Sang Musafir

Sang Musafir
Sambara


__ADS_3

Mantingan terhempas kuat jauh ke belakang, hampir membentur sebuah pohon jika saja dirinya tidak mengentak kaki hingga melayang ke atas pohon itu. Sungguh serangan itu cukup menyakitkan. Mantingan melayang turun, menyentuh tanah kembali. Serangan tidak lagi datang. Pendekar yang sedari tadi menyerangnya itu, kini menampakkan diri dari balik pohon, dengan senyuman. Aneh. Mantingan tidak melepas kewaspadaannya.


“Maaf, agaknya daku salah menilai dikau. Mengapa sedari tadi engkau tidak melawan?”


Mantingan melepas waspada, berusaha membalas senyum. “Karena dikau belum cukup membahayakan nyawaku, maka belum cukup alasanku untuk menyerang dikau.”


Pendekar itu menganggukkan kepala. “Namaku Sambara, daku adalah pendekar yang menumpang hidup di kampung ini untuk beberapa waktu ke depan, sehingga sudah kewajibanku untuk menjaga kampung ini. Bicara-bicara, bagaimana bisa dikau mempelajari ilmu silat hitam tanpa menjadi orang sesat? Sikapmu beda sekali dengan pendekar-pendekar aliran hitam biasanya.”


Mantingan tersenyum canggung, entah bagaimana bisa ia menjelaskannya.


Melihat senyum Mantingan itu, Sambara tidak memaksa Mantingan menjawab lagi. Asalkan Mantingan bukan pendekar berbahaya di desa ini, maka ia tidak masalah menerimanya, bahkan kini ada niatannya untuk menyambut Mantingan.


“Pastilah cara apa pun yang dikau lalui sangatlah berat, biarlah dikau sendiri yang mengetahuinya,” kata Sambara. “Pendekar asing, sudikah daku menjamu dikau di kediamanku? Karena tadi jelas daku sudah memberantakkan makanan engkau.”


Mantingan berpikir sejenak, lalu berkata, “Tawaran dikau sangatlah aku hargai, tetapi saat ini aku ingin mencari kabar keluar desa, sudah lama diriku tidak mendengar kabar.”


“Engkau cukup aneh. Berpakaian seperti pengembara, tetapi tidak mengetahui kabar.” Perkataan Sambara itu membuat Mantingan tersenyum canggung. “Biarlah daku menjamu dikau sembari kuceritakan kabar Taruma kekinian.”


Mantingan tersenyum. “Sepertinya daku akan merepotkanmu.”


“Tidak apalah, ayo ikuti daku.”


Sambara melesat, Mantingan pula melesat, mengikutinya dari belakang dengan kecepatan yang hampir sama.


Rumah Sambara terletak dan menyatu dengan rumah penduduk desa lainnya. Wujud rumahnya juga sama dengan rumah-rumah lainnya, tetapi di kediaman Sambara ini tidak terdapat banyak barang. Mantingan masuk setelah Sambara mempersilakannya masuk.

__ADS_1


“Inilah tempat tinggalku untuk sementara, setidaknya sampai pergejolakan di Taruma selesai,” tutur Sambara, dibalas Mantingan dengan anggukan. “Silakan duduk, maaf tidak ada kursi.”


Mantingan duduk bersila di atas lantai kayu, sedangkan Sambara baru saja pergi, hendak mengambil makanan untuk disajikan pada Mantingan. Tak lama Sambara kembali, dengan membawa banyak sekali makanan yang didesain disajikan di depan Mantingan.


“Kebetulan daku belum sarapan, maaf sekali jika daku turut makan bersama tamu.” Sambara berkata malu-malu.


“Tidak mengapa, aku lebih senang jika dikau ikut makan.”


“Kalau begitu, anggaplah ini sebagai perjamuan tanda pertemanan.” Sambara tertawa. “Tetapi bagaimana bisa disebut teman jika nama dikau saja tidak kuketahui.”


Mantingan berdeham sekali, ia lupa memberitahu namanya pada Sambara. “Namaku Mantingan.”


Sambara mengangguk pelan, mulai menghidangkan makanan ke hadapan Mantingan dan dirinya sendiri.


Mantingan mengangguk dan mulai menyantap hidangan. Makanan yang dibawakan Sambara sangat lezat untuk Mantingan yang belum pernah mencicipi makanan seperti ini tiga tahun terakhir. Sambil menyantap makanan itu, sedikit-sedikit Sambara bercerita tentang keadaan Tarumanagara sekarang.


“Sundapura hampir dikuasai, sedang kota-kota lain masih menghadirkan perlawanan.”


Mantingan cukup terkejut dengan itu. Benar dugaan awalnya, bahwa gejolak masih terus terjadi, bahkan semakin parah. Sundapura hampir dikuasai, tetapi kota-kota lain masih bertahan dengan terus melawan, apakah yang sebenarnya terjadi? Apatah kekuatan Sundapura sebagai ibukota tidak lebih besar dari kota-kota lain.


“Apakah itu artinya, mereka mempusatkan serangan ke Sundapura?”


“Seperti itulah siasat mereka.”


Mantingan menghela napas panjang. Jika keadaan seperti ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin akan terjadi perpecahan. Dengan Sundapura berada dalam tekanan musuh, maka kerajaan-kerajaan kecil di bawah Tarumanagara bisa dengan mudah memisahkan diri. Jika sudah begitu, ke depannya akan terjadi peperangan lagi.

__ADS_1


“Jika tiga tahun yang lalu orang-orang bekas pemerintahan Salakanagara yang tak terima dan menggempur Tarumanagara, kini hanya orang-orang golongan hitam saja yang menggempur. Orang-orang bekas Salakanagara yang tak puas itu telah kembali ke pangkuan Taruma, entah apa yang membuat mereka menjadi seperti itu.” Sambara hendak menyuap, tetapi lebih dulu ia berkata, “banyak dugaan bahwa mereka diberi kursi kekuasaan, tetapi lebih banyak yang menduga bahwa mereka sadar jikalau Punawarman dapat mensejahterakan Negeri Taruma.”


Mereka menyelesaikan hidangan bersamaan. Jika tidak bersamaan, entah situasi canggung seperti apa yang akan terjadi. Mantingan berniat untuk meneruskan perjalanan, dan Sambara tidak lagi menahan Mantingan.


Masih di pagi hari itu Mantingan berpamitan pada Sambara sebelum keluar dari rumahnya. Sebelumnya Sambara telah mengingatkan Mantingan, bahwa sangat situasi di perkotaan sedang tidak aman untuk dikunjungi, tetapi Mantingan mengatakan bahwa dirinya akan jarang melintasi perkotaan. Tujuan Mantingan adalah menemukan Kembangmas, maka seberusaha mungkin ia masuk ke pelosok-pelosok hutan ketimbang perkotaan. Terlebih jika situasi yang tidak aman seperti saat ini.


Mantingan keluar dari desa, mengambil jalan yang berbeda dengan jalan menuju gunung. Gunung tempat dirinya berlatih itu masih tampak besar, juga tampaklah dingin. Di kaki gunung ini angin bertiup lumayan kencang, lalu angin itu menabrak tanah atau bukit, hingga terjadilah kabut.


Mantingan melepas jubahnya, ia lipat dan dimasukkan ke dalam buntelan. Angin dingin seperti ini patutlah dinikmati, jubah pemberian Kenanga itu memang berguna mengatur suhu tubuhnya untuk tetap hangat, tetapi justru tidak bisa merasakan kondisi udara yang asli. Mantingan kembali berjalan, dengan lebih menikmati perjalanannya.


Ketenangan dalam berpikirnya membuat perjalanan tidak terasa membosankan. Pohon yang biasanya ia lihat, kini tidak lagi membosankan. Mantingan memandang pohon itu dengan cara yang berbeda. Ia berpikir, bahwa pohon merupakan makhluk yang paling tunduk patuh pada Gusti.


Pohon memiliki banyak sekali manfaat. Bahkan pohon beracun pun dimanfaatkan racunnya sebagai obat-obatan. Pohon juga selalu mengikuti cahaya matahari, walau dirinya diputar balikan sekalipun. Pohon inilah juga yang baru-baru ini telah diketahui, bahwa dirinyalah yang menghasilkan udara.


Dan sebenarnya pohon memiliki arti yang luar biasa bagi Mantingan.


Pohon yang baik dapat diibaratkan dengan pribadi manusia baik. Akar pohon diibaratkan sebagai budi luhur seseorang, yang menghunjam kuat ke tanah, mempertahankan pohon dari badai. Batang diibaratkan sebagai perbuatannya, tegak lurus dan tegas ke langit, kuat dan tidak mudah mudah patah diterjang angin. Dan buah diibaratkan sebagai hasil dari budi pekerti dan perbuatan itu.


Tidak seperti saat dahulu Mantingan memandang pohon, bertanya-tanya ketakutan di dalam apakah di balik pohon itu terdapat perompak yang memata-matainya.


____


catatan:


Bagikan cerita ini pada teman-temanmu untuk berpetualang bersama!

__ADS_1


__ADS_2