
CHITRA Anggini mengembuskan napas panjang. Meskipun kali ini dirinya tidak sependapat dengan Mantingan, tetapi perempuan itu merasa tidak berhak membantah. Lebih-lebih, dirinya memang berkewajiban untuk menyampaikan hal itu kepada Mantingan, sesuai dengan permintaan Bidadari Sungai Utara.
Chitra Anggini membetulkan bentuk duduk sebelum mulai berkisah.
“Bidadari Sungai Utara, atau yang bernama asli Pham Lien itu bercerita banyak kepadaku. Seperti yang telah kau ketahui, dia adalah putri dari Raja Champa. Entah bagaimana kau bisa mengetahuinya, tetapi kau tidak terkejut saat kuungkapkan kebenaran itu
untuk pertama kalinya di Lembah Balian senja itu.
“Lien—begitulah aku memanggilnya—mengungkapkan tentang jati dirinya sebagai Putri Champa kepadaku. Ketika kau telah tidur begitu pulas, sebelumnya kautertidur di pelukannya.”
“Di pelukannya?” Mantingan mengernyitkan dahi, terpaksa memotong. Suaranya masih terdengar lemah.
Chitra Anggini balas mengangguk pasti. “Apakah kau masih ingat sewaktu Bidadari Sungai Utara memberimu tenaga prana hingga kamu terlelap dengan sepulas-pulasnya? Di sanalah tanpa sadar, kau memeluk Bidadari Sungai, memaksa gadis malang itu untuk tidur bersamamu.”
Wajah Mantingan bersemu merah. Tidak salah jika sewaktu itu ia merasa berada di dalam buaian yang begitu menghanyutkan, pelukan yang menghangatkan. Rupa-rupanya, dirinya memang sedang berada dalam dekapan Bidadari Sungai Utara. “Tetapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
Chitra Anggini tersenyum tipis sebelum menjawab, “Sudah kubilang, dia bercerita banyak kepadaku.”
Mantingan menarik napas panjang. Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak menceritakan hal ini kepadanya. Namun, itu tidak menjadi masalah besar. “Lanjutkanlah, Chitra.”
__ADS_1
Maka begitulah Chitra Anggini meneruskan peceritaannya. Kalimat demi kalimat meluncur dengan begitu lugas dari mulut perempuan itu, bagaikan rintik hujan yang pula deras di luar tenda.
“Setelah mengungkapkan jati dirinya kepadaku tetapi tidak kepadamu, tentu saja aku mempertanyakan hal itu. Dan Lien menjawab dengan panjang lebar, begini katanya:
“‘Daku tidak ingin dia memandangku dengan sedemikian tingginya. Daku ingin dia tetap memandangku sebagaimana mestinya; sebagaimana Sasmita menyebalkan yang dia kenal. Kepada Ketua Rama, daku telah berkata untuk tidak menyinggung soal jati diriku pada Mantingan. Daku juga berharap Mantingan tidak mengetahui hal ini dari orang lain, melainkan darimu, daku takut dia akan kecewa padaku jika mengetahuinya dari orang lain.’
“Saat itu, aku dan Lien tertawa kecil. Tawaan yang ringan dan lepas. Tetapi sekarang, aku ketahui betapa dalam perkataan itu. Dia ingin kau selalu menyayanginya. Dia ingin kau tidak berubah sikap terhadapnya. Sebab betapa pun, segala-galanya tidak akan sama lagi setelah kautahu bahwa dia adalah putri dari Raja Champa. Kau akan mulai berpikir bahwa menyayangi Lien hanya akan sia-sia saja, sebab kau tidak bisa berharap mendapatkannya.”
Mantingan kembali menarik napas panjang-panjang. Biarlah. Biarlah Mantingan terlelap dalam percintaannya yang menyedihkan ini. Biarlah Pahlawan Man yang gagah perkasa ketika membantai musuh-musuhnya itu menjadi lemah untuk malam ini. Biarlah ia untuk sementara melupakan jati dirinya sebagai pendekar. Bukankah segala hal tentang cinta dianggap tabu di dunia persilatan?
“Tahukah dikau, Mantingan? Lien tidak pernah mencintai calon pasangannya, dan dia bersumpah kepadaku untuk tidak pernah mencintai pria lain selain dirimu, sampai kapan pun jua. Dia pergi ke Javadvipa secara diam-diam bersama beberapa pengawal yang telah bersumpah setia padanya, untuk mencari cinta sejati yang banyak diperbincangkan dayang-dayang istana.”
“Perjalanan itu terlalu terburu-buru, dia tidak sempat mempersiapkan banyak hal untuk menghadapi berbagai macam kemungkinan terburuk. Lima bulan lamanya dia terombang-ambing. Selanjutnya, mungkin kau sudah mengetahui bahwa Lien mengalami nasib yang nahas setibanya di Javadvipa. Akibat dari kecantikannya, Lien diburu oleh para perompak di pesisir pantai kala itu. Seluruh pengawalnya bukanlah pendekar, sebab mereka memang dilarang menapaki jalur persilatan meski setengah jengkal saja. Beruntunglah, Lien masih bisa selamat, berkat pengorbanan para pengawalnya yang setia.
“Lien memutuskan untuk mengenakan cadar dan pakaian tertutup. Menetap di sebuah penginapan yang cukup besar. Penginapan itu dijaga oleh beberapa pendekar.”
Tanpa perlu disebutkan nama penginapan itu oleh Chitra Anggini sekalipun, Mantingan telah mengetahuinya. Penginapan itu menjadi tempat dirinya dan Bidadari Sungai Utara dipertemukan. Bagaikan takdir yang tidak disengaja. Itulah Penginapan Purnama Merah, yang sungguh tiada akan Mantingan lupakan namanya.
“Itulah saat pertama kali dikau dengan Lien bertemu, bukan?”
__ADS_1
Mantingan hanya mengangguk. Dadanya terlalu sesak. Tidak dapat menjawab.
“Lien mengatakan kepadaku bahwa ketika bertemu denganmu, mimpi-mimpinya terwujud semua.”
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan pandangan datar. Apa mimpi, yang dalam artian keinginan besar dalam hidup, milik Bidadari Sungai Utara?
“Dia selalu memimpikan petualangan hebat bersama seorang pangeran tampan. Itu adalah mimpinya sedari masa kecil, yang entah mengapa terus bertahan hingga bahkan dia menginjak usia dewasa sekalipun. Sebagai putri raja yang selalu mesti berada di dalam istana dengan segenap aturan ketatnya, mimpi Lien terkesan terlalu mustahil untuk dapat terwujud. Tetapi Lien selalu percaya, bahwa mimpi itu masih memiliki harapan. Lien yakin, dirinya akan menjalani hidup laksana dongeng-dongeng yang pernah diceritakan oleh juru hikayat istana. Dan kau berhasil mewujudkannya, Mantingan, kau berhasil, meski Lien berkata bahwa tampang wajahmu lebih mirip pangeran kodok.”
Mantingan tertawa perlahan. Tidak. Itu bukan tawa lepas. Sama sekali tidak. Dengarlah, suaranya bagai sedang mengangkut beban yang teramat berat, bagai tiada lagi yang lebih berat ketimbang suaranya itu.
Chitra Anggini tidak tertawa. Sama sekali tidak. Perempuan itu sedih menatap wajah Mantingan. Duhai, lihatlah betapa wajah yang biasanya hangat dan melindungi itu menjadi tampak begitu getir dan lemah!
“Bersamamu, Lien merasakan bahwa petualangan yang sesungguhnya sedikit jauh dari dongeng-dongeng yang dikisahkan oleh juru hikayat. Jika di dalam dongeng dikisahkan bahwa pangeran dengan gagah berani menerobos semak belukar dengan mengayunkan pedangnya, maka di dunia nyata tidaklah begitu, hanya orang bodoh yang menggunakan pedang andalannya untuk menerobos semak belukar sebab betapa pun hal itu hanya akan membuat pedang menjadi cepat berkarat. Pula dengan matahari yang teramat sangat menyengat. Belum lagi dengan lumpur-lumpur jalanan.
“Namun kepadaku, Lien berkata, ‘Itu semua sangat jauh dari kata nyaman. Tetapi melewatinya bersama Mantingan, entah mengapa daku merasa segala ketidaknyamanan itu telah terbayar tuntas. Dia lebih banyak diam, tetapi daku bisa banyak belajar dari keterdiamannya’.”
Mantingan sekali lagi menarik napas panjang. Kiranyakah apa yang disampaikan Chitra Anggini adalah sebenar-benarnya yang dikatakan oleh Bidadari Sungai Utara?
__ADS_1