
SETELAH SELESAI, pedagang itu berkata, “Semua ini 10 keping emas.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Paman, maafkanlah jika daku bertanya ini, tetapi apakah Paman sudah menghitungnya dengan sebenar-benarnya?”
Bidadari Sungai Utara pun tampak sama bingungnya. Menunggu jawaban dari penjual manisan di hadapannya.
“Memanglah sebesar itu, Saudara. Jika Saudara dan Saudari ingin membeli semua manisan yang sahaya jual, maka sahaya akan memberi potongan harga sebesar 50 keping perak.”
Mantingan menggeleng pelan. “Harga yang Paman sebutkan itu terlalu sedikit. Apakah memang semurah itu harga manisan?”
Kini giliran penjual itu yang mengerutkan dahi. “Saudara, manisan adalah kudapan yang harganya lebih mahal ketimbang kudapan lain di pasar ini. Bukankah 10 keping emas sudah sangat mahal?”
“Tidaklah seperti itu, Bapak. Sepuluh keping emas terlalu murah.” Mantingan tidak ingin banyak bicara lagi. Segera ia mengeluarkan sekantung penuh keping emas. “Simpan ini, Bapak. Jangan sampai terlihat perampok-perampok itu. Berbagilah pada pedagang-pedagang lain, tetapi jangan sampai menimbulkan keributan. Sahaya dan Saudari ini hanya butuh sekantung manisan. Sisanya, bagikanlah kepada pedagang lain atau kepada orang yang kelaparan.”
Ketika Mantingan menunjukkan kantung penuh keping emas itu, si penjual manisan tidak juga menerima. “Sahaya tidak mau. Jumlah ini terlalu besar. Sahaya tidak pantas.”
“Mohon cepat ambil ini, Paman, sebelum perampok-perampok itu datang melihat ini.” Dan tanpa basa-basi lagi, Mantingan menyodorkan kantung tersebut. Karena takut dilihat perampok yang datang, si penjual manisan segera menerimanya. Disembunyikan di bawah meja.
Sesaat kemudian, wajahnya berkerut haru. Matanya berlinangan. Akan tetapi, dirinya mencoba untuk tidak menangis. Percuma. Tetap saja si penjual manisan menangis. Tersedu-sedu.
“Terima kasih, Saudara. Kuucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya. Sahaya punya lima anak di rumah. Sungguh sahaya tidak keberatan merawat mereka, sedikitpun tidak. Mungkin Saudara adalah manusia utusan dewa yang hadir memberkati kami semua.”
“Paman tidak perlu menangis. Semua akan baik-baik sahaja. Sekarang, tolong siapkan sebungkus manisan kualitas terbaik untuk kami bawa pulang.”
“Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar, Saudara. Akan sahaya akan siapkan manisan terbaik!”
__ADS_1
Mantingan tersenyum. Sembari menunggu, ia pandangi sekitaran. Pemuda itu menemukan pedagang-pedagang lain yang menatapnya. Tatapan mereka penuh haru. Mengucapkan rasa terima kasih. Tahu bahwa si pedagang manisan baik hati, tidak akan menyimpan sekantung uang itu sendirian saja. Mantingan dianggap telah memilih orang yang tepat. Dan manakah yang lebih tepat selain utusan dewa?
Begitulah cara mereka menanggap Mantingan. Utusan dewa. Datang ke bumi untuk mengasihani mereka. Memberi berkat yang tiada taranya.
Namun, semua tatapan itu justru membuat diri Mantingan merasa canggung. Mereka terus menatapnya. Lebih-lebih si penjual manisan masih memilih manisan dengan kualitas terbaik—hal itu memakan waktu yang tidak sebentar. Sedu sedannya pun berakhir, sehingga beberapa kali ia menghisap mengusap air mata—lagi-lagi hal ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Setelah sebungkus manisan siap sudah, dan Bidadari Sungai Utara menerimanya, maka Mantingan meminta gadis itu untuk kembali berjalan. Sungguh ia tak tahan dipandangi banyak orang selayaknya itu.
Sembari berjalan, Bidadari Sungai Utara bertanya, “Mengapa penjual manisan tadi begitu berterimakasih padahal dia tak tahu ada berapa banyak uang di dalam kantung itu?”
Mantingan tersenyum canggung. “Itulah harapan.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk paham. “Berapakah yang engkau berikan kepada pedagang itu?”
“Di dalam kantung itu telah kusediakan 100 keping emas. Kurasa itu cukup untuk mereka semua.”
Mantingan tertawa kecil. Baginya, 100 keping emas bukanlah jumlah besar. Pemuda itu berpikir harus menyumbangkan lebih banyak uang ke depannya.
Mereka melanjutkan perjalanan. Berkeliling pasar. Beberapa kali berhenti di toko yang menjual daging dan sayuran mentah. Sungguhlah pasar sangat sepi. Mantingan hanya menemukan setidaknya lima pengunjung selain dirinya dan Bidadari Sungai Utara.
Hingga sampailah mereka di toko persenjataan. Sama halnya dengan toko-toko lain, toko persenjataan pun sepi pengunjung. Saat Mantingan memasuki bangunan toko, sang penjual segera menyapanya hangat.
“Anak berdua kembali datang.”
Mantingan tersenyum. Di sinilah ia membeli senjata ketika dikepung pendekar-pendekar setelah acara lelang tempo lalu.
__ADS_1
“Bapak, kita bertemu lagi.”
Pedagang itu membalas senyum Mantingan juga dengan senyuman. “Nah, sekarang senjata seperti apakah yang ingin Anak berdua beli?”
“Sahaya menginginkan pedang kayu, Bapak. Apakah memilikinya?”
“Tentu aku memilikinya, tetapi pedang kayu banyak ragamnya. Tunggulah sebentar, biar daku ambilkan pedang-pedang itu.”
Si penjual senjata kemudian masuk ke sebuah ruangan. Ia kembali dengan membawa peti besar. Entah berisi apa. Diletakkanlah peti tersebut di atas lantai, lalu dibukakanlah penutup peti. Hingga tampaklah isi peti besar tersebut. Kumpulan pedang kayu. Ragam bentuk, ragam warna, ragam ukuran.
“Silakan saja pilih, Anak!”
“Saya tak terlalu pandai memilih pedang kayu, Bapak. Jadi, Bapak saja yang memilihkannya untukku.”
“Oh, tentu saja. Katakan, pedang seperti apakah yang Anak inginkan?”
Tanpa berlama-lama lagi, Mantingan segera menjelaskan, “Pedang ini akan dipakai seorang anak lelaki berusia empat belas. Tinggi anak itu lebih setengah depa, lebih sedikit. Dia sudah mempelajari kesenian berpedang selama beberapa minggu. Jadi, Bapak, pedang manakah yang sekiranya cocok?”
Si penjual senjata mengusap dagunya yang lancip. “Pedang panjang dan ringan agaknya cocok dengannya. Bagaimanakah pendapatmu, Anak?”
“Kurasa memang seperti itu, Bapak. Dia dapat bergerak lebih gesit daripada anak-anak seusianya.”
Bapak penjual senjata itu menganggukkan kepalanya. Mengambil sebuah pedang kayu di dalam peti. Tampaklah bahwa itu adalah pedang bermata satu. Yang panjang, tetapi lurus.
“Cobalah engkau jajal ini.” Si penjual senjata melemparkan pedang kayu itu kepada Mantingan.
__ADS_1
Sigap Mantingan menangkapnya. Sigap pula ia menjajal pedang tersebut. Dirinya bergerak-gerak amat cepat. Hingga tubuhnya menjadi kelebatan bayang-bayang saja. Sedangkan pedangnya itu telah dikibaskan ratusan kali dalam lima kurun waktu lima kejapan mata!
Mantingan berhenti di tempatnya semula. Tersenyum puas.