
"Kakak akan menolong adikmu sebisa mungkin.” Mantingan menunjukkan senyum hangat. “Sekarang, tunjukkan di mana ruangannya.”
“Ikuti aku!”
MANTINGAN BERLARI mengikuti anak itu sementara tangan kirinya mengangkat Lontar Sihir Cahaya. Mereka menaiki tangga dengan penerang dari Lontar Cahaya. Si bocah itu melesat dengan sangat gesit menghindari anak tangga yang berlubang, seolah telah melewati tangga ini ribuan kali, sehingga sudah hapal betul. Sedangkan Mantingan tertinggal cukup jauh di belakang, saat ia baru sampai di sudut tangga, bocah itu sudah sampai di lantai dua.
Setelah berhasil menyusulnya, Mantingan kembali mengikuti bocah itu menuju sebuah ruangan di lantai dua.
Ruangan itu menjadi satu-satunya ruangan yang memiliki penerang. Berupa obor kecil. Dan juga, menjadi satu-satunya yang terbersih. Mantingan menemukan sosok anak kecil lainnya yang terbaring lemah di atas kasur lapuk, berselimut dan menggigil. Di samping kasur itu, terdapat banyak wadah air dan beberapa potong buah-buahan kering.
Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi, ia tahu apa yang harus dilakukan, langsung saja menghampiri anak yang berbaring itu. Tubuh anak itu memucat dan menggigil hebat, matanya setengah terbuka—menunjukkan pandangan yang kosong.
Mantingan menaruh telapak tangannya ke permukaan dahi anak itu. Panas sekali untuk seukuran dahi bocah kecil. Mantingan segera mengeluarkan ramuan penurun demam di dalam bundelannya. Meskipun ramuan itu berguna untuk menurunkan demam yang disebabkan oleh racun, namun tidak ada salahnya untuk mencoba.
Mantingan membuka tutup bumbung ramuan itu lalu meletakkannya di bibir bocah itu. Memintanya untuk membuka mulut. Bocah itu dapat mengerti walau dalam keadaan setengah sadar, ia membuka bibirnya. Cairan dari ramuan itu masuk ke dalamnya.
Hanya setengah bumbung saja yang Mantingan sisakan. Ia tidak berani memberi anak itu lebih banyak ramuan yang mungkin saja akan menyebabkan keracunan. Mantingan kembali menutup bumbung ramuan dan memasukkannya kembali ke dalam bundelan. Lalu ia berpaling menghadap kakak dari bocah yang sakit itu.
“Kakak ingin tahu, siapa namamu?”
Bocah itu menyangka Mantingan telah membantu adiknya, maka ia tidak sungkan menjawab. “Namaku Kana.”
Mantingan mengangguk. “Lalu adikmu?”
“Kina.”
“Dia perempuan?”
“Ya, hanya saja semenjak dirinya sakit aku memotong rambutnya.”
“Mengapa?”
“Kata orangtuaku dulu, itu bisa berguna untuk mengusir roh jahat.”
Mantingan menepuk dahinya dan mendesis. “Lalu di mana orangtua kalian?”
“Sudah meninggalkan dunia.”
__ADS_1
Mantingan sebenarnya tidak terlalu heran mengingat keadaan dua bocah ini tidak sedang baik-baik saja, namun ia tetap menampilkan rasa berduka cita. “Meninggal? Karena apa?”
“Biasa. Perang.”
“Di mana rumah kalian sebelumnya?”
“Di sebuah desa kecil, agak jauh dari sini. Aku dan adikku melarikan diri sedangkan orangtua kami menahan pintu depan. Saat itu orang yang melarikan diri bukanlah diriku, melainkan seorang pengecut.”
“Orangtuamu sudah melakukan pengorbanan besar. Kalau kamu bicara seperti ini, apa mereka tidak akan kecewa?”
Anak itu hanya bisa menunduk dan mendumal, “Aku tak percaya mereka yang sudah mati bisa mendengarku.”
“Kita tidak tahu, dan kita sebenarnya tidak bisa membenarkan suatu tebakan tanpa landasan ilmu.”
“Lalu, bukankah tadi Kakak juga hanya menebak-nebak saja? Orangtuaku bisa mendengarku, itu tidak mungkin. Saat aku berteriak dan memanggil mereka untuk kembali ke sini, mereka tidak datang. Seandainya mereka mendengarku, mereka pasti sudah lama datang.”
“Seharusnya kamu tidak menyesali itu.”
“Seharusnya aku membantu orangtuaku menahan pintu.”
“Dan kamu mati. Dan adikmu juga.”
“Tapi kalian mati konyol, disebabkan olehmu sendiri.”
Kana yang tadi sudah mengadahkan kepala untuk melawan, kini kembali menunduk. Mantingan memahami sikap anak ini adalah pemberontak. Namun pemberontak jika dibimbing ke arah yang baik, ia tidak akan memberontak untuk hal-hal yang baik. Mantingan merasa menyayangkan Kana sudah ditinggalkan orangtuanya di usia yang begitu dini.
“Berapa umurmu sekarang?”
“Dua belas, mungkin.”
“Dan adikmu?”
“Terpaut dua tahun.”
Mantingan mengangguk pelan. Ia melirik ke Kina—adik Kana—yang masih terbaring. Kini tubuh anak itu tidak lagi menggigil dan tidak pula pucat. Perubahan yang baik.
“Lihat adikmu,” kata Mantingan. “Keadaannya membaik.”
__ADS_1
Kana mendekat pada adiknya dan menyentuh dahi Kina dengan punggung tangannya. Ia tersenyum bahagia.
“Keadaan Kina akan semakin membaik. Kakak ini bicara denganmu di depan.”
“Mengapa tidak di sini saja, Kakak? Bukankah di luar kotor sekali?”
“Itu yang ingin Kakak bahas denganmu, Kana.” Mantingan melepas semua barang bawaannya lalu berdiri. “Ikut Kakak.”
Kana hanya bisa menurut, karena sepertinya Mantingan tidak menerima bantahan lagi. Mereka turun ke bawah, kembali melewati tangga dengan tenang, lalu keluar dari rumah setelah Mantingan mengambil Pedang Kiai Kedai.
“Apa yang kamu lihat, Kana?”
Kana menajamkan matanya. “Semak belukar dan rumput.”
“Bukan itu maksudku.” Mantingan menyanggah. “Apa yang kamu lihat dari semua semak belukar ini?”
Kana mengambil waktu berpikir. Kembali mencermati semak belukar yang rimbun tumbuh di sekitaran rumah.
“Aku lihat ini wajar.”
“Kalau sekarang kita berada di hutan, ini memang wajar,” katanya. “Tapi kamu dan Kakak sedang berada di perkarangan rumah.”
“Ini kacau.” Kana membalas.
“Kakak juga melihat yang sama.” Mantingan menarik napas dalam-dalam. “Kakak akan tinggal di rumah ini, Kana, untuk sementara. Kakak ingin semua kekacauan ini kembali menjadi keteraturan.”
“Apakah aku dan adikku harus pergi jika Kakak ingin tinggal di sini?”
“Tidak harus. Kamu dan adikmu bisa tinggal di sini. Dan bicara-bicara, kita sama-sama menumpang di sini. Pemilik rumah meminta Kakak untuk tidak mengusir kalian.”
“Kami tidak mau dikasihani, kami bisa pergi sekarang juga.”
“Kakak tidak mengasihani kalian. Sama sekali tidak.” Mantingan menatap bocah itu dalam-dalam. “Kakak ingin membuat jalinan kerjasama denganmu.”
Bocah itu balas menatap Mantingan dalam-dalam. “Kerjasama apa?”
“Kita rapikan semua kekacauan ini. Lalu kita bangun sebuah kebun bunga yang indah. Kita jual bunganya, keuntungan kita bagi dua.”
__ADS_1
“Membersihkan semua ini? Apa bisa? Kita perlu arit, cangkul, golok, bakaran, sapi untuk makan rum—”
Belum sempat bocah itu menyelesaikan perkataannya, Mantingan telah lebih dulu bergerak.