
MANTINGAN mengangguk pelan dan mengerti, ia lalu mempersilakan perempuan itu pergi.
Dari dua kelompok orang muda-mudi di ruangan yang sama, hanya suara bisik mereka yang didengar Mantingan. Mereka benar-benar bicara secara tertutup. Sebenarnya bisa saja Mantingan memasang ilmu pendengaran tajam dan mendengar percakapan mereka, namun Mantingan tahu bahwa hal itu sangatlah lancang. Meskipun memiliki kemampuan, Mantingan harus tetap menahan diri.
Mantingan memilih untuk memperhatikan saja bentuk dan tata bangunan di lantai dua ini. Pihak kedai cukup cermat menempati jendela besar di dua sisi ruangan dengan tirai, sehingga angin segar bisa masuk dengan hampir semua kotorannya tertahan di tirai. Kayu-kayu di dalam ruangan telah dilumasi cairan khusus sehingga tampak mengilat.
Bahkan jika Mantingan memperhatikan lebih jelas lagi, ia menemukan beberapa Lontar Sihir yang terpasang di tempat-tempat tersembunyi lantai kedua ini.
Mantingan dapat mengenali lontar-lontar itu sebagai lontar penyerang. Kelompok Purnama Merah tahu betul bahwa dalam situasi seperti hari ini, kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Tidak ada antisipasi yang berlebihan.
Hidangan pesanannya datang tak lama setelah itu, pelayan yang mengantar adalah pelayan yang sama. Mantingan memberikan beberapa keping perak sebagai uang terima kasih pada pelayan setelah menerima hidangan. Ia juga menambahkan akan memesan satu kamar untuk satu-dua malam tergantung kondisinya nanti.
Hidangan yang datang kebanyakan diisi oleh sayuran, tanpa daging dan hanya sedikit nasi saja. Mantingan juga dibawakan minuman herbal untuk kesehatan, jangan tanya soal rasa.
Mantingan mulai menyantap hidangan.
***
“Saudari, apa yang dikau katakan? Kami tidak berhubungan sama sekali dengan pendekar itu.”
“Saudara, jangan mengelak. Kami mencium aroma emas dari Saudara-Saudara sekalian, pastilah kalian adalah murid Pendekar Cakar Emas!”
“Saudari, mohon untuk tidak menyebut-nyebut nama pendekar itu sembarangan, dikau pasti tidak mau kita semua celaka.”
“Nah, sudah terbukti kalau dikau murid Pendekar Cakar Emas, kau terlihat tidak terima saat kami menyebut nama pendekar itu. Memangnya siapa dia sampai namanya tidak boleh disebut-sebut sembarangan? Saudara-Saudara sekalian, kami sedang dalam penugasan untuk menangkap murid-murid Pendekar Cakar Emas, kami diizinkan membunuh jika kalian melawan.”
__ADS_1
“Saudari-Saudari, mohon untuk tidak membuat keributan. Kami sama sekali bukan murid dari pendekar itu. Jika Saudari mencium aroma emas dari kami, maka itu hanya keliruan semata.”
Mantingan menghela napas panjang. Makan siangnya terganggu oleh dua perkumpulan muda dan mudi yang sekarang bertengkar itu. Perkumpulan yang beranggotakan 6 perempuan datang ke meja perkumpulan pria, mereka tanpa basa-basi langsung menuduh pemuda-pemuda itu sebagai murid dari Pendekar Cakar Emas.
Pendekar Cakar Emas sendiri belum pernah Mantingan dengar dari gurunya atau dari pengalamannya sekalipun. Mungkin pendekar yang dimaksud adalah pendekar muda berbakat yang membuat namanya jadi tenar di sungai telaga persilatan.
Bentrokan agaknya akan semakin parah jika saja seorang pendekar dari Kedai Purnama Merah tidak datang untuk melerai.
“Saudara-Saudara dan Saudari-Saudari sekalian, keributan adalah hal paling terlarang di Kedai Purnama Merah. Mohon untuk keluar jika memang ingin melanjutkan persoalan, jangan ribut di sini yang nantinya akan membahayakan tamu-tamu lain.”
“Ya, kami bisa menyelesaikan masalah ini di mana saja.” Yang perempuan berkata. “Marilah Saudara-Saudara, selesaikan urusan kita di luar.”
Lima pemuda saling bertatapan satu sama lain sebelum menggeleng. “Saudari, kami memiliki tugas lain yang diberikan oleh perguruan, kami tidak bisa buang-buang waktu dan tenaga untuk berurusan dengan Saudari-Saudari, mohon pengertiannya.”
“Harap tenang!” Pendekar lainnya baru saja datang dan mendukung kawannya yang sendirian melerai. “Mohon untuk tidak membuat keributan apa pun bahkan sampai menarik pedang, kami tidak segan melindungi tamu-tamu lain, jadi pikirkan baik-baik sebelum urusan ini makin runyam.”
Salah satu pendekar perempuan menarik pedangnya dan langsung menghunus ke arah pendekar kedai. Ia juga mengeluarkan hawa khusus untuk menunjukkan dirinya adalah pendekar berbakat.
Mantingan yang merasakan hawa itu hanya bisa menggeleng pelan. Perempuan yang menghunus pedang itu merupakan pendekar berbakat, karena di usianya yang masih muda keahliannya sudah mengimbangi pendekar ahli, akan tetapi tindakannya itu dinilai terlalu gegabah.
Mantingan tidak memusatkan perhatian pada pertengkaran yang terjadi selanjutnya, ia secara tiba-tiba mendapat pencerahan.
Jika memang orang yang disebut Pendekar Cakar Emas itu hendak menyelusup ke Kedai Purnama Merah, ia bisa dengan mudah melakukannya jika keributan terjadi di kedai ini. Tentu saja keributan akan menyita perhatian seluruh pendekar-pendekar yang menjaga kedai, sehingga Pendekar Cakar Emas tersebut dapat masuk tanpa seorangpun yang mengetahui.
Bukan tanpa dasar, Mantingan juga mencium sedikit aroma emas dari pakaian pemuda-pemuda itu.
__ADS_1
Jika dugaan Mantingan itu benar, maka Kedai Purnama Merah ini menyimpan sesuatu yang menarik perhatian pendekar tersebut.
Namun, tetap saja Mantingan hanya membuat kemungkinan. Ia merasa tidak terlalu baik beprasangka buruk pada Pendekar Cakar Emas.
“Kami masih menghormati kalian, jangan sampai rasa hormat kami menghilang bersamaan dengan hilangnya kepala kalian.”
“Saudari perlu ketahui bahwa kami sama sekali tidak takut.” Pemuda-pemuda itu mengangguk setuju, sikap mereka yang tetap tenang menghadapi situasi membuktikan perkataannya.
Sedang pendekar kedai meneguk liurnya. Mereka yang ada di sini adalah murid-murid tingkat dasar yang keluar untuk mencari pengalaman, mereka sama sekali tidak menyangka akan berhadapan dengan pendekar-pendekar kuat seperti ini.
Pelayan kedai yang melihat ketidakberdayaan pendekar kedai menghadapi situasi segera berlari ke bawah untuk memanggil penanggungjawab kedai. Tetapi sebelum penanggungjawab kedai benar-benar datang, pertengkaran semakin memanas.
“Sebelum kalian benar-benar membuat perhitungan dengan kami, bolehkah aku mengetahui dari mana kalian berasal?”
Pendekar-pendekar wanita mengangguk dan setuju menyebut nama perguruan mereka. “Kami berasal dari Perguruan Dara Putih.”
Mendengar nama perguruan itu, tampak sedikit perubahan pada raut wajah pemuda-pemuda itu. Mantingan mengangguk pelan, ia mengetahui Perguruan Dara Putih adalah salah satu dari sepuluh perguruan terkuat di Javadvipa, seluruh anggota mereka adalah perempuan—maka dari itu disebut “dara”.
“Perguruan Dara Putih memang perguruan yang kami segani, tetapi kami tidak masalah mati di sini demi mempertahankan harga diri perguruan kami. Kalian datang, langsung ingin menangkap kami, bukankah mencoreng harga diri jika kami ditangkap tanpa perlawanan?”
“Memangnya dari perguruan mana engkau berasal selain dari Pendekar Cakar Emas itu sendiri?”
“Kalian masih meyakini kami adalah murid dari pendekar aliran hitam itu? Silakan saja, kami tidak apa-apa, asalkan kalian jangan buat keributan dengan kami.”
Sebilah pedang lagi yang lepas dari sarungnya, seorang dara menghunus pedangnya tepat di leher pria yang berkata seperti itu. Tetapi yang dihunus sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, ia hanya melirik sekali mata bilah sebelum bersikap acuh tak acuh.
__ADS_1