
PAGI ITU. Mantingan membuka matanya. Melihat ke sekeliling. Mendapati kenyataan bahwa semalam dirinya tertidur di atas dipan ruang tamu. Mantingan melirik ke jendela yang setengah terbuka. Matahari belum terbit sepenuhnya, dengan kata lain hari masih terang tanah.
Tidak ingin kantuknya datang kembali, Mantingan turun dari dipan itu. Merenggangkan pinggangnya seperti yang ia lakukan tadi malam. Pemuda itu kemudian tersenyum menampaki pemandangan rumah yang ia lihat saat ini.
Mantingan memutuskan untuk pergi ke halaman rumah. Ia tidak ingin membangunkan Kana dan Kina terlalu dini. Mereka adalah anak-anak, membutuhkan waktu tidur yang lebih lama ketimbang orang dewasa. Terlebih Mantingan tidak ingin membangunkan mereka tanpa tersedianya makanan untuk sarapan.
Mantingan membuka pintu yang semula terkunci. Sinar mentari yang remang-remang segera menyambutnya. Kicauan burung semakin jelas terdengar. Udara segar berdesak-desakan ingin masuk ke dalam rumah. Kembali Mantingan tersenyum.
Di halaman rumah itu, Mantingan telah menyediakan dua buah bangku serta sebuah dipan untuk bersantai. Dua buah bangku dan sebuah dipan itu terlindungi dari sinar mentari siang berkat atap teras yang cukup lebar. Mantingan kembali ke dalam untuk menyiapkan teh hangat sebelum duduk bersantai sambil membaca beberapa kitab ilmu.
***
“Kakak berbohong padaku!”
MANTINGAN YANG tengah duduk membaca itu mengernyitkan dahinya setelah dikejutkan oleh suara Kana. Ditatapnya anak itu dengan alis berkerut.
Segeralah Mantingan mengajukan pertanyaan, “Kakak tidak merasa begitu. Adakah sesuatu hal yang membuatmu mengatakan diriku telah menipumu?”
“Tentu saja Kakak telah menipuku,” balas Kana. “Kakak berkata tadi malam, bahwa pagi ini aku akan bekerja keras, tapi nyatanya apa? Kakak malah mengerjakan semua bagianku tanpa permisi.”
Mantingan mengangkat cangkir dan menyesap sedikit tehnya. Kana tampak terus memelototi Mantingan hingga pemuda itu meletakkan kembali cangkir teh di atas meja. “Bagaimanapun umurmu masih dua belas. Bukan tindakan yang bijak jika bekerja terlalu keras bagi seorang pria muda sepertimu.”
Kana tak percaya. “Tetap saja Kakak telah menipuku.”
Mantingan menggeleng pelan. “Sedaripada kaumarah padaku, lebih baik kaubelikan sarapan untuk kita semua.”
Kana mengangkat dua tangannya. “Aku tidak punya uang banyak.”
__ADS_1
“Berapa banyak yang kaudapatkan setelah menjual rumput kemarin?”
“Tiga perak. Itu saja setelah melewati penawaran yang panjang.”
Mantingan sebenarnya tidak suka jika hasil kerja keras Kana hanya dibayar tiga perak, namun tidak sedikitpun ia memperlihatkan raut wajah masam tanda ketidaksukaan.
Mantingan jelas mengetahui bahwa tiga keping perak adalah uang yang banyak bagi Kana, dan ia tidak mau merusak kebahagiaan dan kebanggaan bocah itu.
“Untuk tiga porsi sarapan yang cukup, berapa banyak uang yang perlu kita keluarkan?” Mantingan bertanya setelah mengangguk; Kana terlihat menghitung.
“Kurang dari satu keping perak untuk tiga porsi nasi jagung dan sayuran rebus.”
Mantingan merogoh kantung sakunya, melemparkan sekeping perak kepada Kana. “Nasi jagung dan sayuran rebus tiga porsi. Simpan sisa uangnya untukmu.”
Kana menangkap sekeping uang perak itu lalu mengangguk, lekaslah ia beranjak berangkat. Menyisakan Mantingan seorang diri di sana yang langsung melanjutkan kegiatan membaca kitab. Namun saat itulah, Mantingan teringat bahwa ia memiliki janji dengan Bidadari Sungai Utara hari ini.
Sehari yang lalu, setelah Bidadari Sungai Utara mengobati Mantingan, gadis itu memintanya untuk kembali di hari esok. Dengan kata lain, hari esok yang dimaksud adalah hari ini. Mantingan harus menjemput obat penawar Racun Tidak Bernama pada hari ini. Maka setelah itu, Racun Tidak Bernama di dalam tubuhnya akan musnah.
Segera saja Mantingan pergi mengganti pakaiannya dengan pakaian baru. Sore kemarin saat Mantingan berbelanja, ia juga menyempat diri untuk membeli beberapa pakaian baru. Itu dilakukan demi keberhasilan penyamaran ketika bertemu Bidadari Sungai Utara.
Mantingan tidak akan mengikutsertakan Pedang Kiai Kedai. Cukuplah ia membawa pedang itu satu hari yang lalu saat bertemu Bidadari Sungai Utara. Dan beruntunglah Bidadari Sungai Utara tidak menaruh banyak perhatian pada Pedang Kiai Kedai.
Setelah memasang kantung pundi-pundi berisi kepingan uang, Mantingan bergegas turun ke bawah. Saat itulah ia bertemu Kana di bawah yang membawa tiga bungkus nasi jagung. Mantingan menghampiri Kana dan berkata untuk sarapan lebih dulu bersama Kina.
“Kakak hendak kemanakah?”
“Kakak memiliki urusan lain yang belum selesai.” Mantingan menjawab. “Mungkin juga Kakak akan mencari bibit bunga yang bagus untuk ditanam.”
__ADS_1
Setelah tampak mengerti, Kana mengangguk. “Bibit bunga yang indah terdapat di ujung pasar. Mereka menjual mawar beragam jenis yang katanya berasal dari empat penjuru mata angin.”
Mantingan tersenyum lebar. “Bukan itu bunga yang akan Kakak tanam.”
Kini Kana mengernyitkan dahi. “Jika bukan itu, bunga seperti apakah yang ingin Kakak tanam?”
Mantingan merasa saat ini tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan panjang lebar tentang bunga-bunga yang akan ia tanam, sehingga ia memilih untuk menjelaskannya nanti saja setelah kembali ke kediaman.
Dan Mantingan kembali menjawab, “Akan Kakak jelaskan nanti, lebih-lebih kau akan melihat wujudnya sehingga akan lebih mudah kujelaskan. Sekarang Kakak akan pergi, jaga dirimu dan adikmu.” Mantingan berjalan menjauh, tetapi berhenti sesaat kemudian. “Dan jaga rumahnya pula.”
Kana tertawa kecil dan mengiyakan apa yang diperintahkan Mantingan.
***
“Tentu saja ini bukan obat penawarnya.”
BIDADARI SUNGAI UTARA menggeleng lemah saat Mantingan mengira bahwa obat yang diberikan padanya adalah obat penawar Racun Tidak Bernama. Perkataan Bidadari Sungai Utara segera saja membuat dada Mantingan terasa sesak.
“Jika bukan obat penawar, lalu apa yang telah Saudari berikan kepadaku?”
“Itu ramuan yang berguna untuk menahan rasa sakit Saudara.”
Raut wajah Mantingan berubah menjadi masam. “Apakah ada kemungkinan penawar racunnya bisa ditemukan?”
Kembali Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan. “Daku sendiri tidak mengetahuinya. Meskipun harapannya sedikit, tetap ada kemungkinan kutemukan obat penawar untuk Racun Tidak Bernama.”
Mantingan terdiam beberapa lama. Kesunyian kembali mengambil alih ruangan pengobatan di Toko Obat Wira. Kedua muda-mudi itu saling terbenam di dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Kemudian, Mantingan bertanya. “Apakah ada cara lain untuk mengurangi dampak racun?”
Bidadari Sungai Utara menunjukkan sinar cermelang di dalam matanya. “Adalah engkau tidak menggunakan terlalu banyak tenaga dalam. Mungkin, itu akan mengurangi dampak buruk dari Racun Tidak Bernama.”