
“Bicara-bicara, siapakah orang yang dikau kirim untuk Mantingan, Rama?”
KIAI Kedai kembali membuka pertanyaan setelah meneguk teh di cangkirnya hingga tuntas semua.
Rama membetulkan bentuk duduknya sebelum menjawab, “Chitra Anggini. Bisa dikatakan dirinya adalah teman Mantingan.”
“Hmm ... Chitra Anggini ....” Kiai Kedai mengelus dagunya. “Setahu diriku, dia adalah cucu dari Si Kempot Anggini.”
Rama melebarkan mata sebelum tersenyum tipis. “Si Kempot Anggini itu rupanya, sudah tidak mengherankan. Melihat dari cara bertarungnya, daku sudah bisa menebaknya sedari awal.”
“Chitra Anggini adalah pengguna racun, bukan?”
“Benar.” Rama mengangguk pelan.
“Jarang sekali ada pendekar beraliran putih yang menggunakan racun sebagai jalan bertarungnya.”
“Sulit menyebutnya sebagai pendekar beraliran putih, Kedai.”
Kiai Kedai mengangkat alisnya. “Lalu mengapa pula dikau kirimkan orang itu pada Mantingan?”
“Meski caranya dalam bertarung dan membunuh sama sekali tidak mencerminkan adab pendekar beraliran putih, tetapi dia akan melakukan apa pun yang diperintahkan Mantingan. Biar itu yang buruk maupun yang baik.” Rama menjawab dengan tenang. “Chitra Anggini memiliki hutang pada muridmu, Kiai.”
Kiai Kedai menarik napas panjang. “Tidak seharusnya dikau mengirimkan seorang perempuan seperti Chitra Anggini. Dikau tahu, Rama? Mantingan selalu mendapatkan masalah perkara percintaan dengan setiap wanita yang menjadi teman dekatnya.”
“Daku ....” Rama tersenyum gugup. “Rasa-rasanya, perkara percintaan ini tidak perlu dipikirkan sama sekali, Kiai. Nyatanya saat bersama dengan Bidadari Sungai Utara yang kecantikannya bagai tiada banding, Mantingan tidak lantas jatuh cinta padanya.”
“Siapa kata?” Kiai Kedai mengerutkan dahi sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Rama terdiam beberapa saat untuk berpikir, sebelum kemudian membeliakkan matanya lebar-lebar. “Kedai, dikau berhasil membacanya?”
Kiai Kedai menganggukkan kepalanya. “Dia hanya tidak diberikan waktu yang cukup untuk menyatakannya. Malang sekali pemuda itu. Daku menyesal tidak pernah mengajarinya tata-cara untuk menyatakan perasaan pada perempuan.”
Rama kemudian tertawa lepas sebelum berkata, “Apakah daku tidak salah dengar, Kiai? Dikau pun tiada berhasil menyatakan cinta pada Si Kempot Anggini, bukan?”
“Masih tersisa cukup banyak waktu untuk menyatakannya.” Kiai Kedai menaik-turunkan alisnya. “Bukankah sebutan Si Kempot Anggini itu muncul dari orang-orang yang iri dengan kecantikannya meski sudah berusia?”
Rama terbatuk-batuk keras akibat tersedak ludahnya sendiri. Tiada pernah disangka Kiai Kedai akan mengatakan itu. Sedangkan itu, giliran Kiai Kedai yang tertawa lepas.
***
MANTINGAN menggosok hidungnya yang gatal setelah beberapa kali bersin. Sungguh dirinya tidak tahu mengapa, sebab Gaung Seribu Tetes Air masih amat sangat menyejukkan dan tiada sesuatupun yang sekiranya dapat membuatnya bersin hingga berkali-kali banyaknya.
Setelah lewat sepekan, Mantingan berhasil menamatkan Kitab Sanca Merah yang diberikan oleh Pendekar Sanca Merah sesaat sebelum kematiannya. Namun, ia masih belum dapat menjajal ilmu dari kitab tersebut disebabkan oleh karena ketiadaan Golek Jiwa yang ia miliki.
Betapa pun Golek Jiwa, hanya pembuatnya yang benar-benar mengetahui kelemahan goleknya
buatlah Golek Jiwa dengan tanganmu sendiri
keniscayaan bahwa golek itu menjadi bagian darimu sendiri
tanpa dapat dikendalikan orang manapun jua
Bahan utama untuk membuat Golek Jiwa haruslah merupakan kayu yang kuat dan tahan lama. Di kitab itulah disebutkan bahwa kayu ulin memiliki ketahanan dan keawetan yang paling tinggi di antara jenis-jenis kayu lainnya. Sekiranya bukan hal yang sulit untuk menemukan kayu ulin di Suvarnabhumi.
Pada akhirnya, Mantingan memutuskan untuk keluar dari goa untuk mencari kayu ulin, yang kemudian akan digunakannya untuk membuat sebuah Golek Jiwa. Lebih-lebih lagi, tubuhnya terasa perlu disirami sinar mentari setelah dua pekan lamanya mendekam di balik keredupan cahaya.
__ADS_1
“Kita akan sedikit jalan-jalan, Putih.”
Mantingan memindahkan Si Putih ke tenggeran yang ada di bahu kanannya. Burung itu tidak menolak dan justru berkukur panjang seolah turut merasa gembira.
Memanglah hubungan Mantingan dengan Si Putih menjadi begitu akrab setelah dua pekan selalu bersama. Mantingan yang kesepian di tempat yang sunyi itu tentu saja tidak memiliki pilihan lain selain untuk berbicara dengan burung merpati berwarna putih itu. Lambat laun, Mantingan menemukan kenyataan bahwa kecerdasan Si Putih berada di atas kecerdasan burung-burung lainnya.
Selama berada di Gaung Seribu Tetes Air, merpati putih itu tidak pernah buang air sembarang, tidak pernah mencuri makanan sebelum benar-benar diberikan, tidak pernah berkukur ketika Mantingan sedang larut dalam bersamadhi, dan begitu banyak hal lainnya yang membuat Mantingan merasa bahwa berbicara kepada Si Putih bukanlah sebuah kesalahan meski tanpa menuai balasan.
Sebagai wujud nyata dari pertemanannya, Mantingan membuatkan suatu tenggeran yang dapat dipasangkan pada bahunya untuk Si Putih. Agar jika Mantingan hendak pergi meninggalkan Gaung Seribu Tetes Air suatu saat nanti, Si Putih tidak perlu terkurung dalam sangkarnya.
Mantingan berjalan melewati lorong bercahaya itu lagi dengan jantung berdebur kuat. Betapa dirinya akan kembali melewati kegelapan pekat yang selalu akan membawa siapa pun dalam ketersesatan jikalau tidak mengikuti kata nurani.
Tiba di ujung lorong bercahaya, Mantingan berhenti barang sejenak. Tepat di hadapannya adalah kegelapan pekat, yang sungguh tidak terlihat sesuatu apa pun selain dari kegelapan itu sendiri. Hanya kegelapan dan kegelapan, seolah tiada bertepi.
Mantingan meyakinkan diri sebelum melangkah keluar. Mulai dari sana, tenaga dalamnya tidak akan bisa bekerja sebagaimana mestinya. Bukan penglihatan maupun pendengaran yang akan menuntunnya, melainkan nurani.
Mantingan mulai melangkah maju sedang kedua kakinya tenggelam di dalam air dingin yang entah mengapa dapat menjadi sangat dingin hingga seolah saja bisa membekukan tulang.
Berbeda dengan saat ketika dirinya berjalan masuk ke dalam Gaung Seribu Tetes Air, kini dirinya tidak melihat barang secercah cahaya pun di depannya. Sungguh kegelapan yang kekelamannya bukan alang kepalang.
Berada dalam keadaan seperti ini, Mantingan jadi teringat suatu perkataan Kiai Kedai:
“Seseorang yang berada dalam kegelapan betapa pun jua akan melihat secercah cahaya yang jaraknya amat sangat jauh. Bagi mereka yang telah terbutakan oleh kekelaman, tiada dihiraukan lagi secercah cahaya itu. Tetapi bagi mereka yang merasa bahwa kekelaman telah menutupi segala kenyataan yang seharusnya tidak tertutupi, secercah cahaya itu akan direnunginya hingga bahkan dihampirinya.
“Sayang sekali bahwa secercah cahaya itu baru akan dapat digapai setelah melewati jalan berkelok yang teramat sangat sukar. Bagi orang-orang yang merasa bahwa secercah cahaya itu terlalu jauh dan mustahil untuk digapai, mereka akan berbalik pergi. Tetapi bagi mereka yang terus bergerak mendekati cahaya itu, sungguh menjadi sebuah keniscayaan bahwa usaha tiada akan mengkhianati hasil, mereka akan mendapati cahaya yang terangnya lebih besar daripada hanya secercah saja.
“Namun, jika mereka yang telah masuk ke dalam cahaya terang itu kemudian memutuskan untuk berbalik kembali ke dalam kegelapan, sebab merasa bahwa cahaya mengungkapkan segala hal tanpa peduli apakah itu baik atau buruk untuk dilihat, maka mereka tidak akan pernah lagi melihat barang secercah cahaya di mana pun. Tidak ada jalan kembali untuk mereka. Mereka itulah yang memilih untuk bersenang-senang dalam angan dan khayalan, yang betapa pun tiada akan pernah menjadi kenyataan.”
__ADS_1