Sang Musafir

Sang Musafir
Patahnya Pedang Kiai Kedai


__ADS_3

DARI nama jurus tersebut, Mantingan lantas mengetahui bahwa Cagak Keenam yang baru saja ditikamnya itu hanya sekadar bayang-bayang. Bukan perwujudan aslinya.


Mantingan tidak mengetahui bagaimana cara jurus itu dapat bekerja sedemikian rupa hingga mampu menghasilkan tiruan tubuhnya, dan dirinya tidak akan mencari tahu sekalipun penasaran. Ia sedang berusaha sebisa mungkin untuk dapat menemukan wujud asli dari Cagak Keenam.


Mantingan teringat sebuah pepatah singkat dalam dunia persilatan yang betapa pun singkatnya tetap menjadi pedoman utama bagi para pendekar:


setiap jurus memiliki kelemahan


Digenggamnya Pedang Kiai Kedai kuat-kuat. Selain harus menemukan tubuh asli Cagak Keenam, dirinya pula harus mewaspadai tubuh-tubuh tiruan yang bertebaran di sekitarnya. Mereka dapat menyerang kapan pun jua.


“Dapatkah engkau melakukan apa yang ada dipikiranmu itu, wahai Pahlawan Man?”


Disadarinya bahwa bayang-bayang tiruan Cagak Keenam telah berjumlah lebih dari seratus. Terus bertambah dan bertambah.


Adakah mereka memiliki kekuatan yang sama dengan Cagak Keenam yang bukan bayang-bayang? Atau dapatkah mereka setidak-tidaknya menyerang segesit Cagak Keenam yang sungguhan?


Untuk membuktikan hal itu, maka Mantingan berkelebat menyerang.


“Tarian Seribu Pedang!”


Bayang-bayang Cagak Keenam itu pula berkelebat keluar dari dalam air ke arah Mantingan.


Ratusan bayangan menyerangnya sekaligus, namun Mantingan mampu membabat mereka dengan begitu mudahnya hanya dalam beberapa tebasan.


Mantingan akhirnya mendapat jawaban, bahwa bayangan-bayangan itu tidak dapat mengeluarkan berbagai macam jurus seperti yang dapat dikeluarkan oleh Cagak Keenam asli. Namun, kegesitan mereka dalam menyerang dapat dikata telah mengimbangi Cagak Keenam.


“Engkau mengira bahwa diriku dikirim ke tempat ini tanpa memiliki keahlian khusus, he?”


Salah satu bayangan Cagak Keenam berujar sebelum Mantingan menebasnya menjadi butiran-butiran air.


“Laut adalah kawanku, Pahlawan Man!”


Mantingan kembali menebas bayangan yang baru saja mengeluarkan sepatah kalimat itu.

__ADS_1


“Engkau berhadapan dengan orang yang sama sekali salah!”


Mantingan menebas.


“Tetapi jika hendak memberi perlawanan ....”


Mantingan menebas dan menebas!


“... maka lakukanlah!”


Trang!


Pedang Kiai Kedai sampai pada batasnya. Bilahnya patah menjadi dua. Meluncur jatuh ke lautan. Mantingan masih memegang gagang pedangnya yang bilahnya tinggal setengah. Mantingan tidak peduli, ia kembali membabat!


Namun, ketika itulah seluruh bayang-bayang Cagak Keenam pecah menjadi butiran-butiran air yang tak terhitung lagi banyaknya. Mencipta sebuah tempurung besar yang langsung mengurung Mantingan di dalamnya. Tidaklah mudah ketika pemuda itu berusaha untuk menembus dinding kubah tersebut menggunakan pedangnya yang patah.


Pada akhirnya, Mantingan merasa gentar. Betapa pun, dirinya telah benar-benar terjebak di sini. Kubah air itu telah mengurungnya dari segala arah. Yang dapat dilihatnya hanyalah air dan air.


Mantingan sungguh tidak percaya dengan kekuatan Cagak Keenam yang nyata-nyatanya mampu mengendalikan air. Itu sama sekali tidak masuk ke dalam hitungannya.


Pendekar pengendali sihir seperti itu memiliki kemampuan di atas pengendali Golek Jiwa. Jika pengendali Golek Jiwa hanya dapat menggerakkan goleknya yang telah ditanami mantra-mantra sihir tertentu saja, maka pengendali sihir ini tidak membutuhkannya.


Namun, bukan berarti bahwa pengendali sihir tersebut dapat mengendalikan segala-gala benda. Disebutkan bahwa yang benar-benar dapat dikendalikan adalah air, api, tanah, dan angin. Yang kemudian disebut sebagai Empat Unsur Bumi.


Dirinya teringat perkataan Kiai Guru Kedai:


“Perguruan Angin Putih pun termasuk ke dalam perguruan sihir, yang mana para anggotanya mampu mengendalikan sihir angin. Sedang di Svarnabhumi, engkau akan menemukan lebih banyak perguruan sihir sejenis. Di pulau itu, anak-anak menganggap sihir sebagai mainan yang mengasyikkan.”


Mengingat pernyataan bahwa anak-anak di Suvarnadvipa bisa memainkan mantra sihir, yang sama saja mengartikan bahwa pulau tersebut amat sangat kental dengan sihir, maka bukan mengherankan lagi jikalau nantinya diketahui bahwa Cagak Keenam berasal dari Suvarnadvipa.


Saat ini, Mantingan hanya menguasai Ilmu Mengendalikan Angin dari perguruannya. Mungkinkah ilmu tersebut bisa diandalkannya untuk melawan sihir Cagak Keenam?


Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya sewaktu masa pelatihan:

__ADS_1


“Jika engkau ingin memperdalam ilmu sihir, maka pergilah ke Suvarnabhumi. Bergurulah atau bertemanlah pada seseorang yang sekiranya mampu mengajarimu sihir. Ilmu Mengendalikan Angin yang engkau kuasai sebenarnya belum seberapa.”


Jika Ilmu Mengendalikan Angin belumlah seberapa, Mantingan sedikit ragu bahwa ilmu tersebut mampu mengalahkan ilmu Cagak Keenam. Tetapi dalam kedudukan tertekan seperti ini, di mana maut seolah menatapnya tepat di depan muka, tindakan sekecil apa pun untuk dapat selamat akan dilaksanakannya.


Mantingan menyarungkan Pedang Kiai Kedai yang telah patah menjadi dua tersebut. Tentu saja bahwa pedang itu tidak dapat diandalkannya lagi untuk menempuri lawan.


Diangkatnya sebelah kaki hingga menekuk, sedang dibiarkan kaki sebelahnya berjinjit di atas air laut. Disilangkan tangannya di depan dada dengan telapak terbuka.


“Apakah engkau hendak melakukan tarian putus asa sebelum mati, Pahlawan Man?” Di dalam kubah itu, suara Cagak Keenam begitu menggelegar tanpa wujud orangnya sama sekali.


Sedangkan Mantingan hanya tersenyum tipis, sebelum mengentakkan kedua tapak tangannya ke depan. Gelombang angin yang telah berkumpul di telapak tangannya itu melesak maju. Menghantam dinding air hingga berhasil membuatnya pecah menjadi butiran-butiran air!


“Bagaimana bisa?!” Suara Cagak Keenam terdengar sayup-sayup sesaat setelah kubah airnya berhasil dihancurkan.


Mantingan tidak menjawab melainkan melesat pergi secepat-cepatnya dari tempat itu. Mengambil jarak yang dirasa telah cukup jauh dari Cagak Keenam.


Barulah saat itu tubuh Cagak Keenam naik ke atas permukaan secara perlahan-lahan. Tersirat senyum samar di wajahnya.


“Hebat! Belum pernah daku menghadapi Jurus Membelah Angin yang sedemikian besarnya seperti ini. Jika engkau bukan murid dari Kiai Kedai, daku mungkin tidak akan pernah percaya dengan apa yang kulihat barusan.”


Mantingan memincingkan mata, menatap Cagak Keenam tajam-tajam. “Tiada perlu pujian untuk berbasa-basi, Cagak Keenam. Beritahukan kepadaku di mana engkau menyembunyikan Bidadari Sungai Utara, sekarang.”


“Sudah kukata bahwa bukan diriku yang menyembunyikannya, Pahlawan Man. Kehadiranku di sini hanyalah untuk menuntut balas atas Cagak Kesatu yang telah engkau bunuh.” Sesaat setelah Cagak Keenam mengatakan itu, suara sangkakala meraung-raung di langit. “Ah, mereka akan meninggalkan kita. Perang akan segera dimulai, tetapi itu sama sekali bukan urusan kita bukan?”


Mantingan merapatkan giginya. Sangkakala itu berarti tanda bagi armada musuh untuk maju menyerang. Namun, ia sama sekali tidak dapat membantu armada gabungan, sebab betapa pun telah jelas bahwa Cagak Keenam akan menahannya untuk melakukan hal itu. Mantingan tidak memiliki pilihan selain menghabisinya cepat-cepat.


“Marilah beradu sihir denganku, Pahlawan Man.” Cagak Keenam tersenyum lebar dengan mengangkat tangannya, seketika itu pula laut bergejolak. “Amat sangat jarang diriku berhadapan dengan pendekar setangguh dirimu.”


Mantingan menyunggingkan senyum sebelum kembali menekuk sebelah kakinya ke atas. Benarlah pilihan yang diputuskannya.


___


catatan:

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah melaporkan salah ketik tentang Cagak Keenam yang menjadi Cagak Kesatu. Ingatlah selalu bahwa saya menulis dengan kecepatan yang lebih cepat sedaripada kecepatan cahaya.



__ADS_2