
“Tidak peduli seberapa sunyi dan sepi jalan yang engkau lewati, selama cahaya terus menerangi jiwamu, maka dirimu akan baik-baik saja.”
Mantingan merasakan kegetiran. Bolehkah dirinya menangis sekarang? Menumpahkan air mata yang tidak biasa ditumpahkan seorang lelaki? Mantingan rasa tidak. Bukan sekarang. Tidak untuk saat ini.
***
TENGAH MALAMNYA, tepat sebelum keberangkatan, pintu kediaman Mantingan terdengar diketuk beberapa kali.
Mantingan dan Kana yang masih pula terjaga sebab sedang melakukan pelatihan tenaga dalam lekas saja saling berpandang-pandangan. Tanpa diminta, Kana bangkit dari duduk bersilanya menuju pintu yang tidak berjarak jauh dari dirinya.
Setelah pintu dibuka, tampaklah sosok Rama yang meskipun telah berusia lanjut itu tetap dapat berdiri tegak. Kana lekas-lekas mempersilakannya masuk ke dalam serta bertanya apakah dirinya harus pergi.
“Tidak perlu, Kana,” balas Rama dengan suara tenang. “Diriku juga ingin berbicara denganmu.”
Kana mengangguk pelan sebelum duduk bersila di samping Mantingan. Sedangkan pak tua Rama bersila di depan mereka.
“Maafkan bahwa diriku tidak berdiri menyambut Ketua ....” Mantingan berujar sopan. Dirinya masih terus menghisap tenaga dalam, yang akan sangat menyusahkan jika sampai terputus. Pemuda itu tidak boleh banyak bergerak.
“Tidak mengapa, kutahu keadaannya.” Masih dengan suara tenang, Rama berkata, “sudah tiga bulan lamanya engkau di sini, dan esok adalah hari keberangkatan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina menuju Kerajaan Champa. Seharusnya, besok adalah hari terakhirmu di sini, bukan?”
Mantingan menganggukkan kepalanya.
“Apakah rencanamu setelah mereka pergi, Anak Man?”
Berhadapan dengan pertanyaan seperti itu, Mantingan mengembuskan napas panjang. “Daku akan mencari Kembangmas, Ketua.”
“Dan tempat manakah kiranya yang akan engkau sebut sebagai rumah.”
Mantingan menahan napasnya. Pertanyaan itu seakan berbalik menjadi penyataan. Betapa dia menyadari, dirinya tidak memiliki rumah.
__ADS_1
“Engkau tidak berpikir untuk menetap di sini, Mantingan?”
Mantingan menggeleng pelan. “Agaknya, inilah takdirku, Ketua. Jika menjadi seorang pendekar pengembara dapat tidak memiliki satupun tempat yang dapat disebut rumah, maka itu benar.”
“Betapa pun manusia membutuhkan rumah, Mantingan.” Berkata Rama dengan penuh khidmat. “Mungkin sekarang engkau belum memahaminya, tetapi engkau akan memahaminya suatu saat nanti. Ketika itu terjadi, ingatlah bahwa gerbang Perguruan Angin Putih selalu terbuka untukmu.”
Mantingan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Rama beralih pandang kepada Kana dan tersenyum.
“Biar kutanya, Kana, apakah dirimu sudah bisa mengendalikan tenaga dalam?”
“Sedikit-sedikit bisa.” Kana mengangguk dengan seringai gugup.
“Jikalau begitu, mungkin ini sudah waktunya ....”
Rama terdiam. Ketua Perguruan Angin Putih itu menikmati raut wajah penasaran dari Kana bahkan pula dari Mantingan.
Tetapi meskipun penasaran, Kana tidak punya nyali untuk menyela Rama.
Kana tertegun. Mantingan menahan napasnya. Sungguhkah Rama, sebagai ketua Perguruan Angin Putih, secara langsung menawarkan Kana untuk menjadi murid di perguruannya?
“Bapak Ketua Rama,” kata Kana kemudian, “diriku sama sekali tidak pantas untuk menjadi bagian Perguruan Angin Putih yang teramat agung.”
“Mengapakah disebut demikian?” tanya Rama masih dengan suara tenang.
“Diriku sama sekali belum memberi bakti pada perguruan ini.”
“Bukankah itu wajar? Engkau belum menjadi murid Perguruan Angin Putih, untuk apa engkau berbakti?” Rama tersenyum lebar. “Tetapi setelah engkau menjadi bagian dari perguruan, akan menjadi masalah jika engkau tidak berbakti.”
Mantingan tersenyum kecut. Mengingat bahwa hampir tidak ada bakti yang diberikannya pada Perguruan Angin Putih, sedangkan perguruan ini telah begitu banyak memberikan kepadanya.
“Tetapi Bapak Ketua, tak lama lagi daku akan meninggalkan Javadvipa. Besok adalah hari keberangkatanku. Setelah pergi, diriku tidak dapat memberi bakti kepada perguruan.”
__ADS_1
“Justru berbanding terbalik dengan apa yang engkau ucapkan, Kana. Dengan dirimu di Champa selalu membuat kebajikan, engkau akan mengharumkan nama Perguruan Angin Putih di sana. Bukankah dengan begitu, perguruan ini akan terkenal sampai negeri seberang?” Rama kembali tertawa lepas. “Hal itu bahkan tidak dapat dilakukan perguruan-perguruan lainnya.”
“Tetapi, Bapak Ketua, tidak dapat kujamin bahwa diriku akan terus membuat kebajikan di negeri Champa yang sama sekali asing bagiku.”
“Ya, memang. Seseorang tidak dapat menjamin masa depannya, tetapi seseorang dapat menyiapkan masa depannya. Engkau memang tidak dapat menjamin dapat selalu berbuat kebajikan di negeri Champa, tetapi engkau bisa mulai belajar tentang kebajikan dari sekarang. Bukankah begitu?”
Kembali Kana mengangguk. Mantingan pun sering berkata sedemikian kepadanya. Masa depan tidak dapat dijamin, tetapi dapat dipersiapkan.
“Baiklah, Bapak Ketua Rama. Diriku memang bukan seseorang yang berbakat, bukan pula menjadi yang terbaik dalam keilmuan, tetapi mohonlah untuk menerimaku sebagai murid perguruanmu.” Kana berkata sambil merendahkan kepalanya. Hampir-hampir dia bersujud.
“Tentunya engkau diterima, Kana. Dan jangan pernah menganggap bahwa dirimu tidak berbakat sedang engkau belum bergerak.” Rama tersenyum. Menepuk punggung Kana. Menyuruhnya untuk bangkit. “Ada kuda di halaman kediaman. Kuda itu menjadi milikmu beserta kitab-kitab yang dibawanya.”
Kana lekas bangkit, dan berjalan cepat menuju pintu luar setelah berpamitan. Tersisalah Mantingan dan Rama di ruangan itu.
“Ketua, kutahu bahwa bukan itu maksud Ketua yang sebenarnya ....”
Rama tertawa pelan dengan suara seraknya. “Kali ini engkau salah, Mantingan. Itulah maksudku yang sebenarnya. Kupercaya, Kana akan menjadi sepertimu. Engkau pasti telah melihatnya, bukan?”
Mantingan tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata-kata. Memang tiada dapat memastikannya.
“Engkau sudah tahu bahwa esok pagi kau dan Bidadari Sungai Utara berangkat, bukan?”
“Benar, Ketua.”
“Perjalanan kalian tidak akan mengarah ke Tanjung Kalapa. Itu terlalu jauh, dan terlalu berbahaya jika melewati jalur darat.”
Mantingan kembali mengangguk pelan. Selain berbahaya karena harus melintasi daerah yang banyak penyamunnya, perjalanan akan memakan waktu yang tidak sebentar.
“Kalian akan diantar melewati Gunung Manik, Giri, hingga ke ujung utara Bumi Sagandu. Di sanalah nanti engkau akan melihat pelabuhan Perguruan Angin Putih,” katanya. “Lalu bersama armada pendukung dari Perguruan Angin Putih, kalian akan bergerak ke sebelah barat hingga tiba di pesisir Tanjung Kalapa. Dari sanalah, kalian akan bergabung dengan armada tempur Tarumanagara.”
Mantingan mengetahui bahwa dengan cara itu, waktu perjalanan dapat dipangkas cukup banyak. Keamanan pun dapat lebih terjamin, sebab berapa pun banyaknya penyamun di lautan, tidak akan lebih banyak dengan penyamun di daratan.
__ADS_1
“Persiapkanlah dirimu, Mantingan.” Rama kembali berucap. “Tetapi bukan hanya bersiap untuk menghadapi pertempuran saja, bersiaplah pula menghadapi perpisahan.”