
MENANGGAPI hal itu, Mantingan hanya dapat tersenyum canggung.
“Jika dikau bersedia bekerja sama dengan kami, maka akan kuserahkan Chitra Anggini untuk menemanimu.” Raut wajah Kartika kembali bersungguh-sungguh. “Ah, iya. Namanya adalah Chitra Anggini, sedangkan Chitrapala hanya nama samarannya saja.”
“Tidak perlu.” Mantingan menggeleng. Gurat wajahnya pun mulai menunjukkan kesungguhan, tetapi nada bicaranya jauh lebih dingin. “Daku bisa melakukan ini seorang diri. Akan kudobrak pintu istana yang telah menculik Tapa Balian itu!”
“Sehebat apa pun kemampuanmu, engkau tetap tidak akan bisa masuk dengan begitu mudahnya ke Istana Koying, apalagi jika dikau sampai berniat mendobraknya.” Kartika berkata penuh sesal. “Ada banyak pendekar ahli yang menjaga istana itu. Satu-dua pendekar mungkin akan mudah dikau kalahkan, tetapi tidak jika mereka semua menyerangmu dalam satu waktu.”
Kartika juga menjelaskan bahwa istana Koying amatlah sangat luas, ukurannya hampir menyamai sebuah kota. Tidak akan mudah menemukan letak pasti Tapa Balian ditawan.
Perempuan itu menambahkan bahwa selain dari para pendekar ahli, istana itu juga diamankan oleh mantra-mantra sihir penjebak dan kutukan. Bahkan pendekar yang telah mengabdikan seluruh hidupnya pada ilmu sihir sekalipun tidak akan mudah mematahkan mantra-mantra itu.
“Untuk menyelinap masuk ke dalam Istana Koying, dikau membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan besar, melainkan pula siasat matang,” katanya lagi, “Chitra akan menjadi perwakilan dari Kelompok Penari Daun. Kami akan bekerja di belakang dikau untuk mempersiapkan siasat yang matang.”
Mantingan berpikir sejenak, sebelum akhirnya kembali bertanya, “Apakah kiranya keuntunganku jika bekerja sama dengan kalian?”
“Apakah itu? Tidak terhitung lagi. Dikau akan mendapat banyak keuntungan. Kami mengetahui seluk beluk Istana Koying, bahkan kami berhasil menyusupi beberapa orang sebagai dayang istana yang telah begitu dekat dengan singgasana raja. Menyogok satu-dua orang penting di istana juga bukan masalah besar. Kami pula telah bersekutu dengan sekelompok tentara bayaran, kami bisa mengirim pasukan besar jika dikau membutuhkan bantuan.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Lantas, mengapakah Chitra Anggini harus ikut bersamaku?”
Kartika diam sejenak sambil tersenyum. Membiarkan suara riak sungai mengambil alih.
__ADS_1
“Dia ... dia menginginkan itu. Dia menginginkan petualangan yang menambah pengalaman. Bersamamu, dia bisa mendapatkan itu.”
Mantingan menggeleng pelan sambil mengembuskan napas perlahan. “Kartika, kuharap dikau mengerti bahwa kita tidak sedang bermain-main saat ini. Tapa Balian terancam keselamatan jiwanya. Dia adalah satu-satunya orang yang kusayangi di Suvarnabhumi, daku ingin keselamatannya cepat-cepat terjamin. Bagiku, ini bukan waktu yang tepat untuk berlatih, ini adalah waktu untuk mempergunakan segala hasil latihan.”
Mantingan telah berlatih berbulan-bulan di Gaung Seribu Tetes Air. Ia merasa bahwa penyelamatan Tapa Balian tidaklah sepatutnya digunakan sebagai ajang melatih diri, ini jauh lebih penting daripada itu. Jika dirinya harus membawa Chitra Anggini yang hanya berniat berlatih, maka perempuan itu akan menjadi beban berat untuknya.
“Chitra hanya menginginkan pengalaman,” kata Kartika. “Dia akan membantumu sedapatnya, tidak akan merepotkanmu. Dan janganlah pula dikau mengira bahwa Chitra bukanlah pendekar yang berbakat.”
Mantingan kembali diam. Namun, tampak ketidakenakan di wajahnya.
“Jika dikau memang benar-benar ingin bekerja sama dengan kami, maka dikau harus membawa serta Chitra Anggini ke dalam perjalanan.”
Namun, betapa dirinya sadar tidak banyak memiliki pilihan saat ini.
“Daku tidak memiliki pilihan lain.” Begitulah kemudian Mantingan berkata dengan sedikit berat hati. “Kapankah perjalanan ini bisa dimulai?”
“Dikau bisa pergi kapan pun mulai esok pagi.” Kartika tersenyum lebar. “Kami akan menari untuk malam ini.”
“Sebelum itu, di manakah kedua pedangku?” Mantingan bertanya tepat sebelum Kartika melangkah pergi. “Dan di manakah pula kerbauku?”
“Pedangmu ada di pedatiku. Daku tidak bisa mengambil tanggungan jika dikau mengamuk setelah sadarkan diri.” Sebelum menjawab pertanyaan selanjutnya, Kartika tersenyum canggung. “Dam untuk kerbaumu, dikau dapat menanyakannya pada Chitra. Bukankah itu akan membangun keakraban di antara kalian? Tetapi harus kukatakan, kerbaumu baik-baik saja.”
__ADS_1
Tepat setelah mengatakan itu, Kartika berkelebat pergi. Beberapa daun segar jatuh dari tangkainya, mengiri kepergiannya. Mantingan terdiam di tempatnya. Menarik napas dalam-dalam. Mengembuskannya lamat-lamat. Dipandanginya sungai yang jernih itu. Sekali lagi, ia tak dapat menahan helaan napas.
“Sasmita ....” Mantingan menyebut nama itu dengan segenap luka di benaknya yang kembali terbuka.
Sekuat apa pun Mantingan berusaha melupakan gadis itu, sekuat itu pula ia kembali kembali mengingatnya. Sebesar apa pun daya untuk menangkal cintanya pada gadis Champa itu, sebesar itu pula cintanya bertambah, bahkan lebih besar lagi, lebih menyakitkan lagi.
Kiai Guru Kedai pernah berkata ketika Mantingan diam-diam menangis setelah mengingat Rara-nya:
“Pendekar tidak mesti menahan tangisannya untuk menyatakan betapa dirinya kuat. Pendekar tidak mesti menahan asmaranya untuk menyatakan betapa kejantanannya masih ada.”
Mestikah Mantingan menangis sekarang juga? Bukankah tiada seorang pun yang mengawasinya saat ini? Bukankah riak air akan mampu meredam isak tangisnya? Dan bukankah tidak mengapa jika nyatanya ada seseorang yang mengawasinya, dan riak air tidak dapat meredam isak tangisnya, sebab betapa pun pendekar tetaplah manusia?
Tes. Setetes air mata jatuh dari dagu Mantingan. Melebur, menyatu dengan aliran sungai, yang suatu saat nanti akan menyatu dengan lautan, dan mungkinkah pesan kesedihan dari seorang pemuda di Javadvipa akan tersampaikan kepada seorang puteri di Champa sana? Mantingan tidak dan merasa tak perlu tahu.
Pernikahan gadis itu memang telah lama diketahuinya. Bahkan sejak pertama kali bertemu dengan Bidadari Sungai Utara, dirinya sudah tahu betapa gadis itu akan menikah dengan kekasihnya suatu saat nanti.
Namun, setelah tumbuh sebuah perasan yang dinamakan cinta, yang meski tidak pernah tersampaikan barang sedikitpun, hingga mengetahui bahwa Bidadari Sungai Utara telah menikah, benak Mantingan kembali teriris. Luka lamanya saat berpisah dengan Bidadari Sungai Utara kembali terbuka.
Tes. Setetes lagi air mata meluncur dari dagunya. Dilahap arus sungai. Siapa pun mengetahui bahwa rasa air mata adalah asin, tetapi entah mengapa air mata Mantingan terasa amat sangat pahit.
“Siapa pun nama sejatimu, apa pun kedudukanmu ....” Demikianlah Mantingan berkata sambil tersenyum, “dikau akan tetap menjadi Sasmita yang aku kenal, selamanya dan tidak akan pernah berubah.”
__ADS_1