
Sembari memalingkan pandangan Mantingan berseru, “Aku tidak pernah berubah pikiran untuk hal ini. Tidak PERNAH!”
“Lalu hendak apakah dikau buru-buru datang ke sini?”
“Tidak banyak waktu untuk menjelaskan. Tetapi cepatlah berkemas dan segera pergi dari sini!”
Raut wajah Rara dan Arkawidya berubah menjadi buruk, khawatir sekali akan terjadi sesuatu yang di luar dugaan dan berbahaya. Tanpa perlu banyak bertanya lagi, keduanya keluar dari air sungai dan berpakaian. Mantingan sama sekali tidak melirik mereka sampai keduanya selesai berpakaian dan berkemas.
“Arka, apa dikau tahu jalan untuk keluar dari sini selain jalan yang tadi kita lalui?”
“Daku merasa tidak ada jalan keluar lain selain jalan yang tadi kita lalui.” Arkawidya berkata cemas.
“Kalau begitu, terpaksa kita menerobos hutan dan bergerak ke arah utara.”
Mantingan lalu menghadap ke arah matahari terbit yang merupakan arah timur, maka di sebelah kirinya adalah arah utara. Tidak sulit untuk menentukan arah di saat hari masih cerah seperti ini, tetapi akan sedikit sulit ketika hari sudah gelap dan langit ditutupi awan.
“Dikau berdua jangan jauh-jauh di belakangku, dan selalu waspada! Banyak orang-orang golongan hitam yang hendak bersinggah di tempat ini, kita haruslah cepat-cepat pergi karena mereka adalah pendekar-pendekar sakti dan jumlahnya banyak.”
Raut wajah Rara dan Arkawidya semakin memburuk. Telah jelas mereka mengetahui bagaimana kekuatan satu pendekar yang mampu membunuh tiga manusia biasa semudah membalikkan telapak tangan, itu saja hanya satu pendekar, dan yang Mantingan kabarkan adalah banyak pendekar bergolongan hitam!
Itulah bahaya yang nyata, maka lekaslah mereka pergi dari sana ke arah utara.
__ADS_1
Tidak sempat mereka menghilangkan jejak, walau Mantingan tahu bahwa itu tidak kalah berbahayanya dengan tetap tinggal di sana. Bukankah itu sama saja seperti memancing perampok untuk mengikuti mereka?
Beruntungnya, ini musim kemarau. Tanah-tanah kering kerontang, sehingga tidak mudah mencetak jejak kaki. Kaki Rara dan Arkawidya juga sudah dikeringkan setelah tadi mencebur ke dalam air sungai. Jejak yang mereka tinggalkan hanyalah terletak di sungai itu, di mana sangat jelas bahwa ada yang baru saja mandi di situ. Mantingan berharap para pendekar-pendekar tersebut tidak menganggap hal itu sebagai hal yang butuh mereka urus hingga tuntas.
Mereka meninggalkan hutan buluh.
Mantingan memilih jalan yang tidak ditumbuhi semak belukar atau pepohonan yang penuh ranting, karena itu bisa menimbulkan jejak dengan patahan dahan atau semak yang terinjak. Walau jalan yang harus ditempuh adalah jalan yang memutar sedikit jauh, itu tidak mengapalah.
Agak lama mereka terus berjalan cepat meninggalkan sungai kecil, tidak satupun dari mereka yang mau beristirahat. Rara dan Arkawidya kembali basah oleh keringat, seakan mandi di sungai kecil tadi itu adalah hal yang sia-sia, walau sebenarnya itu bukanlah hal yang sia-sia.
Mengapa disebut sebagai hal yang tidak sia-sia? Pendekar-pendekar golongan hitam itu datang dari arah utara, di satu jalan bersama Mantingan dan kawan-kawan seperjalanannya. Kemungkinan besarnya, mereka bertiga telah mati terpapas senjata tajam orang-orang golongan hitam yang tidak berperasaan itu. Bahkan tidak hanya sia-sia, mereka malah mendapatkan keberuntungan besar.
Selama perjalanan itu juga Mantingan dan Rara terheran-heran dengan penampilan Arkawidya yang parasnya jauh lebih cantik sedaripada mengenakan pupur tebal di wajahnya. Arkawidya telah mandi hingga seluruh riasannya bersih terbawa air. Kulitnya putih bersih dan terlihat terawat. Saat ditanya mengapa Arkawidya bisa seperti itu, gadis itu menjawab dengan jawaban yang sulit diduga.
“Jika saja aku tak pakai riasan dan berpenampilan jelek, maka aku akan disembunyikan oleh Penginapan Tanah dan dijadikan salah satu dari gadis-gadis tercantik yang mereka sembunyikan. Maka dari itulah, saat aku dijual sebagai budak, kujuga mengotori wajahku dengan tanah lumpur bercampur kotoran lembu. Menjadi cantik itu tidak selalu menyenangkan.”
Mantingan memandang ke sekitar. Seantero mata memandang adalah ladang rumput luas yang hanya ada beberapa pohon tumbuh, salah satu pohon itu adalah pohon yang kini digunakannya untuk berteduh dari teriknya mentari siang. Terdapat beberapa sapi liar dan rusa yang makan rumput jauh dari mereka.
Di tengah padang rumput seperti ini, posisi Mantingan bisa dengan mudah terlihat dari jauh. Buktinya, Mantingan bisa melihat seekor lembu yang merumput sendirian jauh di sana. Karena merasa aman itulah Mantingan berani beristirahat di sini. Jika saja pendekar-pendekar itu memang hendak mengejar mereka, dengan kecepatan mereka yang bagaikan angin itu, tentu saja bisa menyusul mereka sedari awal.
Tetapi sepertinya pendekar-pendekar itu tidak terlalu berselera mengejar orang yang baru saja mandi di sungai kecil itu. Mungkin saja juga mereka telah binasa di tangan pasukan yang datang saat itu. Apa pun yang terjadi sebenarnya, kondisi saat ini tetaplah terbilang aman.
__ADS_1
“Mantingan, apakah kaupunya makanan?” Rara bertanya sedikit malu-malu, menyadarkan Mantingan bahwa perut mereka belum diisi sejak malam hari.
“Kondisi di sini tidaklah terlalu memungkinkan untuk memasak makanan, tetapi aku memiliki kue kering yang mengenyangkan.”
“Tidak mengapa. Bagaimana denganmu, Arka?” tanya Rara pada Arkawidya, dibalas anggukan setuju.
Mantingan duduk bersila di atas rumput dan di bawah pohon teduh, tangannya sigap membuka tali yang mengikat buntelannya. Lalu ia mengambil sebatang buluh yang di dalamnya terdapat kue-kue kering berbentuk bundar.
“Satu potong saja sudah sangat mengenyangkan.” Mantingan membagikan kue kering itu masing-masing satu pada Rara dan Arkawidya, karena jumlahnya memang tidak banyak. Ia sendiri juga mengambil satu dan segera melahap kue kering itu.
Kue itu keras saat digigit, tetapi lembut di dalam mulut. Rasanya seperti susu sapi yang dipadukan dengan kacang. Mantingan tidak berkata bahwa kue ini enak, akan tetapi ia berkata kalau kue ini mengenyangkan. Rasa manis hanya sedikit terecap pada kue itu. Lebih kepada rasa hambar.
Kue berbentuk bundar yang besarnya tidak lebih dari telapak tangan itu dengan cepat dapat dihabiskan oleh Mantingan dan dua kawan seperjalanannya. Perut mereka seakan telah terisi oleh banyak makanan, walau mereka mengetahui bahwa kue itu ukurannya jauh lebih sedikit ketimbang ukuran porsi sarapan.
“Sihir macam apa ini, Mantingan?” Kembali Rara bertanya keheranan.
“Bukan sihir, kehebatan kue ini hanya terletak pada bahan-bahannya yang dikeringkan dan dipadatkan. Juga bahan-bahan yang dipakai adalah bahan-bahan yang mengenyangkan. Aku merasakan ada sedikit rasa singkong dan ubi di dalamnya. Itu sudah cukup mengenyangkan.”
Rara mengangguk paham sebelum menyandarkan punggung di batang pohon. Arkawidya tidak banyak berpendapat tentang rasa kue ini atau kehebatannya, ikut menyandarkan punggungnya ke batang pohon.
Angin kemarau bersemilir pelan. Menerbangkan rambut dua perempuan yang kini memejamkan mata. Mantingan melepas caping dan ikat kepalanya, menikmati semilir angin dingin dari musim kemarau.
__ADS_1