Sang Musafir

Sang Musafir
Ilmu Menyambung Ruang


__ADS_3

[UNEDITED]


KETIKA Mantingan menemui Munding Caraka di luar gua, ia langsung memeluknya erat-erat. Kerbau yang sedang merebah santai di dalam kubangan air itu tidak dapat menahan keterkejutannya.


“Ongng?”


“Bukan apa-apa.” Mantingan tertawa. “Malam nanti kita akan kembali ke kotaraja, tetapi sebelum itu daku harus melakukan suatu hal.” Mantingan menatap sejurus ke arah pepohonan yang teramat sangat rimbun, lantas kembali berkata, “Sang Siluman harus kutaklukan.”


“Ongng?” Munding Caraka tampak cukup terkejut dengan pernyataan itu, mungkin dirinya telah berpikir bahwa Mantingan tidak akan mencari masalah yang tidak perlu dengan siluman menakutkan itu.


Namun, tanpa diketahuinya, Mantingan memiliki alasan yang cukup kuat untuk mulai mencoba menaklukkan Sang Siluman.


Setelah menjalani pemikiran yang mendalam, Mantingan mulai menyadari penyebab mengapa Sang Siluman membunuh para pendekar yang datang ke Gunung Kelinci. Siluman itu menghendaki hawa pembunuh!


Membunuh pendekar akan jauh lebih berdampak pada bertambahnya nafsu pembunuh ketimbang sekadar membunuh manusia biasa apalagi hewan. Maka dari itu, Sang Siluman yang mungkin sebenarnya pemakan tetumbuhan jadi tidak memakan tubuh-tubuh pendekar yang telah dibunuhnya.


Hal itu diperkuat setelah diketahui bahwa senjata utama Sang Siluman adalah hawa pembunuh besar miliknya, yang bahkan dapat membuat pendekar tingkat ahli sama sekali tidak berkutik di hadapannya.


Yang Mantingan waspadai saat ini adalah tujuan Sang Siluman dari tindakannya itu. Ia khawatir jika suatu saat nanti siluman itu akan menyerang pemukiman manusia, dan tidak ada yang dapat menghentikannya sebab hawa pembunuh yang dimilikinya itu telah terlampau besar untuk ditanggung.


Mantingan merasa berkewajiban untuk menghentikan siluman buas itu sebelum tidak dapat dilawan lagi.


Mantingan melepaskan kain yang melilit bilah Pedang Savrinadeya serta menarik Pedang Kiai Kedai yang tersarung di pinggangnya, sebelum akhirnya melesat ke arah bebatuan besar yang berserakan di sekitar gua.

__ADS_1


Barang sekejap mata kemudian, batu-batu besar itu pecah menjadi ribuan keping setelah Mantingan menyabetkan kedua pedangnya. Pecahan-pecahan batu yang berterbangan di udara itu kemudian Mantingan pahat dengan amat sangat cepat, pula dengan kedua pedangnya!


Ketika pecahan-pecahan batu itu kembali jatuh ke tanah, mereka telah berubah bentuk menjadi pisau-pisau lempar sederhana. Berjumlah belasan ribu. Siapa pun yang melihatnya secara langsung telah pasti akan sangat terpukau!


Mantingan meletakkan kedua pedangnya begitu saja di atas rerumputan sebelum berkelebat mengumpulkan ribuan pisau terbang dari batu itu untuk kemudian disimpannya di dalam gua. Untuk menyelesaikan pekerjaan itu, setidaknya Mantingan membutuhkan sepuluh kedip mata. Benar-benar waktu yang teramat singkat untuk seukuran manusia biasa, tetapi tidak terlalu cepat bagi para pendekar yang memang telah terbiasa melakukan segala sesuatu dengan secepat-cepatnya.


Setelah semua pisau terbang batu itu terkumpul di dalam gua, Mantingan mengambil batang pengutik lontar dari kantung pundi-pundinya. Terlebih dahulu ia menarik napas dalam-dalam, sebelum mulai mengukir aksara-aksara di udara kosong.


Gerakan yang dibuat oleh Mantingan teramat sangat mantap. Bagaikan saja dirinya sedang mengukir aksara pada lembar lontar, bukannya udara kosong belaka. Bahkan hal sesederhana itu pun terlihat sangat indah bila dimainkan oleh orang yang ahli.


Setelah kurang-lebih sepeminuman teh berlalu, Mantingan berhenti mengukir aksara di udara kosong. Bulir-bulir keringat tampak cukup kentara di wajahnya. Sedangkan itu, Munding Caraka menatapnya dengan penasaran.


“Dikau mau melihat sesuatu yang cukup hebat, Munding?” Mantingan mengangkat alisnya.


Mantingan hanya perlu mengangkat lengan sebelah kirinya, lantas mengibaskannya perlahan, maka melesatlah puluhan pisau terbang sekaligus dari telapak tangannya! Seluruhnya menancap dengan sempurna pada sebuah batang pohon yang jaraknya terlampau tiga tombak!


Mantingan menunjuk lorong gua tepat di sebelahnya sambil berkata, “Daku masih punya banyak di sana, tetapi itu akan kugunakan untuk Sang Siluman.”


“Ongng?”


“Ya. Kita akan memburu siluman itu.” Mantingan tersenyum penuh tekad. Sebelum siluman itu memburu dirinya, Mantingan akan memburunya lebih dahulu!


***

__ADS_1


MENGEMBARA di rimba belantara membuat Mantingan merasa ditarik kembali ke masa-masa sebelum dirinya memutuskan untuk menapaki jalan persilatan.


Dahulu, menyeberangi rimba belantara untuk memotong jalan adalah sesuatu yang cukup menyebalkan bagi Mantingan. Ia harus melewati lumpur-lumpur dalam, semak belukar yang berduri, hingga ancaman hewan buas yang benar-benar mesti diwaspadai bila tidak ingin nyawa melayang.


Namun kali ini, setelah dirinya menjadi pendekar, dengan perbekalan yang selalu mencukupi sehingga tidak perlu memotong jalan untuk memangkas waktu, Mantingan benar-benar menikmati perjalanannya saat ini.


Rimba belantara benar-benar berbeda dengan kotaraja yang hiruk-pikuk dan tegang. Begitu kentara. Di sini, setidaknya ia dapat mengendurkan sedikit kewaspadaan dan ketegangan. Kemungkinan bahwa dirinya akan diserang secara mendadak di tempat ini adalah sangat kecil.


Matahari telah lengser sedikit ke barat. Dalam beberapa penanakan nasi lagi, senjakala akan datang. Mantingan merasa harus menemukan Sang Siluman barang secepat mungkin, sebab betapa pun juga dirinya telah berjanji pada Chitra Anggini untuk kembali hari ini pula.


“Munding, kita harus bergegas. Dikau carilah siluman itu dari atas, sedangkan daku akan mencarinya dari bawah sini,” ujar Mantingan sebelum berkelebat hilang; Munding Caraka pun tidak ingin membuang-buang, lekas melejit terbang ke langit.


Maka begitulah kemudian keduanya mencari Sang Siluman menggunakan dua cara yang berbeda. Bukankah dengan begitu, kemungkinan mereka menemukan Sang Siluman sebelum matahari terbenam akan semakin besar?


Namun kenyataannya tidaklah sedemikian itu. Setelah lebih dari dua penanakan nasi waktu berlalu, Mantingan belum pula berhasil menemukan siluman itu. Lelah pula dirinya, sebab sepanjang tadi ia tidak pernah berhenti berkelebat.


Mantingan melenting ke puncak pohon lantas memberi tanda kepada Munding untuk turun. Maka tak seberapa lama kemudian, kerbau itu bergerak turun perlahan-lahan, menyibak dedaunan serta tangkai-tangkai pepohonan yang lebat, sebelum akhirnya mendarat dengan teramat sempurna di atas tanah. Mantingan mudah saja berkelebat ke dekatnya.


“Kita beristirahat di sini hingga malam nanti,” kata Mantingan kemudian. “Biarkan siluman itu yang mencari kita.”


Seolah saja benar-benar mengerti dengan apa yang Mantingan katakan sekaligus maksudkan, Munding Caraka langsung bergegas merumput. Sedangkan itu, Mantingan membangun api unggun untuk memasak makanan. Ia membawa beberapa keping dendeng yang diasapi hingga kering, yang betapa pun bukanlah berasal dari daging sapi maupun kerbau melainkan ikan. Tetap saja Mantingan tidak ingin membuat Munding kecewa kepadanya dengan memakan daging sapi ataupun kerbau.


Keping-keping dendeng itu direndam dalam air hingga melunak, sebelum akhirnya ditusuk dengan potongan kayu pipih untuk dibakar. Sungguhpun tenaga dalam dapat menjadi pengganti makanan bagi seorang pendekar, Mantingan tidak ingin memakannya jika tidak benar-benar terpaksa. Rasa tenaga dalam sangatlah tidak enak bagi pendekar-pendekar yang belum terbiasa!

__ADS_1


__ADS_2