain dirimu! Betapa telah dusta diriku padamu!” Dara kembali membenamkan kepalanya dalam dada Mantingan setelah mengatakan itu. Menangis, sehebat-hebatnya sebuah tangisan, seolah tiada tangisan lain yang dapat lebih hebat daripada itu.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Mantingan semakin tidak mengerti. Terlalu banyak hal mengejutkan yang masuk ke dalam kepalanya secara bersamaan, membuatnya hampir tidak dapat berpikir jernih.


“Daku telah melakukan kesalahan besar, yang bayarannya pun sungguh teramat besar,” kata Dara diiringi dengan segenap sedu-sedan. “Telah kubuat lelang ini terlambat dengan beragam alasan yang sedemikian rupa, dan betapa itu telah membuat Perhelatan Cinta menjadi tertunda ....”


Petir bagai meledak tepat di kepala Mantingan. Betapa ia telah dapat menebak arah cerita Dara!


“Tentulah dengan itu, raja menjadi sangat marah terhadapku. Betapa tidak bila dengan tindakan itu, daku telah mencoreng nama Koying yang teramat mulia?”


Sampai di sana, Mantingan tidak perlu menebak-nebak lagi, ia telah mengerti segala apa yang sudah maupun belum diceritakan oleh Dara.


“Mengapa dikau begitu nekat, Dara?” Mantingan mulai membalas pelukan Dara. Betapa pun adanya, gadis itu berhak mendapatkannya.


“Daku sungguh tidak memiliki pilihan lain.” Dara terisak-isak. Rasa-rasanya telah hilang seluruh pembatas antara dirinya dengan Mantingan, sehingga menangislah dia di hadapan pemuda itu dengan sejadi-jadinya, tanpa perlu merasa malu sama sekali.


“Dikau selalu memiliki pilihan, Dara! Dunia ini begitu luas, dikau bisa pergi ke mana saja untuk menghindar!” Mantingan mulai meninggi. Akal sehatnya mulai kembali, dan sebab itulah dirinya dapat mengetahui bahwa apa yang diputuskan oleh Dara itu benar-benar gila!


“Tidak perlu menghindar. Daku memang tidak ingin menghindar.” Dara membalas dengan sedu-sedannya yang mulai mereda. Kini agaknya akal sehatnya pun telah kembali pula. “Daku akan tetap melakukan ini. Daku HARUS menjadi gundik raja itu, betapa pun katamu.”


Mantingan melemas, seolah seluruh tenaganya telah menguap begitu saja hingga tidak tersisa barang sedikitpun. Hilang entah rimba. Mendengar pernyataan Dara itu telah meruntuhkan seluruh dirinya.


“Apakah engkau begini karena diriku, Dara?”


____


catatan:


Saya telah kehilangan beberapa file naskah Sang Musafir yang sayangnya tidak dapat dipulihkan kembali, jadi saat ini saya harus menulis ulang episode yang telah hilang. Itu bukanlah hal yang mudah, sebab "feel"-nya sudah hilang, sulit mengembalikannya lagi, pula membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

__ADS_1


Jadi itulah alasan mengapa saya baru update sekarang. Di dalam gurp WestReversed telah saya kabarkan, dan saya berharap kalian dapat bergabung juga ke sana.


__ADS_2