
SEBENARNYALAH MANTINGAN ingin mengetahui tentang apa yang sedang terjadi di Tanjung Kalapa, karena situasi terkini Tanjung Kalapa sangat berguna untuk menyusun rencana perjalanannya ke pesisir utara. Jika situasi Tanjung Kalapa sedang kacau balau sama seperti wilayah lainnya, bagaimanakah caranya Mantingan dapat membeli perahu layar? Serta bagaimanakah pelayaran mereka jadi lebih aman?
Begitulah perang batin yang terjadi di dalam kepala Mantingan saat ini, tetapi dirinya tentu tidak akan bertanya lebih jauh tentang situasi Tanjung Kalapa kepada petugas penjaga gerbang di depannya. Tentu saja petugas itu harus melayani orang-orang yang hendak masuk dan hendak keluar, Mantingan merasa tidak enak jika harus mengganggu pekerjaan orang lain.
“Jikalau begitu, daku akan masuk ke dalam kota. Terima kasih atas kemurahan hatimu, wahai Prajurit yang Gagah.” Mantingan kembali menunduk pelan, sedangkan petugas itu mempersilakan Mantingan masuk sambil membusungkan dada.
Mantingan melangkah pergi, namun samar-samar dengan ilmu pendengaran tajam, ia dapat mendengar suara gumaman petugas penjaga gerbang tadi.
“Benar-benar pendekar yang aneh, penampilannya saja yang sok jantan, sikapnya macam kucing minta sisa makan.”
Mendengar gumaman itu, Mantingan jadi menyesal telah memasang ilmu pendengaran tajam. Mantingan harus mendengar gumaman yang begitu menusuk benak. Mantingan hanya bisa menggertak gigi dan melangkah lebih cepat lagi.
***
SESAMPAINYA MANTINGAN di dalam kota, Mantingan dapat dengan mudah menemukan pasar pusat penjual benda-benda di dunia persilatan. Sebenarnyalah di pasar itu lebih banyak dijual kepentingan kependekaran ketimbang benda persilatan untuk orang awam. Jika alat-alat kependekar bisa berupa jarum beracun, pisau terbang, ramuan peningkat, lontar sihir, maka alat-alat persilatan yang lazim hanya berupa seragam dan golok tumpul.
Jika alat-alat kependekaran digunakan untuk membunuh maka alat-alat persilatan digunakan untuk pelatihan saja.
__ADS_1
Sepertinya, pasar ini menyembunyikan kedok pasar sungai telaga persilatan dengan mengganti jati dirinya menjadi pasar persilatan lazim. Namun sebenarnya, tidak masuk akal juga pasar yang hanya menjual seragam silat dan golok tempur bisa jadi sebesar ini. Bagi orang-orang yang tinggal di sekitaran, pasar yang bersembunyi di dalam kedok itu sudah menjadi rahasia umum yang tak perlu diperdebatkan lagi. Karena bagi mereka, dunia persilatan dan dunia masyarakat awam bagai terpisah oleh tembok tebal.
Jika dari yang Mantingan lihat, maka pasar ini seharusnya jauh lebih besar ketimbang Pasar Ayam Jago yang ia temui di kota tempat kediaman Dara berada. Pasar ini mungkin menjadi semakin besar setelah situasi di Tanjung Kalapa bergejolak, pastinya banyak pendekar yang datang ke sini untuk membeli peralatan tempur.
Mantingan melihat lalu-lalang pengunjung yang keluar masuk dari pintu pasar. Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melihat bahwa rerata pendekar yang berlalu-lalang adalah pendekar beraliran hitam. Mereka memiliki tampang berpakaian seperti penduduk kota pada umumnya, tetapi andai ahli perang melihat mereka, maka akan terpampang wajah mereka yang keras dan picik.
Mantingan sendiri merasakan hawa tubuh mereka hampir sama dengan hawa tubuhnya sendiri. Sudah jelas bahwa mereka adalah pendekar yang menguasai banyak jurus aliran hitam, sama seperti Mantingan.
Tetapi memang tak jarang ada pendekar aliran putih yang keluar di masuk pintu pasar. Wajah mereka lebih tenang dan lembut ketimbang pendekar aliran hitam kebanyakan, tetapi tidak ditutup-tutupi kebencian mereka tatkala berpapasan dengan pendekar aliran hitam. Sayang di pasar itu, tidak satupun dari mereka yang membuka serangan, tentu itu akan menyulut perkara bagai api yang berkobar di permukaan minyak.
Mantingan tanpa takut masuk ke dalam pasar yang memiliki nama Pasar Layar Malaya tersebut. Pasar Layar Malaya yang ada di sini berbeda jauh dari pasar biasa atau Pasar Ayam Jago sekalipun. Wilayah pasar yang luas bukan berarti mereka tidak dapat mengatur pasar menjadi lebih rapi dan bersih dibandingkan dengan pasar-pasar lain. Walaupun yang mereka jual adalah bangkai hewan, racun berbau busuk, bunga berbau aneh, dan makanan-makanan kesehatan berbau menyengat.
Semuanya tertata rapi. Tidak ada bangunan yang seenaknya dibangun, ada peraturan mengenai pembangunan di pasar ini. Mantingan tidak mengetahui dengan pasti peraturan pembangunan seperti apakah itu, tetapi hasil dari keteraturan sudah dapat dilihat dari bangunan pasar yang selaras.
Bangunan bertingkat satu dibangun di pinggiran pasar, sedangkan bangunan yang lebih dari itu ditempatkan lebih ke dalam. Semakin tinggi bangunannya, maka semakin ke dalam penempatannya.
Sesaat setelah Mantingan masuk ke dalam pasar, lagi-lagi ada pemeriksaan dari petugas penjaga pintu pasar. Namun, petugas yang memeriksa pintu Pasar Layar Malaya ini berbeda dengan petugas penjaga gerbang kota.
__ADS_1
Mereka tidak mengenakan seragam, bahkan bertelanjang dada, memperlihatkan ototnya dan luka sabetan senjata. Rambut mereka panjang, ada yang digelung ke atas, ada pula yang diikat menyerupai ekor kuda, atau dibiarkan tergerai begitu saja. Sepasang kelewang terikat menyilang di punggung mereka.
Mereka adalah pendekar kawakan, Mantingan tahu itu. Dapat dilihat dari postur tubuh meeka yang tinggi dan kekar, terlebih luka pada tubuh mereka semakin meyakinkan. Tatapan mereka tidak segan menatap lawan bicara, tanda mereka memiliki keberanian dan kepercayaan diri besar.
Mantingan mendapat giliran pemeriksaan, kembali ia bersikap seperti seorang pendekar muda kurang pengalaman. Mantingan mencoba tersenyum lebar pada petugas tanpa memperlihatkan seluruh wajahnya, yang terlihat lebih mirip dengan seringaian kuda. Masih ada sehelai daun buluh yang digigit pangkal batangnya di mulut Mantingan.
Petugas keamanan melihat Mantingan dengan sebelah mata, malas-malasan dan sedikit kasar saat menggeledah isi bundelan Mantingan. Sampai pada akhirnya pemeriksaan selesai, bundelan Mantingan yang dalamnya sudah acak-acakan itu dikembalikan.
Mantingan tidak marah. Selain marah dapat merusak penyamarannya, Mantingan juga tidak terbiasa marah. Tingkat kesabarannya meningkat pesat selama berada bersama Bidadari Sungai Utara. Bagaimana tidak? Gadis itu selalu membuatnya kesal, sedangkan Mantingan dituntut untuk selalu sabar.
Petugas itu berkata pada Mantingan sebelum musafir itu pergi. “Hei, Bocah. Di dalam bukan tempat untuk pendekar lemah seperti kau. Jangan salahkan kami jika kau mati di dalam.”
Mantingan kembali menunjukkan senyum kudanya. “Tenang saja, Prajurit yang Gagah! Aku tidak akan menyalahkan siapa pun atas kematianku.”
Petugas itu menggeleng malas. “Cepat kau bawa pergi seringai jelek itu menjauh dariku!”
Mantingan mengangguk seperti ayam yang mematuk beras, cepat-cepat ia melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
Penjelajahan Mantingan dimulai, ia mencari toko-toko untuk mengisi perbekalannya. Toko yang pertama yang ia sambangi adalah toko obat-obatan. Toko memanfaatkan bagian teras untuk menjajakan obat buatannya. Belasan meja menampung obat-obatan, penuh mengisi teras toko.
Ada beberapa pengunjung lain yang berkeliling memeriksa kualitas obat jajaan toko. Mereka terlihat seperti pendekar beraliran putih, tentu saja, pendekar aliran hitam biasanya memilih lebih baik terluka parah asal berhasil membunuh lawannya. Ketimbang membeli obat, mereka memilih ramuan racun untuk dibeli.