
MANTINGAN menjejak kakinya di atas tembok kota dan memandangi pra paruh baya itu dari atas, sedang pria paruh baya tersebut juga memandanginya dari bawah.
“Penginapan Tanah, mengapa mereka bisa ada di sini?” Mantingan bergumam pelan yang entah ditunjukkan pada siapa.
Pria paruh baya itu tiba-tiba saja berteriak dengan suaranya yang setengah serak. “Dikau rupa-rupanya mendapat sebuah keberuntungan hingga masih bisa hidup sampai sekarang. Tetapi tenanglah, wahai pendekar muda yang beruntung, dikau tidak akan hidup lebih lama lagi.”
Mantingan merasa tak setuju dengan apa yang dikatakan pendekar paruh baya dari Penginapan Tanah itu, tetapi ia tidak mengatakannya.
“Kemarilah dikau, jangan jadi orang pengecut.”
Mantingan tanpa disuruh pun akan tetap kembali ke bawah. Ia harus tetap melindungi mantera sihir di tembok agar tidak dipatahkan.
Saat melihat tanda-tanda Mantingan akan kembali turun, pria paruh baya itu berkata pada pendekar yang lainnya, “Kalian patahkan mantera sihirnya, sedangkan daku akan menghabisinya.”
Pendekar-pendekar pemegang kelewang itu mengangguk pelan dan menunggu kesempatan datang.
Mantingan tanpa menunggu lebih lama lagi segera menjatuhkan diri ke bawah. Di udara ia melepaskan puluhan Tapak Angin Darah yang tanpa ampun mengenai tentara-tentara musuh.
Pria paruh baya itu telah menanti Mantingan sedari tadi. Maka setelah melihat pergerakan Mantingan, ia langsung menyambutnya di udara. Pria paruh baya menghunuskan pedangnya ke muka.
Mantingan tidak tahu sampai kapankah sarung pedangnya akan bertahan menghadapi gempuran pedang lawan. Meskipun Mantingan telah menyalurkan tenaga dalam padanya, tetapi tetap saja menyisakan kerusakan berarti.
Mereka saling mengadu serangan pamungkas, membuat sarung pedang Mantingan yang telah rusak itu semakin rusak. Pendekar muda itu merasa hal seperti ini tidak bisa terus terjadi, sehingga ia memutuskan untuk mengeluarkan bilah Pedang Kiai Kedai yang selama ini tersembunyi.
__ADS_1
Setelah pertukaran serangan pamungkas, dua pendekar beda usia itu saling terdorong. Mantingan yang berada di udara memanfaatkan situasi untuk menarik gagang Pedang Kiai Kedai dan mengeluarkan bilahnya, sedang sarung pedangnya ia sisipkan di belakang pinggang.
Bilah hitam dari Pedang Kiai Kedai itu memancarkan hawa yang sungguh menakjubkan. Kemewahan, kelembutan, cinta kasih, dan kemarabahayaan berpadu dalam paduan yang sepertinya belum pernah ada.
Pria paruh baya itu menegak ludahnya. Dari pertukaran serangannya dengan Mantingan, ia bisa merasakan sendiri bagaimana pendekar itu meskipun muda tetapi memiliki bakat yang jarang-jarang. Terlebih Mantingan memanfaatkan bakatnya dengan baik, sehingga boleh dikata ia adalah pendekar cendekia di angkatannya.
Tiada pendekar seangkatan dengan dirinya yang memiliki kemampuan seperti Mantingan di pulau Javadvipa, walau masih ada kemungkinan adanya langit di atas langit.
Pendekar paruh baya itu tentu merasa dirinya tidak akan bisa menang menghadapi Mantingan jika sendirian, maka ia bersuit panjang dengan maksud memanggil teman-temannya.
Mantingan berpikir jika pendekar itu dibantu kawan-kawannya, maka ia akan kesulitan menghadapi mereka, maka dari itu dirinya segera melesatkan tubuh untuk melumpuhkan si pendekar paruh baya.
Akan tetapi kekhawatiran Mantingan lebih dulu terbukti. Ia merasakan ada gerak lain yang kecepatannya selaras dengannya dari belakang. Mantingan harus merubah lagi arah geraknya menjadi melingkar ke belakang.
Tidak hanya satu pendekar yang datang, melainkan dua. Mantingan semakin didesak untuk menjauhi tembok kota. Sedangkan pendekar-pendekar yang berupaya mematahkan mantera sihir itu mulai bekerja, mereka berhasil menancapkan kelewangnya ke tembok dan mulai membaca mantera pemusnahan segel.
Mantingan benar-benar terdesak. Jangankan menyelamatkan kota, dirinya sendiri pun bisa jadi tidak terselamatkan.
Ketika itulah suara yang begitu meneduhkan bagai rembulan di puncak langit menghampiri pendengaran Mantingan. Suara yang benar-benar Mantingan butuhkan di situasi seperti ini. Suara Rara.
“Mantingan, kau tidak perlu bersikeras untuk tidak membunuh. Saat ini dirimu ada di keadaan hidup atau mati, membunuh adalah hal yang diizinkan untuk saat-saat seperti ini.”
Mantingan menggeleng pelan sambil terus menangkis serangan yang datang. Bukannya ia tidak sedang terdesak, tetapi ia tidak mau mengingkari janjinya dengan Kenanga lebih jauh lagi. Maka dari itulah ia terus menangkis dan menangkis. Mantingan memang beberapa kali melihat celah terbuka dari lawan-lawannya, tetapi jika ia menyerang maka orang itu akan mati.
__ADS_1
Sulit untuk menemukan titik untuk melumpuhkan lawan. Sedangkan pedang lawan-lawannya terus menderu, jika saja salah satu dari pedang itu menggores kulit Mantingan, sedikit saja sudah sangat mematikan. Racun-racun melapisi pedang mereka.
Posisi Mantingan semakin ditarik menjauh dari tembok kota. Bahkan seakan-akan mereka hendak membawa Mantingan ke perkemahannya. Maka itu bisa jadi sangat gawat.
Di perkemahan musuh telah menanti panahan-panahan besar yang siap menembaki Mantingan. Bahkan terlihat pula pendekar-pendekar yang menanti kedatangan Mantingan di sana.
“Jangan gila, Mantingan! Gunakan pedangmu dengan benar atau kota ini tidak akan selamat!”
“Rara, aku tidak mau membunuh malam ini.”
“Ya, tapi 13 kawanmu itu berada dalam bahaya besar jika kau tidak membunuh musuh!”
Mantingan segera sadar apa bahwa masih ada 13 prajurit di atas tembok kota.
Mereka telah berkata bahwa tidak akan ragu menyumbang nyawa demi keselamatan warga kota. Mantingan tidak ada di sana, tidak bisa melindungi mereka. Gawat!
Tanpa ragu lagi Mantingan mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya. Ia tidak mau lagi kehilangan orang-orang terdekatnya. Cukup Rara saja, yang kini hanya tersisa suaranya saja.
Lawan-lawan Mantingan benar-benar terkejut ketika pola bertarung Mantingan berubah sepenuhnya. Gerakan-gerakan yang tadi hanya bertahan kini mulai menjadi serangan mematikan. Tak ayal dengan cepat satu dari mereka terbunuh setelah dadanya tertembus bilah hitam Pedang Kiai Kedai.
Melihat kawan mereka mati dengan mudah, mereka tentu tidak mau mengalami hal yang sama. Kini pendekar-pendekar itu saling mengerahkan semua kemampuan yang mereka punya. Mereka berharap dengan begini Mantingan kembali terdesak seperti tadi.
Tetapi sayang sekali, serangan yang mereka lancarkan itu terlalu tergesa-gesa sehingga Mantingan melihat banyak sekali celah pertahanan dari mereka. Tetapi tidak semua celah itu Mantingan serang, tidak semua musuh ia binasakan. Hanya beberapa saja yang dianggap paling berbahaya dan mengancam. Sisa pendekar lainnya Mantingan buat buntung kakinya, hingga tiada harapan bagi mereka selain dendam yang tersisa.
__ADS_1
Memang seperti inilah pembunuhan yang sebenarnya. Tidak terlalu mengenakan, dan selalu meninggalkan sakit hati serta dendam yang tak ada ujungnya. Mantingan memang terpaksa membunuh, tetapi bukan berarti ia terbesar dari kemungkinan terkena masalah di masa mendatang.