
“Jika aku boleh tahu, Bapak ....”
“Tidaklah perlu banyak bertanya, Mantingan!” Ki Dagar meninggi. “Melihat dari sifatmu, daku tahu betul apa yang akan kau lalukan selepas mendapat jawaban dariku.”
Mantingan terdiam lalu menarik napas panjang. Ucapan itu adalah jawaban mutlak. Mantingan tak memiliki wewenang menanyakannya dua kali. Lagi pula, ia merasa tak akan menggunakan benda yang diberikan Ki Dagar itu. Jadi, untuk apa bertanya hal-hal yang malah membuat pemilik rumah marah?
Istri dari Ki Dagar datang membawa satu nampan panjang yang berisi berbagai hidangan di atasnya. Ki Dagar menerima itu dan menaruhnya di atas meja, sesaat kemudian istri Ki Dagar pergi setelah tersenyum ramah pada Mantingan.
“Mungkin ini jamuan kecil dari kami.” Ki Dagar mempersembahkan. “Aku harap ini cukup untuk membuat lambung besarmu itu kenyang.”
Lambung Mantingan telah terbiasa menahan lapar hampir sepanjang waktu, sehingga ia sebenarnya tak lapar sekarang. Tetapi untuk menghormati Ki Dagar, ia mengambil beberapa hidangan yang ada.
Namun, sesaat kemudian Ki Dagar tertawa kencang. “Tak perlu memaksakan, kutahu kau tak lapar.”
Mantingan dibuatnya serba salah. Ia tetap menyantap hidangan yang terlanjur berada di tangannya itu, kepalang tanggung. Lagi pula Ki Dagar terlihat hanya bergurau saja.
Mereka berbicara beberapa hal lainnya sambil menunggu Rara kembali. Mantingan juga menanyakan jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Kanoman, tetapi ia tak menyebut tujuan dari perjalanannya dan Ki Dagar pun tidak menyinggung soal itu.
Dari Ki Dagar, Mantingan jadi mengetahui bahwa apa yang tertera di peta tidak selalu akurat. Kebanyakan penjelajah yang menciptakan peta memakai kuda sebagai ukuran patokan. Mereka hanya memperkirakan berapa banyak waktu yang ditempuh oleh pejalan kaki. Jika berjalan kaki dari Cikahuripan ini ke Kanoman, maka waktu yang diperlukan kurang lebihnya adalah dua hari.
“Mengapa kau tidak menunggang kuda saja? Kalau tidak ada, kau bisa ambil satu-dua kuda di belakang.”
Mantingan lekas menggeleng. “Memang sahaya sengaja, Bapak.”
Namun, Mantingan tak mengatakan mengapa dirinya mesti berjalan kaki, yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menemukan Kembangmas. Bagaimana bisa Ki Dagar menerima hal itu sebagai tujuan dari suatu perjalan yang penting? Mantingan tidak mau kehilangan dukungan dari Ki Dagar, dan ia tak ingin pula membuat Ki Dagar kecewa pada dirinya.
__ADS_1
“Bapak, Bapak!” Suara Rani memanggil, anak itu tampak bersemangat menuruni tangga. “Bapak, Kak Rara tidak mau turun, malu katanya!”
Ki Dagar tertawa lalu menoleh pada Mantingan. “Lihatlah itu, Mantingan, pastilah dia malu menunjukkan penampilan barunya pada dirimu.”
Mantingan tersenyum canggung, tak tahu harus berkata atau berbuat apa.
“Dia pastilah merasa baju itu agak aneh.” Ki Dagar memelankan suaranya. “Walau sebenarnya baju itu tidaklah jelek. Ia hanya takut jika baju itu tak berkenan di hatimu.”
“Memangnya seperti apa, Ki Dagar?”
“Biar kau lihat sendiri, panggil saja dia.”
Mantingan mengangguk lalu berkata pelan, “Rara, kemari.”
“Suara Kakak terlalu kecil! Biar aku saja yang menyampaikan pesan Kakak pada Kak Rara, kalau dari Kakak pasti mau.”
Tak lama kemudian Rara muncul dari balik kegelapan lorong tangga. Meski begitu gelap, wajahnya masih dapat tampak betapa sedang memerah, disembunyikanlah hal itu dari Mantingan.
Mantingan merasa pakaian yang Rara gunakan sangat cocok untuknya. Tidak ada yang salah. Warnanya abu-abu, mempunyai cekungan besar di leher hingga mendekati dada atasnya membentuk segitiga. Terkesan cukup longgar untuk tubuhnya yang langsing dan kecil. Dan betapa cocok untuk kulitnya yang putih bagai pualam.
“Tidak apa Rara, kau tampak serasi dengan baju itu.” Berkatalah Mantingan dengan senyum mengembang.
Rara yang masih malu-malu itu dipaksa turun oleh Rani. Hingga duduklah dia di samping Mantingan, dengan masih berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Apakah nyaman dikenakan?” tanya Mantingan.
__ADS_1
Rara mengangguk tanpa membalas lebih jauh. Ki Dagar terkekeh pelan, ia kemudian menceritakan bahan yang digunakan untuk pakaian itu serta cara untuk membuatnya secara lengkap dan panjang lebar. Rara diam-diam menyimak cerita itu, Rani duduk di sebelahnya dan menambahkan beberapa pengetahuannya yang bersangkutan. Berangsur-angsur rasa malu Rara hilang, dan menjadi hilang semua ketika Ki Dagar selesai bercerita.
“Bapak, sahaya akan membayar ini ....” Mantingan merasa bahwa pertemuan mereka telah sampai di penghujung, sehingga sepantasnyalah ia harus membayar pakaian yang dikenakan Rara.
“Tidak perlu!”
“Tapi, Bapak ....”
“Mantingan, daku sudah menganggap kunjunganmu ini selayaknya kunjungan mendiang putraku. Maka jangankan sehelai pakaian, seluruh rumah ini bisa kuberi padamu kalau dikau mau. Namun, apakah dikau akan benar-benar mengambil rumah ini?”
Mantingan tertawa. “Tidak akan, Bapak.”
“Baguslah, jangan sampai kau jadi sepertiku ini. Terjebak di rumah. Usia sudsh tua, belum banyak lihat dunia. Paling saja aku pergi ke Negeri Atap Langit, lalu kembali lagi ke Javadvipa, dan kembali lagi ke sana.”
Dahi Mantingan mengerut. Jika dilihat dari rupa tubuh Ki Dagar, maka orang itu bisa termasuk sebagai lelaki muda. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tua?
Ki Dagar lekas menyadari kebingungan di wajah Mantingan maupun Rara. “Tampangku memanglah begini, bisa dibilang awet muda. Tetapi percayalah, usiaku saat ini sudah menginjak lima puluh tahun. Apa tadi kalian tidak melihat istriku yang tampangnya sudah tua?” Ki Dagar tertawa singkat. “Apakah kalian berpikir aku ini pemuda gila yang menikah dengan wanita paruh baya?”
“Bapak!” Rani tampak kesal. “Daku adukan pada ibu nanti!”
“Janganlah, Anakku. Kamu mau Bapak tidur di dipan teras nanti malam?” kata Ki Dagar memelas.
“Tetap akan daku adukan!” Rani melipat tangannya ke depan dan mendengus. Melihat itu, Ki Dagar kembali tertawa dengan suara yang lebih keras.
Mantingan turut tertawa. Tawa Mantingan saat ini adalah tawaan lepas, tawaan yang selama berbulan-bulan lamanya tidak ia raih.
__ADS_1
Pertemuan bukanlah jadi pertemuan tanpa perpisahan. Bagaimana pun, perpisahan tidak bisa dihindari setelah adanya pertemuan. Perpisahan kali ini ditandai saat Rani mulai menguap di tengah bincangan. Mantingan tahu, ini sudah larut malam. Anak Ki Dagar masihlah banyak di dalam, dan sekarang ini adalah waktu tidur bagi mereka. Maka dari itu, Mantingan lekas berdiri dan berpamitan. Ki Dagar juga tak berniat menahannya, tetapi jelas di sorot mata lelaki setengah baya itu bahwa dirinya masih menginginkan kehadiran Mantingan lebih lama lagi. Mantingan dan Rara keluar rumah setelah selesai berpamitan, senyum masih menempel di bibir mereka. Tadi itu pertemuan yang hebat!