
Gadis itu menggeleng dan menatapnya tajam. “Di suatu saat, engkau pernah berkata kepadaku bahwa kesedihan adalah suatu hal yang wajar, yang tidak wajar adalah jika engkau terlarut-larut di dalamnya. Kebahagiaan adalah sesuatu yang wajar, yang tidak wajar adalah jika engkau terlalu bahagia hingga melupakan segala-galanya. Jangan terlalu senang dengan apa yang engkau dapatkan, dan jangan terlalu sedih dengan apa yang luput dari engkau. Bukankah begitu perkataanmu waktu itu, Mantingan?”
***
MANTINGAN menatap cangkir tehnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Benar bahwa ia pernah mengatakan hal itu pada Bidadari Sungai Utara, yang sekarang justru perkataan itu dikembalikan lagi kepadanya.
“Sejak pertama kali kita bertemu, hingga kita bersama hingga hari ini, engkau selalu menjagaku. Bahkan ketika sikap diriku waktu itu seharusnya telah lebih dari cukup untuk alasanmu meninggalkanku, tetapi engkau terus menjagaku meski secara diam-diam.”
Bidadari Sungai Utara teringat ketika dirinya memutuskan untuk berpisah dari Mantingan. Perkataan yang dilemparkannya kepada Mantingan malam itu amat begitu kasar dan menyakiti hati, seharusnya pemuda itu telah meninggalkannya jauh-jauh atau bahkan pantas untuk membunuhnya. Tetapi apa yang dilakukan Mantingan justru sebaliknya.
“Aku akan tetap di sini sampai engkau merasa baikan,” kata Bidadari Sungai Utara. “Kali ini, biar aku yang menjagamu, Mantingan.”
Pandangan pemuda itu mengarah kepada sosok Bidadari Sungai Utara yang berdiri di dekat pintu kamarnya. Gadis itu tampak amat sangat cantik jelita tanpa balutan cadarnya.
“Semuanya aman, Bidadari Sungai Utara.” Mantingan berucap pelan. “Pasukan Tarumanagara ada di sini. Bahkan Cakrawarman pula ada di sini pula. Tidak ada musuh yang cukup bodoh untuk menyerang Pelabuhan Angin Putih.”
“Aman hanyalah sebuah perasaan dari banyaknya perasaan, Mantingan. Setiap manusia memiliki tanggapan berbeda atas suatu kejadian, maka perasaan yang dialaminya pun akan berbeda-beda pula. Kutanya padamu, apakah engkau benar-benar merasa aman saat?”
Bulu kuduk Mantingan meremang. Ucapan Bidadari Sungai Utara itu seolah telah menyadarkannya. Meskipun pelabuhan telah dijaga oleh kekuatan gabungan dari Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih pula oleh para pendekar-pendekar ahli bergolongan putih, tetapi Mantingan tidak benar-benar merasa aman.
Bidadari Sungai Utara mengetahui jawabannya dengan hanya melihat raut wajah pemuda itu. Lantas dia melanjutkan, “Dapatkah engkau merasa aman jika aku ada di sini, Mantingan?”
Mantingan menatap mata Bidadari Sungai Utara lekat-lekat. Berpikir pula lamat-lamat. Sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar sebelum membuka kedua tangannya lebar-lebar pula. Mantingan tetap terdiam di tempatnya, menatap Bidadari Sungai Utara dengan pandangan aneh.
“Kemarilah. Tidak ada seorangpun yang akan melihatnya.” Gadis itu berkata lembut dengan senyum merekah di bibirnya.
__ADS_1
Mantingan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Bukannya aku tidak menghargaimu, tetapi tidak sepantasnya kita berpelukan.”
“Pelukan tanda persahabatan, bukan apa-apa.”
“Tidak pula.” Mantingan kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tetap menolak. “Jangan menggodaku lagi. Daku malas berkelebat menghindarimu untuk kedua kalinya.”
Bidadari Sungai Utara pun menurunkan tangannya. Meskipun terdapat sedikitnya rasa kecewa di wajah gadis itu, tetapi dia memahami bahwa Mantingan tidaklah sama seperti pemuda kebanyakan, dan dia tidak ingin merusaknya.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu berkelebat pergi, Saudara?” Bidadari Sungai Utara mengangkat sudut bibirnya ke atas.
“Tidak ada yang menyuruhku, tetapi kuyakin Kiai Guru Kedai akan menghajarku habis-habisan jikalau hal itu tidak kulakukan.”
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tertawa lebar.
***
Segala bangunan di pelabuhan tampak baru, meskipun sebelumnya porak-poranda tidak berbentuk akibat pertempuran. Akan tetapi, pekerjaan manakah yang tidak akan rampung dengan cepatnya jika di berada tangan para pendekar kawakan? Bahkan kini, Pelabuhan Angin Putih memperluas wilayahnya.
Orang-orang berdatangan dari penjuru Bumi Sagandu dan kerajaan-kerajaan kecil lain di sekitarnya. Dengan lepasnya orang-orang itu tertawa lepas sambil bercanda ria di atas tanah yang sebenarnya masih basah oleh darah.
Jalanan ditaburi bunga-bunga beragam jenis. Nampak indah meskipun sebenarnya memiliki maksud terselubung. Di setiap bangunan atau sudut jalan, dibakar dupa-dupa beraroma pekat.
Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina berjalan pelan di tengah-tengah keramaian menuju ke tempat di mana lelang akan diberlangsungkan.
Mereka sebenarnya menjadi pusat perhatian, tetapi tidak ada yang cukup berani untuk mencari masalah dengan mereka. Betapa pun orang-orang menyadari, bahwa Mantingan dan Bidadari Sungai Utara selalu dijaga oleh pendekar-pendekar ahli yang tidak menampakkan diri.
“Sebenarnya lelang-lelang kecil tersebar hampir di setiap sudut pelabuhan,” kata Mantingan memberi penjelasan sembari terus berjalan.
__ADS_1
“Benarkah demikian? Pantas saja banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Tetapi, apakah lelang kepunyaan Nyai Dara tidak akan dirugikan dengan keberadaan mereka?” Kana melontar pertanyaan setelahnya.
“Bisa tidak dan bisa juga ya. Tanpa kehadiran lelang-lelang kecil di sini maka suasana tidak akan semarak, yang dapat berakibat langsung pada tidak semangatnya para tamu lelang untuk menawar. Tetapi terkadang, lelang-lelang kecil ini membuat para tamu lelang menahan uangnya untuk dibelanjakan pada lelang-lelang kecil.”
“Apakah kita akan mengunjungi semua lelang yang ada di sini, Kak Maman?”
Menghadapi pertanyaan Kina yang seperti itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung dan memberi jawaban yang sederhana, “Jika Kina tertarik mengikuti lelang lainnya, maka kita akan mampir sebentar.”
Kina tersenyum lebar, puas dengan jawaban itu.
“Nah, daku tidak akan merepotkan Kakanda dengan minta mampir ke lelang lain. Daku akan menetap di lelang Nyai Dara, tetapi barang yang kubeli akan banyak.”
Senyum Mantingan berubah menjadi kecut. “Daku berubah pikiran. Khusus untukmu, Kana, barang-barang yang boleh kaubeli hanyalah yang benar-benar bermanfaat saja. Engkau tidak perlu membeli cenderamata, lukisan, atau semacamnya.”
“Ah, Kakanda ... daku tertarik mengikuti lelang ini karena kudengar akan banyak kitab berseni tinggi yang dilelang. Tidakkah Kakanda mengerti seperti apakah seni itu?”
“Baiklah, kau boleh membeli barang seni, dengan pengecualian bahwa yang kaubeli tidak lebih dari satu buah. Anggaplah itu sebagai kenang-kenangan sebelum engkau meninggalkan tanah kelahiranmu. Selebihnya, engkau harus membeli barang yang lebih bermanfaat.”
Kana menghela napas panjang. Meskipun tidak terlalu puas, anak itu masih dapat menerimanya.
Sedangkan Bidadari Sungai Utara tetap tersenyum meskipun tidak terlibat dalam percakapan. Mendengar mereka, dia sudah sangat senang.
Tak berselang lama kemudian, mereka sampai di tempat yang dituju. Sebuah panggung besar berdiri di bibir pantai. balai khusus tamu lelang dibangun menghadap ke arah panggung. Sedangkan balai khusus penonton dibangun tak jauh dari balai tamu, yang berkedudukan lebih tinggi agar pandangan dapat menjangkau hingga jauh.
Orang-orang dipersilakan menonton lelang tanpa biaya tambahan, tetapi mereka dilarang untuk melangsungkan perjudian dalam bentuk apa pun jua.
Untuk masuk ke dalam balai tamu, setiap orang harus membayar sekeping emas. Mantingan dan rombongan sebenarnya dibiarkan lewat begitu saja tanpa harus membayar, tetapi barang tentu pemuda itu menolak dan tetap membayar sebesar empat keping emas.
__ADS_1