
SAAT serangan itu di depan mata, Mantingan memang tidak bisa menghindar dengan cara yang sama lagi. Akan tetapi ia memiliki ratusan cara menghindar lainnya.
Mantingan menekuk dua lututnya sembilan puluh derajat, sehingga tubuhnya seperti tidur di udara, dengan kaki yang masih menginjak bumi. Bidadari Sungai Utara lewat begitu saja di atasnya, tentu saja, dengan mata yang membeliak.
Setelah itu, Mantingan kembali berdiri tegap. Ia hanya perlu mengerahkan satu tangannya untuk menangkap cangkir yang meluncur di sampingnya. Teh di dalam cangkir itu tidak sama sekali berkurang walau telah dilempar ke udara sekalipun.
Bahkan untuk melempar cangkir, Mantingan memiliki cara khusus agar lemparannya seimbang.
Sedang Bidadari Sungai Utara baru saja selesai mendarat. Dadanya naik turun, napasnya terengah-engah. Bukan karena serangannya yang menguras tenaga, tetapi lebih karena semua serangannya dapat dihindari Mantingan tanpa menggerakkan tangan sedikitpun dari belakang punggung.
“Dalam menyerang, yang harus kita pertimbangkan adalah waktu dan ketepatan.” Mantingan berujar pelan. “Dalam tekanan, yang harus kita pertimbangkan adalah waktu dan ketepatan.”
Bidadari Sungai Utara tidak berani menunjukkan wajahnya di depan Mantingan. Ia terlampau malu. Jika dibolehkan, yang ia inginkan sekarang hanyalah menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya. Bagaimana mungkin seluruh serangan itu dapat dihindari Mantingan tanpa merasa kesulitan sedikitpun?
“Kesalahan bukanlah masalah, sebab ini masih latihan, tapi kalau dalam pertarungan sesungguhnya, kesalahan bisa berarti kematian. Dengan semakin banyak kau menghadapi masalah dan kesalahan di waktu pelatihan, maka kau akan mudah menghadapi hal serupa di situasi nyata.”
Bidadari Sungai Utara tetap saja tidak bisa mengatasi rasa malunya. Ia hanya berkata tanpa menghadap kepada Mantingan. “Bolehkah aku pergi?”
Mantingan hanya mengangguk. Bidadari rawa tidak juga beranjak dari tempatnya. Tentu saja, bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Mantingan mengangguk sedang dirinya menghadap ke tempat yang lain?
“Bagaimana kau bisa tahu apa yang lawan lakukan jika kau tidak berani menatapnya?” Mantingan berkata pelan. Sungguh pelan suaranya, tetapi dapat terdengar jelas di telinga gadis itu, seolah-olah Mantingan berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara menghirup udara dalam-dalam. Setelah keberaniannya terkumpul, perlahan-lahan ia berbalik. Matanya malu-malu menghadap pada pemuda yang berhasil menghindari semua serangannya
Pemuda itu terlihat mengangguk. Tidak ada lagi yang menahan Bidadari Sungai Utara berlari masuk ke dalam penginapan sambil menenteng pedangnya.
Mantingan kembali menghadap ke arah dua gunung, merenungkan latihan bagus seperti apa untuk hari esok.
“Ah, sepertinya latihan yang sama saja. Dia terlihat menyukainya ....”
***
Malam itu. Kondisi penginapan tidak bisa dikatakan sepi semenjak rombongan pedagang menyewa banyak kamar di dalamnya. Beragam suara yang bisa Mantingan dengar dari kamar sendiri, jika ia pergunakan ilmu pendengaran tajam. Mulai dari setiap obrolan prajurit bayaran tentang situasi Sunda kekinian, hingga suara di dalam kamar saudagar.
Sungguh Mantingan tidak mau mendengar suara di dalam kamar saudagar. Ia menganggap itu tidak sopan, dan tentu saja, membuatnya mual. Mantingan hanya ingin mendengar percakapan antar-prajurit bayaran. Itu berharga, karena kabar tentang seperti apa situasi hari ini sangat menentukan apa yang harus Mantingan lakukan di hari esok. Maka terpaksa Mantingan dengar semua suara yang dapat ia dengar.
“Ya, ya. Aku dengar memang ada pergerakan hingga ratusan pendekar aliran hitam ke wilayah barat untuk menempati wilayah selain Sundapura.”
“Entah apakah aku harus bersyukur atau mengatai mereka tidak cerdas. Kekuatan yang terpecah adalah kelemahan terbesar.”
“Astaga, perut bulatmu selalu lucu, seperti biasanya.”
Mantingan menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir suara yang hinggap di telinganya itu, kembali ia memusatkan pada percakapan prajuritnya saja. Dan semoga hanya prajuritnya saja.
__ADS_1
“Taruma katanya bangkit. Mereka tidak gengsi meminta bantuan pada perguruan-perguruan putih untuk membantunya. Bahkan ada yang mengatakan Tarumanagara menjalin hubungan mesra dengan Perguruan Angin Putih.”
“Apa? Perguruan Angin Putih?!”
Mantingan sama terkejutnya seperti mereka. Sungguh ia tidak menyangka Perguruan Angin Putih akan disebut-sebut dalam percakapan. Bahkan kabar yang mereka bawa bukanlah kabar buruk. Bukankah dengan ‘hubungan mesra’ itu, Perguruan Angin Putih bisa lebih leluasa menyebarkan kebaikan di Negeri Taruma ini? Sungguh itu kabar yang sangat baik, Mantingan senang mendengarnya.
“Benar. Tetapi ada perguruan-perguruan lain yang tidak setuju dengan bangkitnya kembali Perguruan Angin Putih di Negeri Taruma. Perguruan Tombak Api tidak main-main dalam penolakan itu. Saat petinggi Perguruan Angin Putih sedang melakukan kunjungan, ada anggota dari Perguruan Tombak Api yang menenteng batu ke arahnya, untungnya orang itu bisa dicegat tepat waktu.”
“Jadi sepertinya, engkau sendiri berpihak pada Perguruan Angin Putih?”
“Harus kuakui. Ya. Memang benar. Mereka bukan perguruan laknat seperti apa yang biasa dikatakan orang lain. Ajaran mereka dapat memuaskan dahagaku yang haus akan ilmu kebenaran sejati. Mereka dapat menjelaskan kebenaran dengan nyata, tidak muluk-muluk seperti dongeng semata. Apa yang mereka ajarkan bisa diterapkan di dalam dunia nyata, bukan di dalam kehidupan sesudah mati yang kita sendiri tidak mengetahuinya ada atau tidak.”
Mereka terdiam beberapa saat. Kesunyian itu diisi oleh suara-suara lain yang Mantingan tidak akan pernah berani menuliskan suara yang didengar ke dalam kisahnya.
“Ya, aku dengar juga begitu. Aku sendiri mendapatkan sedikit ajaran dari salah seorang anggota dari mereka. Sayang sekali saat aku ingin mendengarkan lebih jauh lagi, tugas sudah menanti, lalu di sinilah aku sekarang, sedang bertugas. Tetapi ada satu pertanyaan dalam lubuk pikiranku yang mengganjal dan belum sempat terjawab ....”
“Apakah itu?”
“Mereka tidak menjelaskan tentang kehidupan sesudah mati. Mereka hanya mengatakan bahwa kehidupan setelah mati memang ada, tetapi sungguh tidak menjelaskan seperti apa bentuknya.”
“Belum ada manusia yang mati lalu bangkit dari kuburannya, dan menceritakan alam sesudah kematian. Itu masih diselimuti kabut misteri. Mungkin memang seperti itulah cara Sang Hyang, agar manusia tidak takut mati, malah merindukannya.”
__ADS_1
Obrolan yang selanjutnya tidak lagi Mantingan dengarkan, mereka mulai masuk pada pembahasan tentang keluarganya di rumah. Bukannya Mantingan menganggap percakapan itu tidak berharga—seluruh kisah berharga, tetapi suara lainnya terlalu mengganggu sehingga Mantingan memutuskan untuk berhenti menguping.
Tetapi saat ia hendak menarik kembali pendengaran tajamnya, Mantingan mendengar Bidadari Sungai Utara bercakap-cakap di kamarnya. Mantingan merasa sangat perlu mendengarnya, pada siapa gadis itu berbicara sangguhlah penting.