Sang Musafir

Sang Musafir
Cagak Kesatu dan Kiai Kedai


__ADS_3

Sedangkan itu pertarungan dan pertempuran masih terus berlangsung, bahkan semakin sengit saja. Hantaman pedang ditukar dengan hantaman pedang, jurus tapak ditukar dengan jurus tapak, tendangan ditukar dengan tendangan, bahkan tatapan ditukar pula dengan tatapan!


Pertarungan yang sebenarnya terlalu berlarut-larut ini akhirnya membuat Mantingan menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak sedang mengadu kemampuan atau ilmu silat, mereka sedang mengadu tenaga dalam.


Melihat dari gerakan lawannya yang hanya menangkis dan menyerang kecil, Mantingan mengetahui bahwa orang itu sengaja membuat pertarungan berlangsung lambat namun menguras tenaga dalam.


Mantingan berpikir, apakah Cagak Kesatu telah mengetahui bahwa ketujuh cakranya telah terbuka dan mampu untuk menampung tenaga dalam? Atau justru lawannya itu mengetahui, tetapi memiliki cadangan tenaga dalam yang lebih besar daripadanya?


***


BETAPA pun, Mantingan harus benar-benar mewaspadai pendekar tua yang menjadi lawannya kali ini.


Kiranya telah diketahuinya bahwa Cagak Kesatu merupakan seorang pendekar yang berasal dari jaringan bawah tanah dunia persilatan. Jaringan mereka selalu menjadi yang pertama dan terlengkap dalam mendapatkan segala kabar serta keterangan di dunia persilatan, tak peduli apakah itu hanya sekadar kabar kecil atau malahan kabar besar.


Mungkinkah bahwa segala jurus, keahlian, dan kekuatan tersembunyi Mantingan telah diketahui oleh pendekar itu?


Memang terdapat kemungkinan sedemikian, tetapi tidak menutup kemungkinan pula bahwa sebenarnya Cagak Kesatu tidak mengetahui terlalu banyak tentang Mantingan.


Ia ingat bahwa meskipun keterangan dan kabar berembus sangat cepat di jaringan bawah tanah dunia persilatan, tetapi tetap saja semua kabar dan keterangan dihargai dengan harga yang tidak sedikit jika dijual di sana.


Seringkali harga yang harus dibayar bukanlah uang. Sekalipun Kelompok Pedang Intan merupakan salah satu kelompok terbesar di jaringan bawah tanah, tetapi tetap ada kemungkinan bahwa mereka tidak mendapatkan segala kabar dan keterangan yang dijual mahal.


Mantingan berusaha mengingat. Berapakah harga yang dibayarkan untuk menangkap Bidadari Sungai Utara hidup-hidup? Berapa pun harganya itu, pastilah telah meningkat amat sangat jauh sampai-sampai Kelompok Pedang Intan campur tangan pada permasalahan yang seharusnya mereka anggap sangat remeh-temeh ini.


Mantingan akhirnya memutuskan untuk bergerak menjauh dari Cagak Kesatu. Pendekar tua itu terus mengejarnya, namun segala serangannya dihindari begitu saja oleh Mantingan dengan mudahnya, maka dirinya pun memutuskan untuk berhenti pula.


Mereka berdiri di atas atap dua bangunan yang berbeda. Saling bersitatap dengan tajamnya. Bagaikan tatapan mereka jauh lebih tajam ketimbang pedang yang ada di tangan mereka.

__ADS_1


“Mengapa dikau mundur, wahai Pahlawan Man?” Bertanyalah Cagak Kesatu setelah beberapa saat terdiam bagaikan arca mati.


“Sebab telah kuketahui muslihat engkau, Bapak Pendekar.” Mantingan mengubah sebutannya pada pendekar Cagak Kesatu, betapa pun lawannya itu memang pantas dihormati sebab masih tidak menggunakan siasat curang hingga sampai sekarang.


“Muslihat apakah itu, Anak?” Maka oleh Cagak Kesatu diubah pula sebutannya kepada Mantingan. “Mungkin yang engkau maksud adalah siasat.”


“Benar, Bapak Pendekar. Sekiranya perkiraanku yang sungguh rendah dan tiada berdasar ini telah menangkap siasat Bapak untuk menguras tenaga dalamku.”


Cagak Kesatu terlihat tertawa di atas sinar api yang menyala. “Perkiraanmu itu memang benar adanya! Dan sekali lagi, orang banyak pun benar jika mereka mengatakan bahwa Anak mampu membaca pertanda.”


“Adakah Bapak akan meneruskan siasat ini?” tanyanya, mengabaikan pujian dari Cagak Kesatu jauh di seberang sana. “Ataukah kita bertukar jurus sekali saja, tetapi menjadi penentu siapakah yang akan tergeletak bersimbah darah?”


“Sabarlah sedikit, Anak.” Cagak Kesatu mengeluarkan suara yang terdengar terlalu ramah di antara jerit kematian pasukannya. “Untuk pendekar seusia dirimu, engkau terlalu haus darah.”


“Daku tidak akan menaruh rasa segan kepada musuh-musuhku, Bapak. Ketahuilah hal itu.” Mantingan pun membalas dengan suara ramah, meski isi perkataannya itu sama sekali tidak menaruh rasa ramah.


“Kalau begitu, memanglah di antara kita berdua harus ada yang mati salah satunya, bukan? Ah, sayang sekali, padahal pria tua ini ingin sekali menjadi guru bagimu.”


“Tiada kusangka, sahabat lamaku yang justru menjadi guru bagimu, Anak. Kiai Kedai, begitu bukan cara kalian orang tua ompong yang gila minum teh itu?”


Mantingan diam saja dan tetap memasang kewaspadaan, namun biar bagaimanapun pernyataan itu terdengar amat sangat mengejutkan baginya. Disebabkan rasa penasarannya, Mantingan tidak menghentikan pendekar itu untuk bercerita.


“Kuingat sekitar setengah abad yang lalu, betapa Kedai yang masih memakai nama aslinya, Akrawarman, pertama kali tiba di Javadvipa. Terkapar bagai orang mati di dalam perahu layarnya yang kecil, masuk ke bibir muara. Daku yang kebetulan sedang mencari sarang semut di tepi muara itu menemukannya.


“Kutebak bahwa dirinya selama beberapa bulan hanya makan tenaga dalam saja selama di perahu layarnya, sehingga berdasarkan rasa kasihan diriku membawanya pulang. Hingga berpekan-pekan kemudian, keadaannya membaik hingga mampu untuk mengucap sepatah-duapatah kalimat.


“Dia menyebut namanya sebagai Akrawarman, datang dari Jambhudvipa, bersangkutan dengan keruntuhan Salankayana yang ditaklukkan Wangsa Gupta. Dia mengaku bahwa dirinya adalah pendekar bayaran yang mengawal rombongan Jayasingawarman mengungsi ke Dwipantara, dan di tengah laut dia harus mengecoh musuh yang mengejar rombongan itu, dengan hanya menggunakan sebuah perahu layar kecil.

__ADS_1


“Sungguh diriku merasa amat sangat terpukau ketika kudengar ceritanya mengalahkan tiga kapal layar besar seorang diri di tengah lautan. Hingga diketahui bahwa tiga kapal itu memang sengaja dikirim Maharaja Samudragupta untuk menghabisi bangsawan Salankayana hingga akar-akarnya.


“Saat itu kukenalkan kepadanya tentang Yawabhumipala dan peradaban di dalamnya, yaitu Salakanagara yang sepertinya langsung mematik gairahnya untuk berpetualang di negeriku tercinta.”


Mantingan cukup tercekat dengan pernyataan pendekar bergelar Cagak Kesatu yang mengatakan bahwa gurunya memiliki nama asli Akrawarman, dan sekaligus menyebutkan bahwa gurunya berasal dari Jambhudvipa!


Dan manakala Cagak Kesatu mengatakan “negeriku tercinta”, yang pada saat itu tentunya hanya ada Salakanagara saja, maka Mantingan mulai menemui titik terang dari tindak campur tangan yang dilakukan Kelompok Pedang Intan.


“Kuingat betul bagaimana kami minum secawan teh pahit yang ditetesi darah kami berdua, sebagai tanda pengangkatan saudara, yang kata orang hubungannya bakal jauh lebih erat ketimbang saudara kandung yang dipilihkan oleh takdir. Tepat setelah itu, kami berpetualang bersama.


“Akrawarman mengajariku banyak ilmu silat baru yang secara pesat meningkatkan kemampuanku. Awalnya diriku menolak, sebab tahu betapa ilmu-ilmu tersebut berharga sangat mahal jika dibagikan. Tetapi dia mengatakan bahwa segala ilmu yang diberikannya itu hanya sebatas membalas budi.


“Namun sayang seribu sayang, sejak perluasan wilayah Taruma hubungan kami kian merenggang. Akrawarman masih memihak pada Jayasingawarman, meskipun tidak menunjukkannya secara terang-terangan kepadaku. Sedangkan diriku tetap memihak pada Salakanagara, negeriku tercinta.”


Pendekar tua itu terdengar menghela napas panjang sebagai tanda bahwa dirinya telah menutup kisah.


Tanpa diceritakan lebih lanjut sekalipun, Mantingan dapat menebak tentang apa yang terjadi selanjutnya antara Kiai Guru Kedai dengan Cagak Kesatu itu.


Dua sahabat yang telah saling mengangkat diri menjadi saudara itu nyatanya harus berpisah menempuh jalannya masing-masing.


“Jadi Bapak ada di sini karena mendukung pemberontak?”


“Kami para pendukung setia Salakanagara, akan merasa sakit hatinya jika disamakan dengan para pemberontak. Kami adalah pejuang tanah pribumi, hendak mengembalikan kekuasaan yang semesti-mestinya ada di tanah ini.”


“Cara Bapak dengan menyebarkan kegaduhan dan kerisauan seperti ini tetaplah bukan sesuatu yang dapat dibenarkan.”


“Hanya itulah satu-satunya yang dapat kami lakukan untuk merongrong kekuasaan Tarumanagara, Anak.”

__ADS_1


Mantingan dengar Cagak Kesatu menaruh rasa sesal pada perkataannya itu.



__ADS_2