
Mantingan memasuki jalan utama. Walaupun disebut sebagai jalan utama, tetapi sebenarnya jalan ini sangat sepi. Jalanan juga tidak lebar.
Mantingan menikmati pemandangan dan suara di sekitarnya. Pohon-pohon kelapa, semak belukar, dan pekikan burung laut.
Namun terjadi suatu pemandangan yang aneh. Mantingan melihat kelebatan bayangan hitam tak jauh dari tempat dirinya berjalan. Awalnya Mantingan berpikir bahwa ia hanya salah lihat saja, tetapi kelebatan bayangan itu muncul sekali lagi. Mantingan mulai waspada, mengingat pendekar-pendekar bisa bergerak dengan kecepatan seperti itu.
Tidak hanya dua, kelebatan itu lewat lagi dan lagi! Arah pergi bayangan-bayangan itu adalah menuju pantai. Terhitung ada sepuluh bayangan yang berkelebat ke arah pantai.
Mantingan mulai mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Apakah mungkin mereka adalah pendekar-pendekar yang memiliki kepentingan rahasia? Banyak sekali pendekar-pendekar yang tak menampakkan diri pada khalayak luas, yang itu artinya mereka memiliki tugas rahasia dan pastinya tidak ingin diketahui secara umum.
Ada pula kemungkinan bahwa mereka memusuhi Mantingan dan hendak membunuhnya. Tetapi Mantingan merasa bahwa itu tidak benar, karena bayangan-bayangan itu hanya lewat saja di dekatnya tanpa ada niat mencelakakan Mantingan.
Langkah Mantingan terhenti ketika ia memikirkan kemungkinan ketiga. Napasnya tak beraturan dan jantungnya berpacu cepat.
Apakah mungkin mereka bersepuluh adalah pendekar-pendekar Penginapan Tanah yang hendak membunuh Birawa? Bukankah Birawa juga pulang ke rumahnya sambil bertarung?
Tiada banyak pikir, Mantingan langsung berlari kencang-kencang ke arah pantai. Ia melepas buntelannya yang berat agar tidak melambatkan kecepatan larinya, tak peduli jika buntelan itu ditemukan orang lain.
Mantingan dengan cepat sampai di garis pantai. Sekali lagi, dirinya melihat pemandangan indah di hadapannya, tetapi tidak sekalipun Mantingan melirik keindahan itu. Kakinya terus melangkah, membawa tubuhnya ke arah rumah Birawa.
Dari jauh dan dari arah rumah Birawa, Mantingan dapat melihat asap yang membubung tinggi. Jantungnya terasa berhenti sejenak saking terkejutnya. Perasaan takut merayapi sampai ujung rambut.
Semakin dekat Mantingan terhadap rumah Birawa, hingga terlihat juga wujud rumah pria paruh baya itu yang wujudnya sudah tidak sama lagi.
Benar sesuai dugaan terburuk Mantingan. Rumah Birawa terbakar! Api merah melahapnya dengan rakus, menciptakan asap hitam yang membubung. Lutut Mantingan rasanya lemas, tetapi Mantingan paksakan lagi berlari ke arah rumah itu.
__ADS_1
Tadi aroma segar dari angin laut yang Mantingan hirup, tetapi kini aroma hangus yang ia hirup. Hawa panas dari api begitu terasa di kulitnya. Betapa sedih bercampur amarah hatinya.
Sampai di hadapan rumah Birawa, langkah Mantingan terhenti.
“Rara! Arka!” panggilnya.
Tidak ada balasan, Mantingan mulai mengelilingi rumah itu.
“Tidak ... tidak ... TIDAK!”
Mantingan benar-benar tidak percaya apa yang ia lihat saat ini. Dari tatapan matanya benar-benar tidak percaya. Seakan-akan Mantingan melihat bulan purnama yang tiba-tiba pecah menjadi kepingan.
Ia terus berkata pada dirinya sendiri, untuk tidak mempercayai adanya tiga tubuh di depannya yang merebah. Tidak mungkin Birawa gagal melindungi dua perempuan itu, ini yang ada di pikiran Mantingan. Birawa adalah pendekar hebat, tidak mungkin ini bisa terjadi! Mantingan enggan percaya.
Tetapi siapakah yang berusaha ia bohongi? Lihatlah di depannya, tiga tubuh yang merebah di tanah. Mata mereka terpejam. Jelas tiga tubuh itu tidak sedang tertidur saat rumah di sebelahnya terbakar hebat. Dan siapakah yang tidur dengan luka dan darah bersimbah?
Tidak salah yang ia lihat. Tiga orang itulah Rara, Arkawidya, dan Birawa!
“KEPARAAAT!!!”
***
Mantingan menatap api dari tiga pancaka di depannya. Hanya dari tiga pancaka itu sumber penerangan di tengah gelapnya malam. Tetapi kobaran api ini tidak sanggup mengusir kegelapan di dalam hati Mantingan.
Kali ini sungguh-sungguh telah hancur hatinya. Betapa kebenaran yang harus ia terima bahwa Rara telah mati terbunuh. Tetapi harus ia percayai itu, walau ia tak bisa menerimanya.
__ADS_1
Mengapa ia tak bisa menerima kematian Rara? Jawabannya hanyalah satu: ini tidak adil.
Siapakah yang membunuh Rara tidak diketahui oleh Mantingan. Mungkin juga Rara tidak mengetahui siapa yang membunuhnya. Bukankah itu artinya Rara mati penasaran?
Mantingan tidak bisa menerima kematian Rara. Mantingan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bukan hanya Mantingan tidak membiarkan jenazah Rara tak terurus, tetapi Mantingan juga tidak akan membiarkan kematian Rara begitu saja.
Mantingan akan menuntut perhitungan pada orang yang melalukan ini pada Rara. Dan akan Mantingan adilkan seadil-adilnya. Yang terbayang di dalam kepalanya adalah nyawa dibayar nyawa.
Perlahan Mantingan mengeluarkan selembar lontar pendek dari dalam pundi-pundinya. Ia tatap lontar dengan guratan-guratan aneh di atasnya itu, sambil ia teringat ucapan Ki Dagar.
“Ambil lontar ini, dan pergilah ke Perguruan Angin putih jika kau berubah pikiran.”
Kali ini Mantingan benar-benar berubah pikiran untuk tidak bermain kasar. Jika saja ia tak bisa melindungi orang-orang yang disayanginya, maka apa guna ia hidup di bumi? Mantingan meremas lontar pendek di tangannya itu, teringat bahwa ia tak punya kuasa untuk melindungi Rara.
Sia-sia ia menimbun perasaan pada Rara, jika pada akhirnya ia tak bisa melindunginya, dan membuat perasaannya itu sia-sia belaka.
Kayu-kayu pancaka mulai habis, saat itulah api meredup sedikit demi sedikit. Mantingan mengambil sebuah kendi keramik kecil yang tadi ia dapatkan di balik puing-puing rumah Birawa.
Mantingan mengambil abu jenazah Rara dan disimpannya hati-hati ke dalam kendi. Ia menutup kendi itu rapat-rapat. Mantingan mengikatkan tali gantungan pada kendi kecil seukuran ibu jari itu, sehingga bisa Mantingan ikatkan kendi berisi abu Rara itu di pinggang atau tali buntelannya, ia bisa menjadikan itu sebagai kalung juga, yang terpenting adalah Rara selalu dekat dengannya.
Sedangkan abu Arkawidya dan Birawa dilarung ke laut. Bukannya ia tak ingin membawa abu mereka dalam kendi seperti Rara juga. Mantingan merasa bahwa mereka berdua memang seharusnya dilarung ke laut, kembali ke alam.
Sedangkan Rara mempunyai keinginan untuk selalu ikut Mantingan dalam pengembaraannya, tetapi ia tak ingin merepotkan Mantingan. Maka sekarang ini Mantingan membawa abu Rara bersama dalam pengembaraannya, dan Mantingan bersumpah tidak akan merasa diberatkan dengan keberadaan Rara di dekatnya.
Jika saja ia dapat memutar waktu, Mantingan akan memaksa Rara ikut dalam pengembaraannya dan merangkulnya setiap waktu. Mengatakan tentang perasaannya satu juta kali banyaknya. Tapi adakah harapan itu akan terwujud?
__ADS_1
Tidak bisa ia memutar waktu. Tetapi penyesalan selalu bisa diputar di dalam kepalanya. Dan kenangan bisa selalu diputar kapanpun ia mau.
Mantingan mengadah, menatap tajam bulan dan bintang di atasnya. Cukup sudah sepanjang hari ia terlarut dalam kesedihan dan derai air mata. Sekarang ini waktunya seorang Mantingan berubah! Sekarang ini waktunya penuntutan balas!