Sang Musafir

Sang Musafir
Kebimbangan


__ADS_3

Suasana hening setelah Ketua Rama mengajukan pertanyaan itu. Jantung Mantingan sedikit berdebar, menanti jawaban dari Paman Kedai.


Paman Kedai menghela napas dan menggeleng pelan. “Anak Mantingan sendiri yang berkata tidak mau dididik olehku.”


Rama memandang Mantingan bingung, “Benarkah begitu, Anakmas?”


“Benar, Ketua, tetapi itu kukatakan saat pertama kali bertemu dengan Paman Kedai. Saat itu aku tidak tahu menahu soal hubungan Paman Kedai dengan Perguruan Perguruan Putih.”


“Tetapi tetap saja kata-kata itu pernah engkau ucapkan.” Paman Kedai cepat berkata.


Kini Mantingan tahu apa yang diinginkan oleh orang tua aneh itu. Paman Kedai ingin Mantingan sendiri yang meminta Paman Kedai untuk mendidiknya. Bukan hal yang sulit sebenarnya, tetapi andai saja Mantingan tidak memahami maksud Paman Kedai, maka bisa dipastikan Paman Kedai tidak ingin mengajari Mantingan.


"Paman Kedai, dengan segala hormat daku meminta Paman bersedia mengajariku ilmu persilatan.”


Paman Kedai tersenyum lebar. “Kalau begitu, keluarlah engkau Rama dari kedaiku.”


“Teh saya belum habis, Kiai ....”


“Kau tidak membayar untuk teh itu, lekaslah keluar!”


Ketua Rama tersenyum pahit saat menoleh pada Mantingan. “Anakmas, jaga diri baik-baik di sini. Mungkin saja kita akan bertemu lagi beberapa tahun ke depan. Sampai jumpa!”


Ketua Rama bangkit dari duduknya, menghaturkan hormat pada Paman Kedai lalu keluar dari sana. Tersisalah Mantingan dan Paman Kedai di sana yang masih menikmati pemandangan, dan teh.


Mantingan baru bicara setelah teh di cangkirnya habis. “Paman Kedai, apakah engkau sungguh-sungguh bersedia mengajariku ilmu bersilat?”


Paman Kedai berkata, “Daku merasa perlu mengajarimu, Anak Mantingan. Sedaripada nanti engkau membahayakan orang lain.”

__ADS_1


“Paman, Ketua Rama juga berkata seperti itu padaku, apa yang salah pada diriku sebenarnya?”


“Masalahmu banyak, Mantingan.” Paman Kedai mengembuskan napasnya perlahan. “Engkau memiliki bakat yang terkutuk, untuk akhirnya menjadi orang terkutuk juga.”


“Apa Paman bercanda?”


“Kali ini daku tidak sedang bercanda. Engkau ini benar-benar akan jadi orang berbahaya jika tidak dikendalikan sedari awal.” Paman Kedai menoleh pada Mantingan. “Sebenarnya potensimu menjadi pendekar berbakat tidak kalah tingginya, tetapi kejahatan akan selalu lebih menggiurkan ketimbang kebaikan. Maka dari itu, yang perlu engkau pelajari sebenarnya bukanlah ilmu silatnya, tetapi cara mengendalikan nafsumu.”


“Jadi Paman tidak berniat mengajariku ilmu silat?”


Paman Kedai menggeleng. “Tidak Mantingan. Silat adalah dirimu. Darah seorang pesilat tangguh mengalir di dalam darahmu. Entah apakah kakek atau kakek buyutmu yang merupakan pesilat tangguh itu.”


Mantingan berusaha mengingat, tetapi bapak dari bapaknya adalah orang yang pesakitan sedari muda, dan mati muda pula, maka pastilah bukan dia pesilat tangguh itu. Tetapi kakek buyutnya tidak diketahui oleh Mantingan di mana dan siapa dia, karena ia sendiri tidak pernah bertanya, juga tidak terlalu mendengarkan jika ibunya membahas kakek-nenek buyutnya, mungkinkah dia orangnya?


“Mengapa darah itu tidak mengalir juga pada darah bapakku atau ibuku?”


“Darah pesilat seperti apakah yang aku dapatkan, Paman?”


Paman Kedai mengendurkan senyumnya. “Anak Mantingan, izinkan daku bertanya beberapa hal pada dikau!”


“Silakan, Paman.”


“Apakah keluarga engkau adalah keluarga baik-baik?”


“Tentu saja, Paman, daku bahkan diajari baca-tulis oleh mereka.”


“Tetapi darah pesilat yang engkau dapatkan adalah darah pesilat aliran hitam, Mantingan. Aliran hitam.” Paman Kedai menatapnya tajam-tajam. “Dan hebatnya, kemampuan pesilat golongan hitam itu dua kali lipat lebih besar di dalam darahmu. Ketahuilah Mantingan, bahwa penurunan darah pesilat sangat jarang terjadi, dan penurunan dua kali lipat lebih besar tidak pernah terjadi sebelumnya.”

__ADS_1


Mantingan tertegun. “Dampak buruk apakah yang akan daku dapatkan?”


“Darah pesilat yang turun padamu akan mempengaruhi ilmu silat apa yang bisa engkau pelajari dan yang tidak akan bisa engkau pelajari. Karena darah pesilat yang dituruni padamu adalah darah aliran hitam, maka ilmu-ilmu yang dapat engkau pelajari hanyalah ilmu aliran hitam saja. Itu pula hanya jurus-jurus yang dipelajari pesilat itu.” Paman Kedai tertawa pelan. “Penurunan darah ini bisa jadi menguntungkan, bisa pula merugikan.”


Mantingan seakan kehilangan tenaganya. “Darah yang daku dapatkan bukanlah darah yang menguntungkan.”


“Jangan bilang begitu, Anak Mantingan.” Paman Kedai menggeleng. “Untung atau ruginya tergantung cara engkau menanggapi itu.”


“Apa maksud Paman? Walaupun daku beranggapan bahwa ini adalah keberkahan, tetap saja ini merupakan keburukan. Kutukan. Paman sendiri yang mengatakan padaku, bahwa manusia bisa berkata apa pun tetapi itu tetap tidak mempengaruhi kebenaran. Daku tidak mungkin ingin belajar silat, jika nantinya daku hanya merugikan orang lain saja.”


“Engkau tidak perlu bicara jika engkau ingin melakukan sesuatu.” Paman Kedai kembali tersenyum. “Ilmu silat hitam atau ilmu silat putih tetaplah ilmu persilatan. Bukan ilmu persilatan itu yang menentukan sifat seseorang. Ilmu persilatan adalah ilmu bertarung, tidak terlalu mempengaruhi kebaikan maupun kesesatan pikiran seseorang. Maka yang bisa merobah itu adalah diri sendiri, Mantingan. Yang menentukan sikapmu adalah engkau sendiri, bukan ilmu persilatan itu.


“Dengar, Mantingan. Jika engkau bisa menggunakan ilmu silat hitam untuk tujuan yang baik, maka tiadalah itu menjadi ilmu yang buruk. Jika ada pepatah mengatakan, bahwa tujuan yang baik tidak akan tercapai jika memakai cara buruk, itu tidak salah sebenarnya. Akan tetapi engkau bisa menggunakan ilmu silat hitam, dengan cara yang baik, untuk memperoleh tujuan yang baik pula. Apakah kau paham itu, Mantingan?”


Mantingan mengangguk pelan, walau ia sadar bahwa jalannya menuju kependekaran tidaklah akan semudah pendekar-pendekar lain. Ia harus mengendalikan ilmu silat hitam itu, agar tidak menjadi ilmu silat yang merugikan. Ia pula harus menahan nafsunya, karena di ilmu silat hitam banyak sekali cara-cara curang asal meraih kemenangan.


“Tetapi beruntungnya, dengan engkau mendapat darah pesilat itu, maka ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dahulu akan sangat mudah engkau pelajari sekarang ini. Untuk ilmu persilatan, tidak akan daku ajarkan padamu terlalu banyak, biar engkau cari saja sendiri setelah selesai masa pelatihan.”


Mantingan kembali mengangguk. “Kapankah kita mulai berlatih, Paman Kedai?”


“Sayang sekali, Mantingan, daku masih tidak ingin melatihmu.”


Mantingan tersentak kaget. “Mengapa, Paman?”


“Tujuan engkau belajar silat tidaklah baik, Mantingan.”


Mantingan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tercekat di tenggorokannya. Apakah yang berusaha ia tutup-tutupi dari Paman Kedai yang tahu isi hatinya? Niatnya untuk belajar silat memang tidak bagus. Sekali lagi ditekankan, membalas dendam bukanlah niat yang baik, itu akan menimbulkan masalah berkepanjangan. Biarpun Mantingan tahu bahwa itu tidak baik, tetapi Mantingan tetap saja ingin membalas kematian Rara.

__ADS_1


Tangan Mantingan bergerak meraba-raba kendi berisi abu jenazah Rara. Apakah yang harus ia putuskan sekarang? Mengakhiri dendam, merelakan Rara-nya? Atau pergi mencari perguruan lain untuk belajar silat?


__ADS_2