Sang Musafir

Sang Musafir
Kedai Makan Kota


__ADS_3

RUANGAN KECIl tetapi teramat indah itu sunyi barang sesaat, sebelum akhirnya Mantingan membuyarkan sunyi dengan mengajukan pertanyaan sebagai awal sebelum memaparkan penjelasan. “Nyai, apakah masih ada orang lain di ruangan ini selain kita bertiga?”


Dara menggelengkan kepalanya. “Hanya kita bertiga sahaja. Ini adalah ruangan yang tertanam di bawah tanah, kupastikan tidak ada orang lain di sini maupun orang yang berusaha menguping.”


Mantingan mengangguk sebelum meneruskan, “Bidadari Sungai Utara, dan rombongan permaisuri harus segera tiba Perguruan Angin Putih. Tetapi aku tidak perlu bergerak terlalu cepat untuk tiba di sana. Aku dan Kana akan mengecoh orang-orang yang berusaha menguntit kami dengan bergerak ke arah lain tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu Perguruan Angin Putih, hingga akhirnya Bidadari Sungai Utara dan permaisuri tiba di Perguruan Angin Putih. Itulah rencanaku, Nyai.”


“Bukankah itu terlalu berbahaya untuk dirimu dan Kana, Mantingan?”


Mantingan hendak menjawab, tetapi Kana secara tiba-tiba memotongnya. “Kakak jangan meragukan Kakanda Man, dirinya mampu menumpas lebih dari seribu pendekar seorang diri!”


Dara terdiam beberapa saat sebelum menepuk dahinya dan tertawa lepas. “Aku hampir saja lupa soal itu. Pahlawan Man telah menghancurkan Perkumpulan Pengemis Laut dengan menumpas lebih dari dua ribu pendekar aliran hitam seorang diri saja, bukan? Bagaimana bisa aku meragukan kemampuannyaa.”


Mantingan hanya bisa terdiam dan tersenyum samar menanggapi itu. Ia masih tidak senang jika hal itu diungkit kembali.


“Baiklah, Mantingan,” kata Dara setelah dirinya kembali bersungguh-sungguh. “Diriku mendapatkan kabar bahwa Padepokan Angin Putih juga ada di kota ini. Akan kukirimkan anak buahku untuk mengabari persoalan ini kepada padepokan itu. Kusertakan pula beberapa pengawal terpercaya untuk melindungi rombongan kalian ke Perguruan Angin Putih. Apakah itu cukup untuk menggantikan kehadiran dirimu di rombongan itu?”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Itu lebih dari cukup, Nyai. Terima kasih banyak. Dan agaknya, diriku dan Kana harus selekas mungkin pergi dari sini. Masih banyak barang yang perlu aku beli sebelum malam tiba. Sekali lagi, terima kasih banyak atas segala bantuan dan perhatianmu.”


“Tetap duduk di tempatmu, Mantingan.” Dara berkata dengan cepat, seolah Mantingan akan menghilang untuk selama-lamanya jika beranjak kursinya. “Katakan kepadaku, barang apa saja yang hendak kaubeli?”


Mantingan mengeluarkan selembar lontar berisi senarai belanjaannya. Baru saja ia hendak membacakannya, tangan Dara telah lebih dahulu memapas lontar tersebut dari tangan Mantingan.


“Apakah ini sudah semuanya?” Dara berkata setelah selesai membaca lontar berisi senarai itu.


“Ya.” Mantingan mengangguk.


“Urusan mudah sekali, akan kuminta anak buahku untuk membelikan semua barang ini. Sedangkan dirimu dan Kana, ikutlah denganku ke kedai makan kota. Dari yang kudengar, makanan di kedai itu selalu sedap.”

__ADS_1


“Tidak, tidak.” Mantingan segera menolak. “Itu terlalu merepotkan Nyai.”


“Aku tidak biasa menerima penolakan, maka dirimu juga tidak bisa menolak. Marilah bergegas sekarang juga, ini sudah waktunya makan siang.”


Dara beranjak berdiri dan cepat-cepat menarik lengan Mantingan menuju pintu keluar ruangan. Sedangkan itu, Kana menghela napas panjang. Sejenak anak itu bergumam pada kursi kosong di sebelahnya yang tadi sama sekali tidak diduduki , “Di ruangan ini, aku diperlakukan sama seperti dirimu.”


***


SIANG ITU. Di kedai makan kota yang ternyata bernama Purnama Merah, Mantingan, Kana, dan Dara duduk di belakang meja ruang yang sama sambil menyantap hidangan berupa ayam dan ikan bakar.


Kana dan Dara makan dengan lahap, sedangkan Mantingan hampir tidak menyentuh hidangan itu sama sekali. Makannya amat sangat lamban. Bagaimana tidak? Dua pengawal Dara berbadan besar terus saja menatapnya tajam-tajam. Seolah saja, Mantingan adalah musuh di depan mata yang dapat bergerak kapan saja untuk membunuh Dara jika muncul kesempatan.


Mantingan bukannya takut pada mereka. Bukan itu. Ia justru merasa bahwa kedua pengawal itu sedang kelaparan dan hanya bisa memandangi hidangan di piringnya. Itu membuatnya kehilangan rasa lapar.


“Mengapakah dirimu tampak tidak bersemangat, Mantingan?” Dara bertanya di sela-sela makannya. “Apakah hidangan ini terasa tidak enak?”


“Tidak lapar? Lihatlah Kana dan diriku, kami masih makan dengan sangat lahap meski telah menghabiskan banyak hidangan hingga perut kami terisi penuh, tetapi tetap saja lapar. Bukankah alasanmu itu sama sekali tidak berlandaskan sesuatu, Mantingan?”


Mantingan hanya tersenyum dan menyuap hidangan yang berupa ayam bakar beroleskan madu. Mantingan mengangkat alis. Baginya, ayam bakar beroles madu yang disantapnya ini sama sekali tidak akan seberapa jika dibandingkan dengan buatan Bidadari Sungai Utara. Meskipun begitu, ayam bakar ini masih tergolong di atas rata-rata kenikmatannya.


Tak begitu lengah meskipun sedang menyantap hidangan, Mantingan menurunkan kepalanya manakala sebuah pisau terbang menyasar kepalanya itu dari arah samping. Walhasil, pisau tersebut hanya melesat di atasnya sebelum menancap di langit-langit kedai.


Mantingan menegakkan kembali tubuhnya. Dilihatnya ke sekitar untuk mencari siapakah yang telah mengirimnya sebuah pisau terbang dengan kecepatan dan ketepatan begitu tinggi itu. Namun, ia tidak menemukan seorangpun dengan gelagat aneh di sekitarnya. Semua berjalan seolah pisau terbang itu tidak pernah melintas sedemikian cepatnya dan mampu membunuh siapapun dalam seketika.


Barulah Mantingan sadari bahwa selain cepat dan tepat, pisau terbang itu juga sangat senyap. Tiada suara yang ditimbulkannya saat membentur atap-atap ruangan. Sudah sewajarnya jikalau manusia awam tidak menyadari keberadaan pisau itu sampai sekarang.


Mantingan beranjak berdiri dari kursinya. Tak menghiraukan Dara yang bertanya-tanya di belakangnya. Dengan sekali lompat, diambilnya pisau terbang yang menancap di langit-langit tersebut. Barulah di sana Dara beserta dua pengawalnya menyadari bahwa Mantingan baru saja diserang!

__ADS_1


Mantingan memperhatikan pisau terbang tersebut yang ternyata pada gagangnya terdapat segulung kain yang diikatkan. Mantingan melepas ikatannya sebelum membuka kain tersebut. Ditemukanlah aksara-aksara yang ditulis menggunakan cairan tinta.


Daku menunggumu di bukit yang memiliki tiga puncak


malam ini bertarunglah hidup-mati dengan diriku


hanya daku seorang yang mengetahui


bahwa dikau membawa serta Bidadari Sungai Utara dan Sri Prameswari


Nyatanya, di dalam gulungan kain itu terdapat pula gulungan yang lain. Dengan tenang, Mantingan membuka dan membacanya.


Daku tidak memberi kabar itu pada siapa pun jua


Sekadar ingin bertarung dengan dikau


Sebab kutahu bahwa mati di tangan seorang pahlawan


Jauh lebih baik untukku


Mantingan mengembuskan napas panjang. Betapa di balik kata-kata ramah pada surat itu, terdapat ancaman yang cukup mengerikan. Jika di tempat ini si penulis surat itu merupakan orang luar satu-satunya yang mengetahui bahwa Bidadari Sungai Utara dan permaisuri bersama Mantingan, maka itu bisa berbahaya jika terbesar.


Di kota perbatasan seperti ini, bukan tidak mungkin terdapat jaringan bawah tanah yang akan langsung bergerak begitu mendengar kabar tersebut.


Lebih-lebih, keahlian si penulis surat ini jelaslah bukan sembarang keahlian. Melempar pisau terbang secara cepat, tepat, dan senyap, pendekar seperti apakah yang mampu melakukan hal itu?


Mantingan kembali ke tempat duduknya sambil memijat kepalanya yang mulai terasa pening.

__ADS_1



__ADS_2