
MANTINGAN MENARIK napasnya dalam-dalam sebelum mengentak kaki jauh ke depan. Pedang Kiai Kedai yang berapi-api itu diayunkan dengan sangat cepat. Mencipta garis cahaya yang teramat memukau. Tetapi lawan telah mengetahui, bahwa cahaya yang indah itu pula mengecoh di waktu yang sama.
Lelatu api tercipta manakala bilah bilah Pedang Kiai Kedai berbenturan dengan pedang lawannya. Tak hanya sekali puluhan letupan lainnya tercipta dalam waktu sekejap mata, yang artinya telah terjadi puluhan pertukaran serangan hanya dalam sekedip mata saja.
Mantingan dan Elang Putih bertukar serangan di atas udara. Keduanya saling terempas ke dua arah yang berbeda, tetapi tiada satupun dari mereka yang terluka. Mantingan mengeluarkan selembar Lontar Sihir kosong dari pundi-pundinya, ditulisnya mantra teka-teki dengan gerakan yang teramat sangat cepat.
Negriku dilanda kekacauan
kuresapi derita rakyat yang tiada terbalas
jawablah jika mengaku cendikiawan
apakah yang memberi kehidupan tanpa bisa dibalas?
Elang Putih dengan cepat mengambil Lontar Sihir kosong dan menuliskan mantra untuk mematahkan serangan itu Mantingan.
Bersinar di kala siang hari
pergi di kala malam hari
jawaban ini semua orang sudah mengetahui
sudah pastilah matahari
Puluhan aksara saling berbenturan. Beradu kekuatan. Hingga aksara-aksara dari Elang Putih menerjang Mantingan tiada ampun. Mantranya telah dipatahkan! Mantingan semakin terdorong. Seteguk darah menyembur dari mulutnya.
Dalam beradu mantra sambil berpantun, sebenarnya tidak perlu mengetahui jawaban dari mantra pantun yang menyerang lebih dahulu. Dapat pula membalas dengan pantun yang lebih rumit. Semakin rumit pantun yang dikeluarkan, semakin kuat mantranya. Itulah yang membuat mantra berpantun banyak dipilih para ahli sihir. Namun jikalau memang ingin menjawab, maka dapat saja, sebab seluruh mantra pantun selalu diciptakan bersama dengan jawabannya.
Siapakah yang menciptakan mantra pantun dan bagaimanakah mantra pantun ini dapat dipakai seluruh pendekar ahli sihir tanpa terkecuali masih menjadi pertanyaan besar.
Mantingan dan Elang Putih masih melayang di udara. Mantingan kembali mengirim serangan mantra berpantun, berharap dapat memenangkan serangan ini.
Ambillah pengutik untuk mencatat
kirimlah lontar berisi kasih sayang
__ADS_1
ji**ka memang dikau pintar sangat
k**utanya jenis air apakah yang dapat melayang?
Elang Putih kembali membalas.
Tuliskanlah janji manis penuh dusta
hingga tiada seorang akan menyanya
bayi pun mengetahui jawabannya
pastilah itu awan di angkasa
Aksara-aksara di lontar Elang Putih melesat cepat. Belasan aksara dari Mantingan berusaha membendungnya, tetapi dengan mudah dihancurkan berkeping-keping. Aksara-aksara dari Elang Putih kemudian menghantam tubuh Mantingan tanpa mengurangi kecepatan sebelumnya. Kembali Mantingan terempas sangat jauh dengan luka dalam yang tidak bisa dianggap ringan-ringan saja.
Mantingan memendaratkan diri di pucuk sebuah pohon. Dialirkan tenaga prana untuk mengobati luka dalamnya. Kini jaraknya dengan rombongan permaisuri terpisah belasan tombak, cukup jauh untuk dapat menghalau serangan mendadak.
Mulanya, Mantingan berniat untuk segera melesat ke arah rombongan permaisuri tanpa peduli apakah luka dalamnya telah berhasil disembuhkan. Itu hanya akan memakan dua kejapan mata saja.
Lagi pula, siapakah yang akan menyerang rombongan permaisuri jikalau Kembaran dari Gomati sedang terlibat dalam dua pertarungan? Lebih-lebih, Jakawarman masih ada di sana untuk berjaga-jaga.
Elang Putih berhenti pada sebuah pohon tepat di hadapan Mantingan. Petir menyambar, menampakkan sosok Elang Putih barang sekejap mata. Sekalipun itu tampak sangat menyeramkan, Mantingan tidak gentar sama sekali.
“Apakah dikau ingin menyerah saja, Pahlawan Man? Mungkin daku bisa membiarkanmu tetap hidup.”
“Jika pendekar telah memulai pertarungan,” kata Mantingan dengan suara serak, “menyerah adalah kematian.”
“Zaman telah berubah, Pahlawan Man. Tiada lagi pendekar yang mencari kesempurnaan diri lewat pertarungan. Kita lebih senang lagi jika kekuatan ini dimanfaatkan untuk kepentingan.”
Mantingan diam-diam setuju dengan perkataan Elang Putih. Dirinya telah menebak ini jauh-jauh hari. Sejak terjadinya kekacauan di Tarumanagara, pendekar-pendekar muda bermunculan jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Kemunculan mereka disebabkan oleh keadaan yang memang memaksa mereka, sehingga tidak semua pendekar muda memahami jalan kependekaran yang sesungguhnya.
“Apakah kepentingan kalian saat ini, wahai Elang Putih?” Bertanya Mantingan.
“Kami berdua sebenarnya tidak memiliki kepentingan sama sekali terhadapmu, Pahlawan Man. Tetapi kami memiliki kepentingan dengan Sri Prameswari Indukirana.”
__ADS_1
“Bagaimanakah engkau dapat menjumpai rombongan ini?” Mantingan berusaha menggali jawaban lebih lengkap dari Elang Putih.
“Jaringan kami hanya mengabarkan bahwa Sri Prameswari sedang dalam perjalanan senyap menuju Tanjung Kalapa, siapa pun yang berhasil menangkapnya hidup-hidup akan dibayar sangat tinggi. Awalnya kami tidak berminat sama sekali untuk mengambil tugas ini, tetapi siapakah yang menyangka akan bertemu rombongan Sri Prameswari saat kami ingin menyelesaikan tugas di wilayah Agrabinta? Ini adalah ketidaksengajaan yang menguntungkan.”
“Mengapakah engkau tidak pergi saja dan melanjutkan tugasmu?”
Mantingan menyadari bahwa ini merupakan pertanyaan yang bodoh. Apakah yang akan terjadi nantinya jika Kembaran dari Gomati memutuskan pergi dengan membawa kabar bahwa rombongan permaisuri merubah arah perjalanannya dengan Bidadari Sungai Utara menyertainya?
“Bukankah membunuh tiga nyamuk dalam sekali tepuk jauh lebih menguntungkan?”
“Kalau seperti itu.” Mantingan tertawa kecil dan menghunuskan pedangnya ke arah Elang Putih. “Tidak ada cara lain selain membunuhmu.”
“Cobalah jikalau engkau bisa, Pahlawan Man!”
Mantingan berkelebat menghilang. Elang Putih baru saja hendak menangkis, tetapi segera menahan gerakannya setelah menyadari bahwa Mantingan tidak berkelebat untuk menyerangnya. Melainkan untuk pergi menjauh. Elang Putih tertawa dengan nada mengejek, mengira Mantingan telah melarikan diri karena putus asa menghadapinya.
Tetapi kemudian angin berembus sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Tawa Elang Putih tiba-tiba saja berhenti. Mimik wajahnya menunjukkan kewaspadaan. Dia sadar bahwa setiap murid dari Perguruan Angin Putih mampu mengendalikan angin. Disiagakannya pula pedang bermata dua di tangannya.
Elang Putih terguncang keras ketika didengarkannya suara kelebatan ditambah desing logam tepat di arah belakang kepalanya.
Secepat mungkin diayunkan pedangnya ke belakang untuk menangkis serangan mendadak itu. Jantungnya berdegup kuat menanti siapakah yang akan memenangkan bentrokan kali ini.
Akan tetapi, yang didapatkannya hanyalah angin kosong. Tak dapat dilihatnya tubuh Mantingan di sana, atau pedangnya, atau segala-galanya! Hanya langit kosong yang membawahi hutan luas. Sungguh tak nampak barang seperti yang ditangkap oleh telinganya.
Kini didengarkannya suara kelebat dan desing di belakangnya. Tanpa ampun, disabetkannya pedang ke belakang. Namun lagi-lagi, ia hanya menebas angin kosong belaka.
“Ini adalah tipuan,” kata Elang Putih pelan yang masih dapat didengar Mantingan.
Dan ketika suara kelebat dan desing pedang itu kembali muncul, Elang Putih sama sekali tidak menanggapi. Tetapi ketika itulah tubuh asli Mantingan benar-benar muncul di belakangnya. Pedang Kiai Kedai hanya berjarak sejengkal dari leher Elang Putih!
___
catatan:
Perlu diketahui bahwa seluruh nama tokoh yang ada di sini didapatkan dari penulis sendiri atau browser.
__ADS_1
Jika ada kemiripan nama tokoh, tempat, atau waktu kejadian, mungkin kita berjodoh.