Sang Musafir

Sang Musafir
Perjalanan yang Ditunda


__ADS_3

“Sampai jumpa esok hari.”


MANTINGAN BERBALIK setelah membayar pengobatannya, berniat untuk langsung kembali menuju kediaman.


“Tunggu, Jaya.” Akan tetapi, suara dari Bidadari Sungai Utara berhasil membuat langkahnya terhenti. “Ibu Wira akan ke kuil siang ini, toko akan tutup lebih cepat. Daku akan mengikuti Saudara ke rumah, diriku ingin bertemu Kana dan Kina. Tetapi sebelum itu, daku harus menutup toko terlebih dahulu.”


Mantingan berbalik dan tersenyum. “Kana dan Kina pasti akan senang. Silakan saja berkunjung, kami akan menunggumu di sana.”


Mantingan kembali melangkahkan kaki menjauh. Mantingan tahu bagaimana Bidadari Sungai Utara saat ini meskipun ia tidak melihatnya. Gadis itu pasti akan kesal atau malah merasa tersinggung. Mantingan juga Bidadari Sungai Utara ingin Mantingan menunggu dirinya. Namun sengaja ia tidak lakukan itu, terdapat alasan tersendiri yang tidak mau Mantingan ungkapkan.


***


“Kakak Sasmita datang lagi!”


Kina yang pertama menjerit kegirangan setelah melihat Bidadari Sungai Utara membuka gerbang kediaman. Jeritan yang sanggup membangunkan Kana di atas dipan dalam keadaan waspada.


Mantingan melipat lontar kitab ilmunya dan memasukkan itu ke dalam keropak. Kemudian ia melirik Kana yang dadanya naik turun, membeliakkan mata.


“Apa yang terjadi? Mimpi buruk atau bukan?!” Kana akan terlihat bertanya pada dirinya sendiri jika ia tidak menatap Mantingan tajam-tajam.


“Lihat itu. Kak Sasmita datang. Betapa girangnya adikmu. Jadi, itu bukan mimpi burukmu.”


Mata Kana beralih menuju halaman rumah. Dapat ia lihat Bidadari Sungai Utara sedang menggandeng Kina. Bibirnya terangkat menunjukkan senyum.

__ADS_1


“Aku akan bermain bersama Kak Sasmita!” soraknya.


“Apa yang kaumaksud? Kita belum menyelesaikan lahannya.” Mantingan bangkit berdiri. Mengulurkan tangan pada Kana. “Hayo!”


“Apalah Kakak ini ....” Kana memelas. “Aku masih lelah dan lemah, tidak bisa mengangkat pacul.”


“Dan bermain dengan Sasmita kau tidak kelelahan? Aku tidak menerima alasanmu lagi, Kana. Bergegaslah ikut bersamaku.”


Saat Mantingan berjalan dari teras itu menuju halaman, saat itulah Kana mengikutinya dengan malas. Mereka menerima semangat dari Bidadari Sungai Utara dan Kina saat berpapasan di jalan, Kana membalasnya dengan cibiran yang ditunjukkan pada Mantingan.


Bekerjalah Mantingan dan Kana di lahan. Kembali mengangkat paculnya. Sedangkan itu, Kina dan Bidadari Sungai Utara saling bertukar cerita di dalam rumah. Membayangkan keseruan Kina dan Bidadari Sungai Utara, Kana terlihat jengah. Lagi-lagi, Mantingan menasihati bocah itu.


“Tugasmu belum selesai, jika kamu meninggalkannya maka seharusnya kamu merasa malu.” Itulah nasihat yang diberikan Mantingan pada Kana, hingga diharapkan anak itu memahaminya dengan perlahan seiring berjalannya waktu.


***


Kana tampak keberatan, dan Mantingan tahu bahwa ia akan mengajukan keluhan sebentar lagi. Namun saat itulah Bidadari Sungai Utara turun dari lantai dua menemui mereka, secara tidak langsung membungkam mulut Kana.


“Tidak perlu membeli makanan dari luar. Sebelum ke sini tadi, aku membeli bahan-bahan mentah untuk makan malam. Sebentar lagi akan aku masakkan. Jadi Kana, kau tidak harus keluar rumah untuk membeli makanan. Bukan begitu, Saudara Jaya?”


“Saudari adalah tamuku, tidak pantas bagi Saudari untuk memasak makanan sendiri."


“Anggaplah daku memasak makanan untuk Kana dan Kina, bukan sebagai tamu tetapi sebagai teman. Apakah itu masih tidak boleh?”

__ADS_1


Perkataan Bidadari Sungai Utara begitu tajam, tak ayal Mantingan hanya bisa mengangguk. Mengizinkannya. Juga membiarkan Kana bersorak gembira.


“Boleh tidak aku membantu Kakak memasak?” Kana menunjukkan matanya yang berbinar-binar penuh harapan pada Bidadari Sungai Utara. Mantingan melihatnya dengan heran, tapi tidak bisa berbuat apa-apa saat Bidadari Sungai Utara mengizinkannya.


Saat kedua orang itu pergi ke dapur meninggalkan Mantingan seorang diri di ruang tengah, saat itulah Mantingan beranjak menuju bangku lalu mulai merenungkan tentang perjalanannya.


Tentu Mantingan tidak melupakan tujuan perjalanannya. Kembangmas harus tetap ditemukan. Akan tetapi, kenyataannya alam semesta memberikan begitu banyak jodoh kepada Mantingan. Mantingan harus menyelesaikan urusan-urusan yang panjang, sedangkan pencarian Kembangmas terpaksa ditunda.


Tetapi merujuk Kitab Kembangmas yang ditulis Paman Birawa, bahwa Kembangmas bukanlah bunga yang mudah dimengerti. Ia hanya memunculkan diri pada orang-orang terpilih. Kadangkala bersembunyi di antara rimbunan semak belukar, bagaikan bunga jalanan yang tidak terurus. Ia selalu bersembunyi di tempat-tempat yang tak layak diperhatikan.


Lebih-lebih, Kembangmas adalah bunga siluman. Ia memiliki kekuatan. Dari yang tertulis di Kitab Kembangmas oleh Paman Birawa, sudah banyak pendekar yang mati akibat terjerat akarnya. Korban-korban lain mati mengenaskan dengan cara yang masih belum diketahui hingga saat kitab itu ditulis.


Meskipun terkesan ganas dan liar, Kembangmas hanya menyerang orang-orang yang berusaha memburunya. Tidak ada laporan yang mengatakan bahwa Kembangmas telah membunuh orang tak bersalah—yang lebih baik disebut saja orang tak bersangkutan.


Dan Mantingan jelas-jelas merupakan orang yang bersangkutan. Ia mencari Kembangmas. Memburunya dengan niat yang kuat. Apakah itu bukan berarti dirinya berada dalam bahaya?


Melihat tingkat kesulitan-kesulitan itu, akan sangat mustahil bagi Mantingan untuk menemukan Kembangmas. Kecuali jika dirinya memang berjodoh dengan Kembangmas, sehingga bunga itu akan memunculkan diri kepada Mantingan.


Namun, apakah jodoh Mantingan dan Kembangmas sudah digariskan? Jika tidak begitu, maka perjalanan Mantingan yang telah lalu dan yang akan datang sudah pasti sia-sia belaka.


Mantingan menghela napas panjang. Beralih tak jauh-jauh dari Kembangmas, Mantingan mulai memikirkan tentang perjalanannya sendiri. Namun semakin memikirkannya, makin sesak pula dada Mantingan.


Perjalanannya terhenti di rumah ini. Di desa yang ia sendiri belum tahu namanya. Kitab perjalanannya tidak bisa dilanjutkan, karena memang tidak ada sesuatupun yang dapat dituliskan. Dan bukan tidak mungkin, kitab itu tidak akan pernah ditulis lagi, untuk selamanya.

__ADS_1


Mengingat Racun Tidak Bernama masih bersarang di dalam tubuhnya. Angin muson timur akan datang kurang dari lima bulan. Mantingan tidak bisa mendapatkan penawarnya tepat waktu. Kecuali jika salah satu tabib dari Negeri Atap Langit datang ke Javadvipa sebelum muson timur tiba, lalu membawakan ramuan penawar Racun Tidak Bernama, mungkin saja Mantingan bisa terselamatkan.


Sebenarnya bukan tidak mungkin tabib dari Negeri Atap Langit datang ke Javadvipa. Walaupun sedang terjadi kekacauan besar di negeri Taruma, tetapi berita itu tentu belum sampai di dataran Negeri Atap Langit. Sebab, hanya angin muson timur yang dapat membawa kabar kekacauan di Taruma sampai ke Negeri Atap Langit. Lebih tepatnya, pedagang-pedagang yang akan membawa kabar itu sampai di sana.


__ADS_2