Sang Musafir

Sang Musafir
Kembali ke Paman Kedai


__ADS_3

Mantingan masih tidak mengerti dengan Ketua Rama di depannya ini, bagaimana bisa ia mengatakan Mantingan bisa menjadi pendekar ulung, kuat, dan bisa berguna bagi sesama, sedangkan keinginan kuat Mantingan masih hanya satu; membalas kematian Rara.


Tetapi yang lebih membingungkan Mantingan tetap saja pada Paman Kedai yang akan melatihnya. Di sini Paman Kedai dipanggil Kiai Kedai. Itu adalah sebutan kehormatan yang tinggi. Seberapa tinggikah kehormatan orang miring itu hingga disebut sedemikian?


Mantingan seolah tidak diberi waktu memikirkan atau memusingkan perkara itu, Ketua Rama dan pendekar bertopeng itu memintanya untuk kembali ke rumah rehat dan berkemas sebelum berangkat menuju tempat Kiai Kedai. Pendekar bertopeng itu sendiri yang mengantar Mantingan sampai ke rumah rehatnya, lalu pergi begitu saja setelah mengatakan bahwa Mantingan akan dijemput tak lama dari sekarang.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Mantingan berkemas juga. Bajunya yang masih setengah basah terpaksa dimasukkan ke dalam buntelan, walau itu berisiko membasahi peta di dalamnya. Kali ini pula Mantingan mengenakan mengenakan jubah. Kendi kecil yang berisi abu Rara juga dikalungkannya.


Setelah selesai berkemas, Mantingan menunggu di sekatan pertama. Tubuhnya setengah berbaring di pojok ruangan, menghemat tenaga akibat bobot buntelan yang cukup berat itu. Mantingan juga menutup matanya dan berusaha untuk sedapat mungkin tidur, capingnya itu menutupi wajah dari sinar mentari.


Sampai pintu terdengar diketuk Mantingan membuka matanya. Lekas ia berdiri dan memasang capingnya, lalu berjalan membuka pintu.


Terlihat pendekar bertopeng yang membuka pintu itu, entah apakah pendekar itu adalah pendekar yang sama dengan pendekar tad atau bukan. Mantingan lihat di belakang pendekar itu masih terdapat pendekar-pendekar bertopeng lainnya berbaris. Terlihat pula dua kuda putih, satu kuda kosong tanpa penunggang, dan satu kuda lainnya ditunggangi Ketua Rama, terlihat ia tersenyum pada Mantingan.


Mantingan tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menutup pintu dan berjalan kepada kuda itu, naik di atas punggung kuda, menyelipkan kakinya di pedal dan menyiagakan tangannya di tali kekang kuda.


Ketua Rama menyapa hangat, “Kabarmu baik, Anakmas?”


“Tentu, Ketua.” Mantingan tersenyum. “Bagaimana kabar Ketua sendiri?”


“Tidaklah perlu itu ditanyakan, Anakmas. Saya tidak sedang baik-baik saja, sehingga mengendarai kuda merupakan cara tercepat kita untuk sampai ke sana. Tanpa saya sadari, kekuatan saya menurun hingga tidak bisa pakai ilmu meringankan tubuh lagi.”

__ADS_1


“Tiada itu mengapa, Ketua, kita bisa lebih menikmati perjalanan dengan menunggang kuda.”


Ketua Rama tertawa sesaat, sebelum ia berkata pada pendekar-pendekar di bawahnya. “Apa semua sudah siap?”


“Sudah siap, Ketua.”


“Laksanakan keberangkatan!”


“Laksanakan keberangkatan!” Ulang pendekar bertopeng itu. Kuda mulai melaju kencang.


Ketua Rama yang memimpin jalan. Mantingan di belakangnya, mengikuti. Pendekar-pendekar bertopeng berjumlah sepuluh orang itu hampir tidak nampak di manapun. Mantingan hanya dapat menyadari keberadaan mereka dari bayangan-bayangan yang berkelebat di samping atau depannya.


Setelah meninggalkan Perguruan Angin Putih, Mantingan mulai memasuki wilayah hutan berkabut dingin. Inilah waktunya menguji berapa banyak hangat yang bisa diberikan jubahnya itu. Kabut demikian tebal, hingga Mantingan kehilangan jarak pandang meskipun matahari telah meninggi.


Saat kabut menipis, Mantingan dapat melihat tebing kapur di depannya yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi, Mantingan dengan segera menarik kekang kuda untuk menghentikannya, tetapi kuda malah menambah kecepatan, bukannya berhenti. Sudah terlambat pula Mantingan melompat, karena tebing itu tiba-tiba saja terlihat, sehingga dalam waktu yang singkat hidung kuda hampir menubruk kapur tebal itu.


Mantingan tanpa sadar menutup mata. Bersiap untuk merasakan kesakitan, atau malah kematian. Tetapi siapa yang menyangka, Mantingan tidak merasakan sakit apa pun. Saat dibuka mata, Mantingan melihat kuda putihnya mendaki tebing kapur itu dengan kecepatan tinggi! Kuda Ketua Rama juga melakukan hal yang sama. Padahal tebing kapur ini jelas-jelas sangat curam, bagaikan benteng yang berdiri. Sangat tidak mungkin bagi orang biasa untuk mendaki tebing ini tanpa peralatan khusus, tetapi dua kuda itu dapat melakukannya hanya dengan berlari!


Maka ini adalah bagian dari hal paling mengejutkan di hidup Mantingan.


Padahal Mantingan pernah melewati jalan yang sama tadi malam, tetapi ia tak melihatnya. Seketika Mantingan mendapat pencerahan.

__ADS_1


Kalau saja dalam pertarungan banyak orang yang mati lebih dulu karena takut melihat kekuatan musuh, apakah dengan menutup mata bisa mencegah itu? Mantingan adalah orang yang cukup penakut, maka mungkin saja ia bisa menang dengan menutup matanya saat bertarung. Cepat atau lambat, Mantingan pastinya akan bertemu lawan pendekar. Untuk bisa memantau gerakan musuh saat ia menutup mata, Mantingan akan coba mencari ilmu pendengaran tajam. Mantingan ingat orang buta yang dapat merasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya berkat pendengaran yang tajam, maka bukan tidak mungkin Mantingan bisa bertarung seperti orang buta.


Tetapi dari lubuk hati terdalam Mantingan, ia menolak hal itu.


Menutup mata hanya karena tak bisa mengatasi rasa ketakutannya. Bukankah itu cara pengecut menghadapi masalah?


Mantingan menutup atau tidak menutup mata, ia tetap saja harus menghadapi musuhnya.


Setelah sampai di puncak tebing, kuda Mantingan dan kuda Rama meloncat berbarengan. Melayang beberapa saat di udara, sebelum meluncur ke bawah. Mantingan merasakan sebuah perasaan yang luar biasa, terjun bebas seperti itu memacu detak jantungnya, darahnya seakan berdesir cepat ke atas kepala.


Kuda-kuda itu menjejakkan kaki di atas tanah. Seperti kapas yang mendarat di atas tanah. Seolah tidak pernah terjun bebas dalam ketinggian yang bukan pendek. Kembali dua kuda itu melesat secepat angin.


***


Jika berjalan kaki membutuhkan lima hari untuk sampai di Paman Kedai, maka dengan kuda secepat itu waktu perjalanan bisa dipangkas menjadi satu hari saja. Mereka sampai saat matahari belum terbit sempurna, terlihat warung makan Paman Kedai yang masih menyalakan obor-obornya.


“Anakmas bisa melihat ada kedai makan di depan kita?”


“Saya bisa melihatnya, Ketua.”


“Maka benarlah Anakmas telah berjumpa dengannya.” Ketua Rama mengembuskan napasnya perlahan. “Tidak banyak orang yang bisa melihat keberadaan kedai ini, dan Kiai Kedai sendiri jarang mau bicara dengan orang asing. Sepertinya Kiai Kedai sudah melihat bakat Anakmas.”

__ADS_1


“Bakat?” Mantingan tersenyum canggung mendengar itu. Di desa, dialah orang yang paling tidak memiliki bakat. “Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, Ketua.”


“Biarlah Kiai Kedai itu sendiri yang menjelaskannya pada Anakmas.” Ketua Rama itu melompat dari punggung kudanya, mendarat dengan ringan di atas tanah. “Silakan turun, Anakmas!”


__ADS_2