Sang Musafir

Sang Musafir
Rencana Kelangsungan Hidup


__ADS_3

APAKAH YANG seterusnya dilakukan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara akan ditentukan malam ini juga. Harus. Di saat hujan deras mendinginkan udara yang sudah dingin, mereka harus memikirkan banyak hal. Malam ini harus tercipta kesepakatan bersama. Harus.


Di belakang meja mereka saling bertatapan, menebak apa yang dipikirkan lawan bicaranya. Dua cangkir teh yang tadi dipesan telah mendingin.


“Aku terserah padamu, Mantingan.” Bidadari Sungai Utara mendesah lemah. Tubuhnya sedikit menggigil, ia tak sengaja meninggalkan jubahnya di kamar.


“Aku tidak bisa sendirian, Saudari Sungai Utara. Ini menyangkut tentang kehidupanmu juga, Saudari berhak ambil andil."


Terdiam lagi. Petir menyambar sekali. Kilatnya muncul lebih dulu, baru suaranya yang menggelegar.


Bidadari Sungai Utara berkata pelan, “Begini saja keputusanku, aku serahkan saja hidupku padamu. Setidaknya sampai angin muson timur datang. Aku adalah milikmu, apa yang kau katakan akan aku anggap sebagai perintah harga mati, apa pun perintah itu.”


Mantingan menggeleng. “Saudari Sungai Utara, kehidupan hanyalah milik Gusti. Kau berkata seperti itu akan membuatku terjebak dalam dosa.”


“Lalu aku harus bagaimana?” Bidadari Sungai Utara berkata lemah. “Aku tidak bisa mengambil keputusan besar, aku tidak pernah terbiasa. Di Champa, yang membuat keputusan atas hidupku adalah kekasihku. Dia pemimpinku. Kini dia tidak ada. Apakah yang aku harus lakukan? Katakan, Mantingan? Apa yang harus aku lakukan?”


Mantingan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Ia membiarkan malam dan hujan mengambil alih, sehingga suasana terasa sepi. Selain rintik hujan dan suara embusan angin, hampir tidak ada yang terdengar. Angin muson timur sudah dekat, tetapi malam ini masih juga turun hujan.


Malam ini. Untung ruginya terletak pada udara dingin. Udara dingin yang membuat mereka dapat berpikir tenang, udara dingin pula yang membuat mereka merasa tidak kuat lama-lama di sana.


Mantingan tahu mereka tidak bisa selamanya terdiam di sini. Bertatapan dalam bisu. Bidadari Sungai Utara menatapnya, penuh harapan tatapan itu. Gadis itu mengharapkan keputusan tegas dari Mantingan, keputusan yang membuatnya merasa aman, dan keputusan yang dianggapnya paling baik.


“Saudari Sungai Utara, aku tidak bisa memiliki dirimu. Mengingat dirimu telah memiliki kekasih di negeri Champa. Tetapi aku bisa menjadi pemimpin bagimu, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa saat. Ucapannya tadi tercekat oleh akal sehat. Ingin ia berkata di depan kepala Mantingan, betapa ia ingin melupakan kekasihnya di Champa, asal ia bisa bersama Mantingan. Selamanya. Tetapi itu tidak bisa, dia masih memiliki akal sehat. Bidadari Sungai Utara hanya bisa menghela napas panjang, harus berpuas hati walau Mantingan tidak mau memilikinya. Itu sebuah kenyataan yang menyedihkan.


Siapakah yang hendak mengerti perasaannya? Jika orang-orang mengatakan dirinya tidak setia, maka itu tidak bisa dipungkiri. Namun rasa-rasanya setelah mendapatkan Mantingan, tidak ada lagi yang ingin ia pinta. Apakah ada yang mengerti perasaannya sedikit saja? Dan menghargainya sebagai perasaan yang wajar?


Duhai. Bidadari Sungai Utara tetaplah manusia. Jika boleh dibilang tidak sempurna, maka biarlah dibilang begitu. Perasaan cintanya pada Mantingan jauh lebih besar sedaripada perasaannya pada kekasih di Champa. Hatinya teriris kenyataan—kenyataan bahwa Mantingan tidak akan jadi miliknya.


Siapakah Mantingan? Pria itu tidak bisa dikatakan sebagai pria yang dingin. Mantingan adalah pria yang hangat. Penuh kasih dan sayang. Tetapi ia setia. Sehingga tidak semua perempuan mendapatkan cintanya. Hanya rasa sayangnya saja. Pada siapakah cinta Mantingan bertumpu, tidak akan diketahui Bidadari Sungai Utara.


Tahukah bahwa jika hal itu diketahui Bidadari Sungai Utara, keadaan akan semakin buruk?


“Jadi apakah rencanamu, Mantingan? Aku ingin dengar.”


“Aku berpikir saran dari saudagar patut lebih banyak dipertimbangkan.”


“Ya, itu adalah hal yang paling aman. Tetapi tetap saja memiliki risiko.”


“Risiko apa? Hewan buas?”


“Bukan itu. Risiko yang berbahaya. Dan bahaya itu datang dari diriku sendiri.”


Bidadari Sungai Utara memiringkan kepalanya dan menyipitkan mata.


“Saudari Sungai Utara, perlu diketahui bahwa kita tinggal di satu pulau kecil yang sama. Berbeda dengan pulau besar, tempat kita bisa berpergian ke mana-mana, pulau yang akan kita tinggal adalah pulau kecil. Kita tidak bisa ke mana-mana, dan hanya ada kita berdua sebagai manusia yang tinggal di pulau itu. Bidadari Sungai Utara, kau tahu di mana letak bahayanya.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara malah tertawa. Entah apa yang ia tertawakan. Apakah nasibnya, ataukah jawaban Mantingan yang lucu. “Mantingan, mengapa kau tidak bisa mempercayai dirimu sendiri? Lihatlah saat kemarin makan malam, saudagar terlihat berusaha keras untuk tidak menatap wajahku. Sedangkan dirimu, menatap atau tidak menatap, seolah tidak ada bedanya. Engkau tetap bersikap biasa-biasa saja, Mantingan.”


“Saudari Sungai Utara, situasi bisa berbeda di lain tempat ....”


“Tidak akan. Lagi pula jika hal itu terjadi, dan jika kau berani melakukan itu, aku pasti akan mengerti dan tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah.”


Mantingan tersedak napasnya. Ia menatap tak percaya pada Bidadari Sungai Utara. Apakah yang ia pikirkan sampai berani mengatakan hal setabu itu? Bahkan, lihatlah tatapannya! Tatapan yang hampir tidak pernah Mantingan lihat dari perempuan muda itu. Mantingan berdeham beberapa kali untuk mengubah suasana buruk menjadi suasana yang lebih baik.


“Saudari, aku akan kembali sebentar lagi.” Mantingan bangkit dari kursinya, memberi tanda pada Bidadari Sungai Utara untuk tidak pergi ke mana-mana.


Langkah kaki membawa dirinya ke atas. Lantai dua. Tepatnya di kamarnya. Ia mengambil satu bumbung buluh kecil, dibawanya kembali menuju bawah.


“Saudari, ini adalah racun dari perpaduan bunga-bunga aneh yang tak sengaja aku ciptakan. Imbas terkena racun ini adalah melayangnya jiwa. Saudari harap jaga bumbung ini baik-baik, dan gunakan pada diriku jika aku bertindak macam-macam.”


Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan tak percaya. Tangannya tak bergerak barang sejengkal pun untuk mengambil bumbung buluh di tangan Mantingan. Mantingan telah membuktikan kebaikan dan pengorbanannya, tetapi Bidadari Sungai Utara merasa ini terlalu berlebihan.


“Mantingan, kau tidak bermaksud ....”


“Simpan saja.” Mantingan masih terus mengulurkan tangannya. “Suatu saat nanti Saudari akan menyesal jika tidak menerimanya. Ini juga bisa digunakan untuk menyerang lawan di saat terdesak.”


Bidadari Sungai Utara merasa alasan pertama Mantingan masih terlalu berlebihan, tetapi alasan keduanya bisa dianggap tidak berlebihan. Dengan hati berat Bidadari Sungai Utara menerima bumbung buluh berisi penuh racun itu. Perempuan itu memberikan senyuman sedih; Mantingan tersenyum lebar.


“Aku yakin tidak perlu memakai racun ini.”

__ADS_1


“Simpan saja.” Mantingan sebenarnya masih pada alasan awalnya, tetapi ia tahu Bidadari Sungai Utara pasti membantah, maka ia katakan untuk menyimpannya saja.


__ADS_2