
MANTINGAN terus melesat, melesat, melesat, dan melenting dari satu atap bangunan ke atap bangunan lainnya.
Kecepatannya telah melebihi petir melesat, sungguh. Mata orang awam tidak akan mampu menangkap gerakannya, bahkan tidak pula untuk sekadar bayang-bayangnya.
Beberapa pendekar yang sempat melihat kelebatannya lekas bergerak mengikutinya. Mereka hendak menguji kesaktian, mengadu kemampuan, dan mencari kesempurnaan. Bagi mereka, pendekar manapun yang bisa bergerak secepat itu sudahlah tentu memiliki keahlian yang bukan sembarang; dan hukum tak tertulis di dunia persilatan yang berlaku bagi setiap pendekar di dalamnya adalah untuk menantang lawan yang lebih kuat demi tercapainya keparipurnaan hidup. Bukankah sedemikian?
Namun, kecepatan Mantingan bukanlah sesuatu yang dapat diimbangi oleh mereka. Pemuda itu terus melesat, tak terbantahkan, meninggalkan pendekar-pendekar yang hendak bertaruh nyawa jauh di belakangnya.
Dan karena pendekar yang mengejarnya tidaklah berjumlah sedikit, lantas di antara mereka semua memiliki kesamaan niat, yakni mengadu kesaktian demi tercapainya kesempurnaan hidup, maka pertarungan antara pendekar-pendekar itu tidak lagi dapat terelakan.
Sedangkan itu, Mantingan tiba tepat di hadapan sebuah bangunan besar yang tampak seperti kedai minum tuak. Awalnya, ia ragu untuk masuk, sebab merasa bahwa Chitra Anggini tidak mungkin berani berkunjung ke tempat seperti ini setelah dilarang olehnya secara terang-terangan. Namun ketika dilihatnya Munding Caraka yang sedang tertidur di halaman kedai, tiada lagi tersisa keraguan dalam benaknya. Ia berkelebat masuk.
Setelah menyibak tirai kain yang mentabiri pintu masuk kedai itu, Mantingan segera dapat melihat Chitra Anggini yang berdiri sempoyongan di hadapan lima pria yang secara serempak mengayunkan pedang ke arahnya!
Mantingan kembali berkelebat cepat sambil mencabut Pedang Kiai Kedai dari sarungnya. Digunakanlah pedang rusak itu untuk menangkis seluruh serangan yang mengarah ke Chitra Anggini. Lelatu api tercipta. Dentang logam yang beradu memekakkan telinga, terulang sebanyak lima kali dalam waktu hampir bersamaan!
Pertukaran serangan barusan membuat kelima penyerang Chitra Anggini untuk terpental mundur jauh ke belakang. Dua di antara mereka tidak mampu menjaga keseimbangan saat mendarat, sehingga jatuh dan terseret sepanjang beberapa langkah di lantai kedai, merobohkan sejumlah bangku dan meja kedai yang tidak ditempati. Sedangkan tiga pendekar lainnya masih mampu menjaga keseimbangan, tetapi melihat dua kawannya bernasib tidak bagus membuat mereka gentar pula.
Mantingan mengangkat alisnya sembari membolak-balikkan Pedang Kiai Kedai di tangannya itu, lalu bergumam pelan, “Masih cukup berguna.”
“Wahai, Tuan Pendekar! Siapakah dikau dan mengapakah dikau ikut campur dengan urusan kami?” Salah seorang di antara mereka yang masih berdiri, berkata kepada Mantingan dengan suara lantang tetapi cukup sopan.
Mantingan berhenti memandangi Pedang Kiai Guru Kedai, beralih menuju mereka. Tampak kesungguhan di wajahnya. “Kalian menyerang perempuan mabuk yang tidak dapat bertarung. Sebagai sesama pendekar, daku merasa perlu mengingatkan kalian pada jati diri kita.”
“Persetan dengan aturan persilatan!” Seseorang lainnya menyahut sambil bangkit berdiri. “Dia telah menghina kami, maka dia pantas untuk mati!”
“Apakah kalian begitu terbawa suasana hanya karena perkataan dari orang mabuk?” Mantingan melirik Chitra Anggini yang berdiri tak seimbang di belakangnya. Wajah perempuan itu telah tampak merah padam bagai buah delima. Tuak yang dia beli mulai menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. “Ada baiknya jika kita selesaikan masalah ini dengan jalan damai. Aku sedang tidak mau bertarung.”
“Sombong sekali! Hendak dihajar!”
__ADS_1
Salah seorang dari mereka melesat teramat cepat ke arah Mantingan. Menghunus pedangnya ke hadapan. Berkilauan dibias sinar matahari yang masuk melalui jendela kedai!
Namun seberapa pun cepatnya, masih kalah pula dengan kecepatan Mantingan yang seolah saja tidak dapat tertandingi oleh pendekar manapun. Mudah sekali baginya untuk menggeser sebelah kaki ke samping untuk berkelit dari serangan itu. Tiada lupa pula dirinya mengirim serangan balasan. Se-Tapak Angin Darah berembus, mengenai tubuh pendekar itu dengan setelak-telaknya!
Namun betapa pun, pukulan Tapak Angin Darah yang Mantingan lepaskan itu tidaklah mengandung daya yang terlalu besar. Pendekar itu tidak akan mati, hanya terempas hingga membentur dinding kedai. Cukup untuk mematahkan satu-dua tulang rusuknya. Muntah darah. Pendekar itu tidak akan bisa bertarung untuk waktu lama.
Beberapa kawannya berkelebat membantu pendekar itu, sedangkan sisanya berkelebat menyerang Mantingan.
Kali ini, mereka tidak menggunakan tebasan pedang untuk menyerang, melainkan mantra-mantra sihir!
Agaknya, pendekar-pendekar itu mengetahui bahwa mengalahkan Mantingan dengan pertarungan kasar adalah sesuatu yang mustahil. Maka itu, menyerang dengan sihir adalah pilihan terbaik dari yang terbaik. Namun alangkah sayangnya, mereka tidak mengetahui bahwa Mantingan ahli pula di bidang sihir!
Aksara-aksara bercahaya melayang terbang ke arahnya dengan kecepatan tak terkatakan. Itulah mantra berpantun, yang jika tidak segera dipatahkan dengan mantra berpantun pula akan langsung merajam diri dengan kekuatan dahsyat tak terperi!
Mata Mantingan yang telah begitu terlatih untuk melihat segala sesuatu dalam kecepatan tinggi tentu saja lebih dari mampu untuk membaca aksara-aksara tersebut.
Berapa banyak mega
Mantingan tersenyum sebelum mengangkat pedangnya. Ia akan menuliskan aksara-aksara pematah, tetapi tidak dengan alat pengutik lontarnya, melainkan dengan pedangnya!
Pedangnya mulai bergerak. Meliuk-liuk indah di udara. Bagaikan sedang mempermainkan suatu tarian yang keindahan sungguh tak dapat terkatakan lagi. Aksara demi aksara bermunculan. Jauh lebih indah, jauh lebih tegas, dan jauh lebih halus ketimbang aksara-aksara milik lawannya.
Seberapakah banyak mega di langit
Adalah seberapa lama matahari bersinar terik lamat-lamat
Mantra-mantra itu dipatahkan!
Mantingan kembali menggurat aksara di udara dengan pedangnya. Terkirim sudah rangkaian mantra balasan.
__ADS_1
Ketika teh terlalu manis
Siapakah kiranya yang akan terjerumus?
Pendekar-pendekar itu berusaha mematahkan mantra itu secepat mungkin. Mereka kembali menggerakkan pisau pengguratnya di permukaan lontar.
Mereka yang terumus akan bersungut
Itulah para semut
Namun nyata-nyatanya, mantra pematah yang mereka yakini mampu menghancurkan mantra kiriman Mantingan itu tidaklah tepat sama sekali! Tiada sepatah kata pun yang menggenapi kata kunci. Alhasil, mantra sihir Mantingan terus melesat tanpa terbantahkan.
“Aahhkh!”
Pendekar-pendekar itu terempas kuat ke belakang. Sama seperti salah satu kawan mereka sebelumnya, mereka juga membentur tembok dengan sedemikian kerasnya. Terdengar suara patahan, yang betapa pun diketahui oleh seluruh orang yang ada di sana bahwa suara itu berasal dari tulang-tulang patah!
Mantingan melirik dua pendekar yang tersisa. Mereka balas menatapnya dengan berani, tetapi pada akhirnya menggelengkan kepala. Menolak untuk bertarung.
Mantingan tersenyum singkat sebelum menyarungkan Pedang Kiai Kedai. Kini ia berbalik menatap Chitra Anggini dengan setajam-tajamnya, membuat perempuan yang masih setengah sadar dan setengah mabuk itu meneguk ludahnya.
“Aku sama sekali tidak berharap melihatmu di tempat seperti ini.” Mantingan berujar pelan. Jelas sekali tidak terdapat kemarahan di dalam suaranya itu. Hanya ada kekecewaan, yang betapa pun teramatlah sangat dalam. “Jika kau memang mau kembali ke duniamu, maka jangan lagi mengikuti diriku.”
Tepat ketika Chitra Anggini membuka mulut untuk membalas, Mantingan telah berkelebat pergi. Menghilang begitu saja.
Chitra Anggini tertegun barang sesaat, sebelum akhirnya berteriak keras. Dibantingnya sekendi arak yang tersisa hingga hancur dan membuncah isinya, tak peduli seberapa mahal dan enaknya tuak itu. Baginya, jika Mantingan sudah kecewa, maka langit seolah saja telah runtuh!
___
catatan:
__ADS_1
Maaf sekali saya tidak update kemarin hari. Akhir-akhir ini, saya harus mengurus beberapa hal yang mendesak, jadi belum sempat menulis Sang Musafir.