Sang Musafir

Sang Musafir
Mengabari Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

“Tetapi harus kuakui bahwa tindakanmu yang tidak mendekatinya itu sudah benar. Sebab sekalipun engkau mencintainya, Bidadari Sungai Utara tidak akan pernah bisa menjadi milik engkau seorang. Benar sudah engkau tidak mengambil tindakan lebih jauh untuk mengatasi rasa itu.”


MANTINGAN tersenyum dengan senyum yang tampak sangat gugup. “Tidak, Ketua, diriku tidak menaruh rasa apa pun kepadanya.”


Ketua Rama pun menggelengkan kepalanya penuh sesal. “Sekalipun engkau tidak mengambil tindakan, engkau harus mengakui perasaanmu padanya. Percayalah padaku, jika engkau tidak mengungkapkannya sekarang, maka engkau akan menyesal di kemudian hari.”


“Ah, Ketua Rama. Percintaan bukanlah urusan para jantan.” Mantingan mengibaskan tangannya.


“Kiai Kedai akan marah jika mendengarmu mengatakan itu, Anak Man.” Ketua Rama menatap Mantingan dengan bersungguh-sungguh. “Apakah yang dikau anggap sebagai jantan tidak mengenal cinta, Anak Man? Apakah sama seperti para pendekar yang sama sekali tidak mengurusi cinta tetapi selalu mencari bunga raya untuk menuntaskan nafsunya itu?”


Kali ini Mantingan terdiam. Senyuman di bibirnya pun menghilang sudah. Betapa dirasakannya bahwa perkataan Ketua Rama adalah sebuah kebenaran.


Mantingan kemudian menghela napas panjang. Baru saja dirinya bertekad untuk tidak mengurusi percintaan, tetapi betapa urusan percintaan selalu menghampirinya di setiap waktu, seolah tidak ingin Mantingan berlepas diri dari padanya.


“Mungkin mulai sekarang, engkau harus belajar untuk melupakan Rara, Anak Man.”


Mendengar nama Rara disebut, Mantingan segera teringat apa yang mesti ia sampaikan kepada Ketua Rama soal wanita bayang-bayang itu. Sekaligus pula, untuk mengalihkan pembicaraan.


“Ketua, menyangkut perkara Rara, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu ....”


Mantingan menarik napas panjang sebelum mulai mengungkapkan segala-galanya tentang Rara pada Ketua Rama, termasuk ketika perempuan itu akhirnya menjadi bayang-bayang yang menggentayanginya hampir di setiap pertempuran.


Mantingan lalu masuk ke dalam penjelasan utamanya, yaitu ketika sorot mata pendekar musuh mengarah pada bayang-bayang Rara muncul di pertempuran pelabuhan.


Ketua Rama menganggukkan kepalanya selama Mantingan bercerita, dia tidak memotong barang sedikitpun sampai Mantingan selesai dengan ceritanya.


“Rupa-rupanya selama ini engkau mengalami sesuatu yang jauh lebih berat ketimbang dugaanku.” Ketua Rama berkata setengah bergumam sambil menganggukkan kepalanya perlahan. “Tetapi soal pendekar musuh yang sorot matanya menatap bayang-bayang Rara, apakah engkau telah memastikannya benar-benar?”


Mantingan menggelengkan kepala untuk pertanyaan itu. “Daku tidak dapat memastikannya. Saat itu diriku terlalu terbawa suasana, pendekar itu tidak sengaja kubunuh.”

__ADS_1


Ketua Rama kembali menganggukkan kepalanya. “Jika sedemikian, terdapat sedikit kemungkinan bahwa pendekar itu benar-benar dapat melihat bayangan Rara, tetapi terdapat banyak kemungkinan bahwa pendekar itu hanya melihat sesuatu yang kebetulan berada di dekat bayangan Rara.”


Mantingan terdiam dan menahan napasnya barang sejenak.


“Meskipun begitu, engkau harus tetap mewaspadainya, Anak Man. Jangan berikan keterangan penting kepadanya, dan jangan sampai dia mengikutimu dalam keadaan yang benar-benar genting. Kendati tidak pernah kulihat adanya pendekar yang mampu melayang-layang di udara tanpa penyentuh tanah sama sekali, kita harus tetap mewaspadai adanya kemungkinan bahwa Rara adalah mata-mata musuh.”


Pernyataan itu membuat Mantingan sedikit terkejut. Meskipun telah diduganya hal itu sejak awal, tetapi mendengar Ketua Rama mengatakannya sendiri tetaplah mengejutkan.


“Baiklah, Ketua. Perintah Ketua akan daku tanamkan sedalam mungkin pada ingatan. Diriku izin diri untuk segera mengabarkan Bidadari Sungai Utara perihal keberangkatannya malam nanti.”


“Jangan pula engkau lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran di tengah lautan, Anak Man. Sri Maharaja Punawarman sendiri akan turun tangan menghadapi pertempuran ini. Apa yang akan terjadi nanti, sungguh lebih besar ketimbang apa yang terjadi di pelabuhan ini. Maka dari itu, kuharap engkau benar-benar menyiapkan diri dan jiwa.”


***


MANTINGAN berdiri tepat di depan pintu kamar Bidadari Sungai Utara. Sebelum mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar gadis itu, ia merasa perlu menyusun kata-kata untuk menyampaikan perihal keberangkatannya yang begitu mendadak itu.


Mantingan memutuskan untuk tetap mengetuk pintu meski kata-katanya belum tersusun. Biarlah apa yang harus diucapkannya nanti keluar dengan sendirinya tanpa perlu berpusat pada penyusunan-penyusunan yang rumit.


Pintu terbuka sedikit dengan Bidadari Sungai Utara yang mengintip dari dalam. Setelah melihat bahwa yang datang adalah Mantingan, gadis itu membukakan pintu lebih lebar lagi.


“Ada apakah, Mantingan? Tidak seperti biasanya engkau mengunjungiku seperti ini.”


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum berkata, “Daku ingin menyampaikan sesuatu yang lebih baik kusampaikan di dalam, jika engkau mengizinkan.”


Bidadari Sungai Utara mengerutkan dahi. Dirinya mengetahui bahwa apa pun yang akan Mantingan sampaikan, itu adalah hal penting yang saking pentingnya sampai dirahasiakan. Maka membalaslah gadis itu dengan lebih sungguh-sungguh, “Masuklah, Mantingan. Tidak ada siapa-siapa di dalam.”


Setelah dirinya masuk dan pintu kembali ditutup, Mantingan bertanya untuk mencairkan suasana, “Di mana Kina?”


“Dia ada di kamar Kana. Katanya ingin membaca karya sastra milik Kana,” jawab Bidadari Sungai Utara masih dengan raut wajahnya yang bersungguh-sungguh. “Apakah kiranya yang harus engkau sampaikan, Mantingan?”

__ADS_1


Mantingan memberi tanda pada Bidadari Sungai Utara untuk duduk, dirinya pun tanpa disadari telah bersila di atas lantai.


“Apa yang akan kusampaikan bersangkutan dengan pelayaranmu,” berkatalah Mantingan setelah gadis itu terduduk. “Ada perubahan rencana ....”


Mantingan kembali merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Lidahnya kembali terasa seperti terjepit oleh capit besar. Tiada lagi ia mampu berkata.


Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan dengan kerutan di dahinya. “Perubahan rencana seperti apakah, Mantingan?” Namun pemuda itu tidak pula menjawab setelah beberapa lama. Gadis itu kembali bertanya untuk memastikan, “Apakah hari pelayaranku diundur?”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan sambil menarik napas panjang. Membetulkan letak duduknya. Dan berkatalah dia dengan mata setengah terpejam, “Malam ini Sasmita, engkau harus berlayar ke Champa. Malam ini juga.”


Bidadari Sungai Utara tercekat. Bibir mengatup rapat-rapat. Pandangan matanya seketika menjadi hampa, sebelum akhirnya berlinangan. Dapatkah dibayangkan betapa perkataan Mantingan itu telah betul-betul mengejutkan sekaligus menyedihkan baginya?


“Ketua Rama memintamu untuk menyelesaikan semua persiapan siang ini juga. Aku akan membantumu jika kaumau.”


Bidadari Sungai Utara tetap bergeming.


“Kutahu diriku tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Maafkanlah aku, Sasmita.” Mantingan bangkit dari duduknya. Jangan sampai air matanya jatuh di sini! “Jika kaubutuh bantuan panggillah aku di kamar Kana.”


Ketika Mantingan berjalan menjauh, memanggillah Bidadari Sungai Utara dengan suara serak penuh kedukaan. Mantingan menghentikan langkahnya meski sama sekali tidak dikehendakinya.


“Apakah kamu akan tetap bersikukuh untuk tidak ikut bersama kami Champa?”


__


catatan:


Yang lupa like saat crazy up, yok balik dulu.


__ADS_1


__ADS_2