Sang Musafir

Sang Musafir
Pandangan Nenek Genih


__ADS_3

MANTINGAN MENGGELENG pelan. Tidak setuju. Bukankah Nenek Genih ini telah menyesali perbuatannya? Setidaknya dia tidak sampai tersesat sampai sejauh-jauhnya. Masih ada jalan untuk Nenek Genih kembali jika memiliki keinginan. Namun, kembali setelah tersesat cukup jauh bukanlah suatu perkara yang mudah diselesaikan. Terlebih usia senja Nenek Genih dapat menjadi malam kapan saja.


Mungkin memang seperti inilah penyesalan. Hanya bisa meratap tanpa bisa berbuat banyak. Munculnya memang selalu di akhiran sebuah kisah, saat seseorang menyadari apa yang ia pernah perbuat sebenarnya telah melenceng jauh.


Walau banyak orang yang berkata tidak ada kata terlambat untuk berubah, tetapi nyatanya berbeda jika dihadapi langsung di kehidupan nyata. Nenek Genih sulit untuk menyamai nilai orang yang telah berbuat baik sedari muda, tetapi setidaknya ia bisa berbuat sedikit kebaikan sebelum usianya habis.


Maka bertanyalah Mantingan, “Lalu, apa yang Nenek lakukan dengan tinggal di sini?"


“Aku bersembunyi, menghindari lawan-lawan yang mencariku. Di tempat ini, aku bisa mengurangi jatah membunuhku.”


Mantingan mengangguk pelan, lalu menghela napas singkat. “Maaf jika aku bertanya ini, Nenek, tetapi apakah Nenek tidak berniat untuk berubah?”


Nenek Genih bersikap biasa saja walau telah mendengar pertanyaan Mantingan. Berjalan tenang dengan tangan terlipat ke belakang. Senyumnya masih mengembang, begitu pula dengan matanya yang masih memancarkan sinar hangat penuh kasih sayang.


“Anak Man, aku ingin berubah, aku ingin keluar dan memperbaiki apa yang bisa kuperbaiki. Namun kau tahu Anak Man, itu tidak mudah.”


“Memang tidak mudah, Nenek, tetapi setidaknya Nenek bisa melakukan itu. Walau sedikit saja, pasti akan berarti.”


“Bagaimana jika tiba-tiba aku mati, Mantingan?”


Nenek Genih menatap Mantingan penuh tanda tanya. Ia tidak menutupi betapa kerdil sosoknya. Betapa sikapnya bukanlah sikap bijak seperti orang lanjut usia pada umumnya. Nenek Genih menunjukkan diri apa adanya, sebagai seorang yang membutuhkan petunjuk, sebagai seorang yang ingin merubah jalan hidupnya.

__ADS_1


Mantingan sebenarnya tidak enak jika harus menceramahi perempuan tua seperti Nenek Genih. Seharusnya, Nenek Genih-lah yang memberinya ceramah tentang arti hidup. Tetapi Mantingan tidak pernah keberatan untuk membagi ilmunya, maka ia tetap menjelaskan dengan cara halus pada Nenek Genih.


“Nenek, manusia yang hidup pada akhirnya tetap bermuara pada kematian. Jika manusia hendak mencari kesempurnaan sampai dirinya mati, maka kematian adalah kesempurnaan. Banyak manusia yang mati di usia senja, tidak jarang juga yang mati di usia muda. Namun, manusia adalah makhluk yang diperhitungkan atas apa yang telah ia perbuat semasa hidupnya. Seorang raja yang mati akan ditangisi banyak rakyatnya jika semasa hidup dirinya berbuat kebaikan besar. Pahlawan yang mati dan jasadnya tidak ditemukan, akan tetapi akan selalu dikenang adalah kebaikan besar yang telah ia perbuat. Tidak peduli di mana jasad pahlawan itu."


Mantingan berhenti menjelaskan. Ia tidak akan menceramahi Nenek Genih tentang apa yang harus diperbuat olehnya. Perempuan tua itu akan mengetahui dengan sendirinya.


Masih di pagi cerah itu. Saat daun-daun berguguran tersapu angin yang semakin menguat, dan saat mega-mega bergerak cepat di atas langit. Burung-burung hutan berkicauan tanpa Mantingan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Keduanya masih terus berjalan tenang, meresapi pemandangan alam, berharap bisa menemukan makna hidup di dalamnya.


Kiai Guru Kedai pernah berkata, bahwa alam ada cermin dari aturan hidup. Apa yang ada di alam adalah aturan hidup. Karena Gusti mencerminkan dirinya pada alam semesta. Menghayati alam dapat membuat seseorang mendapati makna hidup yang mendalam. Bahkan tidak jarang pendekar menciptakan jurus yang cara kerjanya dikutip dari isi alam semesta.


“Pasti akan kulakukan yang terbaik dariku, Mantingan. Kau adalah pendekar yang mengerti tentang arti sebuah kependekaran sejati, tetapi aku menemukan suatu kekurangan dalam dirimu, Anak Man.” Nenek Genih tersenyum penuh arti.


“Apa itu, Nenek Genih?”


Saat itu juga Mantingan tersedak ludahnya sendiri.


***


WAKTUNYA PERPISAHAN. Tiada pertemuan tanpa perpisahan, maka ini adalah waktu Mantingan dan Bidadari Sungai Utara untuk berpisah dengan Nenek Genih. Di suatu pagi yang cerah namun dingin itu. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berdiri berdampingan menghadap pada Nenek Genih.


Mantingan tersenyum hangat. “Nenek Genih, engkau perempuan yang sungguh baik hati telah memberi kami tumpangan hidup. Sungguh, aku tidak akan lupa kebaikan Nenek. Adanya kebaikan Nenek ini pantas kami bayar dengan apa?”

__ADS_1


“Apalah kau ini, Anak Man. Aku bukan orang yang menuntut bayaran. Tidak perlu terlalu serius seperti itu padaku.”


Senyum Mantingan semakin melebar. “Kalau begitu, Nenek, sungguh kau adalah perempuan yang baik hati. Maafkanlah karena sepertinya tidak ada barangku yang cukup untuk membayar kebaikanmu.”


Nenek Genih terkekeh. “Terus berbuat kebaikan, Anak Man, itu adalah bayaran yang lebih dari cukup.”


Mantingan mengangguk pelan dengan masih mempertahankan senyumnya. Ia mengerti perkataan Nenek Genih bukanlah perkataan sembarang. Betapapun Nenek Genih telah menyelamatkan hidup Mantingan, jika saja Mantingan berbuat baik maka Nenek Genih adalah orang yang turut berperan dalam hal itu.


“Nenek, bagaimana aku bisa meninggalkanmu?” Kini giliran Bidadari Sungai Utara yang berkata, kali ini dengan nada suara yang sangat sedih. “Nenek selalu memberiku nasihat. Esok tidak akan. Kalau aku pergi maka tidak ada lagi nasihat yang aku terima. Bagaimana aku bisa mengurus hidupku sendiri kedepannya?”


“Ah, kau masih saja takut seperti itu, Sungai!” Nenek Genih pura-pura memaki. “Aku sering menasihatimu agar kau berdikari! Berdiri di atas kaki sendiri! Kalau kau masih seperti ini, maka rasa-rasanya semua nasihatku hanya sia-sia belaka, aduhai ....”


“Nenek jangan berkata seperti itu!” Bidadari Sungai Utara berseru panik. “Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk berdiri dengan kakiku sendiri, sehingga Mantingan tidak perlu menggendongku lagi seperti waktu itu."


Mantingan terbatuk beberapa kali dan menggeleng pelan pada Bidadari Sungai Utara, seolah memberi isyarat untuk tidak membicarakan hal itu buay selama-lamanya.


Namun betapapun Nenek Genih telah terlanjur mendengarnya. “Kalian ini sebenarnya cocok. Bidadari Sungai Utara, pendekar dari Champa yang cantiknya bagai bidadari kayangan, dan Mantingan yang tidak terlalu tampan tetapi kedewasaan sikap yang luar biasa. Kalian bisa saling melengkapi satu sama lain. Usia kalian juga sudah matang.”


“Nenek, Bidadari Sungai Utara sudah memiliki kekasih di Champa.” Mantingan berkata pelan setelah berhasil mengatur napasnya agar tadi tidak tersedak.


Sedangkan Bidadari Sungai Utara tidak terlihat menanggapi apa pun selain mengangkat alisnya ke atas. Nenek Genih yang melihat sikap dua muda-mudi itu lantas berdeham dan mengubah arah pembicaraan.

__ADS_1


“Jika boleh aku bertanya, ke manakah kalian akan pergi?”


__ADS_2