Sang Musafir

Sang Musafir
Arah Jalan yang Salah


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara berhenti untuk memakan umbi-umbian rebus yang tadi diberikan seorang gadis remaja padanya.


Mantingan turut berhenti pula untuk makan, namun yang ia makan bukanlah dendeng kering lagi, melainkan tenaga dalam. Seperti inilah istilah para pendekar ahli: makan udara, minum air embun.


Seorang pendekar seharusnya memiliki kemampuan mengubah tenaga dalam menjadi makanan bagi tubuh. Namun, cara ini membutuhkan tenaga dalam yang tidak sedikit. Setengah tenaga dalam yang diperlukan untuk berlari secepat dua kalinya petir dalam waktu delapan kejap mata.


Walau sebenarnya persediaan dendeng kering masih banyak, dirinya tidak mau makan itu. Bukannya Mantingan mulai tidak menyukai dendeng kering, tetapi ia merasa tidak enak saat melihat Bidadari Sungai Utara memakan umbi-umbian rebus pemberian orang lain.


Betapa sebenarnya, Mantingan merasa tidak tega. Namun biar bagaimanapun juga, ia melakukan ini karena hal itu adalah sebagian dari pelatihannya terhadap Bidadari Sungai Utara. Semakin banyak gadis itu mendapat pelajaran, maka semakin baik.


Mantingan berpikir, ia akan muncul dan kembali berjalan di sisi Bidadari Sungai Utara setelah gadis itu cukup mendapat pelajaran.


Bidadari Sungai Utara menghentikan suapannya kemudian mengangguk pelan dan tersenyum. “Ternyata, masih ada orang Javadvipa yang baik hati. Aku akan menyimpan makanan ini untuk nanti.”


Setelah mengatakan hal itu, Bidadari Sungai Utara memotong sehelai daun talas lebar, digunakannya untuk membungkus umbi-umbian yang tersisa. Dikarenakan dia tidak membawa bundelan, maka bungkusan daun talas berisi umbi-umbian itu dibawanya langsung dengan tangan.


Mantingan menjadi kewalahan saat Bidadari Sungai Utara terlihat hendak melanjutkan perjalanan sedangkan dirinya sendiri belum kenyang memakan tenaga dalam. Sungguh Mantingan merasa para pendekar ahli telah berbohong dengan mengatakan bahwa tenaga dalam terasa enak dan mengenyangkan.


Nyatanya saat ini, Mantingan merasa tidak banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya, namun tenaga dalam yang harus dikeluarkannya tidak tanggung-tanggung. Mantingan mulai berpikir bahwa memakan dendeng kering tanpa direbus jauh lebih baik daripada memakan tenaga dalam.

__ADS_1


“Baiklah diriku, mari kita tempuh perjalanan ini. Meskipun akan sangat panjang dan tanpa bantuan si brengsek Mantingan, kuyakin aku dapat melakukannya. Mari kita ke pantai utara dan pergi ke negeri Champa.”


Mantingan mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Perkataan Bidadari Sungai Utara secara tidak langsung memberitahu arah tujuannya pada Mantingan, sehingga pemuda itu dapat memperkirakan apa saja yang harus dia persiapkan.


Bidadari Sungai Utara terlihat sedang mengencangkan ikatan pada alas kakinya, lalu dengan tatapan yang tajam dan lurus dia mengangguk mantap. Mantingan yang melihat itu merasa seperti melihat dirinya di masa lampau. Saat itu Mantingan masih muda, masih dipenuhi gelora semangat, masih berani bermimpi tinggi-tinggi, tidak seperti sekarang yang langkah apa pun harus dibuat berdasarkan kenyataan serta perhitungan matang.


Mantingan tidak tahu apakah perubahan pada dirinya itu akan berakibat baik atau buruk.


Bidadari Sungai Utara mulai melangkahkan kaki di tepi jalan yang tidak becek pula tidak berlubang. Begitu juga dengan Mantingan yang bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya.


***


MALAM PUN tiba. Bulan menggantung di langit dengan sinarnya yang redup. Malam itu, seharusnya mereka sudah sampai di Pelabuhan Kalapa. Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara salah memilih jalan, sehingga bukannya ke utara mereka malah bergerak ke timur.


Mantingan mengangguk pelan sambil mengusap dagunya, Bidadari Sungai Utara mulai menggunakan akal pikiran untuk mengatasi masalah. Walau Mantingan masih tidak setuju dengan keputusan gadis itu untuk tetap berjalan meskipun langit sudah menggelap. Mungkin tongkat peraba bisa membantunya berjalan, namun hewan buas tidak kenal takut pada tongkat peraba seperti itu, kecuali sebagian kecil dari mereka.


Tetapi bagaimana pun juga, Mantingan harus memastikan keselamatan Bidadari Sungai Utara selama masa pengembaraannya. Maka dengan Ilmu Mata Elang, Mantingan memastikan jalur yang akan dilewati gadis itu aman dari ular atau semacamnya.


“Dasar pelit si br*ngsek itu, tidak memberiku satupun Lontar Cahaya.” Bidadari Sungai Utara menggerutu dalam kesunyian malam.

__ADS_1


Ingin rasanya saat itu pula Mantingan melempar Lontar Sihir Cahaya hingga membentur kepala gadis itu, tetapi untungnya keinginannya itu masih bisa dibendung.


Memangnya siapa yang menawarkan Lontar Sihir Cahaya lebih banyak pada gadis itu? Siapa pula yang dulu memandunya berjalan di dalam kegelapan? Tentu saja orang itu adalah Mantingan, tetapi pemuda berhati lembut itu tidak suka mengungkit-ungkit kembali kebaikannya di masa lampau.


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terus bergerak. Selama di perjalanan itu, telah banyak ular yang dilumpuhkan oleh Mantingan menggunakan jarum Cap Capung. Itu hanya pelumpuhan sementara, paling tidak dalam waktu sepeminuman teh ular-ular itu dapat kembali melata.


Bidadari Sungai Utara hanya bisa menjerit beberapa kali saat mengangkat badan ular menggunakan tongkatnya. Meskipun gelap, Bidadari Sungai Utara masih bisa melihat bahwa benda yang diangkat tongkatnya adalah seekor ular panjang.


“Bagaimana bisa ada ular mati sebanyak ini?” Bidadari Sungai Utara berkata dengan suara gelisah. “Apa di sini banyak racun? Oh, diriku, janganlah berpikiran buruk seperti ini. Kau membuatku semakin takut.”


Jalanan berkelok-kelok seperti tubuh seekor ular. Karena gelapnya malam, baik Bidadari Sungai Utara maupun Mantingan tidak mengetahui apa yang menyebabkan jalanan jadi berkelok-kelok.


Namun saat Mantingan merasakan kemunculan kabut dingin, saat itulah ia menyadari bahwa Bidadari Sungai Utara sedang berjalan di antara dua tepi berjurang. Dengan cepat namun senyap, Mantingan mendekati Bidadari Sungai Utara. Jangan sampai gadis itu terperosok ke dalam jurang karena tongkat penuntun tidak menuntunnya ke arah yang benar.


***


PADA PAGI harinya, Mantingan menepuk dahinya. Saat ini Bidadari Sungai Utara sedang beristirahat sambil sarapan, sedangkan Mantingan membuka peta.


Dari peta itu, Mantingan tahu bahwa mereka bukannya bergerak mendekati pantai tapi malah menjauhinya. Maka dari itulah ia menepuk dahi. Bidadari Sungai Utara memang tidak berbakat dalam menuntun jalan.

__ADS_1


Bukan saja ia asal bergerak, namun gadis itu juga tidak memperhatikan empat penjuru arah angin. Tanda-tanda alam yang mudah sekali ditemuinya adalah lumut pada pohon atau batu, itu bisa menunjukkan arah barat dan timur, yang sama saja bisa menunjukkan arah utara dan arah selatan. Namun gadis itu hanya memeriksa arah angin sekali saja, itu pun Mantingan lihat di awal perjalanan. Selebihnya, ia hanya mengikuti jalan yang belum tentu benar.


Saat ini, bagaimanakah cara Mantingan memberitahu Bidadari Sungai Utara akan ketersesatannya itu? Tentu saja Mantingan tidak akan turun dan mengobrol bersama Bidadari Sungai Utara sebelum kembali bersembunyi.


__ADS_2